NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Peraturan Baru

Hari berganti pagi. Sinar matahari masuk melalui jendela gorden kamar Alana di Mansion Adicandra yang megah.

Ia terbangun dengan hati yang lebih ringan hari ini.

Kebiasaan lamanya sebagai seorang perawat tidak bisa hilang begitu saja.

Alana segera bangun pagi-pagi sekali dan mengenakan jubah tidurnya.

Ia melangkah keluar untuk mengecek kondisi orang-orang tersayangnya.

Pertama, ia mampir ke kamar luas yang ditempati oleh kedua orang tuanya.

Melihat pemandangan di depannya, Alana tersenyum lega.

Sang ayah dan ibu tertidur pulas di tempat tidur yang nyaman.

Jauh dari dinginnya lantai gudang dan bunker.

Setelah memastikan mereka aman, ia lanjut memastikan Mama Aristi sudah meminum vitaminnya.

Setelah semuanya beres, Alana melangkah menuju ruang makan utama.

Langkahnya mendadak terhenti saat melihat Raden sudah duduk di sana.

Ada secangkir kopi hitam yang sangat pekat di hadapan pria itu.

Raden tampak serius menatap tablet di depannya seperti sedang mengerjakan sesuatu.

Ia mengabaikan piring sarapan yang masih kosong.

Alana berjalan mendekat tanpa suara.

Lalu tanpa basa-basi, ia langsung menarik cangkir kopi itu dari jangkauan tangan Raden.

Raden refleks mendongak.

"Sayang, aku butuh kafein itu, jangan diambil ya."

"Ada banyak laporan rumah sakit yang harus aku tinjau hari ini," protes Raden pelan.

Alana tidak bergeming.

Ia memberikan isyarat kepada pelayan untuk membawakan segelas jus sayur hijau dan sepiring sarapan lengkap.

"Dokter Raden yang terhormat, Anda tentu tahu secara medis apa dampaknya kafein dosis tinggi saat perut kosong terhadap lambung, kan?"

"Jangan mentang-mentang Anda dokter spesialis lalu bisa mengabaikan kesehatan Anda sendiri," ucap Alana tegas.

Raden tersenyum tipis merasa disidang oleh tunangannya sendiri.

"Tenanglah Sayang, aku tahu batasanku. Aku bisa menanganinya."

"Mungkin di rumah sakit Anda bosnya, tapi di meja makan ini peraturan tetap peraturan."

"Tidak ada kopi sebelum perut terisi," jawab Alana tak mau kalah.

Raden akhirnya mengalah.

Ia meminum jus itu hingga tandas sambil menggelengkan kepalanya.

Ia kagum melihat kegigihan sang tunangan.

"Baiklah, Nyonya Adicandra. Sepertinya mulai sekarang aku harus mulai terbiasa dilarang-larang olehmu."

Setelah sarapan usai, Raden meraih tangan Alana.

Mereka berjalan ke halaman depan di mana mobil sudah menunggu.

"Silakan masuk, Tuan Putri," ucap Raden lembut.

"Hais, ada-ada aja kamu ini," balas Alana dengan pipi merona.

Di dalam mobil, Raden terus menggenggam tangan Alana sesekali menciumnya.

Perjalanan pagi itu berakhir di depan sebuah gedung baru yang sangat modern di area elit.

Di atas gerbangnya, sebuah papan nama kristal berkilau indah.

Papan itu bertuliskan: "Alana Medical Center".

Melihat bangunan di depannya, Alana langsung terpaku di tempatnya.

"Ayo masuk, Sayang," ucap Raden.

Alana berjalan masuk dengan langkah ragu.

Namun matanya bersinar cerah melihat peralatan medis canggih di sana.

Semuanya tertata sangat rapi.

"Ra-Raden... ini untuk apa?" tanya Alana bingung.

Bukannya menjawab, Raden malah memeluk Alana dari belakang.

Ia menyandarkan dagunya di bahu mungil Alana.

"Ini untukmu, Sayang. Kita akan mengelolanya bersama."

"Kamu yang akan memimpin operasional sekaligus kepala perawat di sini."

"Ini tempatmu untuk menyembuhkan orang tanpa perlu merasa tertekan oleh siapa pun lagi."

Setelah puas melihat klinik baru, mereka melanjutkan perjalanan menuju butik mewah.

Begitu mereka melangkah masuk, Mama Aristi sudah menunggu di sana.

Wajahnya berseri-seri seperti baru saja menang lotre.

"Nah, ini dia calon pengantinnya datang!" seru Mama Aristi sambil menghampiri mereka.

Mama Aristi langsung menarik tangan Alana menuju deretan manekin.

Ia bahkan tidak memedulikan kehadiran Raden.

