Hana dan Aldo mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kenzo. Mereka adalah sepasang suami istri yang telah menikah selama 6 tahun, Kenzo berusia 5 tahun lebih dan sangat pandai berbicara. Kehidupan Hana dan Aldo sangat terjamin secara materi, Aldo mempunyai perusahaan batu bara di kota kalimantan...kehidupan rumah tangga mereka sangat rukun dan harmonis, hingga suatu hari musibah itu menimpa dalam rumah tangga mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VISEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Tante Laras tidak bisa menyangkal hatinya jika ia sedang kecewa dengan pilihan Aldo yang memilih Sari. Saat tante Laras mendengar pengakuan Aldo bahwa Sari sedang hamil anak Aldo, ia terpukul dan cukup tertekan. Om Heri tetap bersikap tenang menghadapi masalah rumah tangga putrinya, ia dan istrinya sedang mencari cara untuk menyampaikan kabar tentang Aldo kepada Hana. Om Heri tidak ingin menyampaikannya kepada Hana, namun di satu sisi Hana harus tahu sebuah kebenaran tentang Aldo dan Sari. Beberapa hari kemudian , om Heri dan tante Laras mengunjungi Hana di rumahnya. Hana cukup terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya yang mendadak.
Hana: "Mengapa papa dan mama tidak menelponku dulu. Aku bisa menyuruh mbok Titi untuk masak sesuatu." ucapnya sambil tersenyum kecil. Selama ini Hana juga belum memberitahu tentang kepergian Aldo dari rumahnya pada kedua orang tuanya, walaupun om Heri dan tante Laras sudah mengetahui semuanya dari mulut Aldo.
Tante Laras: "Kamu tidak perlu repot, Hana." ucapnya dengan pelan. "Di mana Kenzo, nak?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Hana: "Kenzo sedang tidur siang di kamarnya, ma. Dia sangat mengantuk karena bangun terlalu pagi." sahutnya.
Tante Laras: "Biarkan saja, Hana. Kenzo harus istirahat yang cukup." ucapnya dengan penuh perhatian.
Hana: "Iya, ma." sahutnya pelan. "Apa yang mama bawa?" tanyanya sambil memperhatikan bungkusan di tangan tante Laras.
Tante Laras: "Buah kesukaan Kenzo." ucapnya sambil memberikan bungkusan buah melon ke tangan Hana. Kenzo sangat menyukai buah melon. Hana mengambil buah melon itu, ia berjalan pelan ke dapur dan menyuruh mbok Titi untuk memotongnya, agar Kenzo bisa memakannya saat ia bangun. Hana juga menyuruh mbok Titi menyiapkan makanan untuk kedua orang tuanya.
Hana: "Bahan makanan di kulkas masih ada, kan?" tanyanya.
Mbok Titi: "Masih banyak, nyonya. Saya akan memasak untuk tuan Heri dan nyonya Laras." ucapnya dengan sukarela.
Hana: "Terima kasih, ya, mbok." ucapnya lembut. Setelah berbicara pada mbok Titi, Hana kembali berjalan pelan ke ruang tengah menemui kedua orang tuanya. "Papa dan mama makan malam di sini saja, ya." pintanya.
Tante Laras: "Baiklah, sayang. Kami juga rindu pada Kenzo." ucapnya dengan lembut.
Hana: "Pa, ma. Aku ingin bekerja di perusahaan papa." ucapnya dengan yakin.
Om Heri: "Bagaimana dengan Kenzo?" tanyanya.
Hana: "Aku sudah membicarakannya dengan mbok Titi, pa. Ia bersedia mengurus Kenzo saat pulang sekolah." ucapnya dengan penuh keyakinan. "Aku akan menambahkan gaji untuk mbok Titi nanti." ucapnya lagi. "Aku juga ingin bicara tentang mas Aldo, pa." ucapnya dengan hati-hati.
Om Heri: "Papa dan mama sudah mengetahui tentang Aldo, nak." ucapnya. Hana terkejut, ia menatap wajah kedua orang tuanya dengan tatapan dalam. "Aldo datang ke rumah dan menceritakan semuanya." ucapnya lagi. "Papa yang menelponnya." ucapnya.
Hana: "Apa yang mas Aldo katakan, pa?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Om Heri: "Semuanya, Hana. "Ada sesuatu yang akan papa bicarakan padamu." ucapnya dengan hati-hati. Tante Laras menatap wajah suaminya, seakan memberi kode agar om Heri berhati-hati dalam perkataannya.
