Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KACA PECAH BERSUARA
Aksa berdiri di sudut gelap klub malam, tangannya memegang gelas minuman berwarna merah seperti darah malam. Matanya yang tajam seperti belati menghadap ke jendela besar, memantau jalanan yang ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang seperti serangga yang sedang mencari makanan. Dia menyukai pemandangan ini – melihat dunia dari jauh, seperti seorang tukang kayu yang mengamati potongan kayu sebelum ia membentuknya menjadi apa yang dia inginkan.
Sidak... Faksa... Aksa...
Nama-nama itu bergema di dalam kepalanya seperti gema di dalam gua yang dalam. Ia tertawa terbahak-bahak, suaranya terdengar menusuk di tengah musik keras yang mengguncang ruangan. Para pelanggan yang sedang bersenang-senang melihatnya sebentar, kemudian kembali pada kegembiraan mereka – tidak ada yang tahu bahwa lelaki yang tersenyum dengan penuh kejam itu adalah sosok yang telah menghilang dari dunia Murni bertahun-tahun yang lalu.
FLASHBACK
Hari ketika Sidak kabur adalah hari di mana dunia nya seperti tanah longsor yang menghanyutkan segala sesuatu yang ada di atasnya. Dia berdiri di pelabuhan kecil yang berbau asin dan udara laut, jasanya sudah kotor seperti kain yang telah dipakai berbulan-bulan, rambutnya kusut seperti semak belukar yang tak pernah dirawat. Di tangannya ada amplop kecil yang berisi uang yang dia curi dari orang tuanya – uang yang akan membawanya keluar dari negeri ini, menuju negara yang terkenal dengan keahliannya dalam mengubah wajah manusia seperti membentuk tanah liat menjadi patung yang baru.
"Aku akan kembali," bisiknya sambil melihat ke arah daratan yang semakin jauh. Suaranya tertutup oleh suara ombak yang menggulung seperti ombak amarah. "Kamu tidak akan pernah mengenalku lagi, Murni. Dan kali ini, hatimu akan benar-benar menjadi milikku."
Di negara yang jauh itu, ia menghabiskan bulan-bulan di dalam ruangan kecil yang berbau obat dan alkohol. Dokter-dokter dengan tangan yang terampil seperti seniman bekerja pada wajahnya – memotong, membentuk, menyuntikkan bahan-bahan yang membuatnya tampak seperti sosok baru yang lahir dari abu. Setiap rasa sakit yang dia rasakan adalah seperti api yang membakar masa lalunya, menghilangkan jejak-jejak Sidak yang pernah membuat Murni menjauh darinya.
Ketika akhirnya ia melihat wajahnya yang baru di cermin besar, ia tertawa dengan suara yang penuh dengan kegembiraan dan kedengkian. Wajah yang dulu kasar dan penuh dengan bekas luka kini licin seperti plastik yang baru dikeluarkan dari kemasan – sebuah wajah yang diberi nama Faksa, kemudian berubah lagi menjadi Aksa. Ia belajar menyembunyikan setiap jejak dari masa lalunya, seperti seorang penyihir yang menyembunyikan buku sihirnya di balik lemari yang terkunci rapat.
Ia kembali ke tanah airnya dengan identitas baru, dengan cerita palsu tentang dirinya yang bekerja di pabrik atau di tempat lain yang bisa membuatnya mendekati Murni. Dia menyukai cara memantau nya dari jauh – seperti seorang pemburu yang mengamati mangsanya dari balik semak belukar, menghitung setiap langkah, setiap senyum, setiap gerakan tangan yang Murni lakukan saat bekerja di pabrik makanan ringan.
"Kamu masih sama saja, Murni," gumamnya sambil melihat foto kecil yang dia simpan di dalam dompetnya – foto Murni yang tersenyum dengan penuh kebaikan, diambil pada hari ketika Sidak masih bisa berdampingan dengannya. "Saking polosnya kamu tidak akan pernah tahu bahwa orang yang kamu percayai sekarang adalah orang yang sama yang pernah kamu tolak."
