Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. KEBENARAN YANG MENYAKITKAN
..."Terkadang, kebenaran yang menyakitkan lebih berharga daripada kebohongan yang menenangkan."...
...---•---...
Sore mulai menjelang ketika pasien berikutnya masuk.
Seorang gadis remaja. Wajahnya pucat seperti kain yang sudah dicuci berkali-kali. Tangan mencengkeram perut dengan gerakan kecil, berulang, seperti mencoba meredam sesuatu yang ingin meledak dari dalam.
"Sudah berapa lama sakitnya?" Doni bertanya sambil membantu gadis itu duduk di tikar.
"Sebulan, Kang." Suaranya lemah, terputus-putus. "Makin lama makin sakit... Kadang sampai tidak bisa berjalan..."
Doni memeriksa dengan penuh kehati-hatian. Tangannya meraba perut, memberi tekanan ringan di setiap bagiannya. Saat sentuhannya mencapai sisi kanan bawah, gadis itu langsung meringis. Nyeri tekan jelas. Ketika tekanan dilepaskan tiba-tiba, erangannya pecah. Nyeri lepas nyata. Tubuhnya juga terasa hangat.
Radang usus buntu atau kista ovarium. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa tanpa operasi.
Frustrasi menggerogoti dadanya. Lambat. Gigitan kecil yang tak henti.
Di rumah sakit, aku punya CT scan untuk diagnosis pasti. USG untuk melihat organ dalam. Ruang operasi steril dengan tim lengkap. Di sini? Hanya tangan, mata, dan intuisi yang mungkin salah.
"Ini..." Doni memilih kata dengan hati-hati. "Ini butuh operasi untuk sembuh sepenuhnya. Aku tidak bisa melakukannya di sini. Tapi aku bisa memberikan ramuan untuk mengurangi nyeri dan peradangan. Dan kau harus istirahat total. Jangan angkat beban berat. Jangan lari atau melompat."
Ia menatap keluarga gadis itu dengan serius. "Kalau nyerinya tambah parah tiba-tiba, demam tinggi, atau muntah terus-menerus, bawa dia ke sini. Segera. Ini bisa berbahaya kalau dibiarkan."
Keluarga gadis itu menatapnya dengan mata lebar. Tangan ibu mencengkeram tangan ayah. Mereka mengangguk, mengerti.
Doni meracik ramuan kunyit dan jahe. Antiinflamasi alami yang bisa mengurangi peradangan. Tidak akan menyembuhkan akar masalah, tapi bisa memberi waktu. Memberi kenyamanan.
Setidaknya itu yang bisa kulakukan.
...---•---...
Tiga pasien berikutnya lewat seperti kabut.
Seorang anak dengan kulit gatal-gatal dan ruam merah, dermatitis atau alergi, kompres daun sirih, hindari makanan tertentu.
Seorang lelaki tua dengan sendi bengkak dan nyeri radang sendi, kompres hangat, ramuan jahe dan kunyit.
Seorang perempuan dengan mata merah dan berair, infeksi mata ringan, bilas dengan air rebusan daun sirih.
Setiap kasus, Doni tangani dengan cepat tapi teliti. Bambang mencatat semua dengan rajin, sesekali bertanya tentang cara meracik atau alasan memilih bahan tertentu.
Lalu datanglah Gusti.
Pemuda itu masuk dengan langkah tertatih. Kaki kanannya bengkak sangat besar, hampir dua kali ukuran kaki kiri. Kulit tegang mengkilap seperti balon yang hampir pecah. Ada luka kecil di pergelangan kaki yang tidak kunjung sembuh, tepi berwarna kehitaman, berbau sedikit busuk.
Ibunya menopang lengan Gusti, wajah menceritakan kekhawatiran yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Kerutan di dahi. Bibir yang terus bergerak dalam doa sunyi.
"Ini Gusti, Kang," Bambang memperkenalkan. "Kakinya sudah seperti ini sejak tiga tahun lalu. Makin lama makin besar..."
Doni memeriksa dengan teliti. Tidak ada nadi yang teraba di kaki yang bengkak. Kulit tebal dan keras. Ketika ditekan, tidak ada bekas tekanan.
