"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Matahari mulai tenggelam, menyisakan langit jingga yang terasa kelabu bagi Dirga dan Laura. Tubuh mereka serasa remuk. Pesta pernikahan yang seharusnya menjadi kemenangan bagi Laura, berubah menjadi awal penderitaan yang sangat menyakitkan.
"Mas, kita pulang sekarang ya? Kepalaku pusing aku ingin istirahat, Mama... biar kita pikirkan besok," rintih Laura sambil memijat pelipisnya.
Dirga hanya mengangguk lemah. "Iya, aku juga butuh istirahat, Ayo kita pulang".
Namun, langkah mereka terhenti di depan gerbang yang biasanya terbuka lebar. Sosok-sosok bertubuh tegap dengan seragam hitam berdiri angkuh di sana. Di samping mereka, tumpukan koper dan tas plastik besar tergeletak begitu saja di atas trotoar, seperti tumpukan rongsokan.
"Maaf, Pak Dirga. Rumah ini sudah tertutup untuk Anda," ucap salah satu bodyguard dengan suara tegas
Darah Dirga naik ke kepala mendengar ucapan Bodyguard itu "Kalian gila?! Saya ini suami Karin! Berani sekali kalian menghalangi jalan saya!"
Tanpa banyak bicara, bodyguard itu justru meraih koper besar milik Dirga dan melemparkannya ke aspal hingga rodanya patah.
"Ini perintah langsung dari Bu Karin. Pak Dirga dan Bu Laura dilarang menginjakkan kaki di rumah ini. Silakan angkat kaki sebelum kami menggunakan cara kasar."
Dengan tangan gemetar, Dirga merogoh ponselnya. "Karin... dia pasti cuma menggertak. "Awas aja kalian bakalan aku pecat".
Sambungan telepon terhubung. Suara Karin terdengar begitu tenang, sangat kontras dengan keributan di gerbang.
"Ada apa lagi, Mas? Belum cukup puas merayakan pernikahanmu?"
"Rin! Apa-apaan ini?! Kenapa ada bodyguard di rumah kita, dan barang-barangku dibuang ke jalan!" teriak Dirga frustrasi.
"Rumah kita?" Karin tertawa kecil, tawa yang menyayat hati. "Itu rumahku, Mas. Dibeli dengan uang ku . Bukankah tadi aku sudah bilang? Setelah 'Kalian menikah', kamu bebas pergi dengan pilihanmu. Sekarang, pergilah. Jangan mengotori rumah ku lebih lama lagi."
Klik. Sambungan diputus sepihak.
"Rin! Halo?! Sialan!" Dirga mengumpat, membanting pandangannya ke arah para bodyguard yang mulai melangkah maju dengan tatapan mengancam.
"Mau pergi sendiri, atau perlu kami melakukan kekerasan?"
"Kami bisa pergi. Sendiri".ucapnya
Malam semakin larut. Angin malam mulai menusuk tulang. Dirga menarik tangan Laura yang mulai merengek, menyeret koper-koper mereka menyusuri jalanan kota yang asing. Beberapa kontrakan yang mereka datangi hanya menyisakan pintu tertutup dan kontrakan itu sudah memiliki penghuni.
"Mas... aku haus, kakiku lecet. Sampai kapan kita jalan terus?" keluh Laura, wajahnya yang penuh riasan kini luntur oleh keringat dan air mata.
"Sabar, Laura! Kamu pikir aku tidak capek?!" sentak Dirga.
Karena tak kunjung mendapat kontrakan mereka akhirnya duduk bersandar di depan sebuah ruko yang sudah tutup. Aroma aspal dan debu jalanan menjadi teman istirahat mereka. Rasa kantuk yang luar biasa akhirnya membuat mereka terlelap dalam posisi yang sangat melelahkan.
Brak! Brak....
"Bangun! Bangun! Ini ruko, bukan panti asuhan!"
Sebuah tendangan di ujung sepatu mengenai koper mereka. Pemilik ruko berdiri di sana dengan wajah garang, memegang kunci gembok. Dirga kaget, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
"Ma-maaf, Pak. Kami cuma numpang sebentar, kami kelelahan..."
Si pemilik ruko meludah ke samping, menatap Dirga dan Laura dengan jijik.
"Laki-laki macam apa kamu? Bawa kabur anak orang tapi cuma bisa tidur di emperan. Tidak punya uang ya untuk sewa hotel?".
"Jaga bicara Anda! Saya tidak bawa kabur dia! Kami baru saja diusir dari rumah istri pertama saya!" bela Dirga, mencoba berdiri meski pinggangnya terasa kaku.
