NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Monster Tampan

Menjadi Tawanan Monster Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

His Property

​Mobil hitam keluaran terbaru milik Steel Group itu meluncur membelah kemacetan Jakarta dengan keheningan yang menyesakkan. Sesilia duduk di kursi belakang, menatap pantulan dirinya di jendela yang gelap. Ia tidak lagi mengenakan gaun emerald green, sekarang ia memilih menggunakan blazer berwarna hitam dan celana panjang senada. Sebuah seragam tempur yang ia harapkan bisa memberinya perlindungan menghadapi sang monster Steel.

​Mobil itu tidak berhenti di rumah keluarga Steel yang ditempati Uni dan keluarganya. Kendaraan itu memasuki kawasan penthouse eksklusif di jantung kota, sebuah menara kaca tinggi yang melambangkan kekuatan dan kekuasaan Axel Steel.

"Kita sudah sampai, nona," Ucap sang pengemudi dengan nada seperti robot.

Pintu terbuka dan Sesilia disambut oleh tuan Han. Pria paruh baya itu berdiri dengan sikap sempurna, ada kilat kepuasan yang terpancar sama di matanya.

"Tuan Axel sudah menunggu anda di lantai paling atas. Sebagai informasi tambahan nona, bahwwa hanya anda yang memiliki akses masuk ke sana malam iini"

Gadis itu, menarik napas panjang sebelum melangkah masuk perlahan ke dalam lift super mewah berlapis emas dan marmer hitam. Tangan kecilnya sedikit bergetar pelan, hatinya terus berteriak menyuruhnya segera berlari dari penjara itu, sedangkan otaknya menghimpun segenap kekuatan dan berusaha menenangkan diri. Saat lift bergerak naik dengan kecepatan tinggi, jantungnya berdegup kencang. Ia merasa seperti sedang dibawa menuju altar pengorbanan, atau mungkin, menuju pusat badai yang telah mengintainya selama empat tahun tanpa sepengetahuannya.

​Pintu lif terbuka, langsung menunjukkan pemandangan ruang tamu penthouse yang terlalu luas, bahkan melampaui ekspektasi dalam kepalanya. Ruangan itu tampak sangat mirip dengan penghuninya. Sangat minimalis, mahal, dan tanpa cela. Tipikal jiwa Axel Steel. Tidak ada satu pun benda yang diletakkan tanpa perhitungan. Pencahayaan diatur redup, menciptakan bayangan panjang yang dramatis di atas lantai granit kelabu.

Gadis cantik itu membutuhkan waktu sekitar lima menit, mengagumi penthouse itu dalam diam. Ia seakan sedang menilai penampilan dari sangkar yang akan di tinggalinya entah sampai kapan. Dalam pandangan gadis itu, ruangan itu sangat minim warna hingga hampir disebut monokrom. Sangat bukan gayanya.

Memasuki ​ujung ruangan, terdapat jendela setinggi langit-langit yang menampilkan kerlap-kerlip lampu Jakarta yang tampak seperti semut di bawah sana. Disanalah siluet Axel Steel. Lelaki itu tampak seperti makhluk mitologi yunani yang penuh misteri. Kelam dan dingin. Sesilia merasakan bulu kuduknya berdiri. Aura lelaki itu seperti iblis.

​Ia tidak mengenakan jas lengkap. Hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf yang harganya mungkin bisa membiayai seluruh studi kedokteran Sesilia. Axel berbalik perlahan, dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Sesilia melihat pria itu tanpa gangguan kerumunan pesta.

​"Kau tepat waktu, tikus kecil," ucap Axel. Suaranya rendah, mengisi ruangan yang sunyi itu dengan otoritas yang mencekik.

"Aku menghargai efisiensi dan ketepatan waktu."

​Gadis yang dijuluki tikus kecil oleh sang predator menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya. "Kau menghancurkan hidupku, Axel. Kau berbohong pada seluruh dunia tentang pertunangan itu. Kenapa kau tidak membiarkanku hidup tenang?"

​Axel berjalan mendekat. Setiap langkahnya terdengar seperti ketukan palu hakim. Ia berhenti tepat di depan samg gadis. Dengan jarak sedekat ini, gadis itu bisa mencium aroma sandalwood dan sisa whiskey yang mahal.

​"Membiarkanmu tenang?" Axel sedikit memiringkan kepalanya, matanya yang kelabu menyisir wajah gadis itu dengan intensitas predator. "Empat tahun. Aku membiarkanmu tumbuh, sayangku. Aku memberimu ruang untuk menjadi 'Ratu' di kampusmu yang kecil itu. Sama seperti investasi yang butuh pengembalian. Kau juga akan kembali ke pangkuanku, sooner or later"

​Lelaki itu berjalan menuju meja kerja berbahan obsidian di tengah ruangan. Ia mengambil sebuah map kulit dan melemparkannya ke atas meja.

​"Buka," perintahnya.

