Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
"Essa, kenapa masih di sini? Apa suamimu belum jemput juga?"
"Sst ... Micha jangan keras-keras nanti ada yang mendengar," gumam Essa sambil meletakkan telunjuk pada bibir bawahnya.
Sontak Micha langsung menutup mulutnya sambil celingukan melihat sekeliling. Hatinya lebih tenang karena semua siswa sudah pulang, tidak ada siswa lain yang sedang menunggu di halte bus.
"Essa, apa kamu belum dijemput?" Suara Micha lebih kecil sekarang, gadis itu harus lebih hati-hati.
"Entahlah, tapi panggilanku tidak dijawab." Essa mencebikkan lagi bibirnya, wajahnya terlihat sangat murung.
"Hei, kau jangan berpikiran macam-macam, mungkin Om Alex sibuk. Dia pasti mengurus semuanya, kan apalagi ditinggal kakak ipar mu. Kalau begitu aku yang antar, ayo masuklah." Micha menawarkan tumpangan tetapi Essa gadis itu malah membungkuk, mengintip seorang pria dewasa yang duduk di samping Micha.
Menyadari tatapan Essa, Micha pun melirik kepada kekasihnya itu. Ya, itulah sugar daddynya yang selama ini menjalani hubungan dengannya.
"Dad, temanku boleh ikut, kan." Mohonnya dengan memelas.
"No problem honey, suruh dia masuk," ucapnya yang juga terdengar oleh Essa. Micha langsung sumringah, dengan senyum yang lebar ia kembali menyuruh Essa untuk masuk dan duduk di car seat.
"Ayo, Essa cepat."
Essa, mengangguk. Dengan malu dia memasuki mobil Micha duduk dengan tenang di belakang sana.
"Di mana rumahmu?" tanya pria bercambang itu melirik Essa dari atas kaca dashboard.
Pria itu memang tampan memiliki jambang tipis di sekitar rahangnya, hidung mancung, bagaikan hidung elang, serta wajah kotak menambah kesan tegas di wajahnya, tapi pupil hijau dan bibir tipis yang selalu mengulum senyum menambah kesan hangat bagi siapa yang menatapnya. Pantas saja Micha tertarik dan begitu lekat bagaikan perangko. Jika disuguhkan laki-laki setampan itu siapapun tidak akan menolak walau pria itu sudah tua.
Jika ditatap dengan seksama kekasih Micha tidak beda jauh dengan bintang bollywood yang terkenal pada jamannya, siapa namanya — Kritik Roshan, kalian pasti tahu seberapa tampan artis Bollywood itu, kan.
Anggap saja seperti itu, sekarang kita kembali ke mereka. Micha hendak menjawab tetapi Essa langsung menyanggahnya.
"Ke—"
"Rumah sakit," sanggah Essa membungkam perkataan Micha. Micha yang terkejut langsung menoleh.
"Rumah sakit?"
"Kak Sera, melahirkan jadi aku akan pergi ke sana," terangnya pada Micha.
"Oh, baiklah." Micha berbalik ke arah jalanan ia pun menjelaskan kepada kekasihnya. "Kakaknya melahirkan, lain kali kita juga harus melihatnya."
"Tentu honey," balas pria itu lalu melajukan mobilnya.
Perjalanan kali ini tidak begitu sunyi, Essa dan Micha terus bercerita sampai si Daddy itu tersenyum mendengar ocehan mereka. Essa, pikir kekasih Micha lebih tua dari Alex, jadi kenapa dia harus malu. Jika sewaktu nanti pernikahannya diketahui semua orang Alex tidak begitu buruk.
Tidak terasa mobil mereka sudah sampai di depan rumah sakit, Essa segera turun dari mobil temannya itu.
"Micha, Om, terima kasih sudah mengantarkanku."
"Sama-sama," balas pria berjambang itu.
"Essa, salamkan pada kak Sera dan juga ibu dan ayahmu. Maaf, aku belum bisa mampir. Sebenarnya aku juga ingin ikut tapi aku tidak membawa apapun untuk keponakan mu. Lain kali saja, ya."
"Tidak apa-apa Micha terima kasih, ya."
Micha melambaikan tangan seiringnya sang kekasih memundurkan mobilnya. Mobil hitam itu pun berlenggang jauh meninggalkan area rumah sakit. Essa, yang sedari tadi menatap kini berlalu meninggalkan lobby setelah hilangnya mobil itu dari pandangan.
Kedua orang tuanya sudah ada di sana sejak pagi. Mereka tentu heboh menyambut cucu kedua mereka, apalagi sekarang dari Sera. Essa, yang masih mengenakan seragam SMA pun berlalu memasuki lift untuk menuju ruangan bersalin.
Di dalam lift begitu kosong yang hanya ada dirinya. Essa terus saja menunduk dengan jari jemarinya yang berkutat pada layar ponsel. Essa, mengetik sebuah pesan untuk Alex, yang hanya ingin mengatakan jika dirinya sudah tiba di rumah sakit, siapa tahu Alex akan menyusulnya.
