NovelToon NovelToon
Teluh Kiriman Tetangga

Teluh Kiriman Tetangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dendam Kesumat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: ummiqu

"Mulutmu harimaumu"

Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.

Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.

Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.

Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.

Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Karma Untuk Narti

Sementara itu di tempat lain, tepat di pinggir sawah, terlihat Narti berdiri dengan linglung, putus asa dan sangat ketakutan. Saking takutnya seluruh tubuhnya gemetar. Terlihat air mata turun deras membasahi wajahnya.

Dalam ingatan Narti, dia diantar pulang oleh Rama dengan motor tadi. Saat melintas di area persawahan itu tiba-tiba Narti melihat Burhan yang berdiri di depan sebuah saung. Burhan memanggil namanya dan melambaikan tangan kearahnya.

Karena senang, Narti pun meminta Rama berhenti. Meski Rama protes tapi Narti tak peduli. Dia segera turun dari motor lalu berjalan cepat menyusuri pematang sawah menuju saung dimana Burhan berada.

Tapi saat langkahnya hampir mencapai tempat dimana Burhan berdiri, sosok pria itu tiba-tiba menghilang. Narti panik dan mulai mencari sambil memanggil Burhan berulang kali tapi nihil. Jangankan menampakkan diri, Burhan bahkan tak merespon panggilannya.

Merasa ada sesuatu yang tak biasa, Narti berniat kembali. Tapi sebelum dia melangkah, sesuatu pun terjadi. Narti melihat sekelilingnya berubah, bukan area persawahan melainkan tempat lain yang mirip dengan hutan. Narti mencoba menajamkan penglihatannya tapi sulit karena terhalang kabut yang turun tiba-tiba.

"Ini tempat apa. Kenapa aku bisa di sini. Mas Burhan, kamu dimana. Jangan bercanda lagi Mas, aku takut. Mas Burhan ...!" panggil Narti.

Lagi-lagi tak ada sahutan. Hanya hening dan dingin yang menyambut.

Saat masih dilanda kebingungan dan ketakutan, tiba-tiba Narti mendengar suara berdebuk di belakang tubuhnya. Bersamaan dengan suara berdebuk itu aroma busuk yang pekat pun menguar. Merasa terganggu dengan aroma busuk itu, Narti pun mengibaskan telapak tangan di depan hidungnya.

Suara berdebuk kembali terdengar di belakang tubuh Narti dan itu membuatnya tersenyum. Rupanya Narti mengira suara itu adalah suara jejak kaki Burhan yang berniat mengerjainya.

Perlahan Narti memutar tubuhnya hingga menghadap ke belakang. Betapa terkejutnya Narti saat mengetahui yang berada di belakangnya bukan Burhan melainkan sosok lain. Saking terkejutnya Narti, tubuhnya tiba-tiba membeku, kaku tak bisa bergerak.

Kini di hadapan Narti terlihat beberapa sosok. Mereka berwujud mirip pocong berwarna hitam, berdiri saling merapat sambil menatap kearah Narti dengan tatapan lapar. Beberapa diantaranya bahkan mendekatkan wajah ke wajah Narti seolah ingin memastikan sesuatu di sana.

Kemudian salah satu dari pocong itu nampak menggerakkan bibir lalu menyebut namanya.

"Narti ...,"

Suara itu membuat Narti tersentak. Tubuhnya yang semula membeku tiba-tiba bisa digerakkan. Saat itu lah Narti sadar, suara yang terdengar memanggil namanya sejak tadi ternyata keluar dari salah satu pocong hitam itu.

Narti pun menoleh kearah pocong itu dan terkejut. Dia melihat pocong hitam yang baru saja menyebut namanya itu memiliki wajah yang mirip dengannya.

Seolah tak punya pilihan, Narti dipaksa menatap pocong itu. Dia bergidik ngeri saat melihat wajah di hadapannya retak perlahan dengan gurat urat halus berwarna kemerahan yang menyebar di seluruh permukaan kulit. Sela retakan tiba-tiba menggembung lalu pecah dan mengeluarkan sesuatu yang menggeliat mirip ular kecil. Setelahnya ular itu membuka mulutnya lebar-lebar lalu mengunyah wajah pocong hitam itu dengan lahap. Meski darah berwarna merah kehitaman mengalir deras dari luka yang ditimbulkan, tapi ular itu belum berhenti. Ular itu baru berhenti mengunyah saat daging wajah pocong hitam itu benar-benar habis.