"Sebenarnya yang anaknya itu aku atau Alana?" batin Raden pasrah.

"Alana, sini Sayang lihat deh! Kamu harus cobain ini."

"Mama sudah pilih beberapa gaun yang sangat cocok dengan kulit kamu yang bersih itu."

"Ayo cepat cobain satu-satu ya, Mama udah nggak sabar pengen lihat!"

Mama Aristi penuh semangat menyerahkan gaun pertama pada Alana.

"Baik, Ma!"

Alana berjalan untuk mencoba gaun pertama.

Sebuah gaun backless berwarna abu-abu yang sangat mewah.

Begitu tirai dibuka, Raden yang duduk santai di sofa langsung mengerutkan kening.

"Ganti. Gaun ini terlalu terbuka di bagian punggung."

"Aku tidak mau punggungmu jadi tontonan banyak orang," protes Raden.

Alana bahkan belum sempat berkomentar apa-apa.

Alana menghela napas sebelum kembali masuk ke ruang ganti.

Ia mencoba gaun kedua dengan belahan kaki yang cukup tinggi.

Saat tirai terbuka lagi, Raden langsung menggeleng keras.

"Wow, Raden lihatlah ini! Terlihat sangat elegan dan jenjang di kaki Alana," puji Mama Aristi membela.

"Bagus apaan kayak gini, Ma! Belahannya terlalu tinggi."

"Bagaimana kalau dia nanti tersandung?"

"Dan lagi gaun ini terlalu mengekspos kakinya. Raden gak suka, Ma. Ganti Alana!"

Raden yang biasanya pendiam mendadak menjadi sangat cerewet.

Alana akhirnya kembali masuk mencoba gaun selanjutnya.

Ia bahkan harus bolak-balik ke ruang ganti sampai enam kali.

Ada saja alasan Raden; mulai dari warna yang dianggap terlalu mencolok.

Payet yang dianggap terlalu tajam.

Hingga kain yang menurutnya terlalu tipis seperti saringan tahu.

Saat Alana keluar dengan gaun ketujuh, ia merasa sangat berat.

Gaun itu penuh manik-manik, terasa seperti memikul beban hidup.

Keringat mulai tampak membasahi pelipisnya.

Raden baru saja mau memprotes soal potongan bagian leher gaun itu.

Namun Mama Aristi langsung memotongnya cepat.

"Raden, cukup!" seru Mama Aristi sambil memegang lengan putranya dengan gemas.

"Lihat Alana! Apa kamu tidak kasihan dengan dia?"

"Wajahnya sangat pucat karena bolak-balik ganti gaun terus dari tadi."

"Kamu itu kok cerewet banget sih, gak biasanya loh!"

"Sebenarnya gaun seperti apa yang kamu inginkan, Raden?"

"Kita ini sedang milih gaun pertunangan kalian, bukan lagi audit rumah sakit!"

Mendengar omelan mamanya, Raden langsung terdiam.

Ia menatap wajah Alana yang memang terlihat sangat kelelahan.

Rasa bersalah muncul di mata tajamnya.

"Maaf, aku hanya ingin kamu terlihat sempurna dan yang paling penting... tertutup."

"Huh..." Mama Aristi menghela napas panjang.

"Dia sudah sempurna memakai apa saja, Raden. Jadi jangan cerewet lagi."

Nasihat Mama Aristi sambil menuntun Alana untuk duduk.

"Sudah ya, Sayang? Istirahat dulu. Nanti kita pilih yang paling nyaman buat kamu saja."

Sore harinya saat mereka kembali ke mansion, suasana hangat itu terusik.

Kehadiran Gina yang berpura-pura tersandung merusak suasana.

Ia berniat menumpahkan teh panas ke baju Alana.

Namun refleks Alana sebagai seorang perawat sangat cepat.

Ia langsung menghindar dengan satu gerakan anggun.

Justru kaki GINA sendiri yang tersiram teh panas tersebut.

"Aaakh! Panas!" teriak Gina sambil terduduk di lantai.

Melihat hal itu Alana tidak langsung pergi.

Ia justru berlutut di depan Gina dan mengambil tas medis kecilnya.

Lalu ia menekan kuat luka bakar itu dengan kapas alkohol.

"Sebagai seorang perawat, aku sarankan kamu lebih fokus dengan langkahmu daripada fokus pada bajuku, Gina."

"Jangan main drama di depan calon nyonya rumah kalau tidak mau kariermu mati permanen," bisik Alana dingin.

Kata-kata itu membuat Gina pucat pasi.

Drama itu terhenti oleh decitan rem mobil yang sangat berisik dari halaman depan.

Suara pintu mobil yang sengaja dibanting keras terdengar sampai ke lobi.