Aksa menoleh dari jendela, berjalan dengan langkah yang anggun seperti harimau yang sedang berjalan di dalam wilayahnya. Klub malam itu adalah tempat di mana ia bisa bermain dengan keahliannya yang luar biasa – ia pandai bermain dengan kata-kata seperti seorang pemain musik yang pandai memainkan setiap nada pada alat musiknya. Dia bisa membuat orang-orang percaya pada apa saja yang dia katakan, bisa membuat mereka melakukan apa saja yang dia inginkan, hanya dengan sedikit sentuhan dari kecerdikan nya yang penuh dengan kejam.
"Pak Boss," panggil salah satu pekerja klub yang mendekatinya dengan tatapan penuh rasa hormat dan ketakutan. "Semua sudah siap seperti yang kamu perintahkan. Wanita itu akan mulai bekerja lagi besok malam."
Aksa tersenyum dengan senyum yang membuat bibirnya terlihat seperti pisau yang diasah. "Baiklah. Pastikan dia tidak bisa pergi kemana-mana. Dan pastikan juga bahwa pacarnya tidak tahu apa-apa tentang tempat ini. Jika dia berani datang ke sini, aku akan membuat dia menyadari bahwa mencoba mengambil apa yang milikku adalah hal yang sangat bodoh."
Ia berjalan ke atas panggung kecil yang terletak di tengah ruangan, mengambil mikrofon yang ada di sana. Suaranya yang dalam dan merdu terdengar jelas di tengah musik yang dihentikan sebentar. "Selamat malam, para tamu yang terhormat!" serunya dengan suara yang penuh dengan semangat. "Malam ini kita akan memiliki hiburan yang sangat spesial – sesuatu yang akan membuat malam ini menjadi malam yang tidak akan pernah kamu lupakan!"
Para pelanggan bersorak dan bertepuk tangan, wajah mereka penuh dengan kegembiraan yang buta. Aksa melihat mereka dengan mata yang penuh dengan rasa rendah hati – dia menganggap mereka seperti boneka yang bisa dia gerakkan sesuka hati, seperti barang yang bisa dia perjualbelikan kapan saja.
Di belakang layar, ia melihat seorang wanita dengan wajah pucat sedang duduk dengan penuh ketakutan. Dia tahu itu bukan Murni – belum. Tapi dia tahu bahwa satu hari nanti, Murni akan berdiri di atas panggung itu, terpaksa melakukan apa saja yang dia inginkan. Dan ketika itu terjadi, dia akan merasa puas seperti seorang seniman yang melihat karya terbaiknya dipajang di depan khalayak ramai.
"Aku sudah menunggu ini selama bertahun-tahun," bisiknya sambil melihat ke arah langit yang sudah mulai menunjukkan warna fajar. "Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghalangiku untuk mendapatkan apa yang sudah seharusnya menjadi milikku. Murni akan menjadi milikku – baik secara hati, maupun secara tubuh. Dan tidak ada seorang pun yang bisa mengambilnya dariku lagi."
Ia tertawa lagi dengan suara yang terdengar seperti guntur di tengah malam. Di dalam klub malam yang penuh dengan kegembiraan dan kebodohan, sosoknya tampak seperti raja kegelapan yang sedang merencanakan penaklukannya pada dunia yang penuh dengan cahaya. Ia tahu bahwa jalan yang harus ditempuh masih panjang, tapi dia siap menghadapinya – dengan segala cara yang mungkin, dengan segala kejamannya yang tersembunyi di balik wajah plastik yang selalu tersenyum.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Aksa adalah seperti buaya darat yang menyelinap di antara rerumputan tinggi – tubuhnya besar dan mengancam, matanya selalu mencari mangsa baru yang bisa dia seret ke dalam lumpur yang dalam. Ia memiliki simpanan wanita di mana-mana, seperti seorang kolektor yang menyimpan barang berharga di berbagai tempat tersembunyi. Di kontrakan kecil di pinggiran kota, ada Sari yang pernah bekerja sebagai pramugari – dia telah menghabiskan tiga tahun mengikuti setiap kata Aksa seperti anak domba yang mengikuti gembala yang palsu. Di apartemen kecil di tengah kota, ada Line yang mengelola klub malam itu – wanita yang keras dan tangguh, tapi menjadi lunak seperti lilin yang mencair ketika Aksa menatapnya dengan wajahnya yang licin dan penuh dengan janji palsu.
