Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.
Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.
Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.
Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.
Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.
Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???
Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???
Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Pasti Berlalu
Beberapa saat sebelum kejadian……………….
Malam itu mami Oca memutuskan untuk segera pulang dari Fantasia. Karena dia tahu sebentar lagi Veron akan berada disana bersama Jenia.
Selama ini dia selalu berhasi bersembunyi dengan baik tanpa sepengetahuan putrinya. Tapi nampaknya hari itu adalah hari dimana takdir kembali mempertemukan mereka.
Ikatan antara ibu dan anak yang harus terpisah karena keadaan, dan bertemu kembali dengan cara yang tidak di sangka-sangka.
Setelah membersihkau diri, mami Oca berniat pulang dari Fantasia sebelum Veron datang. namun tiba-tiba saja Alex datang menghampirinya dalam keadaan setengah mabuk.
Berbeda dengan klien lain, lelaki itu memang selalu datang seenaknya tanpa membuat janji temu terlebih dahulu.
Dia rela membayar berapapun asalkan bisa bebas menemui mami Oca kapanpun ia mau.
"Alex..?? mau apa datang kesini...??"
"Menurutmu mau apa lagi sayang…..?? Aku sangat merindukanmu...!! Sudah berapa hari kita tidak bertemu.….!!" sahutnya sambil mematikan lampu dan bergegas melepas kancing bajunya dengan kasar.
"Tapi sebentar lagi aku akan per..." Belum selesai bicara pemuda itu sudah membungkamnya dengan ciuman penuh gairah, hingga mami Oca dibuat gelagapan meladeninya.
Gerakan tangan dan setiap sentuhannya begitu libai dan sangat cepat masuk ke sela-sela pakaian sang ratu Fantasia.
Dalam sekejap Alex sudah berhasil melucuti satu persatu kain yang melekat pada tubuh mami
Oca tanpa menyisakan sehelai benangpun.
Nampakuya pemuda itu benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Sementara mami Oca yang sudah terangsang pun mau tidak mau harus meladeninya.
Harus dia akui, Alex adalah satu-satunya lelaki yang paling cepat membangkitkan hasratnya dari semua lawan main yang pernah tidur dengannya.
Setiap kali Alex menginginkannya, maka akan sangat sulit bagi mami Oca untuk menolak ajakannya.
Ibarat sebuah api, Alex adalah lawan yang besar kobarannya sehingga sulit untuk dipadamkan.
Saking asyiknya bercumbu, wanita itu sampai lupa akan niatnya untuk segera pulang. Seluruh tubuhnya sudah di ambil alih dan dikendalikan sepenuhnya oleh Alex.
Terlalu lengah satu sama lain, tanpa mereka sadari seseorang tengah mendekat sambil menguping dari arah luar.
Meski ruangan itu di desain kedap suara, namun sedikit pintu yang terbuka bisa membuat segala bunyi yang di dalam tetap terdengar dengan jelas.
Hingga keduanya di kejutkan dengan lampu ruangan yang tiba-tiba menyala, serta kemunculan seseorang yang tidak di sangka-sangka.
"NIA....??!!" Pekik Alex yang kaget dengan kedatangan mantan kekasihnya.
Sementara Jenia yang tak kalah kagetnya seketika tercengang saat menyaksikan langsung pemandangan di depan matanya.
Rasanya waktu dan detak jantungnya seolah berhenti beberapa saat.
Tanpa menghiraukan Alex, tatapannya justru hanya tertuju pada seorang wanita yang tengah asyik bercumbu dengan sang mantan.
"Ibu....??!!" Gumamnya menutup mulut seakan tidak percaya.
Kedua lututnya seketika terasa lemas tak berdaya. Seluruh tubuhnya gemetar berusaha mencerna tentang apa yang baru saja dia lihat.
Tanpa pikir panjang gadis itu segera berbalik dan langsung pergi meninggalkan tempat itu, disusul oleh mami Oca yang bergegas membalut tubuhnya dengan selimut sambil berlari mengejar putrinya.
Saat keluar dari sana gadis itu dicegat oleh Veron yang baru saia tiba.
"Nia.....Tunggu...!!" pekik mami Oca berusaha memanggil, namun Jenia tetap pergi.
"Nia..!! Kau mau kemana...?? Tunggu dulu, dengarkan penjelasanku....!!" Ucap Veron nampak tergesa-gesa menyadari kekacauan yang telah terjadi.
Sekilas matanya menatap tajam ke arah mami Oca. Akhirnya hal yang paling di takutkan selama ini jadi kenyataan.
“Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan Veron...!! kalian semuanya pembohong...!! Selama ini kau hanya pura-pura tidak tahu dan menutupinya dariku kan..?? Kau jahat Veron...!! kau sangat jahat dan keterlaluan....!!" Amuknya penuh amarah.
"Nia... kau salah paham, tolong dengarkan aku dulu….."
"Minggir Veron...!! rupanya selama ini kalian sudah sekongkol di belakangku..!! aku benci padamu...!! cepat minggir dan jangan halangi aku...!!" teriaknya berlalu mendorong tubuh sang matia.
