Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu yang Tidak Diakui
Revan masuk ke ruang kerjanya. Ia baru saja kembali dari Pengadilan Agama Jakarta Selatan setelah mewakili kliennya. Baru saja hendak duduk di kursinya, sekretarisnya masuk.
“Maaf, Pak Revan, pukul 12.00 siang ini Bapak ada lunch meeting dengan klien kita, Pak Santoso Husodo.”
Revan menghela napas. “Oh. Dimana tempatnya?” tanyanya.
“Di Restoran Sari Asih, Pak.” Jawab sekretarisnya.
“Sari Asih?” Revan mengernyitkan dahi. “Restoran yang baru buka itu?”
“Iya, benar pak.” Sekretarisnya mengangguk.
Sebenarnya hari ini ia ingin pulang lebih cepat, karena merasa tidak enak badan. Namun ia terpaksa menunda niat itu.
“Ya sudah, oke,” jawabnya setengah terpaksa.
“Baik, pak,” jawab sekretarisnya, lalu melangkah keluar dari ruangan.
Revan mengambil laptop dan mulai mempelajari berkas kasus Pak Santoso Husodo. Ia begitu fokus hingga tidak menyadari waktu berlalu. Jam telah menunjukkan pukul 11.20, ketika sekretarisnya kembali masuk untuk mengingatkan.
Revan segera menutup laptop, memasukkannya ke dalam tas kerja, lalu turun ke lobi dan menuju restoran yang telah ditentukan.
Perjalanan ke Restoran Sari Asih memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Setelah memarkirkan mobil, Revan bergegas masuk dan mendapati Pak Santoso sudah menunggu. Ia segera menghampiri kliennya.
“Aduh, mohon maaf saya terlambat, Pak,” ucap Revan dengan nada tidak enak hati.
“Tidak apa-apa, Pak Revan. Saya juga baru sampai lima menit yang lalu,” jawab Pak Santoso.
Revan kemudian duduk. Setelah memesan makanan, mereka pun mulai membahas agenda pertemuan. Percakapan mereka dimulai dengan ringan, membahas hal-hal umum seputar perkembangan perkara. Revan berusaha tetap fokus, meski tubuhnya terasa kurang nyaman. Ia menyimak setiap penjelasan Pak Santoso dengan saksama, sesekali mencatat poin-poin penting di laptopnya.
Pak Santoso menjelaskan kegelisahannya, suara pria itu terdengar khawatir namun tertahan. Revan mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali mengangguk, memberi isyarat bahwa ia memahami duduk persoalan yang disampaikan.
“Dari sisi hukum, posisi Bapak cukup kuat,” ujar Revan akhirnya. Nadanya suara Revan tenang dan percaya diri. “Namun, kita tetap harus menyiapkan beberapa dokumen tambahan agar prosesnya berjalan lebih lancar.”
Pak Santoso terlihat sedikit lebih lega. Ia menghela napas pelan, lalu mengangguk. “Baik, Pak Revan. Saya percayakan sepenuhnya pada bapak.”
Revan membalas dengan anggukan kecil. Ia kembali menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil ke depan, menjabarkan secara rinci tanpa memberi harapan berlebihan. Baginya, kejujuran selalu lebih penting daripada janji yang terlalu optimistis.
Pertemuan itu berlangsung tidak terlalu lama. Setelah makan siang selesai dan kesepakatan tercapai, keduanya saling berjabat tangan. Revan kembali menatap jam di pergelangan tangannya. Rasa tidak enak di tubuhnya semakin terasa, seperti lelah yang menumpuk sejak pagi.
“Kalau begitu, kita bisa lanjutkan komunikasi lewat email atau telepon, Pak,” ujar Revan sambil berdiri.
“Siap, Pak Revan. Terima kasih atas waktunya.”
Revan hendak bangkit dari kursinya, ketika tanpa sengaja, matanya tertuju pada salah satu meja di sudut ruangan. Ia melihat dengan jelas Aruna sedang duduk bersama seorang laki-laki. Laki-laki itu adalah Daniel, atasannya di kantor. Keduanya tampak berbincang santai. Sesekali senyum dan tawa muncul di antara mereka. Entah mengapa, Revan merasa tidak suka melihat pemandangan tersebut. Tanpa disadari, kedua tangannya mengepal.
