NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan hukuman

Suasana di dalam mobil terasa canggung. Mesin menyala, lampu jalan memantul di kaca jendela, namun keheningan di antara mereka jauh lebih terasa. Naura duduk terlalu rapat ke pintu, tubuhnya kaku, tatapannya lurus ke depan.

Hamka melirik sekilas, lalu terkekeh kecil.

“Kita udah kenal dari orok lho, Naw,” celetuknya santai. “Kok duduknya malah jauhan gitu? Deketin sini dong… jangan mepet ke pintu.”

Naura tak menoleh. Wajahnya tetap judes, bibirnya mengatup rapat, seolah komentar itu tak layak ditanggapi.

Namun justru sikap itulah yang membuat Hamka semakin bersemangat. Senyum di sudut bibirnya tak hilang, malah makin lebar.

Perempuan di sampingnya mungkin bersikap dingin, tapi bagi Hamka, wajah jutek Naura selalu punya cara sendiri untuk membuat hatinya terasa hidup kembali.

"Kita mau ke mana sih?” suara Naura akhirnya terdengar setelah lama terjebak dalam keheningan.Meski bernada kesal ,namun tak apa .Bagi Hamka ,itu cukup.

Ia menoleh sekilas. Mobil Hamka sudah melaju cukup jauh dari kafe.

“Kamu maunya ke mana?” Hamka bertanya balik, senyum jahilnya muncul begitu saja.

Naura langsung mendelik tajam.

“Yupz… nggak salah lagi,” Hamka terkekeh kecil. “Kamu adalah Naura.”

Namun senyum itu perlahan memudar ketika suara Naura terdengar lagi, kali ini lebih dingin.

“Hamka… nggak usah bersikap seolah kita dekat. Kita cuma kebetulan pernah jadi tetangga. Nggak lebih.”

Kalimat itu terdengar tegas, dingin, dan sengaja diberi jarak.

Namun justru di sanalah kebohongannya bersembunyi.

Jika memang hanya sebatas itu,

lalu kenapa dulu ada rasa cemburu yang diam-diam menyelinap?

Kenapa dada terasa panas saat melihat senyum yang bukan untuk dirinya?

Kenapa langkah selalu melambat ketika nama itu disebut orang lain?

Tak pernah ada pengakuan.

Tak pernah ada janji.

Tak pernah ada status.

Tapi anehnya, dua hati itu pernah berdetak dengan irama yang sama...

menunggu, berharap, lalu sama-sama terluka tanpa tahu harus menyalahkan siapa.

Mereka memang hanya “tetangga” dalam kata-kata,

namun dalam diam,

keduanya tahu…

rasa itu tak pernah sesederhana yang mereka pura-purakan.

Hamka masih terdiam. Dadanya terasa mengeras, namun wajahnya tetap tenang. Tanpa berkata apa pun, ia menepikan mobil di sebuah minimarket yang tak jauh dari area kosan Naura.

 Sejak tadi ia sengaja memutar arah, berkeliling lebih lama...ia ingin menikmati kebersamaan yang akhirnya terulang setelah lima tahun. Namun ia tahu, perempuan di sampingnya pasti lelah.

“Naw…”

Hamka melepas seat belt-nya, lalu menghadap ke arah Naura. Suaranya kali ini jauh berbeda.lebih pelan, lebih jujur.

“Aku nggak akan maksa kamu buat cerita alasan kenapa kamu menghilang dan lari dari aku,” ucapnya lirih.

Ia menelan ludah, seolah kata-kata berikutnya terasa lebih berat.

“Sudah lima tahun, Naw…”

suara Hamka terdengar lebih rendah dari biasanya, tak lagi bercanda,

“Apa itu belum cukup buat menghukum aku?”

Kalimat itu jatuh pelan… tapi menghantam tepat di dada Naura.Dan itu lebih menyakitkan dari tuduhan mana pun.

Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Ia ingin bilang ini bukan hukuman.

Ingin bilang aku yang hancur duluan.

Tapi yang keluar hanya hening.

Naura membeku

Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menatap lurus ke depan, berusaha menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca

Itu adalah keadaan.

Keadaan yang memaksanya menjauh, menyeretnya pergi tanpa pilihan. Ia tak ingin membebani siapa pun dengan masalah yang kala itu bahkan terlalu berat untuk ia pahami sendiri.