Bahkan di kota-kota kecil yang terletak berjauhan, ada jejak-jejak kesialan yang dia tinggalkan. Di sebuah desa yang jauh dari sini, ada seorang gadis muda bernama Yenti yang kini mengandung anaknya – tapi Aksa telah menghilang seperti kabut yang menghilang ketika matahari muncul, tidak pernah mengakui bahwa dia adalah ayah dari anak yang sedang tumbuh di dalam perut gadis itu. "Dia bilang akan menikah denganku," kata Yanti ketika seseorang bertanya tentang ayah anaknya, matanya penuh dengan air mata yang mengalir seperti sungai yang meluap. "Tapi dia pergi dan tidak pernah kembali lagi."
Aksa tahu semua hal itu. Ia tahu bahwa setiap wanita yang pernah dia sentuh telah terluka seperti kertas yang sobek, hati mereka hancur seperti kaca yang pecah menjadi ribuan keping. Tapi bagi dia, itu hanya bagian dari permainan yang dia mainkan – sebuah permainan di mana dia adalah satu-satunya pemenang, dan semua orang lain adalah sekadar alat yang bisa dia gunakan dan buang kapan saja.
"Sekarang kamu sudah tidak berguna lagi," katanya pada salah satu wanita yang datang mencari dia, wajahnya dingin seperti batu es yang belum pernah terkena sinar matahari. "Pergilah dari sini dan jangan pernah datang lagi. Jika tidak, aku akan membuatmu menyesal pernah mengenalku."
Wanita itu menangis dan berlari pergi, sosoknya mengecil seperti titik kecil di kejauhan. Aksa tertawa dengan suara yang penuh dengan kekejaman, kemudian kembali pada pekerjaannya – merencanakan cara untuk membuat Murni menjadi miliknya selamanya.
Namun di tengah semua kekejaman dan kebohongan yang dia lakukan, satu hal yang selalu tetap sama – targetnya adalah Murni. Ia melihatnya seperti bintang yang paling terang di langit malam yang gelap, sebuah permata yang terlalu berharga untuk diberikan pada orang lain. Bagi Aksa, Murni bukan hanya seorang gadis yang polos dan baik hati – dia adalah bukti bahwa kebaikan masih ada di dunia yang penuh dengan kegelapan, dan dia ingin merusaknya dengan tangan sendiri.
"Kenapa kamu begitu terpikat pada gadis itu?" tanya Line pada suatu malam, ketika mereka sedang duduk di belakang meja kasir klub malam. Wanita itu melihat Aksa dengan mata yang penuh dengan kebingungan dan sedikit rasa cemburu. "Ada banyak wanita yang lebih cantik dan lebih pandai daripada dia. Mengapa kamu harus memilih dia?"
Aksa menoleh, matanya melihat ke arah foto kecil yang dia simpan di dalam dompetnya. Wajah Murni yang tersenyum di foto itu terlihat begitu bersih dan penuh dengan harapan, seperti bunga yang mekar di tengah gurun yang tandus. "Karena dia berbeda," jawabnya dengan suara yang lembut tapi penuh dengan kejam. "Dia tidak tahu tentang dunia yang gelap seperti ini. Dia masih percaya pada kebaikan orang lain. Dan aku ingin menjadi orang yang merusak semua kepercayaan itu. Aku ingin melihatnya jatuh dari ketinggian kebaikannya, jatuh ke dalam lumpur yang aku siapkan untuknya."
Ia berdiri dan berjalan ke arah jendela, melihat langit yang mulai menunjukkan warna merah muda seperti darah yang baru keluar. Di kejauhan, dia bisa melihat gedung pabrik makanan ringan tempat Murni bekerja – sebuah bangunan yang terlihat seperti mercusuar di tengah lautan kegelapan. Ia tahu bahwa Murni sedang istirahat di rumahnya, dirawat oleh Khem yang mencintainya dengan tulus. Rasa dendam yang dalam seperti api yang menyala di dalam hatinya.
Khem...
