NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri

Hujan telah lama reda dari langit yang kini mulai memerah karena menyongsong senja, menyisakan kesegaran tanah yang lembap dan aroma daun basah yang mengisi setiap serapan napas di dalam hutan belantara yang tak pernah sepi dari suara gemericik air di sungai dekatnya dan kicauan burung yang sedang mencari tempat berteduh sebelum malam tiba. Cahaya matahari sore menerobos celah-celah pepohonan tinggi—jati, meranti, dan beringin tua yang batangnya berdiameter lebih dari dua orang dewasa saling menggenggam—menciptakan jalan-jalan cahaya yang menyinari rerumputan alang-alang yang tumbuh liar di atas tanah liat berlubuk akibat genangan air hujan tadi siang.

Ridwan berdiri tegak dengan tubuh yang atletis namun sedikit kurus, tinggi badannya sekitar seratus delapan puluh sentimeter dengan rambut hitam pekat yang diikat rapi di belakang kepala menggunakan tali rotan. Usianya dua puluh dua tahun, tapi wajahnya yang penuh dengan tahi lalat kecil dan alis yang tegas memberikan kesan lebih matang dari usianya sebenarnya. Tangan tangannya yang penuh kapalan akibat bertahun-tahun bekerja di hutan dan berlatih beladiri bekerja dengan terampil, mengangkat sekop bambu yang telah diasah dengan cermat untuk menggali tanah di bawah akar pohon beringin tua yang akarnya menjalar seperti ular raksasa ke segala arah. Ia sedang mencari akar jahe merah yang dipercaya oleh masyarakat desa dekat hutan sebagai obat mujarab untuk mengatasi demam dan nyeri sendi yang sering menyerang para petani setelah bekerja di sawah dalam waktu lama.

“Jangan terlalu dalam, nak,” suara Kakek Sembilan terdengar dari beberapa meter di belakangnya, suara nya masih kuat meskipun usianya sudah menginjak tujuh puluhan tahun. Kakek sedang duduk di atas batu besar yang licin akibat sering terkena genangan air, merapikan ramuan daun pegagan yang telah ia petik dari semak-semak di sepanjang tepi sungai. Jasanya yang terbuat dari kain katun tua berwarna coklat sudah penuh dengan noda tanah dan bekas cipratan air, tapi ia tidak peduli sama sekali. “Tanah di bawah akar itu sering menyimpan benda-benda lama yang tidak terduga—kadang batu yang tajam, kadang puing-puing rumah tua yang tertimbun oleh alam selama bertahun-tahun.”

Ridwan hanya mengangguk tanpa menghiraukan, fokus pada gerakan tangannya yang terus menggali dengan ritme yang teratur. Ia tahu nasihat Kakek Sembilan selalu datang dari pengalaman yang mendalam—kakek telah tinggal di hutan ini sejak puluhan tahun yang lalu, menjadikannya sebagai rumah dan sekolah untuk belajar segala hal tentang ilmu pengobatan tradisional yang ia wariskan kepada Ridwan sejak menemukan dirinya yang lemah dan kesakitan di pinggir sungai delapan tahun yang lalu. Ketika sekop bambunya menyentuh sesuatu yang tidak seperti tanah yang lembap atau akar yang kaku, ia langsung berhenti, merasa getaran yang berbeda melalui gagang bambu yang digenggamnya.

Ia segera menurunkan badan, membungkuk dengan gerakan yang fleksibel akibat sering berlatih silat di bawah bimbingan Kakek Sembilan. Jari-jarinya yang kuat namun hati-hati membersihkan lapisan tanah lembap yang menutupi benda tersebut, seperti seorang arkeolog yang sedang menggali peninggalan bersejarah. Lapisan demi lapisan tanah dikeluarkan dengan cermat, ditempatkan di sebelahnya dengan hati-hati agar tidak merusak apa pun yang ada di bawahnya.

Sebuah bingkai foto kecil berwarna kehitaman perlahan muncul dari bawah tanah, bagian atasnya sedikit terkoyak akibat tekanan tanah selama bertahun-tahun dan tumbuhnya akar kecil yang menyelimuti sebagian bagian belakang bingkai. Kaca foto di dalamnya sudah retak membentuk pola seperti capung, tapi gambar yang ada di dalamnya masih cukup jelas terlihat—seorang wanita dengan wajah cantik dan senyum lembut yang mampu menghangatkan hati, mengenakan baju batik warna biru tua dengan motif bunga melati yang indah, dengan seorang anak laki-laki kecil yang merangkul lehernya erat-erat. Anak itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Ridwan saat ini—hanya saja wajahnya masih penuh dengan keceriaan anak-anak, mata besarnya bersinar dengan kebahagiaan, mengenakan baju kaos berwarna putih yang sedikit lusuh di bagian siku.

Itu adalah dirinya sendiri, ketika ia masih berusia delapan tahun, dan wanita cantik di sisinya adalah ibunya, Dewi.

