NovelToon NovelToon
What We Were Never Given

What We Were Never Given

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Oryelle

Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.

Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?

Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Rasa Bersalah Nareya

“Kala itu suka makanan sehat, kalau lagi dingin seperti ini, suka soup. Kamu suka masak di rumah?” ucap Ana

Nareya mendengarkan sambil membantu memotong-motong wortel, “Reya suka masak. Tapi kalau di rumah tidak pernah bantu masak, karena ujungnya pasti mama ngomel.”

Ana terkekeh,”Iya jadi ibu rumah tangga memang berat, apa lagi kalau merasa berjuang sendirian. Alhasil emosi nya bocor karena hal-hal kecil.” Ana menahan ucapanya sejenak lalu melanjutkan, “Mommy awal-awal juga seperti itu, saat sering ditinggal suami ke Indonesia.”

Nareya menghentikan gerakan tanganya, “Mommy pernah merasa sedih nggak ketika tidak diakui oleh keluarga Pak Adji?”

Ana tersenyum, tidak langsung menjawab. Ia mengatur suhu oven setelah memasukan adonan roti. Menghela napas lalu Ana menjelaskan, “Pasti sedih, karena saat itu belum begitu mengenal mereka. Keluarga Atmasena—Atmasena dalam buku yang pernah mommy baca artinya penjaga jiwa. Eyang kakungnya Kala itu betul seperti namanya, menjaga setiap keturunanya. Dari kemiskinan terutama, hanya saja idealisme yang terbentuk karena trauma zaman penjajahan yang diturunkan begitu kuat.”jelas Anna, lalu menunjuk-nunjuk dadanya sendiri,” Apalagi—Adji, anak kebanggaanya menikah dengan keturunan Belanda.”

“But anyway Reya, sayangku, mommy titip Kala ya. Meski dia terlalu dingin, terlalu mengontrol, dia sebenarnya juga rapuh. Mommy kenal bagaimana dia menunjukan kontrol nya kepada Kirana. Itu juga pasti akan terjadi ke kamu, tapi dia memang sayang dengan cara yang berbeda.

Nareya mulai mengerti kenapa Adjji yang dikenal keras bisa mencintai Ana. Karena dia saja begitu nyaman berdekatan denganya. Berbeda ketika berinteraksi dengan orang–orang di rumah utama yang penuh ketegangan. Hal positif yang selalu Ana utarakan membuat dunia terasa lebih mudah untuk ditinggali. Bahkan dia tidak melewatkan untuk menyebut sisi negatif, tapi semua terasa jadi bisa diterima.

“Kala memang menyebalkan, jujur saja Reya masih belum mengenal sepenuhnya.” Nareya lalu melanjutkan ucapanya “But mom, you deserve to be loved. I feel that too” Nareya memeluk Ana.

“Oh, sayang. Mommy sayang Nareya juga.” Ana membalas pelukan menantunya

“Mom, if one day… kalau suatu saat Nareya mencintai Kala mungkin alasanya karena mommy Ana.” adu Nareya.

“Wait, what?” Ana menguraikan pelukan nya. Menatap Nareya dengan alis menyatu.

Nareya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “Eee.. maksudnya.. Em.” Nareya tidak menemukan satu katapun untuk mengeles.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Kala yang tiba-tiba memeluk Nareya dari belakang.

Ana menyipitkan matanya ke arah Kala.

Kedua alis Kala naik, “Apa, mom?” tanya Kala.

“Kamu belum juga bisa membuat istrimu jatuh cinta? Ugh, that’s pathetic,”ejek Ana.

Nareya yang risi, dengan pelan menurunkan tangan Kala. Namun Kala malah mengeratkanya. “Hey, itu bohong. Kalau tidak cinta tidak mungkin semalam…” ucapan Kala terpotong karena telapak tangan Nareya menutup mulutnya.

Ana beralih menatap Nareya, seolah meminta penjelasan.

“Emm itu nggak…”

“Ah, kalian malah pamer kemesraan di depan mommy. Sudah sana mommy mau melanjutkan masak.”

Kala tersenyum jahil kepada Ana, lalu menyeret Nareya menjauh dari dapur. Ana berseru sebelum mereka keluar dari dapur.

“Kala ingat kan Bapak Adji! kapan punya waktu untuk Ana.” seru Ana

Kala mengoyangkan jari telunjuknya, “No no Bapak sibuk

***

“Kenapa kamu bilang begitu ke mommy, aku malu sekali.” ucap Nareya

“Apanya yang malu. Habis sarapan aku mau ajak kamu belajar ski.”ujar Kala.

Ana sudah memanggil mereka untuk sarapan. Momen sarapan, sambil bercerita, saling mendukung.Terbesit sedikit harapan kalau suasana seperti ini akan selamanya. Kedamaian rumah yang hangat, tanpa keributan yang Nareya dambakan. Tak terasa ternyata sudah tercapai, meski dalam bentuk yang berbeda.

“Kalian berdua hati-hati ya nak. Beberapa hari masih suka tiba-tiba badai salju” pesan Ana sebelum Kala dan Nareya berangkat.

Kala dan Nareya berpamitan dan memeluk Ana sebelum pergi. Pegunungan salju tidak jauh dari rumah. Kali ini kala duduk di belakang dengan Nareya, sementara dua pengawalnya yang berkendara. Karena melewati jalanan bersalju, Kala menggunakan mobil khusus.

