Sadewa dan Bianca sudah bersahabat dari kecil. Terbiasa bersama membuat Bianca memendam perasaan kepada Sadewa sayang tidak dengan Sadewa,dia memiliki gadis lain sebagai tambatan hatinya yang merupakan sahabat Bianca.
Setelah sepuluh tahun berpacaran Sadewa memutuskan untuk menikahi kekasihnya,tapi saat hari H wanita itu pergi meninggalkannya, orang tua Sadewa yang tidak ingin menanggung malu memutuskan agar Bianca menjadi pengantin pengganti.
Sadewa menolak usulan keluarganya karena apapun yang terjadi dia hanya ingin menikah dengan kekasihnya,tapi melihat orangtuanya yang sangat memohon kepadanya membuat dia akhirnya menyetujui keputusan tersebut.
Lali bagaimana kisah perjalanan Sadewa dan Bianca dalam menjalani pernikahan paksa ini, akankah persahabatan mereka tetap berlanjut atau usai sampai di sini?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 31
Setelah keterkejutan oleh Bianca Sadewa dan Arsen.
"Caca, kenapa kamu ada di sini?wow dan setelah kembali ke Indonesia kamu tidak menghubungi aku sama sekali." ucap Arsen yang terlihat bahagia bertemu dengan Bianca.
"Caca?." ada nada tidak terima ada yang memanggil Bianca dengan sebutan khusus miliknya.
"Justru kak Arsen yang ga ngasih tau aku kalau udah di Indonesia." jawab Bianca dengan antusias.
Sadewa merasa seperti baru yang tidak terlihat diantara Bianca dan Arsen.
"wait wait,jadi kalian udah saling kenal?." untuk memastikan kebingungan nya Sadewa bertanya.
"Pak Dewa,saya dan Bianca sudah kenal sejak lama bahkan saat saya sakit di LN Bianca yang merawat saya." ada nada bangga dalam kalimat Arsen.
Sadewa tidak menyangka jika Bianca memiliki teman laki-laki lain selain dirinya,"bagaimana kalian bisa bertemu? kalian beneran berteman?" rentetan pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir Sadewa.
Bianca merasa ada yang aneh dengan Sadewa,tapi dia menepis perasaan tersebut.
"Jadi aku sama kak Arsen kenal waktu ikut kegiatan kemanusiaan lima tahun yang lalu,kalau ga salah waktu itu kakak jatuh terus terkilir,aku yang sok tau coba bantu pijit,eh ternyata sembuh." Bianca berkata sambil tertawa kecil.
"hahaha, ternyata kamu masih ingat ya ca."
Melihat Arsen yang menatap Bianca penuh dengan ketertarikan membuat hati Sadewa dongkol.
"Bisa kita sudahi acara NOSTALGIA ini." Sadewa menekan kata nostalgia untuk melampiaskan perasaanya.
Bianca dan Arsen yang sadar langsung merasa bersalah,"maaf kan saya pak dewa,saya terlalu senang bertemu dengan Bianca jadi lupa maksud dan tujuan saya kesini."
"Tidak masalah kalian bisa lanjut bernostalgia saat istirahat." ucap Sadewa dengan nada muak.
Arsen dan Sadewa duduk berhadapan sedangkan Bianca ada di tengah-tengah mereka.
"Langsung saja ke tujuan saya kesini,saya ingin mengajukan keja sama, pembangunan taman bermain,dan saya ingin yang membuat desain adalah saudara Bianca." Arsen menatap Bianca yang terlihat terkejut atas permintaannya.
"Saya tidak menyarankan Bianca untuk menangani proyek ini, perusahaan kami memiliki tenaga desain yang jauh lebih ahli dan berpengalaman." ucap Sadewa yang terkesan meragukan Bianca.
"Sepertinya pak dewa belum mengenal karyawan bapak yang satu ini "
Sadewa mengepalkan tangannya karena kesal mendengar ucapan Arsen,"Tidak ada yang lebih mengenal Bianca lebih dari saya." balas Sadewa.
"Benarkah? bahkan hal basic saja anda tidak tahu." balas Arsen sambil tersenyum tipis.
Sadewa dan Arsen saling bertatapan,jika di film-film mata mereka sudah mengeluarkan aliran listrik yang saling beradu.
Bianca mencoba mencairkan suasana yang tidak nyaman ini,"Untuk tawaran pak Arsen saya akan mengikuti kebijakan perusahaan saja,jika perusahaan mengizinkan saya akan langsung menangani proyek tersebut."