Penyakit kaki gajah. Infeksi cacing filaria yang sudah kronis dan mencapai stadium lanjut.
Kerusakan sudah permanen.
Doni memeriksa lebih lanjut. Tidak ada demam. Berarti tidak ada infeksi aktif saat ini. Luka kecil di pergelangan... risiko infeksi sekunder tinggi karena aliran darah buruk.
Tanpa obat antiparasit modern, tidak ada yang bisa kulakukan untuk membalikkan kerusakan. Cacing sudah mati atau masih hidup, tapi kerusakan pada sistem limfatik sudah terlalu parah.
"Apakah kaki saya bisa normal lagi?"
Gusti bertanya dengan suara penuh harap. Mata berbinar. Tubuh condong ke depan. Tangan mencengkeram lutut dengan kuat. Harapan yang sudah dijaga selama tiga tahun, harapan yang sudah dibawa ke puluhan dukun, harapan yang sudah memakan habis uang keluarga yang miskin.
Doni menatap mata pemuda itu.
Lama.
Terlalu lama.
Gusti menunggu, tubuh tegang seperti dawai yang ditarik. Ibunya menunggu, tangan terkepal di pangkuan. Bahkan Bambang berhenti menulis. Karyo yang berdiri di pojok ruangan menahan napas.
Aku bisa berbohong. Bilang ada harapan.
Mereka akan senang hari ini. Besok. Lusa.
Tapi sebulan dari sekarang? Setahun? Ketika tidak ada perubahan? Ketika uang habis untuk ramuan yang tidak berguna?
Leher Doni terasa kaku. Rahang terkatup terlalu erat.
Mereka akan kehilangan kepercayaan. Bukan hanya padaku. Pada semua yang mencoba membantu mereka. Pada sistem kesehatan yang rapuh ini.
Ia mengambil napas dalam.
"Bengkaknya tidak akan hilang."
Suaranya pelan tapi jelas. Setiap kata dipilih dengan hati-hati, setiap kata jatuh seperti batu. "Kerusakan pada pembuluh getah bening sudah terlalu parah. Tapi..."
Wajah Gusti mulai jatuh. Bahu terkulai.
"Tapi aku bisa membantu mencegah infeksi dan mengurangi nyeri. Luka kecil ini harus dirawat dengan baik agar tidak jadi lebih besar. Dan yang paling penting..." Ia menatap ibu Gusti. "Apakah ada adik yang masih kecil?"
"Ada, Kang. Dua orang. Masih lima dan tujuh tahun."
"Mereka harus tidur pakai kelambu. Setiap malam." Doni menekankan setiap kata. "Agar tidak tertular penyakit yang sama. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk. Kalau bisa, rumah dipasang kawat kasa di jendela. Dan kalau tidur, pakai kelambu."
Wajah Gusti jatuh sepenuhnya. Bahu terkulai. Seperti benang yang putus. Tapi setelah beberapa saat, ia mengangguk perlahan, menerima kenyataan yang sudah lama ia tolak.
"Terima kasih sudah jujur." Suaranya serak. "Dukun lain selalu bilang bisa sembuh kalau bayar lebih mahal. Sudah habis banyak uang, uang yang seharusnya untuk makan adik-adikku... tapi tidak ada perubahan. Malah makin parah."
Air mata mulai turun di pipi Gusti. Tidak meledak, hanya mengalir diam.
"Setidaknya sekarang aku tahu. Setidaknya sekarang aku bisa berhenti berharap hal yang mustahil dan mulai fokus melindungi adik-adikku."
Ibu Gusti memeluk anaknya. Pelukan erat yang mengatakan semua yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Doni merasa dadanya sesak. Bukan karena sedih. Tapi karena ini adalah kebenaran. Kebenaran yang menyakitkan, tapi yang membebaskan. Lebih baik daripada harapan palsu yang perlahan menggerogoti.
Ia membersihkan luka di kaki Gusti dengan hati-hati, mengoleskan madu dan daun sirih, membungkusnya dengan kain bersih. Memberikan ramuan untuk mengurangi nyeri. Memberikan instruksi detail tentang cara merawat kaki agar tidak lebih buruk.