“Diantara kalian berdua, siapa yang selalu mengawasi kegiatanku?” tanya Nareya.

“Em, ee kami berdua Non.” jawab salah satu pengawal itu setelah melihat dari kaca, Kala menganggukan tanda boleh menjawab.

“Mulai sekarang aku melarang kalian berdua mengikutiku. Kalian melanggar privasiku!” tekan Nareya.

“Maaf Non kami hanya melakukan perintah Tuan Kala.”

Merasa mendapat tatapan tidak mengenakan dari Nareya Kala hanya menoleh lalu mengusap kepala Nareya. Tidak merasa bersalah dan tidak juga merasa terintimidasi dengan tatapan Nareya.

Sempat beberapa kali tergelincir saat berkendara, mereka akhirnya sampai di area puncak bersalju untuk ski. Kala memakaikan Nareya peralatan ski. Merekatkan sepatu khusus untuk ski. Sedikit menjelaskan cara bermain ski, lalu beberapa kali melakukan pemanasan, Kala memandu dengan sabar.

“Ini area pemula, jadi tidak perlu takut, pelan-pelan coba maju, badan condong ke depan. Yup seperti itu.” Kala mengikuti dari belakang.”Pelankan, tenang, aduh.”

Nareya yang panik lupa caranya untuk berhenti. Akhirnya terjelembab ke samping. Posisi jatuhnya sedikit terlalu dekat dengan pohon membuat Kala panik. Namun dengan cekatan membantu Nareya berdiri dan memastikan tidak ada cedera.

“Kamu panik tadi jadi lupa cara berhenti. Kalau mau berhenti ke arah kiri maka kaki kiri di depan, begitu juga kalau mau ke kanan. Atau kalau mau berhenti di posisi lurus, bagian depan kaki terbuka. Oke? Saya selalu disampingmu, jadi jangan panik.” ucap Kala menenangkan.

Nareya belajar dengan sangat cepat, meski beberapa kali terjatuh dan membuat pantatnya lumayan sakit. Tapi melihat anak kecil yang tadi belajar dengan nya sudah mencoba di area expert akhirnya Nareya menginginkan mencoba juga.

“Aku mau coba di sana please!” Nareya memohon dengan kedua telapak tangan disatukan didepan wajahnya. “Kan aku udah lumayan bisa tadi. Ya ya ya please”

Kala hampir saja tergelak dengan cara Nareya memohon, “Iya sayangku.” ucap Kala yang langsung dihadiahi pukulan Nareya di lengan, lalu berdecih.

Ketika akhirnya sampai di area expert Nareya mendapat peringatan berkali, kali oleh Kala.

“Pokoknya kamu harus dengarkan saya. Jangan iseng kamu! Ini extrem untuk pemula seperti kamu.” jelas Kala tegas

Sedangkan Nareya bukanya mengikuti instruksi  justru tertantang karena Kala meremehkan sebagai pemula. Tanpa Nareya tahu resiko sebesar apa yang bisa terjadi, dia melaju kencang di depan. Tertawa ketika Kala jauh tertinggal di belakang.

“Reya, kontrol, Reya buka bagian depan!” seru Kala dari belakang. Tapi Nareya justru melakukan yang sebaliknya sehingga dia melaju semakin kencang.

Kala semakin panik, akhirnya mengejar Nareya dengan cepat. Tepat di depan Nareya, Kala menahan di depan. Sehingga Nareya jatuh menindih Kala. Melepas tongkat nya Kala memeluk kepala Nareya menghindari benturan keras.

“Argh..” geram Kala ketika kakinya tidak bisa digerakan. Sedangkan Nareya sudah menyingkir dari pelukan Kala.

“Aku aku minta maaf.” Nareya membantu menarik Kala agar berdiri. Namun Kala semakin menggeram kesakitan.

“Stop dulu. Kaki saya sepertinya cedera. Tunggu pengawal menyusul kemari. Mereka tidak jauh.” Kala menjawab dengan sangat tenang berusaha menjaga Nareya yang hampir pecah tangisnya. “Ada yang sakit?” tanya Kala sambil memegang tangan Nareya.

“Aku gak papa, kaki kamu betulan tidak bisa digerakan?” tanya Nareya, butiran air mata mulai turun. Dia sangat merasa bersalah karena tidak mendengarkan Kala.

Pengawal segera memapah Kala, Nareya mengikutinya dari samping. Perjalanan menuju mobil cukup jauh. Kala melihat Nareya yang jalanya agak menunduk.

“Reya jangan terlalu jauh, tetap di dekat saya.” ujar Kala. Nareya langsung menurut berjalan di depan namun dekat dengan Kala, tidak mau lagi terjadi hal yang buruk.

Berkendara menuju rumah Kala langsung menghubungi dokter nya. Sedangkan Nareya memegangi kaki Kala dan berulang kali meminta maaf.

“Kalau kamu gak bisa jalan lagi aku pasti kena marah mommy. Aku juga pasti kena amukan pak Adji” racau Nareya. Sedangkan Kala hanya terkekeh, meski rasa ngilu di sendi kakinya teramat sangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!