Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Balik
Lampu meja menyala sendiri di sudut kamar, menyisakan ruang lain dalam setengah gelap. Tafana duduk di depan laptop, punggungnya tegak tapi bahunya turun, seperti baru melepas sesuatu yang berat. Dari laci paling bawah, ia menarik harddisk eksternal hitam yang sudah lama tak disentuh. Permukaannya penuh baret halus—jejak tahun-tahun yang ia kira sudah lewat.
Ia mencolokkannya.
Laptop berdengung pelan. Ikon berputar terlalu lama.
Satu folder terbuka: SMA.
Di dalamnya terdapat foto bukti. Teringat satu nama yang tak pernah benar-benar pergi. Foto itu masih ada.
Tafana memperbesar layar. Rambut perempuan dari belakang jatuh rapi ke bahu Flores, potongannya familiar, terlalu familiar.
Satu foto yang lain, dua tangan yang bertumpuk. Ia menggeser pandangan ke bawah. Tangan wanita itu menggenggam erat, dan di pergelangan tampak sebuah gelang kecil, anyamannya khas, warnanya pudar tapi bentuknya utuh.
Napas Tafana tertahan.
Ia menatap layar lebih lama dari yang seharusnya, seolah berharap detail itu berubah jika cukup lama diperhatikan.
Tidak. Gelang itu… cuma ada satu.
Tafana menelan ludah. Dadanya terasa seperti ditekan pelan, bukan sakit—lebih ke enggan percaya.
Ingatan lama pun bergerak, pelan, tak terelakkan.
-Flashback-
Bel istirahat berbunyi, dan seperti ritual tak tertulis, mereka selalu bertemu di sudut koridor dekat tangga darurat—titik kumpul netral di antara kelas mereka yang berbeda jurusan.
Flores datang paling dulu, tangannya berkacak pinggang. “Gila, pelajaran barusan ngeselin banget. Guru fisika tuh kayak dendam pribadi sama gue.”
“Bukan dendam,” Tafana menyahut sambil membuka bungkus roti. “Lo aja yang nggak pernah dengerin.”
Flores mendengus. “Dengerin kok. Cuma otak gue alergi rumus.”
Sierra tiba sambil membawa es satu plastik besar, isinya tinggal setengah. “Tenang. Asupan gula dulu biar otaknya hidup.” Ia menyodorkan sedotan.
Satu es, dibagi tiga. Flores selalu minum paling dulu, lalu ditegur Tafana. “Pelan. Itu es, bukan lomba.”
“Kalau nggak diminum cepet, keburu cair,” Flores membela diri.
“Kayak hidup lo aja,” Tafana nyeletuk datar.
Sierra tertawa, cepat-cepat mengambil alih plastik es itu. “Gue wasit, ya. Kalian berdua ribut mulu.”
Mereka duduk lesehan, makan cilok dari kantong plastik. Flores menjelaskan teori konspirasi soal kenapa kantin selalu kehabisan gorengan favorit Tafana dengan sok pintar. Tafana menanggapi dengan tatapan malas dan satu-dua komentar pedas. Sierra, seperti biasa, menengahi—kadang tertawa, kadang mengalihkan topik sebelum ejekan berubah jadi adu mulut sungguhan.
Hangat. Bodoh. Nyaman. Seolah dunia cuma sebesar koridor itu. Saat itu, Tafana tidak pernah bertanya-tanya: siapa yang paling mudah terluka jika lingkaran itu retak.
-oOo-
Parkiran belakang sekolah sore itu sepi. Matahari sudah turun, bayang-bayang motor memanjang di aspal. Tafana berdiri sambil mengecek ponsel, mengira Flores hanya mau mengantar pulang.
“Fan,” kata Flores tiba-tiba. Nadanya beda. Terlalu serius.
Tafana menoleh. “Kenapa?”
Flores menggaruk tengkuk, napasnya agak cepat. “Gue… sebenernya dari tadi mau ngomong.”
“Hm?” Tafana menunggu, sabar.
Flores menatap sepatu sendiri. “Gue tahu ini aneh. Kita sahabatan lama. Tapi gue—” Ia berhenti, menelan ludah. “Gue suka sama lo. Dari lama.”
