Ini Kisah Essa dan Alex, adik dari Sera dan Darren di novel Godaan Cinta Ibu Susu
~~
Tidak Pernah Menyangka, diusia matangnya Alex, akan menikahi gadis kecil yang selalu membuatnya kesal siapa lagi jika bukan adik ipar bosnya. Karena satu insiden memaksa mereka untuk menikah.
Vanessa tidak mau menikah diusia muda apalagi dengan laki-laki menyebalkan seperti Alex, tapi karena satu insiden memaksanya untuk menerima lamaran itu.
BAGAIMANA KISAH MEREKA YANG TIDAK PERNAH AKUR? AKANKAH BENIH-BENIH CINTA TUMBUH DIANTARANYA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang
Micha dan Eva menutup kedua mulutnya yang menganga lebar, matanya membola tanpa satu kedipan. Hati mereka cukup syok ketika Essa mengatakan jika dirinya memang sudah menikah 3 bulan yang lalu. Dan lebih mengejutkan pria itu adalah laki-laki yang pernah digosipkan dengan Heyra artis terkenal itu.
Selain itu juga, Alex adalah pria yang bertemu dengan mereka beberapa tahun lalu. Yang pernah mereka jodohkan dengannya.
"Sekarang aku tahu kenapa kamu marah saat kita membicarakan Heyra. Terjawab sudah kecurigaan ku selama ini," ungkap Micha melirik Essa dengan lirikan yang tidak biasa. Gadis itu seolah pernah memergoki Essa beberapa kali.
"Sebenarnya aku sudah curiga padamu ketika kita pergi ke bioskop. Kamu ingat, kan saat itu kamu akan dijemput oleh kakak iparmu tapi aku tak percaya, karena aku tahu kamu bohong."
Essa tertegun. Apa selama ini ia dimatai sahabatnya. Entahlah, tapi perkataan Micha membuatnya gugup. Micha kembali duduk di atas meja, kedua kakinya dibiarkan bertumpu dengan sepasang tangan yang menyilang di bawah dada.
Di kelas itu tidak ada seorang pun siswa selain mereka, sehingga leluasa untuk ketiganya bicara.
"Kita sudah berteman dari SMP jadi aku mengenal mu dengan baik, aku bisa membedakan mana ucapanmu yang jujur atau bohong." Micha menghela nafas sejenak.
"Aku mengikutimu Essa, karena aku pikir kamu berbohong. Kamu bilang akan dijemput tapi malah naik taksi dan aku semakin dibuat penasaran ketika taksi mu berhenti di depan apartemen mewah. Bukankah ibumu tinggal di ruko? Dan setelah itu ... tidak lama kamu berlari keluar dari sana. Dan aku melihat kamu menangis, aku pikir ada masalah apa dan aku harus membantu mu. Tapi ... detik kemudian seorang pria menyusulmu, mengejar dan meneriaki namamu. Dan aku masih ingat betul siapa pria itu, pria yang bertemu dengan kita di lift dua tahun yang lalu."
Ya, Micha masih ingat wajah tampan Alex yang ia anggap sugar Daddy untuk Essa. Micha tidak pernah melupakan wajah seseorang, ingatannya sangat bagus. Walau waktu itu penampilan Alex berbeda, yang mengenakan kaca mata tapi Micha masih mengenal Alex yang ketika keluar dari apartemen tidak memakai benda itu.
"Micha, kamu sudah tahu tapi kenapa kamu tidak bertanya padaku?"
"Dan kau Micha." Tatap Eva dengan sangat tajam. "Kau tidak memberitahuku juga." Eva merasa dikhianati.
"Kamu orangnya comel, takutnya nanti kamu bilang ke Essa. Dan untuk kamu Essa." Lirikkan mata Micha kini beralih ke Essa. "Aku menunggumu untuk bercerita padaku," sambungnya.
Essa, menghela nafas berat sambil menunduk. Rasanya serba salah, sahabatnya sudah tahu, Essa tidak bisa menjamin satu sekolah tidak akan tahu. Tapi Essa yakin mereka berdua tidak akan menyebarkan rumor tentangnya, karena bagaimanapun Essa punya kartu keduanya.
"Apa kalian marah?" tanya Essa melirik temannya bergantian.
"Hem ... mmm ." Micha menggeleng. "Aku tidak marah tapi aku kecewa saja karena kamu tidak bilang padaku sejak awal. Tapi aku senang kamu diam-diam menikahi Om itu, masih aku ingat ketika kamu menolak saat aku dorong kamu untuk mendekatinya dan ternyata itu jodohmu," ujar Micha diakhiri dengan tawa.
Mereka pun tertawa bersama mengingat masa itu.
"Tapi aku berbeda dengan kalian. Hubunganku resmi secara agama dan diakui negara. Kalau kalian —" lirik Essa pada kedua temannya.
"Sudah, jangan bahas itu. Sebentar lagi aku juga akan meresmikan hubunganku tapi setelah lulus nanti," ucap Micha dengan bangga tapi tidak dengan Eva yang tersenyum hambar. Entah, apa yang sedang gadis itu pikirkan tapi tatapannya mendadak sendu, seakan merasa iri dengan kehidupan Essa dan Micha.
Eva hanya berharap suatu saat nanti ia akan bertemu pria yang benar-benar tulus menyayanginya. Tidak seperti saat ini, kebanyakan pria yang menemuinya hanya karena n*fsu belaka. Dan ia hanya wanita pemuas n*su tidak lebih.
Eva juga sering mengalami kekerasan fisik, ia akan disiksa jika tidak memberikan servis yang bagus untuk Klien-Nya.
Ingin sekali Eva lepas dari jeratan dunia malamnya, tapi ia tidak bisa karena bagaimanapun hanya dengan cara itu ia bisa mendapatkan uang untuk biaya hidupnya. Dia harus mencari uang untuk pengobatan ibunya, juga biaya sekolah adik-adiknya.