Merasa muak menyaksikan Aruna bersama atasannya, Revan segera meninggalkan restoran dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Begitu masuk ke dalam mobil, ia bersandar sejenak dan memejamkan mata. Di tengah hiruk pikuk hari yang tidak memberinya ruang untuk beristirahat, ia hanya menginginkan satu hal. Pulang lebih cepat dan tidur.
Revan mengambil ponsel, lalu mengirim pesan ke sekretarisnya. “Nita, tolong batalkan jadwal saya dari siang hingga sore ini. Saya sedang tidak enak badan dan mau langsung pulang.”
“Baik Pak.” Balas sekretarisnya singkat.
Dalam perjalanan pulang, Revan kembali teringat pada pemandangan yang dilihatnya di restoran. Aruna bersama Daniel. Ia tidak mengerti mengapa hatinya terasa sakit saat melihat mereka berdua, seperti ada perasaan marah dalam hatinya.
Tapi ia sadar, kalau dirinya tidak punya hak untuk marah. Bukankah sejak awal, ia sudah membuat kesepakatan dengan Aruna untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Tiba-tiba ponsel Revan bergetar. Panggilan masuk dari Viona. Revan segera menjawabnya.
“Halo sayang. Nanti malam kamu ke apartemen aku, kan?”
“Maaf Vio, tidak malam ini. Aku sedang tidak enak badan.”
“Kamu sakit apa sayang? Aku kesana ya, aku temenin.” Jawab Vio.
“Jangan Vio. Rumahku dekat dengan rumah orang tuaku. Aku tidak mau mereka tiba-tiba datang dan melihat kita sedang bersama.” Jawab Revan.
“Tapi Revan, aku kangen dan aku juga khawatir.” Kata Viona yang keberatan.
“Vio, tolong. Belajarlah untuk mengerti keadaanku,” ucap Revan.
“Ok, tapi janji ya. Kamu jangan sampe biarin perempuan itu yang ngurus kamu selama sakit.” Suara Viona terdengar agak kesal.
“Iya, Vio. Kamu tenang aja.” Revan berusaha menenangkan kekasihnya.
Pembicaraan pun berakhir. Revan tiba di rumah dan langsung memasukkan mobil ke dalam garasi, lalu naik ke kamarnya.
Di kamar, Revan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kepalanya terasa pusing. Ia teringat masih menyimpan obat sakit kepala di laci samping tempat tidur. Revan bangkit untuk mengambilnya, lalu keluar dari kamar dan turun ke bawah. Ia melangkah ke dapur, mengambil segelas air putih dari dispenser, kemudian kembali ke kamarnya. Setelah itu, Revan mencoba memejamkan mata dan tertidur.
Tok, tok, tok. “Pak, makan malam sudah siap.” Terdengar suara Bi Surti dari luar kamarnya.
“Iya bi. Nanti saya turun.” Jawab Revan.
Revan bangun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Ia mencuci wajahnya, lalu keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang makan. Di atas meja telah tersaji makan malam, ayam goreng dan sayur sop.
Dengan tubuh yang masih terasa lemas, Revan duduk dan mencoba makan. Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil memasuki garasi rumah. Aruna berjalan masuk ke dalam rumah. Melihat istrinya, Revan kembali teringat pada peristiwa siang tadi.
“Dari mana kamu? Udah jam berapa ini?” tanya Revan.
Aruna melirik jam di pergelangan tangannya. “Jam 08.00 malam. Aku biasa pulang jam segini,” jawabnya santai.
“Enak, ya, tadi siang,” sindir Revan.
Aruna mengernyitkan dahi. “Maksudnya?” Ia tidak mengerti ucapan suaminya.
“Tadi siang aku melihat kamu makan siang dengan atasanmu,” jawab Revan.
“Oh, iya. Tadi aku diajak makan siang bareng Pak Daniel,” ujar Aruna.
“Makan siang berdua aja? Itu makan siang atau kencan?” Ucap Revan sinis.
Aruna menghela napas. “Maaf ya kak, aku capek baru pulang kerja. Gak ada tenaga untuk meladeni kamu.”
“Oh jadi gitu. Untuk meladeni suami gak ada waktu, tapi meladeni laki-laki lain selalu ada waktu.” Kata Revan ketus.
Aruna merasa kesal. Tubuhnya lelah setelah seharian bekerja, tapi Revan justru memancing pertengkaran. Ia baru saja hendak membalas ucapan Revan ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Aruna mengambil ponsel dari dalam tasnya. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Matanya menatap layar ponsel dengan ekspresi terkejut, tangannya gemetar. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.