​Sesilia mendekat dengan ragu. Di dalamnya terdapat draf kontrak hukum yang sangat detail. Judulnya membuat darahnya membeku.

PERJANJIAN EKSKLUSIVITAS DAN PERLINDUNGAN.

​"Ini gila," bisik Sesilia saat membaca poin-poin di dalamnya. "Kau ingin aku pindah ke sini? Kau ingin aku memutuskan hubungan dengan semua teman priaku? Kau ingin mengontrol jadwal rumah sakitku?"

​"Aku tidak ingin mengontrolnya, tikus kecil. Karena aku memang sudah mengontrolnya," balas Axel tanpa penyesalan. "Setiap rumah sakit yang kau masuki, setiap profesor yang memberimu nilai, semuanya berada di bawah pengaruh Steel Group. Kontrak ini hanyalah formalitas agar kau berhenti mencoba melawan arus."

​Axel melangkah ke belakang gadisnya, membungkuk hingga napasnya yang hangat menyentuh tengkuk Sesilia. "Kau ingin menjadi dokter terbaik, bukan? Aku akan memberimu fasilitas medis tercanggih di dunia dalam gedung ini. Kau ingin dihormati? Seluruh dunia akan berlutut karena kau menyandang nama Steel. Sebagai imbalannya... kau hanya perlu menjadi milikku. Secara total. Baik secara publik maupun secara privat. Aku harus menjadi pemilikmu, Hati dan jiwamu, semua yang berhubungan denganmu, gadis kecil." Axel menjeda ucapannya, menarik napas dalam kemudian maju selangkah menuju gadisnya.

"MINE." Bisiknya final. Penuh kemenangan.

​Sesilia berbalik dengan amarah yang meledak. "Aku bukan barang, Axel! Kau tidak bisa seenaknya mengklaim bahwa aku milikmu!"

​"Kau milikku," Axel meraih dagu Sesilia, memaksa gadis itu menatap kegelapan di matanya. "Aku memilikimu sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di rumah sahabatmu empat tahun lalu. Saat mata kita bertatapan untuk pertama kalinya, kamu milikku sejak saat itu. Semua yang kau capai, semua kemandirian yang kau banggakan itu, tumbuh karena aku membiarkannya tumbuh. Aku adalah pemilik sangkarmu. Dan malam ini, aku memutuskan untuk menutup pintunya."

​Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka. Sesilia menyadari kenyataan pahit yang ia hadapi. Axel Steel tidak memberinya pilihan. Berita pertunangan itu telah mengunci reputasinya. Jika ia membantah sekarang, ia akan dianggap sebagai calon dokter yang gagal, dan Axel bisa dengan mudah menghancurkan karier kedokterannya dalam semalam.

​Ia menatap pria di hadapannya. Wajah seorang monster yang sangat tampan, sangat kaya, dan sangat terobsesi.

​"Jika aku menandatangani ini..." suara Sesilia bergetar, "apa kau akan berhenti menyakiti orang-orang di sekitarku?"

​Axel tersenyum sebuah senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Selama kau berada di dalam garis yang aku buat, dunia akan menjadi tempat yang sangat aman bagimu, mine. Aku akan melindungimu dari segalanya, termasuk dari keinginanmu sendiri untuk lari."

​Sesilia mengambil pena perak yang disodorkan Axel. Tangannya gemetar saat ia menorehkan tanda tangan di atas kertas itu. Setiap goresan tinta terasa seperti rantai yang membelit pergelangan tangannya.

​"Pilihan yang cerdas, Tikus Kecil," bisik Axel. Ia mengambil kontrak itu dan menyimpannya di brankas tersembunyi. "Selamat datang di rumah barumu. Kamarmu sudah disiapkan. Dan jangan repot-repot mencari kunci. Di tempat ini, hanya suaraku yang merupakan kunci."

​Axel berjalan pergi, meninggalkan Sesilia berdiri sendirian di tengah kemewahan yang terasa seperti penjara bawah tanah. Ia menatap ke luar jendela, menyadari bahwa mulai malam ini, ia bukan lagi subjek dari ceritanya sendiri. Ia telah resmi menjadi pusat dari obsesi gila Axel Steel.

​Sang Monster telah menang. Dan sang Ratu baru saja menyadari bahwa mahkotanya kini terlah berganti, menjadi mahkota yang terbuat dari baja yang sangat dingin.

1
partini
baca sinopsisnya penasaran
Lusy Kunut: Stay tune yah kak, supaya rasa penasarannya terobati👍
total 1 replies
merdi Yanto
cuit cuit cuit😍🤣
merdi Yanto
duh🤭
merdi Yanto
Bau-bau mulai berbalas perasaannya Axel
merdi Yanto
/CoolGuy//CoolGuy/
merdi Yanto
Plot twist banget keluarganyaa
merdi Yanto
🤭🤭🤭🤭
bau bau bucin😍😄
merdi Yanto
Suka cerita dari sok benci jadi bucin akut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!