Nama itu terdengar seperti kutukan di dalam kepalanya. Ia melihat pria itu sebagai batu penghalang yang harus dia hancurkan, sebagai musuh yang harus dia kalahkan. "Kamu tidak akan pernah bisa menjaganya dariku," bisiknya dengan suara yang penuh dengan amarah. "Dia adalah milikku, dan aku akan mengambilnya kembali – tidak peduli apa yang harus kulakukan."
Aksa mulai menyusun rencana dengan cermat seperti tukang arsitek yang merencanakan gedung yang tinggi. Ia akan mengirim pesan kepada Murni, memberitahu dia bahwa jika dia tidak datang bekerja di klub malam itu, maka akan ada bahaya yang mengancam pabrik tempat dia bekerja dan semua rekan kerjanya. Ia akan menggunakan semua kekuatannya untuk membuat Murni merasa bahwa dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang dia katakan.
Ia juga mulai menyusun cara untuk menghilangkan Khem dari jalan nya. Ia tahu bahwa pria itu bekerja di pabrik besi dan baja, dan ada banyak cara untuk membuatnya kehilangan pekerjaan atau bahkan terluka parah. "Jika perlu, aku akan membuat dia menghilang dari dunia ini," gumamnya sambil melihat ke arah gambar mesin berat yang ada di dinding klub malam. "Aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangiku untuk mendapatkan apa yang sudah seharusnya menjadi milikku."
Di tengah malam yang semakin dalam, Aksa berdiri sendirian di atas balkon klub malam, melihat kota yang terus bergerak seperti makhluk hidup yang tidak pernah tidur. Dia tersenyum dengan senyum yang penuh dengan kepercayaan diri dan kekejaman, merasa bahwa dunia ini adalah miliknya untuk diambil dan dimanfaatkan sesuka hati.
"Murni," ucapnya dengan suara yang terdengar seperti bisikan iblis di tengah malam. "Kamu akan segera menyadari bahwa dunia ini bukanlah tempat untuk orang yang sepolos kamu. Dan aku akan menjadi orang yang membawamu masuk ke dalam dunia yang sebenarnya – dunia yang penuh dengan kebohongan, kekerasan, dan keserakahan. Dan ketika itu terjadi, kamu akan menyadari bahwa aku adalah satu-satunya orang yang bisa kamu andalkan."
Ia tertawa dengan suara yang terdengar seperti guntur yang mengguncang langit malam, dan suaranya bercampur dengan musik keras dari klub malam itu – sebuah simfoni kegelapan yang sedang merayakan kelahiran rencana yang akan merusak hidup seseorang yang terlalu baik untuk dunia yang kejam seperti ini.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Aksa menyukai permainan biliar seperti seorang raja yang menyukai permainan catur yang penuh dengan taktik. Meja biliar yang besar di sudut klub malam itu adalah tempat di mana ia merasa paling hidup – bola-bola berwarna seperti buah-buahan eksotis yang tersusun rapi di atas kain hijau yang lembut, tongkatnya yang panjang seperti tongkat sihir yang siap mengubah segala sesuatu yang disentuhnya.
"Silahturahmi saja, Aksa!" teriak salah satu wanita yang sedang duduk di sisi meja, tangannya memegang gelas minuman berwarna kuning seperti matahari yang pudar. "Kamu pasti bisa menembus semua bola ini dengan satu pukulan saja!"
Aksa tersenyum dengan senyum yang licin seperti minyak yang mengalir di atas permukaan air. Dia mengambil tongkatnya dengan tangan yang mantap, matanya terkunci pada bola putih yang akan menjadi kunci untuk membuka gerbang kemenangan. Saat dia mengarahkan tongkatnya, tubuhnya bergerak dengan keanggunan seperti ular yang sedang menyusun diri untuk menyerang mangsanya.
Brak!
Suara pukulan terdengar jelas di tengah kebisingan klub malam, bola-bola bergerak seperti bintang yang jatuh dari langit, masing-masing menuju lubang yang telah ditentukan dengan presisi yang mengagumkan. Aksa tertawa terbahak-bahak, suaranya seperti suara hujan deras yang mengguyur atap besi. Ia mengambil gelas minuman yang dipegang wanita itu, meneguknya dengan cepat seperti orang yang sedang menghilangkan dahaga yang luar biasa.