Langkah kaki terburu-buru mulai mendekat.

Mendengar keributan itu, Arsenio serta kedua orang tua Alana segera keluar.

Disaat bersamaan, Mama Aristi dan Raden juga menghampiri sumber suara.

Semua orang kini berkumpul di sana.

Beno dan istrinya, Sindi, masuk dengan wajah angkuh.

Sindi langsung menatap kedua orang tua Alana dengan pandangan menghina.

"Kau tidak sedang bercanda kan, Arsen?" teriak Sindi melengking.

Suaranya memenuhi seisi ruangan mansion yang luas.

"Darah Adicandra murni itu keturunan dokter hebat!"

"Tidak bisa dicampur darah lingkungan kumuh seperti keluarga perawat sok cantik ini!"

"Apa mansion ini sudah berubah menjadi tempat penampungan gelandangan?"

Kedua orang tua Alana tertunduk malu mendengar hinaan kasar itu.

Raden dan Arsenio sudah mengepalkan tangan, siap meledak marah.

Namun, Alana dengan santai maju menahan mereka.

Ia berdiri paling depan untuk melindungi orang tuanya.

Alana memberikan senyumnya yang paling mematikan.

Alana melirik sekilas ke arah tas branded edisi terbatas milik wanita itu.

Di sana ada gantungan kunci dengan inisial nama yang cukup jelas.

"Melihat inisial di tas mewah Anda, saya asumsikan Anda adalah Nyonya Sindi yang terhormat?"

Suara Alana terdengar tenang tapi sangat menusuk.

"Saya baru tahu kalau ternyata kemurnian darah Adicandra dilihat dari seberapa berisik dan tidak sopannya seseorang saat bertamu."

"Senang rasanya bertemu keluarga jauh yang ternyata sangat cemas posisinya tergeser oleh perawat 'kumuh' seperti saya."

Wajah Nyonya Sindi langsung memerah padam seperti badut.

Ia tidak menyangka gadis itu bisa menebak identitasnya dengan tenang.

Apalagi ia langsung dihina balik oleh Alana.

Alana kembali melanjutkan perkataannya dengan nada dingin.

"Dan satu lagi, Nyonya. Di mata medis darah kita sama-sama merah."

"Tidak ada yang biru ataupun hijau."

"Yang membedakan hanya satu, yaitu etika."

"Sesuatu yang sepertinya tidak Anda miliki meskipun Anda berteriak paling kencang di sini."

Sindi langsung terdiam seribu bahasa.

Sementara Raden dan Arsenio menatap penuh rasa bangga ke arah Alana.

Perlawanan Alana yang tenang benar-benar membungkam kesombongan keluarga cabang itu.

Mereka berdua terdiam di depan semua orang.

*****"

Catatan Penulis:

Puas banget ya lihat Alana kasih pelajaran ke Nyonya Sindi yang sombong itu! Jangan lupa tinggalkan Like dan Komentar kalian di bab ini kalau kalian setuju mulut Sindi emang perlu disekolahin!

Btw, soal novel kedua gue...

Hari ini novel "My Savage Wife: Mafia Juga Takut Istri" libur update dulu ya, soalnya gue lagi mau lihat dulu nih seberapa besar antusias kalian buat ngikutin kelanjutan aksi dokter-pengacara latah yang bikin bos mafia kena mental itu?

Kalau banyak yang suka dan penasaran, gue bakal makin semangat buat lanjutin bab-bab berikutnya yang pastinya bakal lebih seru!

Jadi, buat yang udah nggak sabar nunggu, yuk tunjukkan antusias kalian dengan mampir ke profil gue dan 'Favoritkan' novelnya sekarang! Biar gue tahu kalau cerita itu emang layak buat segera dilanjutin. 🔥✨

1
panjul man09
semakin kesini semakin tidak masuk akal , padahal dalam lingkup rumah sakit , thor , direktur yg tidak pernah kenal dekat alana main serobot aja, kejauhan ,direktur ke suster , kalo dokter ke suster itu biasa ada hubungan /Grimace/
panjul man09
kenapa pesannya tidak lewat w.a saja , aneh
panjul man09
yg mana lebih tinggi jabatannya dr Raden atau direktur rumah sakit ?
panjul man09
ternyata alana menyukai perlakuan Raden terhadapnya /Proud/
panjul man09
disini , alana terlihat oon dan tidak bisa berpikir , banyak yg terlihat tidak masuk akal , bikin sedikit jengkel bacanya
panjul man09
nikahi saja alana biar raden bisa memiliki alana seutuhnya , daripada nanti alana kabur !
Elifia Latupeirissa
seru... lanjutkan
Elifia Latupeirissa
👍👍👍
Saya Bapak
bagus banget ceritanya
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!