Sementara mami Oca hanya bisa terduduk lemas menangisi kepergian putrinya. Hati dan pikirannya sudah sangat kacau tidak tahu harus bagaimana.
Malam itu kilat petir disertai hujan badai membasahi tubuh Jenia.
Seakan ikut serta mengiringi tangisan dan air matanya yang terus mengalir tak kalah derasnya.
Nia benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini sosok wanita yang menjadi idola di Fantasia itu adalah ibu kandungnya.
Wanita yang kerap dikenal dengan nama mami Oca itu merupakan perempuan yang telah melahirkannya.
Mau selama apapun mereka tidak bertemu. Nia tetap saja bisa mengenali dan memastikan bahwa orang yang ia lihat barusan memanglah ibunya.
Dia adalah Rosalina, wanita cantik yang puluhan tahun lalu telah meninggalkan putrinya.
Nia juga tidak menyangka akan bertemu ibunya di waktu seperti itu dan dengan cara yang sangat mengejutkan.
Selama ini dia tidak tahu bahwa sosok yang sangat ia rindukan berada begitu dekat dengannya.
Lagi dan lagi Nia merasa takdir terlalu kejam dan semena-mena mempermainkan hidupnya.
Dari sekian banyaknya orang, kenapa ia harus mendapati ibunya tengah bercumbu mesra dengan Alex mantan kekasihnya sendiri.
Dan yang paling menyebalkan adalah, ternyata sejak awal sang ibu dan Veron sudah saling mengenal satu sama lain.
Pikirnya selama ini Veron adalah satu-satunya orang yang dapat ia percaya, tapi nyatanya mereka semua sama saja.
Ditengah perasaannya yang campur aduk, gadis itu terus berlari menyeret langkahnya sejauh mungkin.
Dia bingung dan masih sangat terkejut dengan situasi yang ada. Antara malu, marah, kecewa, dan rindu, entah bagaimana Nia harus melupakan semuanya.
Hanya ada satu tempat yang biasa ia datangi di saat-saat rapuh seperti itu.
Dalam derasnya hujan dan malam yang semakin larut. Nia kembali ke rumah lamanya dengan kondisi tubuhnya yang basah kuyup.
Gadis itu berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Hatinya sungguh hancur berkeping-keping meratapi Nasib malang yang seakan terus datang tak pernah ada habisnya.
Semenyara dari luar terdengar suara seseorang memanggil namanya sambil mengetuk pintu.
"Nia.... tolong buka pintunya, kita harus bicara..." ucap, Veron dari luar, namun tetap tidak ada sahutan dari dalam.
Veron berusaha ingin masuk, namun pintunya terkunci dengan rapat.
Nampaknya sejak tadi lelaki itu terus mengikuti Nia dari kejauhan, sebab dia tidak akan membiarkan kekasihnya pergi sendirian dalam keadaan seperti itu.
Makin khawatir karena tak ada jawaban, akhirnya Veron terpaksa harus menerobos masuk dengan caranya.
Sesampainya di dalam dia mendapati Nia yang tengah menangis dalam kesendirian. Perlahan ia menghampiri dan memeluknya dengan penuh penyesalan.
Lelaki itu paham betapa Jenia sangat merindukan ibunya, tapi ia justru memilih untuk tetap diam dan pura-pura tidak tahu.
Sejak awal dia tidak pernah punya niat menyembunyikan semuanya dari Nia, karena sudah tahu akan jadi seperti ini pada akhirnya.
Hanya saja mami Oca terlalu takut dan terus memohon agar sang mafia tidak mengatakan kebenarannya.
Wanita itu belum siap dan sangat malu jika putrinya mengetahui fakta bahwa ibunya adalah seorang wanita penghibur.
"Kau jahat Veron...!! kau benar-benar jahat padaku, teganya selama ini kau menyembunyikan semuanya dariku...!! aku benci padamu dasar pembohong...!!!" gumamnya sambil terus menangis memukul dada sang mafia.
Rasanya gadis itu sudah tidak punya tenaga lagi untuk sekedar berteriak. Tubuhnya yang gemetar dan suaranya yang parau menunjukkan betapa rapuhnya dia saat ini.
"Iya Nia aku memang jahat. Aku minta maaf, kau berhak marah dan membenciku, aku minta maaf Nia, aku mengaku salah, tolong maafkan aku..." ucapnya terus memohon dan membujuk Nia dalam dekapannya.
Namun semarah apapun Nia pada Veron saat ini, tetap saja dia sangat mengharapkan agar lelaki itu ada di sampingnya.
Tidak bisa dipungkiri, kehadiran Veron adalah sandaran ternyaman dalam berkeluh kesah menumpahkan segala kesedihannya.
Setelah beberapa saat gadis itu mulai tenang dan berhenti menangis. Namun disaat yang bersamaan kondisi tubuhnya juga makin melemah membuat Veron khawatir.
"Kau demam Nia…” ucapnya cemas menyadari suhu tubuh Nia yang meningkat serta wajahnya yang nampak sangat pucat.
Sesaat kemudian Nia benar-benar merasa pusing serta penglihatannya yang mulai gelap, hingga akhirnya gadis itu jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
"NIAAAAA…..!!!”*
…………………………………………………………………………………