Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.
Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.
Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.
Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.
Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Revan Dan Pernikahan Kedua
Setelah resmi bercerai dengan Aruna, Revan tidak memberi dirinya waktu untuk benar-benar berhenti. Tidak ada masa berkabung. Tidak ada perenungan panjang tentang kegagalan yang baru saja ia lalui. Baginya, pernikahan pertamanya telah berakhir dan itu cukup menjadi alasan untuk memulai yang baru.
Beberapa bulan setelah perceraian itu berkekuatan hukum tetap, Revan menikahi Viona. Pernikahan kedua tersebut dilangsungkan secara agama Kristen, sesuai dengan keyakinan yang selama ini Revan jalani. Sebuah pemberkatan diadakan di sebuah gereja besar di pusat kota, disusul resepsi mewah di ballroom hotel bintang lima. Acara itu berlangsung meriah, penuh sorotan media, dan menjadi perbincangan publik selama berhari-hari. Semua itu adalah keinginan Viona.
“Aku seorang model,” kata Viona tanpa ragu ketika Revan sempat mengusulkan acara yang lebih sederhana. “Aku ingin semua orang tahu aku menikah. Aku ingin hari ini semua mata memandang ke arahku.”
Revan mengangguk. “Oke sayang, kita menikah sesuai dengan keinginan kamu.” Jawabnya.
Ia tidak membantah, meski di dalam dirinya ada kegelisahan yang tidak sepenuhnya bisa ia redam. Karena Revan tahu satu hal yang tidak bisa ia ingkari, secara iman Kristen, pernikahan keduanya tidak sah.
Pernikahan Kristen tidak mengenal perceraian sebagai jalan untuk menikah kembali. Apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Revan tumbuh dengan ajaran itu. Ia menghafalnya. Ia memahaminya. Dan hari itu, ia memilih untuk melanggarnya.
“Dengan sadar aku melanggar ketetapan Tuhan. Semua aku lakukan hanya demi Viona, perempuan yang aku cintai.” Gumam Revan.
Pendeta yang memimpin pemberkatan bukan orang asing. Ia dipilih dengan hati-hati. Revan menemui pendeta itu jauh sebelum hari pernikahan, membawa penjelasan yang panjang, alasan yang terdengar rapi, dan sebuah amplop tebal yang diletakkan dengan tenang di atas meja.
Pendeta itu sempat ragu, namun keraguan itu akhirnya runtuh bersama harga diri dan panggilan imannya. Pemberkatan tetap dilakukan. Doa-doa tetap diucapkan dan janji suci tetap dilafalkan. Namun hanya satu di antara mereka yang tahu, bahwa semua itu berdiri di atas kebohongan yang dibungkus legalitas.
“Baik Pak Revan. Saya bersedia memberkati pernikahan Bapak.” Ujar pendeta setelah menerima amplop tebal yang diberikan oleh Revan.
Hari itu, gereja dipenuhi cahaya lampu dan kilatan kamera. Viona berjalan menuju altar dengan gaun putih panjang yang dirancang khusus, senyumnya lebar dan penuh percaya diri. Ia tampak seperti perempuan yang telah memenangkan segalanya.
Revan berdiri menunggu, jasnya rapi, ekspresinya tenang. Dari luar, ia tampak mantap. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa di dalam dirinya, ada suara kecil yang terus mengingatkan “Kamu tahu ini salah.” Namun suara itu ia tekan dalam-dalam karena ia sudah terlalu jauh untuk mundur.
Bangku di barisan depan terlihat kosong. Ibunya tidak hadir. Begitu pula Adisti, adik perempuannya. Revan tidak perlu bertanya alasan. Ia tahu ibunya tidak akan pernah datang untuk menyaksikan sebuah pemberkatan yang ia yakini sebagai pelanggaran iman. Adisti memilih setia di sisi ibunya, diam tetapi tegas.
Saat pendeta mengucapkan doa penutup dan menyatakan mereka sebagai suami istri, tepuk tangan menggema. Media merekam setiap detik kebahagiaan itu. Viona menoleh ke arah kamera, menggenggam tangan Revan erat-erat.
“Akhirnya... aku menjadi istri sah Revan. Aku menang karena telah berhasil menyingkirkan Aruna.” Ucap Viona dalam hati.
Revan tersenyum, meyakinkan dirinya bahwa kebahagiaan tidak selalu harus sesuai aturan, bahwa Tuhan pasti mengerti alasan-alasan manusia. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia tahu bukan Tuhan yang ia yakinkan hari itu, melainkan dirinya sendiri.