"Oh, diusir istri sah ya?" Si pemilik ruko tertawa mengejek. "Makanya, kalau tidak punya uang, tidak usah sok-sokan punya istri dua. Jadinya kan begini, mau jadi ratu malah jadi gelandangan. Sudah, pergi! Jangan sampai saya panggil satpam pasar ke sini!"
Laura menutup wajahnya dengan tangan, terisak menahan malu yang luar biasa. Dirga mencengkeram erat pegangan kopernya, menelan semua hinaan itu bulat-bulat.
"Ayo pergi, Laura. Kita tidak butuh belas kasihan orang ini."
Mereka kembali melangkah ke dalam kegelapan malam, menyusuri trotoar yang panjang, tanpa tahu ke mana kaki harus melangkah.
"Kita istirahat di pos ronda ini saja ya, Laura. Besok pagi baru kita cari kontrakan lagi," ucap Dirga pelan, suaranya nyaris hilang ditelan angin malam yang semakin menusuk.
Laura hanya memalingkan wajah, matanya sembap. "Terserah kamu lah, Mas. Aku sudah lelah sekali," gumamnya datar, pasrah pada kenyataan pahit yang kini menghimpitnya.
Malam itu, beralaskan tikar tipis pos ronda yang dingin , mereka mencoba memejamkan mata. Tidur mereka sama sekali tidak nyenyak; nyamuk dan suara bising kendaraan sesekali membuat mereka terjaga.
Saat fajar menyingsing dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan, seorang pria paruh baya yang sedang lewat menghampiri mereka dengan tatapan heran.
"Maaf, Mas, Mbak... kenapa kalian berdua tidur di pos ronda?" tanya pria itu, dahi nya berkerut bingung.
Dirga mengerjap, berusaha mengumpulkan nyawanya. "Eh, maaf ya, Pak. Kami tadi malam cari kontrakan, tapi sayangnya tidak ada satu pun yang kosong. Jadi terpaksa tidur di sini."
Pria itu mengangguk-angguk, seolah memahami situasi sulit di depan matanya.
"Oh begitu. Kalau Mas mau, saya punya kontrakan dekat sini. Kebetulan kosong satu pintu. Apa Mas mau lihat?".
Mata Dirga berbinar penuh harap. "Boleh, Pak! Kebetulan sekali kalau begitu."
Tanpa pikir panjang, Dirga dan Laura mengikuti pria itu menyusuri gang sempit yang becek. Langkah Laura semakin melambat saat mereka masuk ke area perumahan padat penduduk. Sesampainya di depan sebuah bangunan kayu yang sudah mulai lapuk, Laura terkesiap. Kontrakan itu jauh dari ekspektasinya; cat dindingnya mengelupas, atapnya tampak reyot, dan ukurannya sangat sempit.
"Nah, ini dia Mas kontrakannya. Bagaimana, apa Mas mau? Tenang saja, biaya sewanya murah, cuma lima ratus ribu saja per bulan," tawar pria itu.
Dirga melihat koper-koper mereka yang teronggok di gang, lalu melirik sisa tenaganya yang habis. "Ah, boleh deh, Pak. Tidak apa-apa, saya ambil. Ini uangnya saya bayar sekarang ya," ucap Dirga sambil menyerahkan lembaran uang dengan cepat.
"Baik, terima kasih Mas. Ini kuncinya, silakan langsung masuk saja. Saya permisi dulu," ujar pria itu berlalu
Begitu pintu terbuka, aroma lembap dan debu langsung menyeruak. Laura berdiri mematung di ambang pintu, matanya menatap nanar ruangan yang hanya cukup untuk satu kasur kecil itu.
"Mas, kamu gila ya? Ini kontrakan kumuh banget! Sempit, pengap! Bagaimana aku bisa tinggal di sini?" gerutu Laura, suaranya meninggi karena rasa tidak terima.
Dirga mengusap wajahnya dengan kasar, rasa pusing mulai menyerang kepalanya.
"Mau bagaimana lagi, Laura? Saldo rekeningku cuma sisa dua juta! Kalau kita cari kontrakan yang lebih besar, uang kita tidak akan cukup. Kita mau makan apa nanti?"
Laura mendengus, ia membanting tasnya ke lantai semen yang berdebu. Ia masuk dengan raut wajah masam dan bibir yang ditekuk, menunjukkan kekesalan yang luar biasa.
Dirga hanya bisa bersandar di pintu yang berderit, menatap langit-langit kontrakan dengan perasaan hampa. Pernikahan yang ia bayangkan indah, kini justru dimulai di sebuah lubang sempit yang menyesakkan.
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak