Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Makan Malam Beresiko
Ting Tong
Ting Tong
Ting Tong
Suara bel apartemen milik Jennie di pencet dengan tidak sabaran. Sang pemilik yang baru sempat meluruskan punggungnya di atas kasur menggeram kesal.
Ting Tong
Ting Tong
"Siapa sih! Ganggu banget!" umpatnya dan langsung mendudukkan tubuhnya. Suara bel itu masih belum berhenti bahkan saat dia sudah sampai di depan pintu dan siap untuk membukanya.
Pintu dia buka dan berdirilah tetangga sebelah unitnya dengan wajah gusar. "Akhirnya, aku pikir kau pingsan di dalam sana," ucap pria itu.
Setelah mengatakan itu Johan langsung menerobos masuk tanpa permisi. Jennie yang masih merasa kesal sekaligus bingung mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Ini ada apa sih!" ucapnya di dalam hati.
Johan yang melihat Jennie hanya diam langsung menutup pintu dan menarik wanita itu ke dalam. "Ada masalah besar," ucapnya sembari mengusak kasar rambutnya.
"Orang tuaku datang dan sekarang mereka berada di restoran yang ada di depan gedung apartemen ini," sambungnya.
Jennie yang masih dalam mode loading membalas, "Terus hubungannya sama aku apa?"
"Semua ini gara-gara Ajeng yang menelepon ibuku dan mengatakan aku memiliki tunangan. Mereka tidak akan pergi sebelum aku membawamu untuk menemuinya," jelas Johan memijat pangkal hidungnya tampak frustasi.
"Kita hanya punya waktu 30 menit sebelum mereka menganggap aku menyembunyikan wanita simpanan," sambungnya.
Jennie membelalakkan matanya, "Tiga puluh menit?!" pekiknya, dia berlari kecil ke arah cermin dan menatap penampilannya sendiri. "Aku butuh waktu tiga hari untuk terlihat seperti manusia normal, bukan tiga puluh menit!"
"Cepat mandi, aku sudah pesankan gaun lewat kurir instan, harusnya lima menit lagi sampai," ucap Johan dan mendorong pelan Jennie.
Setelah paket datang, Johan membawanya menuju kamar Jennie saat wanita itu sudah berada di dalam kamar mandi.
Johan kembali ke unitnya untuk berganti pakaian karena sekarang dia hanya mengenakan celana jogger pendek dan kaos biasa.
Dua puluh menit kemudian, Jennie sudah selesai mandi dan sedang berdiri di depan cermin kamarnya dengan napas tersenggal.
Gaun cocktail bewarna hitam yang sangat simple namun elegan itu sudah menutupi tubuhnya, tapi ada satu masalah.
Dia tidak bisa meraih resleting di punggungnya!
"Sial, sial, sial!" umpatnya. Tangannya meliuk-liuk di belakang punggung seperti sedang melakukan tarian patah tulang, tapi resleting itu tetap macet di tengah-tengah tepat di bawah tulang belikat.
"Jennie? Sudah selesai belum? Kita harus berangkat sekarang," suara Johan terdengar di balik pintu kamar.
Pria itu sudah berganti dengan kemeja bewarna hitam serta celana bahan dengan warna senada, dia mengepaskan warnanya dengan gaun Jennie.
Dia bisa masuk ke apartemen Jennie lagi karena tadi dia mengganjal pintu menggunakan sandalnya sebelah.
"Sebentar!" teriak Jennie dari dalam, dia belum berhasil menggapai resleting.
Johan melihat jam tangannya dan menatap pintu kamar dengan gusar, waktunya hanya tersisa 5 menit lagi.
"Aku masuk!" ucapnya tanpa meminta persetujuan sang pemilik.
Belum sempat Jennie melarang, Johan sudah membuka pintu kamar dan membeku di ambang pintu.
Pria itu melihat Jennie yang sedang berdiri di depan cermin dengan bagian belakang gaun yang terbuka, memamerkan kulit punggungnya yang mulus dan garis pinggangnya yang ramping.
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Johan menelan ludah dan matanya menggelap sata melihat pemandangan di depannya, sedangkan Jennie bisa melihat pantulan Johan lewat cermin.
"Bantu aku, resletingnya macet," ucap Jennie pelan tanpa menoleh ke belakang.
Johan melangkah mendekat, Jennie bisa merasakan panas tubuh pria itu di belakangnya. Jari-jarinya yang panjang dan hangat menyentuh kulit punggung Jennie, yang mana membuat wanita itu gemetar seketika.
"Tahan napasmu," gumam Johan rendah.
Jemari Johan mulai menaikkan resleting itu dengan sangat lambat, setiap inci kenaikan resleting itu terasa seperti siksaan yang nikmat bagi Jennie.
Johan tidak hanya menarik resleting itu, punggung tangannya sesekali menyentuh tulang punggungnya, mengirikan getaran yang jauh lebih dahsyat.
Begiu resleting mencapai tengkuk, pria itu tidak langsung menjauh, dia merapikan rambut Jennie ke satu sisi, membiarkan leher jenjang Jennie terekspos.