"Kau masih bisa hidup normal," Doni berkata sambil memperban. "Kaki ini tidak akan sembuh, tapi kau masih punya tangan, kepala, dan hati yang sehat. Cari pekerjaan yang tidak butuh banyak berjalan. Jaga adik-adikmu agar tidak kena penyakit yang sama. Itu yang bisa kau lakukan."
Gusti mengangguk. Kali ini lebih mantap. Ada penerimaan di matanya.
"Terima kasih, Kang Doni. Sungguh."
...---•---...
Pasien-pasien berikutnya berlalu lebih cepat.
Seorang bayi dengan bisul besar di leher, Doni harus memecahkannya, mengeluarkan nanah yang menyembur keluar. Bayi menangis kesakitan, tapi ibunya memeluk erat sambil berbisik kata-kata penenang. "Sudah, sudah, sayang..."
Seorang kakek dengan mata keruh, katarak, tidak ada yang bisa Doni lakukan tanpa operasi. "Hindari cahaya terang, gunakan topi kalau keluar. Itu yang bisa kulakukan."
Seorang perempuan muda dengan nyeri dada, setelah pemeriksaan teliti, kemungkinan GERD atau kecemasan. "Jangan makan terlalu kenyang. Hindari makanan pedas dan asam. Dan tidur dengan bantal tinggi."
Akhirnya, pasien terakhir keluar. Matahari sudah condong ke barat, menciptakan bayangan panjang di lantai balai.
Doni keluar dari ruangan. Tubuhnya limbung. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kapas. Mata seperti digesek amplas. Pelipis berdenyut keras. Setiap kedipan terasa berat.
Teras balai sudah kosong. Langit berwarna jingga kemerahan, indah tapi terasa ironis. Indah di luar, hancur di dalam.
Pak Wiryo duduk di bangku, bahu terkulai, tapi bibirnya tersenyum tipis.
"Kau luar biasa." Ia menyerahkan cangkir air pada Doni. "Enam puluh delapan pasien hari ini. Aku sudah mencatat semuanya. Ada yang dari kampung ini, ada dari kampung tetangga, bahkan ada dari kota kecamatan."
Enam puluh delapan. Hampir tujuh puluh orang dalam satu hari.
Doni minum air itu sampai habis. Cairan dingin mengalir di tenggorokan yang terasa seperti padang pasir. "Besok akan lebih ramai lagi. Berita akan menyebar lebih cepat."
"Kau akan kembali besok?"
"Masih banyak yang membutuhkan bantuan." Suara Doni serak tapi tegas.
Pak Wiryo tersenyum lebar. Mata berkaca, berkilau di cahaya sore. "Kampung ini beruntung kau ada di sini."
Bambang menghampiri dengan buku catatannya. Kertas sudah penuh coretan. "Kang Doni, dari enam puluh delapan pasien, lima puluh dua meninggalkan bayaran. Totalnya..." Ia menghitung dengan bibir bergerak. "Dua ratus lima puluh duit. Ini uangnya."
Ia menyerahkan segenggam uang tembaga dan beberapa keping perak kecil. Berat di tangan, tapi hangat.
Doni menatap uang itu.
Ini pertama kalinya aku punya uang di dunia ini. Tidak banyak menurut standar modern, bahkan tidak cukup untuk satu kali makan di restoran Jakarta. Tapi di sini, ini cukup untuk makan beberapa minggu. Ini hasil kerja nyata. Ini pengakuan atas nilai yang kuberikan.
"Bagikan setengahnya untuk yang membantu hari ini," katanya tanpa ragu. "Pak Wiryo, Bu Wiryo, Bambang, Karyo. Kalian semua sudah bekerja keras."
"Tidak, tidak." Pak Wiryo menggeleng cepat. "Ini hasil kerjamu. Kami hanya membantu."
"Tanpa kalian, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Ini kerja tim. Jadi terima saja."