Denting lift berbunyi, Essa mendongak bukan untuk keluar tetapi melihat nomor pada tombol lift yang menyala—tujuannya masih jauh tetapi Iift sudah terbuka.
Netranya terpaku, menatap sosok pria yang sedang di khawatirkannya saat ini.
"Om," ucapnya dengan kaget.
Alex, mendongak ekspresinya begitu kaku yang sama terkejutnya. Kini tatapan Essa beralih pada tangan kanan yang ditopang Alex, terlihat perban putih dengan noda merah melilit di bawah bahunya. Karena goresan itu tangan kemejanya robek dan harus dirobek untuk menjahit lukanya.
"Essa ..."
"Om, tanganmu kenapa? Apa terjadi sesuatu, kenapa Om tidak membalas pesanku. Seharusnya Om bilang tidak bisa menjemput karena—" ucapnya terpotong.
Kening Essa mengerut, matanya menyipit ke arah Heyra, yang baru saja memasuki lift mereka.
Heyra ... Alex ... bagaimana bisa mereka bersama, itulah pertanyaannya.
"Alex, maaf tadi aku harus menjawab telepon dari manajerku. Kamu tidak apa-apa, kan? Sini biar aku bantu."
"Tidak usah Heyra." Alex menepisnya dengan kasar. "Kamu bisa pergi sekarang."
"Tidak, aku akan pulang bersama mu Alex." Heyra dengan kekeh. Lirikkan matanya tertuju pada Essa.
"Oh, ternyata ada dia," gumamnya tidak suka.
"Kalian kenapa bisa bersama? Dan Om— tanganmu ...."
"Dia terluka karena melindungiku," sergah Heyra. Essa menatapnya tidak suka. "Alex, akan melakukan apapun untukku. Bahkan mempertaruhkan nyawanya demi aku, karena dia mencintaiku." Lantangnya Heyra bicara.
"Heyra, berhenti bicara," tegas Alex pada Heyra. Lalu melirik Essa. "Sa—"
"Aku tahu dia mantan tunangan Om, jadi Om pasti melindunginya, menyelamatkan nyawanya aku mengerti. Dan aku tidak akan marah." Essa menyanggah perkataan Alex, karena marah. Lagi-lagi panggilan sayang Alex harus terpotong. Alex, sepertinya sudah terbiasa memanggil Istrinya itu dengan panggilan sayang tetapi Essa belum menyadarinya.
"Kamu jangan marah dulu, aku akan menjelaskannya."
"Tidak perlu Om, aku tidak akan salah paham karena aku istri yang baik." Perkataannya ditujukkan pada Alex, tapi lirikkan matanya tertuju pada Heyra. Alex, sekarang diapit oleh kedua wanita.
"Dan untukmu Nona Heyra, terima kasih. Kamu sudah menolong suamiku tapi cukup sampai di sini saja, selanjutnya biar aku yang melakukannya. Aku akan merawatnya dengan baik." Katanya dengan tegas dan penuh penekanan.
Essa menggeser tubuhnya di samping Alex, menjauhkan Alex dari Heyra.
"Tugasmu hanya belajar, tahu apa kamu tentang merawat orang sakit."
"Kenapa? Apa seorang pelajar tidak bisa melakukannya." Tatap Essa dengan tajam. Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka, Essa buru-buru membawa Alex keluar dari sana.
"Berhentilah bersandiwara kalian," ucap Heyra menghentikan langkah mereka berdua. Alex dan Essa berbalik, mereka benar-benar tidak mengerti apa maksud perkataan Heyra.
Heyra berjalan keluar dari lift dengan sepasang tangan yang dilipat di bawah dada. Matanya dengan dingin menatap Essa.
"Aku tahu kalian hanya pura-pura menikah, kan. Alex, apa kamu melakukan itu untuk menghindariku?"
"Heyra ...."
"Kenapa kami harus pura-pura. Kami bener menikah, dan aku adalah istrinya."
"Apa ada buktinya? Sekedar foto apa ada?"
"Foto ...." Mereka terdiam. Masalahnya Essa maupun Alex tidak menyimpannya. Mungkin saat itu mereka memang tidak saling menginginkan dan tidak mau menyimpan foto atau apapun yang bertentangan dengan pernikahannya.
Heyra tersenyum smirik. Langkahnya mendekat, kepada Essa. Ia membungkuk. lantas berbisik.
"Kau tahu kenapa Alex melakukannya, Karena ia mencintaiku."
deg
Essa mengepalkan tangannya. Nafasnya terasa sesak hingga nyeri menusuk dadanya. Apalagi ketika mendengar kata-kata,
"Apa Alex, pernah melakukan sesuatu untukmu?"
Essa hanya diam.
lanjut thor smgt 💪😍
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.