Sunyi sebentar.
Tafana terkejut, tapi tidak sampai mundur. Tidak ada degup berlebihan, hanya rasa heran yang pelan. “Sejak kapan?”
“Lama,” jawab Flores jujur. “Dan gue nggak pinter ngomong beginian.”
Tafana mengamati wajahnya—canggung, jujur, tanpa trik. Ia memikirkan kebiasaan mereka, tawa-tawa kecil, kenyamanan yang sudah seperti napas. “Gimana kalau kita coba?” katanya akhirnya.
Flores mendongak, matanya membesar. “Serius?”
Tafana mengangguk kecil. “Iya. Kenapa nggak.”
Flores tersenyum lebar, terlalu lebar. “Gue janji nggak aneh-aneh. Gue bakal antar jemput lo. Gue bakal—pokoknya gue serius.”
“Pelan,” Tafana tertawa kecil. “Satu-satu.”
Flores mengangguk cepat, masih senyum sendiri. Bukan karena dunia berubah. Tapi karena sesuatu yang sederhana akhirnya diberi nama.
Masa itu, Tafana sedang berada di titik paling ringan dalam hidupnya. Jatuh cinta yang tidak meledak-ledak, tapi mantap—yang datang dari kebiasaan kecil. Menunggu chat Flores di sela kelas. Tersenyum sendiri saat namanya muncul. Merasa aman.
Sierra datang ke kamarnya sore itu tanpa banyak basa-basi. Wajahnya serius, terlalu serius untuk ukuran obrolan biasa. Ponselnya diletakkan di meja, layar menghadap ke atas.
“Fan,” katanya pelan. “Gue nggak tahu cara ngomonginnya, tapi… lo harus lihat ini.”
Tafana masih tersenyum. “Lihat apa?”
Sierra menggeser ponsel itu. Foto pertama muncul.
Sebuah bahu dengan jaket gelap yang biasa dipakai Flores. Rambut perempuan jatuh dari belakang, bersandar di sana. Rambutnya sebahu, sedikit bergelombang.
Tafana mengernyit. “Itu…?”
Jantungnya mulai berdetak tidak beraturan.
“Lanjut,” kata Sierra cepat.
Foto kedua. Jari-jari perempuan menggenggam tangan laki-laki di atas paha. Kulit mereka bersentuhan. Terlalu intim untuk sekadar salah paham. Tampak sepasang sneakers putih dengan tali abu-abu. Model yang Tafana tahu betul—Flores sering memakainya.
Udara di kamar mendadak berat.
“Lo foto ini kapan?” suara Tafana dingin, nyaris tanpa emosi.
“Waktu gue jalan sama ortu gue, gue lihat cowok lo sama cewek,” jawab Sierra lembut. “Makanya gue pikir… lo berhak tahu.”
Tafana berdiri. Dadanya panas. Kepalanya penuh dengan hal yang mengerikan. Tidak ada ruang untuk tawar-menawar. Ada bagian kecil di dirinya yang ingin bertanya lebih dulu. Bagian itu cepat-cepat ia tekan.
Ia menelepon Flores saat itu juga.
“Gue nggak nyangka lo tega. Kita putus,” katanya begitu telepon diangkat.
“Fan, tunggu—” suara Flores panik.
“Gue nggak mau dengar apa pun.” Nafas Tafana bergetar, tapi suaranya tegas. “Selingkuh itu garis akhir. Nggak ada diskusi.”
“Gue bisa jelasin—”
“Basi,” Tafana memutus panggilan.
Tidak ada tangisan dramatis. Tidak ada teriakan. Hanya keputusan yang dijatuhkan seperti palu hakim. Flores mencoba mendekat setelahnya—datang ke sekolah, mengirim pesan panjang—tapi Tafana tidak membuka kesempatan bicara. Ia menghindar.
Flores perlahan menjauh, dari Tafana, dari Sierra.
Sierra tetap tinggal. Menjadi bahu tempat Tafana bersandar, orang yang menemani melewati fase patah hati. Tafana percaya, sepenuhnya.
-oOo-
Ruang kerja Flores sunyi, hanya suara pendingin udara dan notifikasi yang ia abaikan. Layar laptop menyala, tapi pikirannya terseret ke masa lalu tanpa izin.