"Kau terlihat sangat cantik," bisiknya tepat di telinga Jennie. "Ingat, tetaplah pada peranmu, jangan hancurkan."
****
Keduanya akhirnya sampai di restoran mewah tersebut. Di sudut meja paling tenang, duduk dua orang paruh baya yang terlihat sangat berwibawa. Sang Ibu mengenakan kebaya modern, sedangkan sang Ayah memiliki tatapan setajam Johan.
"Malam, Ma, Pa," sapa Johan begitu sudah sampai di samping mereka. "Perkenalkan, ini Jennie."
Johan menarik kursi untuk Jennie dan mempersilahkan tunangan pura-puranya itu untuk duduk.
Jennie tersenyum manis, senyum yang dia latih di depan cermin lift tadi. "Malam, Tante, Om. Maaf kami agak terlambat."
Ibu Johan yang bernama Ratna itu memicingkan matanya, meneliti Jennie dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Jadi ini wanita yang membuatmu menolak Ajeng? Kata Ajeng di sedikit 'berbeda'"
"Berbeda itu unik, Ma," potong Johan cepat sembari menggenggam tangan Jennie di bawah meja.
"Jadi Jennie," sekarang giliran Ayah Johan yang bernama Hardi berbicara. "Apa pekerjaanmu? Keluarga kami sangat menghargai pendidikan dan juga pekerjaan yang stabil."
Jennie merasakan telapak tangannya berkeringat, genggaman Johan di tangannya mengencang, sebuah sinyal agar dia berhati-hati dengan ucapannya.
Tidak mungkin juga dia bilang, "Oh, saya penulis novel dewasa yang sedang menggunakan putra Anda sebagai bahan fantasi, Om." Bisa-bisa dia langsung dilempar piring saji.
"Saya seorang penulis, Om," jawab Jennie dengan nada paling meyakinkan.
"Penulis? Penulis apa?" tanya Bu Ratna penuh selidik. "Majalah mode? Atau puisi?"
Jennie menelan ludah, dia melirik Johan sejenak lalu memutar otaknya yang penuh imajinasi liar itu. "Penulis buku sejarah, Tante. Saya sangat mendalami sejarah interaksi manusia dan evolusi hasrat....eh, maksud saya evolusi budaya."
"Sejarah?" Pak Hardi tampak tertarik. "Langka sekali anak muda jaman sekarang suka sejarah, fokusnya di bidang apa?"
"Sejarah...pertempuran," balas Jennie dengan asal. Yah, pertempuran di bawah selimut, batinnya nakal.
"Saya menulis tentang bagaimana konflik-konflik besar di masa lalu yang dipicu oleh api yang membara di dalam jiwa manusia."
"Wah, sangat filosofis," puji Bu Ratna mulai melunak. "Johan memang menyukai wanita yang cerdas, tapi sejarah itu berat, kan? Apa tidak pusing mengurusi naskah-naskah kuno?"
Jennie tersenyum dan menggeleng kecil, "Sama sekali tidak, Tante. Penelitian yang saya lakukan sangat memuaskan," jawabnya sembari melirik Johan dengan tatapan nakal.
"Terkadang saya butuh simulasi langsung agar tulisannya terasa lebih nyata."
Johan hampir tersedak air minumnya, dia terbatuk kecil dan segera memperbaiki posisi duduknya. "Maksud Jennie dia suka menggunjungi museum dan lokasi bersejarah, Ma."
"Bagus itu. Tapi Jennie, tante harap sejarah yang kamu tulis itu sejarah yang sopan ya. Jaman sekarang banyak sekali buku-buku yang isinya kurang mendidik," ucap Bu Ratna.
Jennie tersenyum tulus, "Tentu, Tante. Sejarah yang saya tulis sangat mengedukasi bagi mereka yang ingin membacanya."
Makan malam berlanjut dengan Jennie yang terus melakukan improvisasi gila. Setiap kali Pak Hardi bertanya tentang sejarah, dia akan menjawab dengan istilah-istilah aneh yang dipoles dengan bahasa yang kaku.
"Aku bangga padamu, Nak!," ujar Pak Hardi sambil mengangkat gelasnya. "Wanita seperti Jennie jauh lebih baik daripada Ajeng yang hanya mengerti soal belanja."
Jennie tersenyum dan menghela napas lega karena misi ini sukses besar, dia menoleh ke arah Johan dan memberikan kedipan bangga. Namun senyum itu langsung menghilang saat dia melihat sesorang yang baru saja memasuki restoran dengan langkah angkuh.
Orang itu adalah Ajeng, dengan mengenakan gaun merah mencolok matanya langsung menyapu seluruh ruangan. Begitu menemukan apa yang dia cari, wanita itu menyeringai tipis dan langsung menghampiri meja mereka.
Jennie merasakan jantungnya merosot ke perut, Johan yang menyadari kehadiran Ajeng semakin mempererat genggamannya di bawah meja.
"Jangan gugup dan jangan lepaskan tanganku apapun yang terjadi," bisik Johan dengan suara rendah.
Bersambung