Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pelarian ke Benua Luar dan Luka yang Tak Tersembuhkan
Sensasi teleportasi itu rasanya seperti tubuhmu ditarik melalui lubang jarum yang dipenuhi duri. Begitu cahaya putih yang menyilaukan itu memudar, Jiangzhu terhempas ke atas permukaan yang keras dan kasar. Ia mendarat dengan bahu terlebih dahulu, melindungi tubuh kurus ibunya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.
Bruk!
Jiangzhu terbatuk hebat, memuntahkan cairan bening bercampur darah yang terasa pahit di lidah. Paru-parunya seolah terbakar habis. Ia mencoba membuka mata, tapi keringat dan debu yang mengental di bulu matanya membuat pandangannya kabur.
"Kakak... Kakak, bangun!" Suara Awan terdengar serak di sampingnya. Gadis itu terisak, tangannya yang mungil mencoba menarik pundak Jiangzhu yang sudah basah oleh darah hitam.
Jiangzhu memaksakan dirinya untuk duduk. Dunia di sekitarnya berputar gila. Mereka tidak lagi berada di dalam Menara Kegelapan yang sesak. Mereka berada di sebuah padang pasir yang luas, tapi pasirnya bukan berwarna kuning, melainkan abu-abu seperti abu jenazah. Langit di atas mereka berwarna merah tua, tanpa matahari, hanya ada gumpalan awan yang bergerak seperti uap darah.
"Di mana kita?" suara Jiangzhu parau, nyaris tidak terdengar.
"Wilayah Terlarang... Perbatasan Benua Barat," suara Yue terdengar dari arah belakang. Wanita bermata elang itu tampak tidak lebih baik; topeng peraknya pecah di bagian pipi, memperlihatkan luka gores yang masih mengeluarkan darah. "Gerbang teleportasi itu meledak saat kita masuk. Kita beruntung tidak terlempar ke celah dimensi."
Jiangzhu tidak memedulikan Yue. Ia segera memeriksa wanita yang ada di pelukannya. Dewi Ling'er. Ibunya.
Kondisinya mengerikan. Dalam cahaya remang-remang Benua Barat, luka-luka ibunya terlihat lebih jelas. Lubang bekas rantai emas di pergelangan tangannya tidak mau menutup, justru mengeluarkan uap putih yang menyakitkan saat bersentuhan dengan udara luar yang penuh energi Iblis. Kulitnya yang seputih porselen kini dipenuhi garis-garis hitam keunguan racun dari Penjara Tanpa Cahaya yang sudah mengendap selama ribuan tahun.
"Ibu... Ibu, lihat aku," Jiangzhu berbisik, suaranya gemetar. Tangannya yang biasanya mampu meremukkan tulang musuh, kini gemetar saat menyentuh pipi ibunya.
Mata Ling'er perlahan terbuka. Ia menatap Jiangzhu dengan pandangan yang kosong sejenak, sebelum akhirnya setitik kesadaran muncul. "Zhu... er... anakku..."
Ia mencoba mengangkat tangannya, tapi rasa sakit yang luar biasa membuatnya kembali terkulai. "Jangan... jangan habiskan energimu untukku. Luka ini... ini adalah kutukan dari Hukum Langit. Tidak ada pil yang bisa menyembuhkannya."
"Aku tidak peduli pada Hukum Langit!" Jiangzhu menggeram. Ia menoleh ke arah Penatua Mo di ruang jiwanya. "Pak Tua! Berikan aku sesuatu! Kau bilang kau tahu segalanya! Bagaimana cara menghentikan racun ini?!"
Penatua Mo muncul dengan wajah yang sangat suram, tanpa ada nada candaan sedikit pun. Bocah, ini bukan sekadar racun. Ini adalah 'Hukuman Ilahi'. Tubuh ibumu sedang ditolak oleh dunia ini karena dia dianggap pengkhianat Langit. Satu-satunya cara untuk menstabilkannya adalah dengan 'Buah Embun Neraka' yang hanya tumbuh di pusat Benua Barat.
"Maka kita akan pergi ke sana," kata Jiangzhu tegas.
"Kau gila?" Yue menyela, ia berdiri sambil memegangi perutnya yang terluka. "Benua Barat adalah tempat di mana Iblis-Iblis Buangan dan Binatang Purba berkumpul. Kita bahkan tidak punya air, apalagi kekuatan untuk menembus pusat wilayah itu. Lihat dirimu, Jiangzhu! Kau hampir mati!"
Jiangzhu berdiri perlahan. Luka-luka di punggungnya terbuka kembali, darahnya membasahi pasir abu-abu di bawah kakinya. Ia menatap Yue dengan mata yang kini tidak memiliki emosi hanya ada keinginan kuat untuk bertahan hidup.
"Jika kau ingin lari, larilah sekarang, Yue. Aku tidak memaksamu ikut," kata Jiangzhu dingin. "Tapi jangan coba-coba menghalangiku."
Yue terdiam. Ia melihat ke arah Awan yang memegang tangan Dewi Ling'er, lalu kembali menatap Jiangzhu. Sebagai anggota Bayangan Senja, instingnya menyuruhnya pergi. Tapi ada sesuatu pada Jiangzhu kekuatan yang tidak masuk akal itu yang membuatnya merasa bahwa pemuda ini adalah satu-satunya taruhan terbaiknya untuk mencapai puncak dunia.