"Eva!" teriak Micha dan Essa bersamaan saat Eva tidak mengindahkan panggilan mereka.
"Ya?" Eva tersentak.
Micha dan Essa menatapnya heran, dan menelisik penuh curiga. "Apa yang kamu pikirkan Eva?"
Eva hanya diam dia bagaikan orang bodoh ketika ditanya Micha. Namun, tidak dengan Essa, gadis itu menatap penuh arti kepada sahabatnya itu seakan tahu jika Eva sedang mengalami masalah yang berat. Essa, masih ingat dan penasaran tentunya ketika bibir Eva terluka saat pergi ke bioskop bersamanya.
"Ma-af, aku terlalu memikirkan ujiannya jadi tidak fokus. Memangnya apa yang dikatakan kalian tadi?" Eva mencoba bertanya, padahal ia sedang hanyut dalam masalah hidupnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya bilang kalian jangan bilang tentang pernikahan ku dulu kepada siapapun," sahut Essa dengan tenang, bibirnya tersenyum tipis seolah memberikan ketenangan untuk Eva.
"Oh, soal itu. Tenang saja Essa, aku akan tutup mulut. Tapi traktir, ya? Hehe ...." Eva nyengir kuda.
Essa, sekarang sudah lebih tenang karena kedua sahabatnya sudah mengetahuinya. Setidaknya dia tidak akan sembunyi-sembunyi lagi. Mereka bertiga berjalan ke kantin, Eva dan Micha memesan bakso kuah untuk makan siangnya sebelum waktunya habis, tidak lupa jus jeruk sebagai penyegar, Essa tidak membeli apapun karena ia membawa bekal dari Alex.
"Essa, tumben kamu bawa bekal. Nasi goreng lagi, kamu yang masak?" tanya Micha ketika sudah duduk dihadapannya.
Essa menggeleng. "Bukan, ini buatan suamiku. Dia yang memberikanku bekal, dan setiap hari dia yang memasak aku hanya makan saja."
"Sumpah demi apa?" Micha membelalakan matanya. "Kamu beruntung sekali Essa, sudah jadi istri, di masakin pula. Boleh aku mencobanya?" tanyanya tapi tangannya sudah menyendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
"Mmm ... ini enak, pantas saja Essa selalu memakannya. Eva kamu harus coba."
Eva yang penasaran pun ikut mencoba. Saking enaknya masakan Alex, mereka bukan hanya mencoba tapi menghabiskannya. Sedangkan Essa, terlihat kesal dan kecewa karena bekalnya direbut oleh sahabatnya. Tanpa bilang permisi Essa mengambil satu mangkok bakso milik Micha untuk dimakannya.
"Essa, ini terlalu enak. Kapan-kapan aku mampir ya, pengen nyobain masakan suamimu juga ... aku ingin kenalanlah Essa, masa kamu nggak kenalkan suamimu pada kita, iya, kan Eva?" Lirik Micha pada Eva, lalu menyendok kembali nasi goreng itu.
"Hmmm ... iya. Aku juga ingin kenalan."
"Ya, kapan-kapan," ujar Essa lalu memasukan baso kecil ke dalam mulutnya. Mulutnya mengunyah dengan penuh. Tiba-tiba ia tersedak, ketika layar ponselnya berkedip menandakan ada pesan masuk.
Essa, segera mengambil jus Eva karena dia tidak memesan jus hingga meminumnya sampai habis.
"Essa itu punyaku."
Essa tidak peduli, yang langsung membuka layar ponsel dan membuka notifikasi dari nomor yang tidak di kenal. Matanya membulat seketika, setelah memembaca pesan itu.
Sebuah pesan beserta foto yang dikirimkan seseorang.
[ Suamimu, makan siang denganku. Lihatlah, dia memakan bekal yang aku masak untuknya]
Dari pesannya saja Essa sudah bisa menebak jika itu Heyra. Tapi dari mana wanita itu mendapatkan nomornya.
Essa, langsung menekan kontak Alex, yang langsung dihubunginya.
1 detik
2 detik
3 detik
Essa, menunggu. Akhirnya telepon itu tersambung. Belum sempat Alex, menyapa Essa sudah membungkamnya lebih dulu.
"Ha—"
"Letakkan sendoknya sekarang!"
Essa, seolah tahu jika Alex sedang memakannya. Sementara Alex, dia tertegun—matanya memindai sekeliling kantor, untuk mencari sosok Essa. Dengan rasa heran tangan yang memegang sendok itu perlahan turun, didaratkan ya di atas nasi bekal dari Heyra.
"Sa—"
Lagi-lagi Alex, memanggilnya sebutan sayang hanya saja perkataannya disanggah langsung oleh Essa.
"Jangan memakan apapun pemberian dari Heyra. Jauhkan kotak bekal itu sekarang, pokoknya Om hanya boleh memakan masakan ku atau makanan yang aku beli untukmu. Aku sudah memesannya tunggulah lima menit akan segera sampai."
Alex tertegun ia semakin di buat heran. Matanya memandang sendu hidangan yang baru akan ia santap, perutnya sudah sangat lapar apalagi ini sudah waktunya. Namun, Alex tidak tahu jika itu dari Heyra, karena kotak bekal itu sudah ada di mejanya.
"Siapa yang menyimpan kotak bekal ini dan kenapa Essa tahu jika makanan ini dari Heyra." Pikirnya dengan bingung.
Tapi tidak setelah seorang OB mengantarkan makanan untuknya. Ternyata, itu makan siang yang sudah Essa pesan.
thour buat essa kuat gak mudah di tindas ma pelakor, buat jd essa wanita kuat.