"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27 - Sinkronisasi Tanpa Suara
Sorak-sorai mahasiswa yang memanggil nama Setya terdengar seperti dengungan lebah yang memusingkan. Maura menatap Setya yang kini sudah berdiri tegak, memancarkan aura kompetitif yang tenang namun mematikan.
Pria itu menoleh sedikit dan memberikan isyarat dengan kepalanya agar Maura segera berdiri.
"Ayo, Maura. Jangan sampai mereka berpikir pendamping saya payah," bisik Setya, cukup rendah hingga hanya Maura yang bisa menangkap nada menantangnya.
Maura menarik napas panjang, merapikan scarf navy di lehernya dan berdiri dengan punggung tegak.
“Tenang, Maura. Tenang,” gumam Maura lirih sepanjang perjalanan menuju tengah lapangan.
Begitu sampai, Pak Dimas menyambut mereka dengan cengiran lebar yang menurut Maura lebih mirip seringai iblis. Dimas berlutut dengan membawa seutas tali kain merah tebal.
"Silakan merapat, Pak Setya, Bu Maura," instruksi Dimas.
Maura dan Setya saling membelakangi dan diikat kaki kanan Maura dan kaki kiri Setya. Hampir saja Maura kehilangan keseimbangan, tetapi tangannya langsung memegangi lengan Setya dari belakang.
“Maaf, Pak,” ucap Maura sambil melepas genggamannya.
Keduanya memang tidak saling menatap, tapi Maura masih merasakan tubuh besar itu yang berada dibalik punggungnya. Kokohnya punggung Setya begitu terasa di punggung Maura.
“Pegang saja. Saya tidak suka kalah, Maura,” benar-benar pria yang tidak tahu tempat.
Bola yang seukuran seperti bola sepak di taruh di antara punggung kokoh Setya dan punggung mungil Maura. Ukuran badan keduanya yang terlampau besar membuat bola itu hampir menyentuh di leher belakang Maura.
"Ikat yang kencang, Pak Dimas," suara Setya terdengar berat.
Maura tersentak saat merasakan tarikan tali itu membuat kakinya benar-benar menempel pada kaki Setya.
"Agar balonnya tidak jatuh, kalian harus saling merangkul untuk menjaga tekanan," seru pembawa acara.
Keduanya langsung menyilangkan lengan mereka agar saling menarik tubuh untuk membuat bola berada tetap di punggung.
PRIIIIIIITT!
Peluit dibunyikan. Maura hampir kehilangan keseimbangan di langkah pertama, namun tarikan Setya di lengannya begitu kuat hingga ia tetap tegak.
"Kiri... kanan... ikut irama saya," Setya mulai memimpin.
Awalnya mereka bergerak canggung, tetapi Setya adalah seorang pemimpin alami yang dengan mudahnya dapat menyesuaikan langkah panjangnya dengan ritme Maura.
Sorak-sorai mahasiswa meneriakkan nama mereka, “PAK SETYA! BU MAURA! PAK SETYA! BU MAURA!”
Setiap gerakan membuat tubuh bagian belakang mereka terus bergesekan hebat. Maura merasa seperti sedang melakukan tarian yang sangat intim di depan ribuan pasang mata.
“Pak, pelan sedikit!” seru Maura saat Setya mempercepat langkah menuju garis finis.
“Pegangan yang erat, Maura. Sedikit lagi,” balas Setya.
Garis finish hampir tergapai, tetapi Maura kehilangan keseimbangan yang membuat Setya dengan sigap melepaskan lengannya dan langsung melingkarkan lengan kuatnya di pinggang Maura, menarik tubuh mungil sang dosen agar benar-benar merapat pada punggungnya untuk mengunci bola.
“Pegang lengan saya,” titah Setya.
Dan...
“Yeaayyyy PAK SETYA WAAAAAAA!”
“MENANGGGG!”
“WOOO WOO WOOO!”
Sorakan kegembiraan memenuhi lapangan dengan pemenangnya adalah Setya Pradana dan Maura Preswari.
Dekapan itu masih belum dilepaskan oleh Setya, meski keduanya sudah melewati garis finish. Napas Maura memburu dengan dadanya yang naik turun dengan cepat, sementara wajahnya sudah semerah kepiting rebus entah karena lelah berlari atau... mungkin karena posisi mereka yang terlalu intim.
