Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.
Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. ANCAMAN YANG MENGUJI KEKUATAN
Malam hari setelah hasil tes DNA resmi diumumkan, Ridwan pulang sendirian ke penginapannya yang terletak di kawasan sekitar Pasar Cihampelas. Meskipun dia tahu bahwa ada risiko bahaya setelah mengungkap identitasnya sebagai ahli waris sah PT. Dewi Santoso, dia merasa perlu untuk menghabiskan waktu sendiri untuk merenungkan langkah-langkah selanjutnya dan menyusun rencana untuk masa depan perusahaan.
Saat dia memasuki gang kecil yang menghubungkan jalan utama dengan tempat tinggalnya, dia merasakan bahwa ada orang lain yang mengikutinya dari belakang. Langkah kaki yang terdengar jelas namun sengaja dibuat pelan menunjukkan bahwa mereka tidak datang dengan niat baik. Ridwan berhenti sejenak seolah-olah sedang mengambil sesuatu dari tasnya, sambil menggunakan bayangan untuk melihat sekeliling melalui cermin mata kepalanya. Tiga orang pria berbadan besar dengan wajah tersembunyi di balik topi dan masker wajah sedang mendekatinya dengan cepat.
“Kau adalah Ridwan Wijaya bukan?” suara salah satu pria terdengar dengan kasar di tengah kegelapan gang. “Kita telah mendapat pesan dari majikan kita untuk memberitahumu bahwa kamu sebaiknya menarik diri dari semua klaimmu terhadap perusahaan. Jika tidak, kamu akan mengalami kesusahan yang jauh lebih besar daripada yang kamu bayangkan.”
Ridwan tetap tenang, berbalik perlahan untuk menghadapi mereka dengan sikap yang siap siaga. “Siapa majikanmu yang menyuruhmu melakukan hal ini?” tanya dia dengan suara yang jelas dan tegas. “Apakah ini perintah dari Rio Santoso?”
Pria tersebut hanya tertawa dengan suara yang menyakitkan hati. “Kau tidak perlu tahu siapa dia,” jawabnya dengan nada penuh dengan ancaman. “Yang penting adalah kamu harus pergi dari kota ini dan tidak pernah muncul lagi. Jika tidak, kita tidak akan sungkan untuk melakukan apa saja agar kamu tidak bisa mengganggu majikan kita lagi.”
Salah satu pria lainnya mulai mengeluarkan sebuah tongkat besi dari balik punggungnya, sambil menggerakkan tubuhnya seperti siap menyerang. Namun sebelum mereka bisa melakukan apa-apa, Ridwan sudah mulai bergerak dengan cepat menggunakan teknik beladiri tradisional yang dia pelajari dari Kakek Sembilan. Gerakannya presisi dan efisien—tanpa menggunakan kekerasan berlebih, dia berhasil menghindari serangan pertama dan menangkap lengan pria yang membawa tongkat besi dengan tangan kanannya.
Dalam hitungan detik, Ridwan berhasil menahan pria tersebut dengan mengikat tangannya di belakang punggungnya menggunakan tali yang dia ambil dari saku jasnya. Dua pria lainnya mencoba menyerang secara bersamaan, tapi Ridwan dengan mudah menghindari serangan mereka dan memberikan pukulan tepat pada titik-titik yang membuat mereka kehilangan keseimbangan tanpa mengalami cedera serius.
“Saya tidak ingin menyakiti kalian,” ujar Ridwan dengan suara yang tetap tenang setelah berhasil menahan salah satu pria lainnya. “Tapi saya tidak akan tinggal diam jika kalian mencoba menyakiti saya atau orang-orang yang saya cintai. Sekarang katakan padaku—siapa yang menyuruh kalian melakukan ini dan apa yang sebenarnya mereka inginkan?”