Hari-hari setelah pernikahan dipenuhi sorotan dan pujian. Foto-foto Viona sebagai pengantin tersebar di berbagai portal hiburan. Nama Revan kembali ramai diperbincangkan, kali ini sebagai suami seorang model ternama.
Di rumah baru mereka, Viona mengisi ruang dengan tawa dan ambisi. Ia menikmati status barunya, menikmati perhatian, menikmati peran sebagai istri yang dipilih dan diumumkan pada dunia.
“Kamu lihat berita hari ini?” tanya Viona sambil memperlihatkan ponselnya.
Revan melirik sekilas, lalu tersenyum tipis. “Iya. Semua orang tampaknya senang dengan pernikahan kita.”
Revan pun berusaha menjadi suami yang lebih baik. Ia lebih sering pulang tepat waktu, lebih hadir dalam keseharian Viona, dan lebih terbuka menunjukkan kasih sayang secara fisik. Ia benar-benar ingin membahagiakan Viona.
“Aku suka kamu sekarang,” ucap Viona suatu malam sambil menyandarkan kepala di dada Revan.
Revan mengusap rambutnya perlahan. “Aku cuma gak mau kehilangan kamu.”
Namun ada hal-hal yang tidak bisa diperbaiki dengan usaha semata. Hubungannya dengan ibunya membeku begitu saja. Telepon jarang dijawab, pesan sering dibiarkan terbaca tanpa balasan. Adisti pun memilih menjaga jarak, berkomunikasi hanya seperlunya, dingin dan datar.
Kesunyian itu tidak pernah benar-benar dibicarakan, tetapi terasa jelas setiap kali Revan menatap ponselnya. Tidak ada lagi pesan maupun panggilan masuk dari ibunya yang menanyakan kabarnya, tidak ada lagi sosok adiknya yang sering datang mengunjunginya ke rumah atau ke kantor.
“Mama belum balas?” tanya Viona saat melihat Revan menatap layar terlalu lama.
“Belum,” jawab Revan singkat. “Mungkin nanti juga membaik.”
Revan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya. Bahwa kemarahan dan kekecewaan tidak selamanya bisa bertahan. Ia memilih untuk tidak memaksa, tidak mengejar, dan tidak meminta pengertian.
Ia memilih fokus pada Viona, pada kehidupan baru yang sedang ia bangun saat ini.
“Kamu terlalu banyak mikir,” kata Viona. “Kita sudah menikah. Itu yang penting.”
Revan tersenyum kecil. “Iya. Aku cuma perlu waktu untuk menyesuaikan semuanya.”
Namun di malam-malam tertentu, ketika rumah terlalu sunyi dan lampu kota terlihat seperti jarak yang tak tergapai, Revan terbangun dengan perasaan sesak yang sulit dijelaskan. Ada beban samar yang menekan dadanya tanpa sebab yang jelas.
Ia duduk di tepi ranjang, memandangi kota dari balik jendela, bertanya pada dirinya sendiri tanpa suara.
“Kamu kenapa?” suara Viona terdengar setengah mengantuk.
“Gak apa-apa,” jawab Revan pelan. “Cuma mimpi.”
Bukan rindu. Bukan pula penyesalan yang utuh. Melainkan kesadaran perlahan bahwa ia membangun kebahagiaan dengan mengorbankan iman, kejujuran, dan restu orang-orang yang dulu menjadi fondasi hidupnya. Kesadaran itu datang tanpa undangan, lalu pergi tanpa sempat ia genggam.
Keesokan harinya, Revan bangun dengan keadaan lemas. Ia kurang tidur, setelah menikah dengan Viona hampir setiap malam dirinya bermimpi buruk. Seolah-olah Revan dihantui dengan mimpi buruk.
“Apa kamu bahagia?” tanya Viona saat mereka berdua sedang sarapan, menatapnya penuh harap.
Revan terdiam sejenak sebelum mengangguk. “Tentu saja aku bahagia.” Jawabnya dengan nada mesra.
Ia kembali menekan perasaan yang mengganggu itu. Ia sudah membuat pilihannya, dan ia tidak ingin menoleh ke belakang. Tidak sekarang. Tidak setelah segalanya diumumkan pada dunia.
Baginya, mundur bukan lagi pilihan. “Kita jalani saja,” ucap Revan, lebih kepada dirinya sendiri.
Viona tersenyum dan menggenggam tangannya. “Aku akan selalu ada di sini untuk kamu, sayang.”
Pernikahan kedua Revan dimulai dengan gemerlap, doa-doa yang tidak sepenuhnya jujur dan janji yang dibangun di atas keyakinan rapuh. Dan jauh dari sorotan kamera, kebenaran itu perlahan menunggu waktunya sendiri untuk menagih tanpa perlu diberitahu, tanpa perlu diundang.