Tangannya sedikit gemetar saat ia mengangkat foto tersebut dengan hati-hati, khawatir bingkai yang sudah lapuk akan hancur di tangannya. Ia mengusap permukaan foto dengan helai daun kering yang masih bersih dari semak pepagan, hati-hati menghilangkan kotoran tanah yang menempel pada permukaan kaca yang retak. Setiap gerakan tangannya sangat hati-hati, seolah sedang menangani sesuatu yang sangat berharga dan mudah pecah—karena memang demikian adanya. Foto ini adalah satu-satunya kenang-kenangan yang ia miliki tentang ibunya, satu-satunya bukti bahwa dia pernah memiliki seorang ibu yang mencintainya dengan tulus.

Pada bagian belakang foto, setelah ia membersihkannya dengan hati-hati menggunakan serbet kecil yang selalu ia bawa di saku celananya, tulisan tangan ibu dengan huruf yang rapi dan indah masih terbaca jelas meskipun warnanya sudah memudar akibat terkena kelembapan tanah: “Untuk Ridwan sayangku—ibu selalu ada di hatimu, di mana pun kamu berada. Jangan pernah lupa bahwa kamu adalah anak yang kuat dan penuh dengan kebaikan. Semoga Tuhan selalu melindungimu. – Ibu Dewi.”

Kata-kata itu seperti cambuk yang menusuk hati Ridwan, membawa kembali kenangan-kenangan yang telah lama ia coba sembunyikan di dalam lubuk hati terdalamnya. Ingatan menyambar seperti kilat yang menerangi kegelapan malam, membuka kembali luka yang belum sembuh sempurna setelah delapan tahun berlalu.

Ia masih bisa merasakan sensasi malam itu dengan sangat jelas—hujan deras yang menusuk kulitnya yang hanya berpakaian baju kaos dan celana pendek tipis, badan yang menggigil bukan hanya karena dingin tapi juga karena ketakutan yang meliputi seluruh dirinya. Usianya baru empat belas tahun saat itu, tubuhnya masih kecil dan lemah dibandingkan dengan sekarang. Dia duduk di kursi belakang mobil keluarga yang selalu ia anggap sebagai tempat yang aman, tapi malam itu kursinya terasa sangat dingin dan jauh dari rasa nyaman yang pernah ia rasakan.

Rio, saudara tirinya yang berusia dua tahun lebih tua darinya, sedang mengemudikan mobil dengan wajah yang datar tanpa ekspresi—bahkan ketika hujan membuat jalanan menjadi licin dan sulit dilihat. Ratna, ibu tirinya yang dulunya adalah sekretaris ayahnya di perusahaan, duduk di sebelah depan, tangan kanannya menekan kursi dengan kuat, kakinya bergoyang-goyang dengan irama yang menunjukkan kegembiraan tersembunyi. Ayahnya, Budi Santoso, hanya diam di sebelahnya, wajahnya tertutup bayangan topi yang ia kenakan, pandangannya menatap jauh ke luar jendela seperti tidak melihat apa-apa, seperti tidak menyadari bahwa anaknya sendiri sedang berada di dalam mobil yang sedang membawanya menuju akhir yang tidak diketahui.

“Kenapa kita harus keluar malam ini, Kak Rio?” tanya Ridwan pada saat itu dengan suara yang sedikit gemetar, mencoba mengendalikan ketakutan yang mulai muncul di dalam dirinya. “Ayah bilang kita akan pergi ke panti asuhan, tapi kenapa harus malam hari dan dalam hujan seperti ini?”

Rio tidak menjawab langsung, hanya meliriknya melalui spion belakang dengan mata yang penuh dengan kebencian. Setelah beberapa saat, ia membuka mulutnya dengan nada yang dingin dan penuh dengan rasa sombong: “Kamu tidak pantas tinggal bersama kami lagi, Ridwan. Ayah sudah tidak punya uang lagi untuk membiayai hidupmu—dan perusahaan beserta semua hartanya adalah milikku sekarang. Panti asuhan adalah tempat yang paling cocok untukmu, jauh dari kami dan dari segala sesuatu yang seharusnya menjadi milikku.”

Ridwan menoleh ke arah ayahnya, berharap akan mendapatkan bantuan atau setidaknya kata-kata yang menghibur. Tapi ayahnya hanya menutup mata dengan erat, seperti sedang mencoba menghindari segala yang terjadi di sekelilingnya. Itu adalah momen ketika Ridwan menyadari bahwa ayahnya yang dulu mencintainya telah hilang, digantikan oleh seseorang yang lebih memilih untuk diam dan membiarkan istrinya dan anak tirinya menyakiti anak kandungnya sendiri.

Kemudian mereka berhenti di pinggir jalan yang menghadap ke hutan belantara yang dalam dan gelap. Rio membuka pintu mobil dengan kasar, menarik lengan Ridwan dengan kekuatan yang membuatnya merasa sakit. “Keluar dari sini!” seru Rio dengan suara yang meninggi di tengah suara hujan yang mengguyur. “Jangan pernah muncul lagi di hadapan kami jika kamu ingin hidup dalam damai!”