Pria yang ditahan oleh Ridwan terlihat mulai panik, terutama setelah mendengar suara sirene polisi yang semakin dekat dari arah jalan utama. “Jangan laporkan kami ke polisi!” teriaknya dengan suara yang penuh dengan ketakutan. “Kami hanya mengikuti perintah karena terpaksa—kami membutuhkan uang untuk keluarga kami. Rio Santoso memberikan kami uang banyak jika kami bisa membuatmu pergi dari kota ini atau membuatmu tidak bisa lagi mengajukan klaimmu.”
Ridwan merasa darahnya mendidih dengan kemarahan mendengar nama Rio yang disebutkan secara terbuka. Namun dia tetap menjaga emosinya dengan baik, mengetahui bahwa informasi yang diberikan oleh pria ini bisa menjadi bukti tambahan dalam kasus hukum mereka. “Beritahu saya semua yang kamu tahu tentang rencana Rio dan orang-orangnya,” katanya dengan suara yang jelas. “Jika kamu bersedia membantu kami dengan memberikan kesaksian di pengadilan, saya akan berusaha untuk membantu kamu agar tidak mendapatkan hukuman yang berat.”
Pada saat itu, mobil polisi yang telah diberitahu oleh Pak Sudarto—yang selalu memastikan keamanan Ridwan—tiba di lokasi kejadian. Petugas polisi segera menangkap ketiga pria tersebut dan membawa mereka ke kantor polisi untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satu pria tersebut, yang mengaku bernama Anton, akhirnya bersedia untuk memberikan kesaksian lengkap setelah Ridwan memberikan jaminan bahwa dia akan membantu keluarga Anton yang sedang mengalami kesulitan finansial.
“Rio datang menemui saya dan dua teman saya seminggu yang lalu,” ujar Anton saat memberikan kesaksian kepada polisi dan tim pengacara keluarga Wijaya di kantor polisi. “Dia mengatakan bahwa jika kami bisa membuat Ridwan Wijaya menghilang atau menyerah dari klaimnya, dia akan memberikan kami uang sebanyak lima juta rupiah masing-masing. Dia juga menyuruh kami untuk merusak semua bukti yang telah dikumpulkan oleh Ridwan dan keluarganya.”
Dia kemudian mengambil sebuah surat dari dalam saku bajunya dan memberikannya kepada petugas polisi. “Ini adalah surat yang diberikan oleh Rio beserta uang muka sebesar satu juta rupiah,” katanya dengan suara yang penuh dengan penyesalan. “Di dalam surat tersebut tertulis instruksi rinci tentang apa yang harus kami lakukan jika gagal membuat Ridwan menyerah—termasuk rencana untuk menyerang keluarga Wijaya dan Mira yang telah membantu Ridwan.”
Ridwan melihat surat tersebut dengan ekspresi yang penuh dengan kemarahan dan kekhawatiran. “Mereka tidak hanya mencoba menyakiti saya,” katanya dengan suara yang jelas. “Mereka bahkan berani mengancam keluarga saya dan orang-orang yang telah membantu saya dalam perjuangan ini. Ini adalah bukti lebih lanjut tentang betapa kejam mereka dalam mencoba mempertahankan kekuasaan yang mereka curi.”
Tim pengacara segera mengambil salinan surat tersebut sebagai bukti tambahan dalam kasus mereka. “Dengan kesaksian dari Anton dan bukti fisik berupa surat ini,” ujar salah satu pengacara dengan suara yang penuh dengan tekad, “kita bisa mengajukan tuduhan tambahan terhadap Rio Santoso tentang percobaan pemaksaan dan ancaman terhadap nyawa orang lain. Ini akan memperkuat kasus kita dan membuatnya lebih sulit bagi mereka untuk kabur dari hukum.”
Setelah proses pemeriksaan selesai, Ridwan kembali ke rumah keluarga Wijaya yang sedang menginap di hotel. Pak Wijaya dan seluruh keluarga telah menunggunya dengan penuh kekhawatiran, namun merasa lega ketika melihat bahwa dia dalam keadaan baik dan telah berhasil menangkap salah satu orang yang mengancamnya.