Setelah berdebat sebentar, mereka akhirnya menerima, meski masih enggan. Doni menyimpan sisanya dalam kantung kain kecil yang diberikan Bambang.
Setidaknya sekarang aku punya sesuatu. Mungkin bisa beli kain untuk perban, atau bahan-bahan ramuan yang lebih baik.
...---•---...
Ketika mereka berjalan pulang, kampung sudah mulai sepi.
Orang-orang menyalakan pelita di gubuk-gubuk mereka. Cahaya kecil yang bergoyang, bintang-bintang yang turun ke bumi. Asap dari tungku masak mengepul, membawa aroma nasi dan sayur sederhana. Anak-anak berlarian di jalan, bermain kejar-kejaran sambil tertawa. Tawa yang murni, tidak tahu beban dunia.
Angin sejuk membawa aroma bunga dan tanah basah. Suara jangkrik mulai mengisi malam. Konser alam yang monoton tapi menenangkan.
Karyo berjalan di samping Doni, sesekali melirik. Tatapan yang tidak bisa dibaca. Campuran kagum, khawatir, dan sesuatu yang lain.
"Kau tidak lelah?"
"Sangat lelah." Doni menjawab jujur. "Tapi puas."
"Puas?"
"Ya. Karena hari ini aku sudah membantu orang. Enam puluh delapan orang. Itu yang penting."
Mereka berjalan dalam diam untuk beberapa saat. Suara sandal menyeret tanah. Desah napas. Gemerisik dedaunan tertiup angin.
Lalu Karyo berkata pelan, "Kau benar-benar berbeda, Doni. Sejak demam itu. Seperti ada seseorang yang berbeda di dalam tubuhmu."
Doni berhenti melangkah.
Napasnya tertahan. Telapak tangan tiba-tiba basah meskipun udara sejuk. Leher kaku. Rahang terkatup terlalu erat.
Apakah Karyo curiga? Apakah ia tahu? Apakah ada yang mencurigakan dari cara aku berbicara, bergerak, berpikir? Apakah aku terlalu berbeda dari Doni yang asli?
"Maksudmu?" tanyanya hati-hati. Suara terkontrol, tidak gemetar, meskipun jantung berdegup lebih cepat.
"Maksudku..." Karyo menatapnya. Mata lurus, tidak berkedip. "Doni yang dulu selalu murung, selalu terlihat tidak punya tujuan. Seperti hidup hanya untuk menunggu mati. Tapi Doni sekarang... ada api di matamu. Ada tujuan. Seperti kau tahu persis apa yang harus kau lakukan dalam hidup. Seperti kau akhirnya menemukan alasan kau dilahirkan."
Doni menghela napas lega. Napas yang tertahan akhirnya keluar. "Mungkin demam itu memberiku pencerahan. Atau mungkin melihat Tari hampir mati membuatku sadar bahwa hidup ini singkat. Terlalu singkat untuk dihabiskan dengan murung dan tidak berguna. Harus digunakan untuk sesuatu yang bermakna."
Karyo mengangguk perlahan. "Mungkin aku juga perlu demam seperti itu."
Mereka tertawa. Tawa kecil, lelah, tapi tulus.
Tapi sebelum mereka sampai di gubuk Pak Karso, seorang anak kecil berlari menghampiri. Napasnya terengah-engah seperti habis lari maraton. Mata lebar. Kaki telanjang berdebu.
"Kang Doni! Kang Doni! Cepat!" Suaranya hampir teriak, memecah keheningan malam. "Mbok Supi demam tinggi! Pak Wiryo menyuruhku mencarimu!"
Doni langsung berlari.
Kelelahan seketika hilang. Tergantikan adrenalin yang meledak di pembuluh darah. Kaki yang tadi hampir tidak kuat berdiri sekarang berlari cepat di jalan tanah.
Infeksi. Pasti infeksi. Aku sudah takut ini akan terjadi sejak kemarin saat melihat luka Mbok Supi.
Karyo berlari di sampingnya. Napas sama terengahnya, tapi tidak ada yang bicara. Tidak ada waktu untuk bicara.
Malam belum berakhir untuk tabib ajaib.
...---•---...
... Bersambung...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