"Aku punya peta wilayah ini," gumam Yue akhirnya. "Ada sebuah pemukiman pelarian sekitar sepuluh mil dari sini. Kita bisa bersembunyi di sana sementara waktu."
Jiangzhu mengangguk singkat. Ia menggendong ibunya dengan hati-hati, memastikan kepala ibunya bersandar di pundaknya. Awan berjalan di sampingnya, memegang ujung baju Jiangzhu dengan erat.
Perjalanan itu adalah siksaan. Pasir abu-abu itu sangat panas, membakar telapak kaki mereka yang sudah luka. Angin yang berhembus membawa serpihan kristal tajam yang menyayat kulit. Namun Jiangzhu terus melangkah. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal: Detak jantung ibunya yang semakin melemah.
Bocah, ada sesuatu yang mengikuti kita dari bawah pasir, bisik Li'er tiba-tiba. Hawa dingin dari ruang jiwa Jiangzhu menyebar, memberinya peringatan insting.
Jiangzhu berhenti. Ia menurunkan ibunya perlahan ke atas kain jubah Yue yang dibentangkan. Ia menghunus pedang hitamnya yang kini penuh dengan retakan.
Sret... sret...
Suara gesekan di bawah pasir abu-abu itu semakin keras. Tiba-tiba, pasir di depan mereka meledak. Muncul seekor Kajengking Pasir Berpancaran seukuran kerbau. Ekornya yang berwarna hijau neon bersinar dengan racun yang mematikan.
"Lagi-lagi serangga," desis Jiangzhu.
Ia tidak menunggu monster itu menyerang. Meskipun tubuhnya sudah di ambang batas, Jiangzhu memaksakan energi Iblisnya keluar. Rambut putih peraknya berkibar ditiup angin gurun.
"Akan kujadikan kau alas tidur ibuku!"
Jiangzhu menyeret kakinya, meninggalkan jejak seret yang panjang di atas pasir abu-abu yang gembur. Setiap embusan angin gurun membawa butiran debu yang masuk ke dalam luka terbuka di pundaknya, rasanya perih seperti ditaburi garam kasar. Ia menjilat bibirnya yang pecah-pecah hingga berdarah, hanya untuk mendapatkan sedikit kelembapan yang terasa asin dan pahit.
"Satu langkah lagi... hanya satu langkah lagi," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada orang lain.
Pandangannya mulai berbayang. Di atas pasir yang panas, ia seolah melihat wajah-wajah penduduk desa yang dulu menghinanya, kini mereka tertawa mengejek melihatnya merangkak di tanah terkutuk ini. Jiangzhu menggelengkan kepala dengan kasar, mencoba mengusir halusinasi itu. Ia tidak boleh tumbang. Berat tubuh ibunya di punggungnya adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak melayang jatuh ke dalam kegilaan.
"Kakak, tangan Ibu... tangan Ibu dingin sekali," suara Awan yang serak menyentak kesadaran Jiangzhu.
Jiangzhu berhenti sejenak, mengatur napasnya yang terdengar seperti suara gergaji memotong kayu kering. Ia melirik ke samping, melihat jemari ibunya yang terkulai di pundaknya. Benar, kulit itu pucat pasi, hampir transparan, dengan urat-urat hitam yang berdenyut lambat seperti cacing tanah di bawah permukaan porselen. Racun dari penjara itu sedang memakan esensi kehidupan ibunya, inci demi inci.
Bocah, jika kau tidak segera menemukan tempat berteduh, energi 'Yin' di gurun ini akan membekukan jantung ibumu sebelum bulan merah naik, bisik Penatua Mo, suaranya kini terdengar penuh dengan urgensi yang nyata.
Jiangzhu tidak menjawab. Ia hanya mengeratkan pegangannya pada paha ibunya dan kembali melangkah. Ia menatap Yue yang berjalan beberapa meter di depannya dengan punggung yang kaku.
"Yue, jika pemukiman yang kau janjikan itu tidak ada..." Jiangzhu menggantung kalimatnya, namun aura membunuh yang dingin meledak dari tubuhnya, cukup untuk membuat pasir di bawah kakinya membeku sesaat.
Yue menoleh sejenak, memperlihatkan mata elangnya yang lelah namun tetap tajam. "Jika pemukiman itu tidak ada, kita semua akan menjadi santapan burung bangkai gurun ini dalam dua jam, Jiangzhu. Jadi berhenti mengancamku dan gunakan tenagamu untuk terus berjalan."
Jiangzhu mendengus kecil, sebuah tawa pahit yang kering. Di tempat seperti ini, harapan adalah sesuatu yang lebih langka daripada air bersih. Namun, selama jantungnya masih berdetak, ia akan menyeret takdir ini sampai ke lubang terdalam sekalipun. Ia menatap ke arah cakrawala, di mana siluet gerbang yang terbuat dari tengkorak binatang raksasa mulai terlihat samar di balik badai pasir yang mulai mendekat.