"Menurut saya perusahaan yang baik adalah perusahaan yang mendukung penuh kemampuan karyawan nya." Arsen mencoba memancing Sadewa.
Dan ternyata pancingan Arsen tepat sasaran,"Baiklah kalau begitu biar Bianca yang menangani proyek ini, tapi saya akan memantau langsung progresnya."
"Baik kalau begitu, terima kasih atas kerjasamanya pak Sadewa." Arsen mengulurkan tangannya di sambut dengan uluran tangan Sadewa.
Kemudian Arsen menjabat tangan Bianca,"mulai hari ini kita akan sering bertemu ca."
Bianca hanya menjawab dengan anggukan kepala disertai senyum manisnya. Sadewa yang melihat Arsen tidak segera melepaskan uluran tangannya tiba-tiba berdiri kemudian lewat ditengah-tengah mereka.
"Hari ini sibuk banget jadi ga ada waktu buat bersantai." ucap Sadewa sambil berlalu.
Arsen dan Bianca tidak mengambil pusing perilaku Sadewa.
"Istirahat makan siang kamu ada janji ga?." tanya Arsen kepada Bianca.
"Enggak ada kak, kenapa mau ngajakin makan siang ya." tepat sekali pertanyaan Bianca.
"Kelihatan banget ya kalau mau ngajakin makan siang."
"Iya,muka kak Arsen ada tulisannya." jawab Bianca sambil tertawa, Arsen ikut tertawa melihat wajah cantik Bianca, sementara Sadewa di meja kerja ingin sekali menghilangkan pemandangan yang menurutnya menyebalkan.
Sadewa berdehem untuk mengakhiri percakapan Arsen dan Bianca,"hemmm, sepertinya pekerjaan kamu tidak terlalu banyak ya Bianca, makanya ada waktu luang untuk bercanda di tengah pekerjaan." Sadewa berkata dengan nada ketus.
Bianca hendak menjawab tapi keduluan Arsen,"ini hitungannya juga pekerjaan pak dewa,kan Bianca sedang menjamu saya selaku klien perusahaan ini."
"Kalau pak dewa mengizinkan saya untuk menggunakan ruangan ini untuk membahas sedikit detail desain bersama Bianca."
"Ya ya silahkan, terserah kalian lah." ucap Sadewa dengan nada tidak ikhlas nya.
Memang benar Arsen dan Bianca tampak serius dalam membahas pekerjaan tapi Sadewa yang jadi tidak fokus dengan pekerjaannya.
"Sial,aku jadi ga fokus kerja jadinya." batin Sadewa yang ingin sekali dia keluarkan.
Tidak terasa pembahasan Bianca bersama Arsen memakan waktu satu jam lamanya.
"Udah satu jam aja, sekarang waktu nya istiikan ca?." tanya Arsen.
"Iya kak."
"Kalau begitu ayo kita makan siang,aku ada rekomendasi restoran enak di sekitar sini,yang sesuai lah sama selera kamu."
"Boleh kak." jawab Bianca.
"harusnya kan aku yang diajak makan siang,kan aku ceo perusahaan ini." kembali Sadewa membatin.
"Oh iya ca,kamu udah ada pacar?." tiba-tiba ruangan menjadi hening karena pertanyaan Arsen.
Bianca melirik Sadewa yang memelototi dirinya, dengan santai Bianca menjawab "belum kak,santai aja ga ada yang marah kok kalau aku jalan sama kakak."
"Syukur lah,aku takut kalau kita makan bareng tiba-tiba ada yang nyiram aku pake jus." ucap Arsen sambil tertawa.
"Malahan aku yang harus nya tanya kakak udah ada pasangan."
"Harusnya sih udah ada kalau kamu sekarang bilang iya."
"waduh, saatnya makan siang,pak dewa saya pamit dulu." Bianca berpamitan dengan sopan sambil berlari kecil untuk menghindari pertanyaan Arsen.
Arsen berdiri sembari merapikan jasnya,"saya bawa Bianca dulu ya pak." Setelah mengatakan hal tersebut Arsen langsung berlalu dari hadapan Sadewa.
Setelah kepergian Arsen dan Bianca Sadewa langsung meninju udara untuk melampiaskan kekesalannya yang sedari tadi ia tahan.
"Berani' nya laki-laki itu menggoda istri di depan suaminya,sialan Arsen sialan,awas aja ya Bianca aku bakalan hukum kamu nanti."