Setelah tak ada lagi yang bisa disantap, ular itu bergerak kearah mata. Dengan cepat dia memangsa salah satu mata pocong hitam berwajah mirip Narti itu hingga lepas dari rongganya.

Narti tak kuasa lagi menahan diri. Dia menjerit sekencang-kencangnya lalu balik badan dan lari tunggang langgang meninggalkan kumpulan pocong hitam itu.

Dengan tubuh gemetar Narti terus berlari di atas tanah yang becek. Beberapa kali dia terpeleset dan hampir terperosok. Entah detik ke berapa Narti akhirnya jatuh tersungkur di tanah becek itu karena tersandung akar pohon yang menyembul di permukaan tanah.

Dalam posisi tubuh menelungkup di tanah dan mata terpejam, Narti menangis sambil memohon agar kumpulan pocong hitam di belakangnya tidak menyakitinya.

"Ampun ... tolong jangan sakiti saya. Kalo saya ada salah tolong maafin saya. Saya memang lancang, tapi saya ga tau itu tempat kalian. Ampun ... tolong ampuni saya ...," pinta Narti sambil menangis.

Sunyi tak ada suara. Hanya jangkrik yang menyambut permintaan maaf Narti. Setelah beberapa saat menunggu tapi tak ada apa pun yang terjadi, Narti memberanikan diri membuka mata lalu mengamati sekelilingnya. Dia terkejut mengetahui dirinya kembali berada di area persawahan.

Setelah berhasil bangkit, Narti bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Sambil menahan nyeri di sekujur tubuhnya, Narti terus melangkah. Dalam hati dia berharap Rama masih menunggunya di tepi jalan dimana dia tinggalkan tadi.

Namun Narti harus menelan kecewa. Ternyata Rama sudah pergi dan dia ditinggalkan sendiri di tempat itu.

Yakin Rama tak akan kembali, akhirnya Narti memutuskan pulang dengan jalan kaki tanpa alas kaki.

Langkah Narti nampak terseok-seok. Berkali-kali dia berhenti karena nyeri yang tiba-tiba menyerang sekujur tubuhnya.

Setelah perjuangan panjang akhirnya Narti tiba di rumahnya. Dengan tangan gemetar dia mengetuk pintu. Sayangnya suami Narti tak mendengar ketukan itu karena sibuk menenangkan anak mereka yang menangis.

Sekali lagi Narti mengetuk pintu dan kali ini lebih keras. Tepat saat pintu terbuka, tubuh Narti pun luruh ke tanah. Suami Narti yang terkejut berhasil meraih tubuh Narti sebelum wanita itu jatuh tak sadarkan diri.

\=\=\=\=\=

Narti siuman beberapa jam kemudian. Kini dia telah berada di kamar dalam kondisi bersih. Rupanya suami Narti telah memandikan dan mengganti pakaian Narti. Dia juga mengobati dan membalut luka di lutut Narti.

Hal pertama yang Narti lakukan saat siuman adalah menjerit sekencang-kencangnya. Tentu saja itu membuat anak dan suaminya terkejut. Mereka berusaha menenangkan Narti tapi gagal.

"Ampun ... jangan ... !" jerit Narti sambil mengangkat kedua lengan untuk menutupi wajahnya.

"Ada apa Bu. Kamu kenapa, kamu ngomong apa?" tanya suami Narti tak mengerti.

Alih-alih menjawab pertanyaan sang suami, Narti justru menjerit sambil menunjuk ke sudut kamar. Sambil menatap ke sana dia juga menampar wajahnya berkali-kali.

"Astaghfirullah aladziim. Istighfar Bu. Kamu kenapa sih?!" tanya suami Narti.

Karena khawatir jeritan istrinya menarik perhatian tetangga, dengan terpaksa suami Narti membungkamnya dengan cara memukul tengkuk Narti.

Setelah Narti pingsan, suami Narti menghubungi seorang paraji dan memintanya datang ke rumah.

Suami Narti memilih memanggil paraji bukan tenaga medis karena dia yakin istrinya ketempelan makhluk halus saat perjalanan ke rumah tadi. Menurutnya hal itu hanya bisa ditangani oleh orang yang mengerti dunia astral.

Paraji bernama mak Gurun itu tiba sepuluh menit kemudian. Dia adalah seorang wanita sepuh berkemampuan tinggi. Selain menangani wanita hamil dan bayi, dia juga biasa menyembuhkan penyakit non medis atau yang disebabkan oleh makhluk astral.

Saat mak Gurun tiba, Narti masih terpejam. Melihat sekilas saja paraji itu tahu apa yang terjadi. Dia menyentuh tubuh Narti sejenak lalu menggelengkan kepala.