"Sudah, Pak. Kita sudah sampai," bisik Maura sambil mencoba melonggarkan pegangan tangannya pada lengan Setya.
Pak Dimas datang menghampiri dengan tawa kecil dan segera berlutut untuk membuka ikatan tali di kaki mereka.
"Luar biasa! Saya tidak menyangka koordinasi kalian bisa secepat ini. Pak Setya benar-benar kompetitif ya?"
Setya melepaskan pinggang Maura saat ikatan tali terlepas, namun dengan tetap berdiri sangat dekat. Pria itu mengusap sedikit keringat di dahinya dengan gestur yang sangat maskulin, lalu menatap Maura yang sedang sibuk merapikan kemejanya yang sedikit berantakan.
"Koordinasi yang baik hanya terjadi jika salah satunya mau menyerahkan kendali, bukan begitu, Maura?" ucap Setya dengan nada yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.
Dimas hanya mengangguk saja dan mengurus pasangan lain yang juga kesulitan melepaskan talinya.
“Kenapa menatap saya seperti itu? kamu tidak senang dengan kemenangan ini?” tanya Setya.
Pria itu menyisir rambutnya dengan jemarinya dan demi apa pun, Maura sadar betapa tampannya pria ini. Dengan sedikit keringat, wajah lumayan memerah, kemeja yang sedikit berantakan dan jangan lupakan tatapan tajam itu.
“Saya hanya capek, Pak,” jawab acuh Maura.
Kemenangan mereka memicu kegilaan di tribun. Mahasiswa bersorak dengan kamera ponsel menyorot dari segala arah dan para dosen senior hanya bisa berdiri dengan wajah kaku di tepi lapangan. Maura merasa seperti sedang berdiri di tengah panggung sirkus.
"Mari, Pak Setya, Bu Maura. Silakan istirahat dulu di tenda VVIP, kami sudah siapkan hidangan dingin," ajak salah satu staf humas yang tampak sangat bersemangat.
Setya berjalan di samping Maura dan pria itu tidak membiarkan ada jarak lebih dari sepuluh sentimeter di antara mereka. Saat mereka memasuki tenda yang lebih sejuk, Maura langsung meraih segelas air mineral dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Bapak sengaja melakukannya, kan? Menarik pinggang saya seperti itu di depan semua orang?" tanya Maura begitu mereka hanya berdua di sudut tenda dengan suaranya yang tajam namun lirih.
Setya mengambil gelas dari tangan Maura yang baru diminum setengah dan langsung meminumnya dari sisi yang sama tanpa ragu sambil menatap Maura dengan tatapan yang membuat sang dosen bungkam.
"Saya menyelamatkanmu agar tidak jatuh dan dipermalukan, Maura. Jika saya ingin menarik perhatian, saya bisa melakukan hal yang lebih dari sekadar memeluk pinggangmu," jawab Setya santai.
"Tapi sekarang semua orang membicarakan kita! Lihat Bu Rora, dia menatap saya seolah ingin menelan saya hidup-hidup!" Maura menunjuk samar ke arah luar tenda.
Setya melirik sekilas ke arah kerumunan, lalu kembali pada Maura. Pria itu melangkah maju, memaksa Maura mundur hingga punggungnya menyentuh tiang tenda. Setya menunduk, merapikan ujung scarf navy milik Maura yang sedikit bergeser karena lomba tadi.
"Biarkan mereka bicara sesukanya. Semakin kamu terlihat terganggu, semakin mereka senang," jemari Setya sengaja menyentuh kulit leher Maura sesaat saat membetulkan scarf itu.
"Aturan main nomor tiga, Maura. Berhenti menatap saya seolah saya monster. Monster tidak akan memberikan kemenangan padamu di depan seluruh universitas."
Maura terdiam, lidahnya mendadak kelu. Di tengah keriuhan perayaan kampus, di bawah tenda yang teduh itu, Maura menyadari bahwa bahaya terbesar bukanlah gosip rekan-rekannya, melainkan bagaimana jantungnya mulai berkhianat setiap kali Setya berada sedekat ini.
“Pak Setya memang gila,” lirih Maura yang membuat Setya menaikkan satu alisnya.
“Kamu baru sadar? Semua orang sudah memandang saya seperti itu sejak dulu, Maura,” senyum miring itu rasanya begitu menyebalkan.