"Biliar adalah seperti hidupku," katanya sambil menepuk meja dengan tangan yang kuat. "Setiap bola adalah target yang harus aku capai, setiap pukulan adalah keputusan yang harus aku buat dengan tepat. Dan seperti permainan ini, aku akan memastikan bahwa semua yang aku inginkan akan masuk ke dalam lubang yang telah kusiapkan."
Ia terus bermain, bola-bola bergulir di atas meja seperti kapal yang sedang melaju di atas lautan yang tenang. Setiap kali dia berhasil menembus bola ke dalam lubang, para wanita di sekelilingnya akan bersorak dan memberikan dia minuman yang membuat kepalanya menjadi pusing seperti kompas yang hilang arah. Tapi meskipun sudah mabuk seperti orang yang kehilangan akal, mata Aksa tetap tajam seperti jarum yang siap menusuk.
Setelah selesai bermain biliar, Aksa membawa sekelompok wanita ke sudut gelap klub malam, di mana kursi-kursi besar berjejer seperti pulau-pulau di tengah lautan kegelapan. Dia memesan banyak minuman – bir yang berbusa seperti awan putih, koktail yang berwarna-warni seperti pelangi yang muncul setelah hujan, dan minuman keras yang rasanya seperti bara api yang meluncur ke dalam tenggorokan.
Mereka minum bersama, tawa dan candaan tercampur dengan suara musik yang mengguncang dinding klub malam. Aksa bercerita tentang cerita-cerita palsu yang telah dia buat dengan cermat – tentang perjalanannya ke negara-negara jauh, tentang pekerjaannya yang penting, tentang rencana-rencana besar yang akan dia wujudkan. Para wanita itu mendengarkan dengan mata yang penuh dengan kaguman dan ketakutan, mereka tidak tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kebohongan yang dirancang untuk menjebak mereka dalam jerat yang tidak bisa mereka lepaskan.
"Kamu semua sangat beruntung bisa mengenalku," ujar Aksa dengan suara yang sudah sedikit melengking karena mabuk. Dia menyentuh pipi salah satu wanita dengan jari yang dingin seperti besi. "Aku akan membuat kalian semua hidup dengan nyaman dan kaya raya. Cukup percayalah padaku saja."
Namun di balik kata-kata manis itu, hati Aksa tetap dingin seperti es yang ada di dasar danau yang dalam. Ia melihat para wanita itu seperti mainan yang bisa dia mainkan kapan saja, seperti kayu bakar yang bisa dia bakar untuk menghangatkan dirinya sendiri. Ketika salah satu wanita mulai bercerita tentang masa depan Murni dan semua orang yang mencintainya.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Dan di tengahnya, sosok Aksa berdiri seperti raja dari dunia yang gelap, merencanakan langkah berikutnya dalam permainan yang telah dia mulai bertahun-tahun yang lalu – sebuah permainan yang akan menentukan masa depan Murni dan semua orang yang mencintainya.
Di kamar pribadinya yang terletak di atas klub malam, Aksa duduk di depan layar komputer yang bersinar seperti matahari yang tidak pernah terbenam. Jari-jari nya yang besar dan kasar meluncur di atas keyboard seperti ular yang meluncur di atas ranting pohon, mencari jejak digital Murni yang telah dia hilangkan dari pandangannya selama beberapa hari.
"Dia pasti punya akun media sosial," gumamnya sambil meremas dagunya yang tebal. Matanya yang merah karena mabuk kemarin malam kini bersinar dengan api kecurigaan dan hasrat. "Setiap orang punya satu. Dan aku akan menemukan nya, untuk membuatnya merasa cemburu dan datang padaku dengan sendirinya."
Setelah beberapa saat mencari, dia menemukan akun yang dia cari – foto profil Murni yang tersenyum dengan penuh kebaikan, seperti bunga mawar yang mekar di tengah taman yang bersih. Aksa segera mengikuti akun tersebut, kemudian mulai menyusun rencana yang licik seperti jaring laba-laba yang dirancang untuk menjebak serangga yang tidak curiga.