Ridwan mencoba berteriak, memanggil nama ayahnya berkali-kali sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman Rio yang kuat. Tapi mobil hanya melaju menjauh setelah Rio mendorongnya ke dalam semak-semak yang lebat, lampu belakangnya semakin memudar hingga hilang sama sekali di dalam kegelapan malam yang dipenuhi dengan suara gemericik hujan dan rengekan binatang di dalam hutan. Dia terjatuh di atas tanah yang basah dan licin, tubuhnya penuh dengan goresan dari duri-duri semak yang menyakitkan. Foto ibunya adalah satu-satunya barang yang berhasil ia bawa sebelum dibuang—ia telah menyembunyikannya di dalam saku celananya setelah melihat Ratna sedang membakar barang-barang milik ibunya beberapa hari sebelumnya.

“Kau menemukan apa, nak?” Kakek Sembilan mendekatinya dengan langkah yang stabil meskipun usianya sudah lanjut, melihat ekspresi wajah Ridwan yang penuh dengan emosi yang saling bertabrakan—kesedihan, kemarahan, dan keinginan yang sudah lama tertahan. Kakek duduk di sisinya, mengambil foto dengan hati-hati menggunakan kedua tangannya yang penuh dengan lipatan dan bintik-bintik tua.

Ia melihat foto tersebut dengan mata yang sudah mulai kabur, terkadang menggosok matanya dengan ibu jarinya untuk melihat lebih jelas. Setelah beberapa saat, ia menghela napas panjang yang penuh dengan makna, napasnya mengganggu dedaunan kering yang ada di tanah di depan mereka. “Waktu memang menyembunyikan banyak hal di dalam tanah, nak,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang pelan namun jelas. “Tanah ini seperti ingatan kita—kadang menyimpan sesuatu yang kita pikir sudah hilang selamanya, hanya untuk mengembalikannya pada saat yang tepat. Tapi aku juga tahu bahwa tanah tidak pernah mampu menghapus kenangan yang benar-benar penting, kenangan yang sudah tertanam dalam darah dan jiwa kita.”

Ridwan menggenggam foto erat-erat di dadanya, bagian belakang bingkai yang sudah lapuk menyentuh kulitnya yang terbuka di bawah baju kerja yang sobek di bagian dada. Matahari mulai merunduk ke balik bukit yang menjulang tinggi di kejauhan, dan bayangan panjang mulai meluas di atas tanah hutan, menjadikan setiap pepohonan dan semak-semak tampak seperti sosok raksasa yang sedang mengawasi mereka. Udara mulai menjadi dingin, dan suara serangga malam mulai terdengar satu per satu, membentuk simfoni alam yang khas untuk waktu seperti ini.

Di dalam hatinya, sebuah keinginan yang telah lama tertidur di bawah lapisan penerimaan dan keterbatasan mulai terbangun kembali—seperti benih yang akhirnya tumbuh setelah musim hujan yang panjang. Ia merasa seperti ada sesuatu yang sedang menggerakkan dirinya dari dalam, sesuatu yang telah ia coba tahan selama delapan tahun yang ia habiskan bersama Kakek Sembilan di dalam hutan ini. Keinginan untuk mengetahui kebenaran tentang ibunya—mengapa dia harus meninggal begitu cepat, mengapa ayahnya bisa begitu mudah menggantikannya dengan Ratna, dan mengapa mereka harus membakar semua barang-barang milik ibunya seperti ingin menghapus jejaknya dari dunia ini. Dan lebih dari itu, keinginan untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya—perusahaan yang didirikan oleh ibunya dengan kerja kerasnya sendiri, perusahaan yang kini berada di tangan orang-orang yang telah menyakitinya dan mencuri haknya.

“Kakek,” ujar Ridwan dengan suara yang tenang namun penuh dengan keyakinan yang baru muncul. Ia tidak melihat ke arah kakek, masih menatap foto ibunya dengan mata yang sudah mulai terbakar dengan semangat baru. “Aku sudah siap. Siap untuk pergi ke sana, ke Bandung. Siap untuk mengetahui semua yang terjadi pada ibu, dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.”

Kakek Sembilan hanya mengangguk perlahan, seolah sudah menyadari bahwa saatnya ini akan tiba sejak lama. Ia menepuk bahu Ridwan dengan lembut, tangan nya yang kasar namun penuh dengan kasih sayang memberikan rasa tenang dan kekuatan sekaligus. “Waktu telah datang, anakku,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Hutan telah mengajarkan kamu semua yang perlu kamu ketahui untuk bertahan hidup. Sekarang saatnya kamu menggunakan ilmu itu untuk mendapatkan keadilan yang pantas kamu terima.”

Di kejauhan, suara burung elang yang meneriakkan anaknya terdengar jelas di antara hiruk-pikuk suara alam lainnya. Matahari terakhir menghilang di balik bukit, meninggalkan warna jingga dan merah yang indah di langit yang mulai semakin gelap. Foto ibunya masih terpegang erat di tangan Ridwan, senyum ibu di dalam foto seolah memberikan dukungan dan harapan yang ia butuhkan untuk memulai perjalanan baru yang penuh dengan tantangan dan misteri yang belum terungkap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!