Ia bersandar, menutup mata.
-Flashback-
Mall siang itu ramai. Flores, Tafana, dan Sierra, bertiga berjalan santai sambil bercanda ringan. Tafana pamit ke toilet, meninggalkan Flores dan Sierra di bangku dekat eskalator.
“Capek,” Sierra mengeluh, lalu menoleh ke Flores. “Pinjam bahu lo bentar.”
Flores ragu sepersekian detik. “Bentar doang, ya.”
Sierra menyandarkan kepala. Flores menatap lurus ke depan, kaku. Tidak melihat siapa pun mengangkat ponsel dari belakang.
Klik.
Ia tidak tahu.
Kesempatan lain datang di taman kota. Mereka duduk bertiga. Tafana berdiri membeli batagor agak jauh dari sana.
Sierra tiba-tiba menggenggam tangan Flores dan memotret dengan ponselnya.
Flores menoleh cepat. “Eh, ngapain?”
“Tenang,” kata Sierra ringan. “Iseng aja.”
Flores menarik tangannya, panik. “Jangan gitu. Tafana bisa salah paham.”
Sierra tersenyum kecil. “Bagus dong. Ujian kepercayaan. Dia bakal percaya siapa—pacarnya, atau sahabatnya?”
“Apaan sih?” Flores meraih ponsel Sierra. “Hapus sekarang!”
Sierra menjauhkan ponselnya. “Iya tuh, udah gue hapus.”
Flores percaya, dan di situlah kesalahannya. Ia sadar sekarang—ia terlalu percaya, dan terlalu malas bertanya lebih jauh.
-oOo-
Ia tidak bodoh. Ia hanya percaya pada orang yang salah.
Kali ini, ia berharap Tafana melihat dengan mata dewasa. Tidak reaktif. Tidak hitam-putih. Ia tidak meminta langsung dimaafkan. Hanya ingin dipercaya, sekali ini saja.
Flores membuka mata, menatap jendela.
Harapan itu masih ada. Tipis. Tapi nyata.
-oOo-
Weekend datang lagi, dan Yunika kembali menginap. Ravindra tidak lagi bersemangat menyambutnya. Ia tetap sopan, tetap rapi, tapi ada jarak tipis yang tak ia tutup-tutupi. Ia mengamati—dengan kepala dingin, tanpa dorongan nafsu yang dulu menutupi banyak hal.
“Van, tolong ambilin air,” kata Yunika dari sofa.
Belum sempat ia duduk, suara itu datang lagi. “Van, AC-nya dingin banget." Lalu, “Kamu nggak perlu ke luar malam ini, kan? Kan besok kita bareng.”
Yunika memang perhatian—kadang berlebihan—dan Ravindra tahu, itu caranya merasa dibutuhkan.
Ravindra menurut, tapi dadanya mengeras pelan-pelan. Mengeluh. Mengatur. Melarang. Hal-hal kecil, tapi menumpuk.
Ia teringat Tafana—bukan dengan sengaja. Tafana yang tidak pernah menyuruh, hanya menawarkan. Tidak menuntut, tapi hadir.
Saat Ravindra demam dulu, Tafana tidak panik, tidak ribut. Ia menyelimuti, menyiapkan obat, duduk di tepi ranjang sampai napas Ravindra kembali teratur. Rumah terasa sunyi, tapi nyaman.
Ponselnya bergetar. Potongan gambar Tafana dan Flores terlintas di kepalanya. Cara mereka tertawa. Cara obrolan mengalir tanpa siapa pun merasa lebih tinggi. Ringan, setara. Seperti dua orang yang tidak sedang membuktikan apa-apa.
Ravindra menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya, ia bertanya jujur pada dirinya sendiri: sanggupkah ia hidup seumur hidup dengan kegaduhan seperti ini?
Ia menghela napas panjang.
Ternyata nyaman itu mahal. Dan seringnya, baru terasa harganya setelah hilang.
batu kali kau dapatkan
yang kamu pilih malah obralan, padahal ada yang eksklusif
yang katanya sahabat tapi menusuk s
dari belakang 😓😓