Ia membuka galeri foto dirinya, memilih gambar-gambar yang telah dia siapkan dengan cermat. Ada foto dia sedang merangkul seorang wanita dengan tubuh yang penuh seperti buah nangka yang matang, berpakaian dengan pakaian yang sangat seksi seperti kelopak bunga yang terbuka lebar di tengah malam. Ada foto lagi dia sedang tertawa bersama sekelompok wanita yang berpakaian cerah dan menggemaskan, tangan mereka menyentuh tubuhnya dengan bebas seperti angin yang menyentuh dedaunan.
Setiap foto dia tambahkan dengan kata-kata yang vulgar dan penuh dengan kemesraan yang dibuat-buat – kalimat-kalimat yang seperti racun yang dicurahkan ke dalam air bersih, kata-kata yang dirancang untuk menusuk hati siapa saja yang membacanya. "Hari ini sangat menyenangkan bersama teman-teman cantikku," tulisnya di bawah salah satu foto. "Kita punya banyak kesenangan yang tidak bisa aku ceritakan di sini – sesuatu yang akan membuatmu iri jika kamu melihatnya."
Di bawah foto lain, dia menulis dengan gaya yang penuh dengan kesombongan: "Siapa yang ingin bergabung dengan kita malam ini? Kami punya banyak hal menyenangkan yang akan membuatmu tidak bisa melupakan nya seumur hidupmu. Jangan khawatir, aku akan membuatmu merasa sangat bahagia."
Aksa melihat setiap postingan yang dia bagikan dengan senyum yang penuh dengan kekejaman. Ia membayangkan Murni akan melihatnya, wajahnya akan menjadi pucat seperti kapas yang baru dipetik, matanya akan penuh dengan air mata yang mengalir seperti sungai yang meluap. Ia ingin membuat Murni merasa bahwa dia telah kehilangan sesuatu yang berharga, bahwa dia perlu datang padanya untuk mendapatkan kembali cinta yang telah dia berikan padanya.
"Biarlah dia merasa cemburu," bisiknya sambil menutup laptopnya. "Biarlah dia menyadari bahwa aku bisa mendapatkan siapa saja yang aku inginkan. Dan ketika dia merasa tidak nyaman dengan itu, dia akan datang padaku dan meminta aku untuk kembali kepadanya."
Pada saat yang sama, Murni sedang berbelanja di pasar tradisional yang ramai dengan orang dan suara. Dia mengenakan baju serba putih yang sederhana seperti kapas yang bersih, rambutnya diikat rapi seperti ekor kuda yang lembut. Tangan nya yang ramping membawa keranjang bambu yang penuh dengan sayuran segar seperti daun bayam yang hijau dan buah-buahan matang seperti pepaya yang berwarna oranye.
Suara penjaja yang bersorak-sorai seperti burung perkutut yang berkicau di pagi hari, aroma makanan yang lezat seperti bumbu yang harum mengisi udara. Murni berjalan dengan langkah yang tenang dan santai, menyapa setiap penjaja yang dia kenal dengan senyum yang penuh dengan kebaikan – sama seperti dia selalu lakukan selama ini.
Ketika dia berhenti di sebuah warung yang menjual permen kelapa yang dibungkus daun pisang, teleponnya berbunyi dengan nada dering yang lembut seperti musik anak-anak yang sedang bermain. Dia mengambilnya dengan hati-hati, melihat layar yang menunjukkan ada beberapa notifikasi dari media sosialnya.
Murni membuka aplikasi tersebut dengan tangan yang stabil, melihat postingan-postingan baru dari seseorang yang baru saja mengikutinya – seseorang yang menggunakan nama Aksa. Dia melihat foto-foto yang diposting olehnya, membaca kata-kata yang vulgar dan penuh dengan kemesraan yang dibuat-buat. Tapi wajahnya tetap tenang seperti danau yang tidak pernah bergelombang, matanya tidak menunjukkan sedikit pun rasa cemburu atau kesedihan.
"Tidak apa-apa," gumamnya dengan suara yang lembut seperti angin sepoi-sepoi yang menyentuh daun-daun pohon. Dia menutup aplikasi tersebut dan meletakkan teleponnya kembali ke dalam tasnya. "Setiap orang punya hak untuk menjalani hidup mereka sendiri, seperti setiap bunga punya hak untuk mekar dengan cara mereka sendiri. Aku tidak punya hak untuk merasa marah atau cemburu, karena aku tahu siapa diriku sendiri dan apa yang aku inginkan dalam hidup ini."