"Gimana Mak. Istri saya kenapa?" tanya suami Narti.

"Memangnya istrimu darimana. Kok bisa sampe begini?" tanya Mak Gurun.

"Saya ga tau Mak. Dia pergi dari kemarin, pamitnya sih ngurus dagangan. Baru pulang beberapa jam yang lalu tapi kondisinya udah begini. Bahkan dia sempet pingsan tadi," sahut suami Narti.

Mak Gurun nampak menghela nafas panjang. Dia menatap Narti sejenak lalu beralih menatap suami dan anak Narti.

"Kalian yang sabar ya. Istrimu ini sedang menjalani karmanya. Saya ga bisa bantu karena ini di luar kendali saya. Udah ada orang lain yang menangani ini sebelumnya dan keliatannya juga terlambat," kata Mak Gurun.

"Karma apa Mak, apa yang terlambat?. Saya ga ngerti maksud Mak Gurun," kata suami Narti gusar.

Mak Gurun hanya menepuk bahu suami Narti beberapa kali. Setelahnya dia pergi meninggalkan rumah Narti begitu saja.

Suami Narti yang sempat terpaku itu tersentak saat mendengar suara pintu tertutup. Bermaksud memberi sedikit imbalan, suami Narti segera mengejar Mak Gurun keluar.

"Tunggu Mak. Maaf kalo saya sempet melamun tadi. Ini ada sedikit uang buat nambahin beli teh," kata suami Narti sambil menyelipkan amplop berisi uang ke telapak tangan Mak Gurun.

"Ga usah. Simpan uang ini baik-baik. Kamu bakal perlu ini nanti," kata Mak Gurun.

"Tapi Mak ... " ucapan suami Narti terputus.

"Bersabar lah. Banyak berdoa dan minta ampun sama Allah," pesan Mak Gurun.

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Mak Gurun naik ke atas motor yang dikendarai cucunya. Tak lama kemudian paraji itu pergi meninggalkan rumah Narti tanpa menoleh lagi.

Suami Narti tampak melepas kepergian sang paraji dengan tatapan bingung. Meski paham kemana arah ucapan Mak Gurun tadi, tapi dia masih penasaran apa penyebab Narti pulang dengan kondisi mengenaskan seperti itu.

\=\=\=\=\=

1
Nurr Tika
lanjut thor 💪
any Sulistiani: in syaa Allah siap 👌🏻😊
total 1 replies
Nurr Tika
dikasih suami baik mlh selingkuh
any Sulistiani: yup, begitu lah klo org krg bersyukur.

lanjut lg ya say, mksh 😘
total 1 replies
Nurr Tika
lanjut
any Sulistiani: Alhamdulillah.., mksh kak 🙏🏻😊
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
ehh nemu bacaan yg baru
bru baca soalnya
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: iya kk tp maaf klo aq blm lanjut baca aoalnya aq ada kenadala kk di quota kadang ada kadang tidak
total 2 replies
Nurr Tika
pantesan ginah benci sma sartika ternya oh ternyata
any Sulistiani: betul. cinta masa lalu yg blm selesai berujung dendam yg ga berkesudahan 😖
total 1 replies
Nurr Tika
waktu hidup ngongnya nyinyir udah jdi pocong ja ngomongnya masih nyinyir ya ginah
any Sulistiani: he he 😄
total 1 replies
Nurr Tika
nyeselkan kamu ginah
Nurr Tika
sabar ya sastro
any Sulistiani: siaaapp 👌🏻
total 1 replies
Nurr Tika
somoga hubunganya langeng ya laras
any Sulistiani: aamiin ... mksh kak 🙏😊
total 1 replies
Nurr Tika
apa ginah kena santet
any Sulistiani: lanjut dulu ya kak ..
total 1 replies
Nurr Tika
kasiankan laras gara" kelakuan ibunya
Nurr Tika
mendinganurusin keluargamu sendiri drpada ngurusin hidup orang lain
any Sulistiani: yup, se7 kak 👍🏻
total 1 replies
Arlena Lena
cepet amat dibuat mati
Arlena Lena
si Ginah mirip si kokop kalo ngomong ta da remmm
any Sulistiani: in syaa Allah siaap KK 😊
total 3 replies
deepey
betul. ini tetangga julid satu ngajak gelud
any Sulistiani: he he ... iya KK 😄
total 1 replies
💎hart👑
dapet notif ada cerita baru dari ummibebs cus langsung baca...
any Sulistiani: Alhamdulillah.. mksh kak 🙏😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!