“Kita harus lebih berhati-hati dari sekarang ini,” ujar Pak Wijaya dengan suara yang penuh dengan perhatian. “Saya akan menyewa tim keamanan pribadi untuk melindungi kamu dan seluruh keluarga. Kita tidak bisa membiarkan mereka membahayakan kamu setelah kita telah menemukan kamu kembali.”
Ridwan mengangguk dengan pemahaman, kemudian memberitahu keluarga tentang kesaksian yang diberikan oleh Anton dan surat yang ditemukan. “Ini menunjukkan bahwa mereka sudah mulai panik,” katanya dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Mereka tahu bahwa kita memiliki bukti yang kuat dan bahwa mereka tidak akan bisa kabur dari hukum. Itulah mengapa mereka mencoba melakukan segala cara untuk membuat kita menyerah.”
Siti yang sedang duduk di sampingnya mengambil tangannya dengan lembut. “Kamu telah menunjukkan kekuatan dan keberanian yang luar biasa, mas,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan penghargaan. “Kakak Dewi pasti sangat bangga dengan bagaimana kamu menghadapi ancaman ini dengan tenang dan berhasil mengubah situasi menjadi keuntungan bagi kita.”
Pada hari berikutnya, kesaksian Anton dan bukti lain yang ditemukan oleh polisi menjadi berita utama di koran dan siaran berita lokal. Publik mulai menyadari bahwa kasus PT. Dewi Santoso bukan hanya tentang perebutan kekayaan, melainkan juga tentang kejahatan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan. Banyak orang yang pernah menggunakan produk perusahaan atau mengenal Dewi Wijaya secara pribadi mulai memberikan dukungan kepada Ridwan dan keluarga Wijaya, menyatakan bahwa mereka berharap keadilan bisa segera diberikan.
Ridwan menghadiri konferensi pers yang diadakan oleh tim pengacara untuk memberikan keterangan resmi tentang kejadian malam sebelumnya. Dalam pidatonya yang jelas dan tegas, dia menyatakan bahwa dia tidak akan menyerah dalam perjuangannya untuk mendapatkan keadilan bagi ibu nya dan untuk mengembalikan perusahaan ke tangan yang benar.
“Saya tidak takut dengan ancaman apa pun,” ujar Ridwan di depan kamera dan mikrofon yang ada di hadapannya. “Saya akan terus bekerja keras untuk memastikan bahwa orang-orang yang telah melakukan kesalahan akan mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan, dan bahwa perusahaan yang dibangun oleh ibu saya dengan kerja keras akan kembali menjadi perusahaan yang peduli dengan masyarakat dan memberikan manfaat bagi banyak orang.”
Setelah konferensi pers selesai, Ridwan menerima panggilan telepon dari Kakek Sembilan yang telah mengetahui tentang insiden malam sebelumnya. “Anakku, kamu telah menunjukkan bahwa kamu benar-benar layak menjadi penerus warisan keluarga kita,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan bangga. “Kekuatan yang kamu miliki bukan hanya berasal dari kemampuan beladiri yang kamu pelajari, tapi juga dari kebenaran yang kamu pegang teguh. Tetaplah kuat dan jangan pernah menyerah—kebaikan akan selalu menang pada akhirnya.”
Ridwan menutup telepon dengan rasa syukur yang mendalam. Dia tahu bahwa perjuangan yang dia jalani tidak akan mudah dan bahwa masih banyak tantangan yang akan datang. Namun dengan dukungan dari keluarga, teman-teman, dan masyarakat yang telah memberikan dukungan, serta dengan kebenaran yang berada di pihaknya, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi segala sesuatu yang akan datang. Di hatinya, dia berjanji kepada ibu nya bahwa dia akan terus berjuang sampai keadilan diberikan dan perusahaan kembali ke kejayaan semula yang seharusnya dimiliki.