Murni melanjutkan berbelanja seperti biasa, memilih barang-barang yang dia butuhkan dengan hati-hati seperti seorang ibu yang sedang mempersiapkan makanan untuk keluarga nya. Dia berbicara dengan penjaja dengan sopan dan ramah, memberikan senyumnya yang bersih dan penuh dengan kebaikan kepada setiap orang yang dia temui. Tidak ada satu pun jejak dari apa yang dia lihat di media sosial yang bisa merusak kedamaian hati nya yang seperti permata yang jernih dan tidak pernah berubah.
Ketika dia selesai berbelanja dan mulai berjalan pulang, matahari mulai berpindah ke arah barat seperti kapal yang sedang kembali ke pelabuhan. Cahaya matahari menyinari wajahnya yang bersih, membuatnya terlihat seperti malaikat yang turun ke bumi untuk menyebarkan kebaikan dan kedamaian. Di dalam tasnya, ada bungkusan permen kelapa yang dia beli untuk Khem – sebuah bukti cinta yang sederhana tapi tulus, seperti air yang mengalir terus menerus di dalam sungai.
Murni tahu bahwa dunia ini penuh dengan orang dan hal-hal yang tidak selalu baik, seperti taman yang penuh dengan bunga indah tapi juga ada rumput liar yang tumbuh di antara nya. Tapi dia juga tahu bahwa kebaikan yang ada di dalam hatinya adalah sesuatu yang tidak bisa dirusak oleh apa pun atau siapapun – seperti matahari yang selalu muncul kembali setelah malam yang panjang dan gelap.
Di kejauhan, Aksa sedang memantau nya dari dalam mobilnya yang tersembunyi di balik sebuah pohon besar. Ia melihat Murni yang berjalan dengan tenang dan santai, tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda bahwa dia telah terpengaruh oleh postingan-postingan yang dia bagikan. Wajahnya yang tadinya penuh dengan senyum kekejaman kini berubah menjadi wajah yang penuh dengan kemarahan dan keterkejutan.
"Bagaimana mungkin dia tidak peduli?" bisiknya dengan suara yang penuh dengan amarah. Ia menepuk kemudi mobilnya dengan tangan yang kuat, membuat bising yang keras seperti guntur yang menyambar. "Aku sudah melakukan segalanya untuk membuatnya merasa cemburu, tapi dia tetap saja seperti biasa – tenang dan penuh dengan kebaikan yang menjengkelkan itu!"
Namun di dalam hati yang dalam dan penuh dengan kegelapan, Aksa merasa sesuatu yang dia tidak pernah rasakan sebelumnya – rasa takut yang mulai merayap seperti semut di atas kulitnya. Dia menyadari bahwa Murni bukanlah seperti wanita-wanita lain yang pernah dia temui – wanita yang bisa dia pancing dengan mudah dengan kata-kata manis dan tindakan yang licik. Murni adalah sosok yang benar-benar murni dan baik hati, seseorang yang tidak bisa dirusak oleh dunia kegelapan yang dia ciptakan.
"Tidak apa-apa," katanya dengan suara yang penuh dengan tekad. Ia memutar kunci mobil dan mulai mengemudi menjauh dari sana, tapi matanya tetap terpaku pada sosok Murni yang semakin jauh. "Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan menemukan cara lain untuk membuatnya menjadi milikku. Karena aku tahu bahwa di dalam hati nya yang murni itu, pasti ada sesuatu yang bisa aku manfaatkan – sesuatu yang akan membuatnya datang padaku dengan sendirinya."
Mobilnya hilang di balik tikungan jalan, menyatu dengan arus kendaraan yang ramai seperti sungai yang mengalir ke laut. Dan di jalan yang sama, Murni terus berjalan pulang dengan langkah yang tenang dan stabil – membawa kebaikan dan kedamaian seperti sebuah lilin yang menyala di tengah kegelapan, tidak pernah takut akan gelap yang mencoba untuk memadamkannya.
...