Naura mengepalkan jemari di pangkuannya.

Dalam diam, ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan:

selama lima tahun ini, bukan hanya dirinya yang terluka.

Ia pikir laki-laki itu akan baik-baik saja.

Sudut mata Naura mengembun. Ia mengedip berulang kali, berusaha keras menahannya agar air mata itu tak jatuh. Dadanya naik turun tak beraturan.

“Maaf…” ucapnya sangat pelan, suaranya sedikit bergetar. “Aku nggak bermaksud…”

Hamka menatapnya lembut. Tak ada tuntutan di sana, tak ada amarah yang ia simpan.

“It’s okay,” katanya pelan. “Yang penting sekarang kamu ada di hadapanku.”

Senyum tipis terukir di wajahnya. Tanpa ia sadari, tangannya refleks menjangkau dan menggenggam jemari Naura.

Naura tersentak kecil.

Hangat.

Ia menoleh, hendak menarik tangannya, namun entah kenapa… ia tak melakukannya. Jemari Hamka terasa terlalu nyata, terlalu familiar, seolah lima tahun tak pernah benar-benar memisahkan mereka.

Perlahan, wajah dingin yang sejak tadi ia pasang mulai runtuh. Bahunya sedikit mengendur, napasnya kembali teratur.

Di dalam mobil yang sunyi itu, tanpa banyak kata, jarak di antara mereka perlahan menyusut...bukan oleh tubuh, melainkan oleh perasaan yang akhirnya berani muncul ke permukaan.

Hamka dan Naura berjalan bersisian menyusuri trotoar sempit. Tak banyak kata terucap, namun langkah mereka terasa ringan. Tanpa terasa, gerbang kosan Naura sudah berdiri tepat di hadapan mereka.

Hamka berhenti, lalu menunjuk papan kecil di atas gerbang.

“Coba nggak ada tulisan itu,” katanya sambil terkekeh, menunjuk tulisan Khusus Putri. “Aku pasti ngekos di sini juga.”

Naura melirik malas.

“Ngapain? Dasar aneh. Udah enak tinggal di apartemen,” ujarnya. Ia masih ingat jelas apartemen Hamka..luas, rapi, dengan perabotan lengkap. Sangat berbanding terbalik dengan kosannya yang bertipe

triple S:sangat sederhana sekali dan jauh dari kata mewah.

Hamka mengangkat bahu santai.

“Ya udah,” katanya enteng. “Gimana kalau.. kamu aja yang pindah ke apartemen aku?”

Plak.

Naura memukul lengannya pelan.

“Enak aja. Ya nggak boleh lah.”

“Lho kenapa?” Hamka memasang wajah polos yang dibuat-buat. “Di apartemen aku ada dua kamar.” Ia mendekat sedikit, senyum smirk terukir di bibirnya. “Jangan-jangan kamu mikir yang nggak-nggak ya?”Tanpa ragu Hamka menyentil pelan kening Naura

Wajah Naura langsung memerah. Tanpa menanggapi, ia buru-buru membuka kunci gerbang kosannya.

“Naw…” panggil Hamka saat Naura hendak menutup kembali gerbang itu.

Naura menoleh setengah hati.

“Apa?”

Hamka menggaruk tengkuknya, nadanya mendadak canggung.

“Aku… aku boleh masuk ? Duduk di teras aj...”

“Nggak boleh. Udah malam,”potong Naura cepat dengan nada galak, lalu menutup gerbang itu tanpa ragu.

Hamka berdiri terpaku sejenak, lalu terkekeh pelan.

Naura memang masih sama...keras, galak, dan sulit ditembus.

Lima belas menit kemudian ,Naura sudah berganti piyama. Rambutnya tergerai, tubuhnya rebah setengah di atas kasur sempit kosannya. Lampu kamar redup, hanya cahaya kecil di sudut yang menyala. Ia menarik selimut, berniat memejamkan mata…

Tring.

Ponselnya bergetar.

Nama Hamka muncul di layar.

Naura mendesah pelan, lalu mengambil ponsel itu.

Hamka:

Naw…

Naura menggigit bibirnya sebentar, lalu membalas singkat.

Naura:

Apa?

Tak sampai lima detik, pesan berikutnya masuk.

Hamka:

Cowok tadi siapa?

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!