Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 31
Bu Anti sudah selesai diperiksa. Dokter IGD menjelaskan bahwa pergelangan kakinya terkilir cukup parah, namun tidak ada patah tulang. Tetap perlu observasi semalam untuk memastikan tidak ada komplikasi lain, mengingat usia dan riwayat tekanan darahnya.
Sebelum dokter pergi, Zaidan sempat berkata, “Dok, sekalian cek keseluruhan ya. Darah, tekanan, gula. Pastikan semuanya aman.”
Zahra langsung menoleh. “Mas, ibu memang ada riwayat tekanan darah tinggi. Tapi nggak usah sebanyak itu juga.”
“Udah tenang aja,” potong Zaidan pelan. “Ditanggung asuransi pemerintah kok. Sekarang fokus ke ibu kamu dulu.”
Nada suaranya tidak tinggi, tapi tegas. Dan entah kenapa, kali ini Zahra memilih diam. Ia kembali mendampingi ibunya yang dibawa ke ruang rontgen.
Setelah semua pemeriksaan selesai, seorang perawat mengantar mereka ke ruang rawat inap.
Begitu pintu kamar terbuka, Zahra langsung terdiam.
Kamar itu luas. Hanya satu tempat tidur pasien. Ada sofa panjang di sudut ruangan yang bisa juga berfungsi sebagai ranjang untuk keluarga yang menunggu, televisi menempel di dinding, dan kamar mandi dalam yang bersih.
“Kita salah masuk kamar, Mbak?” tanya Zahra ragu pada perawat.
“Tidak, ini kamar untuk Ibu Anti,” jawab perawat ramah.
Zahra menoleh cepat ke arah Zaidan.
Bu Anti yang sudah terbaring tampak kebingungan. “Kenapa di kamar yang ini? Biasanya Ibu di kamar yang ramean isinya…”
“Biar Ibu bisa istirahat lebih tenang,” jawab Zaidan sambil tersenyum hangat. “Nggak terganggu dengan pasien lain.”
Bu Anti terlihat ingin bertanya lagi, tapi obat pereda nyeri yang diberikan dokter mulai bekerja. Tak lama kemudian, napasnya teratur dan matanya terpejam.
Zahra berdiri di sisi tempat tidur, merapikan selimut ibunya dengan hati-hati. Jarinya bergerak pelan, seolah memastikan tak ada lipatan yang mengganggu. Beberapa detik kemudian, ia melirik ke arah Zaidan yang berdiri di dekat jendela, sedang mengetik sesuatu di ponselnya.
Dengan langkah pelan, Zahra menghampirinya.
“Kita bicara di luar, Mas.”
Zaidan langsung mengangguk dan mengikutinya keluar kamar.
Lorong malam itu cukup sepi. Lampu putih memantulkan bayangan mereka di lantai mengkilap. Tidak ada keluarga pasien maupun perawat yang berlalu lalang hingga hanya mereka berdua saja yang ada di sana.
“Kenapa?” tanya Zaidan pelan.
Zahra menatapnya, berusaha menahan nada suaranya agar tidak terdengar terlalu emosional.
“Kenapa harus kamar ini, sih? Kan bisa kamar biasa, sesuai kelas asuransi kami.”
“Ini—”
“Nggak usah alasan asuransi, Mas,” potong Zahra cepat. “Saya tahu sistemnya. Kalau naik kelas pun, paling ibu tetap di kamar berempat. Nggak mungkin langsung VIP begini.”
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Saya nggak mampu bayar tagihannya nanti, Mas,” ucapnya pelan. Terdengar lelah namun tetap tegas.
“Nggak ada yang nyuruh kamu bayar,” jawab Zaidan tenang.
“Lalu? Mas yang bayar?” Zahra menatapnya tajam. “Itu makin nggak masuk akal. Kita nggak ada hubungan apa-apa. Mas nggak punya kewajiban melakukan ini.”
Zaidan terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan, “Makanya… terima cinta saya, Zahra. Biar saya bisa nolong kamu tanpa kamu merasa berhutang.”
Zahra memejamkan mata sesaat. “Mas…”
“Apa sampai sekarang kamu belum lihat ketulusan saya?” Suara Zaidan melembut. “Saya benar-benar sayang sama kamu, Ra.”
Zahra mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke mata Zaidan.
Tatapan itu tidak main-main. Tidak ada niat merendahkan, tidak pula ada rasa iba yang menyakitkan harga dirinya. Justru itu yang membuat dadanya sesak.
Matanya mulai memanas. Zahra tahu, sekali saja ia mengedipkan matanya, maka air itu akan jatuh ke pipinya.
Lorong itu hening.
Hanya suara beberapa perawat yang ada di nurse station dan detak jantungnya sendiri yang terasa begitu keras.
Setelah beberapa saat, Zahra akhirnya bersuara lagi. Suaranya lebih pelan dan lebih berat.
“Ada satu hal yang Mas nggak tahu tentang saya.”
Zaidan tidak menyela.
“Dan malam ini… saya akan jujur. Supaya Mas bisa mikir ulang sebelum benar-benar mau sama saya.”
Ia menarik napas panjang. Tangannya pun bergetar.
“Saya pernah hamil.”
Kata-kata itu keluar pelan, tapi jelas. Terlalu jelas bahkan hingga berhasil membuat Zaidan membeku.
“Saya hamil… akibat kejadian menjijikkan itu.” Suaranya serak. “Saya hamil anak dia.”
Air mata akhirnya jatuh.
Zahra melangkah satu langkah mendekat.
“Sekarang gimana, Mas? Mas masih mau?” suaranya bergetar. “Saya nggak suci. Saya rusak. Saya nggak pantas berdiri di samping polisi seperti Mas. Karir Mas bagus. Masa depan Mas panjang. Mas bisa dapetin perempuan yang jauh lebih bersih dari saya.”
Zaidan tetap diam. Wajahnya tegang, tapi bukan karena jijik namun lebih karena menahan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Diamnya itulah yang menusuk Zahra.
Ia tertawa kecil, dan terasa pahit.
“Sudah saya bilang… kita memang nggak cocok.”
Tanpa menunggu jawaban, Zahra berbalik dan masuk kembali ke kamar. Ia tidak ingin ibunya terbangun karena mendengar suaranya.
Ia langsung masuk ke kamar mandi, mengunci pintu, lalu bersandar di baliknya.
Tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah. Ada rasa lega karena akhirnya ia bisa jujur dengan kondisinya. Tapi ada juga rasa kecewa… karena pria itu hanya diam.
“Kamu pasti tidak bisa menerimaku, Mas…”
...****************...
Hari Senin nih. Vote nya dong best 😘😘
Selamat dobel Z.
Gk ada bonchap thor🤭
papa tadi said: gak usah lope lope an, gak lihat suaminya disini... 😤😤😤
🤣🤣🤣🤣🤣
Keluarga idola nih....orang kaya tapi gak pernah memandang status, baik hati dan tidak sombong.
Berbahagia kamu Zahra, bisa menjadi bagian dari keluarga ini