Hana: "Membicarakan apa, pa?" tanyanya dengan rasa penasaran. "Katakan saja, pa. Aku siap mendengarkan." ucapnya lagi dengan tidak sabar. Om Heri menghela nafas berat, ia menatap wajah putrinya dengan rasa iba. Hana semakin penasaran dengan apa yang akan disampaikan om Heri. "Jangan membuatku penasaran, pa. Katakan saja." ucapnya sambil menatap wajah om Heri yang kelihatan tegang.
Om Heri: "Aldo dan Sari telah menghianatimu, Hana. Mereka telah menikah secara siri saat di Bandung." ucapnya dengan suara berat. Hana tertegun, ia tidak percaya dengan pernyataan om Heri.
Hana: "Jangan bercanda denganku, pa." ucapnya pelan. "Aku memang mempunyai masalah dengan mas Aldo, namun hanya masalah komunikasi saja." ucapnya lagi.
Om Heri: "Papa tidak pernah bercanda dalam berkata-kata, Hana. Aldo dan Sari datang ke rumah beberapa hari yang lalu." ucapnya dengan wajah yang serius. "Sari telah hamil. Usia kandungannya 4 minggu." ucapnya dengan penuh keyakinan. Hana menatap wajah om Heri, ia menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya.
Hana: "Tidak, pa. Jangan mengarang cerita." ucapnya dengan tidak percaya.
Tante Laras: "Papa tidak mengarang cerita, nak. Sari dan Aldo menghianatimu. Mereka telah menikah saat Aldo pergi ke Bandung." ucapnya dengan pelan namun tegas.
Hana: "Sejak kapan papa dan mama mengetahuinya?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.
Tante Laras: "Beberapa hari yang lalu, papa menelpon Aldo untuk datang ke rumah." ucapnya. Akhirnya tante Laras mengatakan semuanya pada Hana tentang Aldo dan Sari, tante Laras juga mengatakan pada Hana tentang om Heri yang telah menyelidiki Aldo selama berada di Bandung. "Aldo tidak pernah menghubungimu selama di Bandung, karena ia sedang bersama dengan Sari." ucapnya dengan penuh keyakinan. Hana terpukul dan masih tidak percaya dengan informasi yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
Om Heri: "Lupakan Aldo. Papa akan mengurus perceraian kalian." ucapnya dengan tegas. "Ia telah membohongi dan menghianatimu." ucapnya lagi dengan kesal.
Hana: "Aku akan menemui Sari, pa. Aku akan menanyakan langsung padanya." ucapnya dengan tidak percaya. Om Heri mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, ia mulai membuka ponselnya dan memperlihatkan foto-foto kebersamaan Aldo dan Sari yang sedang berpelukan di depan toko pakaian saat berada di Bandung.
Om Heri: "Lihat ini, Hana. Ini foto-foto mereka saat berlibur ke Bandung." ucapnya sambil memperlihatkan foto-foto kebersamaan Aldo dan Sari di ponselnya. "Apakah bukti ini belum cukup, Hana?" tanyanya dengan kesal. Hana menatap foto-foto itu dengan tatapan dalam, air matanya mulai berjatuhan di kedua pipinya yang putih dan mulus. Sahabat yang sangat ia percayai ternyata telah membohongi dan menghianatinya dengan kejam. Hana menangis tersedu-sedu di hadapan kedua orang tuanya, tante Laras memeluk Hana dengan rasa iba dan penuh kasih sayang.
Tante Laras: "Hapus air matamu, nak. Aldo tidak pantas menerima tangisanmu yang berharga." ucapnya dengan penuh kelembutan.
Hana: "Sari sahabatku, ma. Aku sudah menganggapnya seperti saudara kandungku." ucapnya tersedu-sedu. "Aku selalu menceritakan kesedihan dan kebahagiaanku padanya." ucapnya dengan suara yang agak keras. "Aku tidak percaya, aku tidak percaya." teriaknya sambil menggelengkan kepalanya.
Om Heri: "Kenyataan memang pahit, Hana. Kamu harus belajar menerimanya." ucapnya dengan tegas. "Lupakan Aldo dan Sari. Fokuslah pada hidupmu dan Kenzo." ucapnya lagi. Hana terus menangis tersedu-sedu, mbok Titi melihat dan mendengar semuanya dari dalam dapur. Hati mbok Titi ikut hancur dan kecewa saat mendengar semuanya, ia seakan merasakan kepedihan yang menimpa Hana.
**********************************