NovelToon NovelToon
DEWA PERANG NAGA TERLARANG: Menantu Sampah Yang Mengguncang Langit

DEWA PERANG NAGA TERLARANG: Menantu Sampah Yang Mengguncang Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam / Robot AI / Anak Yang Berpenyakit / Kultivasi Modern
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zen Feng

Baskara—menantu sampah dengan Sukma hancur—dibuang ke Jurang Larangan untuk mati. Namun darahnya membangunkan Sistem Naga Penelan, warisan terlarang yang membuatnya bisa menyerap kekuatan setiap musuh yang ia bunuh. Kini ia kembali sebagai predator yang menyamar menjadi domba, siap menagih hutang darah dan membuat seluruh kahyangan berlutut. Dari sampah terhina menjadi Dewa Perang—inilah perjalanan balas dendam yang akan mengguncang sembilan langit!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zen Feng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: NAGA YANG DIINCAR

Malam jatuh dengan berat di Residence Keluarga Cakrawala.

Tidak ada perayaan.

Tidak ada sorak-sorai kemenangan.

Hanya... keheningan yang mencekam.

Di ruang medis utama—ruangan luas dengan aroma obat-obatan yang menyengat—Wibawa Cakrawala terbaring di ranjang besar dengan tubuh dibalut perban putih yang sudah berubah merah karena darah yang merembes.

Kedua tangan... tidak ada.

Kedua kaki... tidak ada.

Hanya tersisa tunggul yang dibungkus kain dan dibaluri salep penyembuhan.

Wajahnya pucat seperti mayat—mata tertutup—napas lemah dan tidak teratur.

Tidak sadarkan diri.

Dan kemungkinan... tidak akan sadar untuk waktu yang lama.

Tabib Kepala—pria tua dengan jenggot putih panjang dan mata lelah—berdiri di samping ranjang dengan ekspresi yang suram.

Di hadapannya berdiri tiga sosok dengan aura yang bergejolak penuh amarah.

Patriark Dharma—wajah merah padam, rahang mengatup keras hingga gigi berderit.

Tetua Satriya—mata menyala dengan kebencian murni, tangan mengepal hingga kuku menancap ke telapak tangan.

Nyonya Ratih—wajah basah dengan air mata, tubuh gemetar antara kesedihan dan kemarahan.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Patriark dengan suara yang terdengar dipaksa tenang.

Tabib Kepala menggeleng perlahan—tatapan penuh simpati.

"Kondisinya... stabil. Tapi..." dia menarik napas panjang, "Sukma-nya hancur total. Meridian Prana-nya rusak permanen. Bahkan jika dia sadar nanti, dia tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi."

Nyonya Ratih tersentak—tubuhnya hampir roboh—ditopang oleh pelayan di sampingnya.

"Tidak... tidak mungkin..." bisiknya dengan suara pecah. "Anak ku... anakku..."

Tetua Satriya menggertakkan gigi—seluruh tubuhnya bergetar menahan amarah.

"Dan kapan dia akan sadar?" tanyanya dengan nada dingin yang mengerikan.

"Sulit dipastikan," jawab Tabib dengan hati-hati. "Traumanya sangat parah—fisik dan mental. Mungkin... beberapa bulan. Mungkin lebih lama. Atau..." dia tidak melanjutkan.

Tapi maksudnya jelas.

‘Mungkin tidak pernah.’

Patriark Dharma menatap tubuh Wibawa yang cacat—tubuh jenius keluarga yang dulu penuh dengan kehidupan dan ambisi—kini hanya boneka rusak yang bahkan tidak bisa bangun.

Dan dia merasakan sesuatu patah di dadanya.

Bukan kesedihan.

Tapi... kemarahan.

Kemarahan yang murni.

Kemarahan yang ingin membakar segalanya.

Tapi dia tahu.

Dia tidak bisa melakukan apa-apa.

Karena Baskara terlalu kuat.

Karena Sekte Langit Biru melindunginya.

Karena jika dia bertindak ceroboh, seluruh keluarga Cakrawala akan hancur.

"Keluar," ucapnya tiba-tiba dengan suara datar. "Semua orang keluar. Aku ingin sendiri."

Tabib membungkuk—lalu keluar dengan cepat.

Pelayan mengikuti.

Nyonya Ratih menatap suaminya—lalu ke tubuh Wibawa—lalu keluar dengan langkah terhuyung-huyung.

Hanya tersisa Patriark dan Tetua Satriya di ruangan itu.

Hening panjang.

Lalu Tetua Satriya berbicara—suara rendah seperti ular yang mendesis.

"Kita harus membunuhnya."

Patriark menatapnya—lalu menggeleng.

"Kita tidak bisa. Sekte Langit Biru—"

"AKU TAHU!" Satriya memotong dengan teriakan yang tiba-tiba—lalu cepat mengontrol dirinya kembali. "Aku tahu kita tidak bisa membunuhnya secara langsung. Tapi..." mata tuanya menyipit berbahaya, "ada cara lain."

Patriark menatapnya dengan alis berkerut.

"Cara apa?"

Satriya tersenyum—senyum yang dingin dan kejam.

"Aliansi Pemburu Naga."

[RUANG PERTEMUAN TETUA - 2 JAM KEMUDIAN]

Lima Tetua senior duduk mengelilingi meja panjang—wajah mereka semua serius, tegang, waspada.

Patriark Dharma di ujung meja—dengan Tetua Satriya di sebelah kanannya.

Dan suasana... berat.

"Kita semua tahu kenapa kita berkumpul," Patriark membuka pertemuan dengan nada datar. "Baskara sudah menjadi ancaman. Dia terlalu kuat. Terlalu berbahaya. Terlalu... tidak terkontrol."

Beberapa Tetua mengangguk.

Beberapa diam.

"Kita harus melakukan sesuatu tentang dia," lanjut Patriark. "Sebelum dia menghancurkan keluarga kita dari dalam."

Tetua Ento—pria tua dengan wajah kurus dan mata yang tajam—mengangguk cepat.

"Aku setuju. Dia sudah menghancurkan Wibawa. Menghina kita di depan ribuan orang. Kita tidak bisa membiarkan ini berlanjut."

Tapi Tetua Wira—pria paruh baya dengan tubuh tegap dan ekspresi yang lebih tenang—mengangkat tangan.

"Tunggu," ucapnya dengan nada hati-hati. "Kita harus berpikir realistis. Baskara memiliki kekuatan yang melampaui kita semua. Dan dia dilindungi oleh Sekte Langit Biru. Jika kita bertindak ceroboh—"

"Kita akan dihancurkan," potong Tetua Zaki—pria gemuk dengan janggut tebal. "Aku setuju dengan Tetua Wira. Kita harus hati-hati."

Tetua Ibad—pria tua dengan mata yang tajam dan postur yang tegak—menambahkan dengan nada yang lebih diplomatis.

"Faktanya," ucapnya perlahan, "Baskara walaupun ranahnya lebih rendah, sekarang dia adalah kultivator terkuat di keluarga kita. Lebih kuat dari Patriark. Lebih kuat dari kita semua. Dan dia punya koneksi dengan Sekte Langit Biru." Jeda. "Mungkin... kita harus mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan dia, bukan melawannya."

Patriark tersentak—mata melebar dengan shock dan kemarahan.

"APA?!" teriaknya. "Kau mau kita tunduk pada bocah itu?!"

Tetua Ibad tidak terpengaruh—hanya menatap Patriark dengan tenang.

"Aku tidak bilang tunduk. Aku bilang bekerja sama. Ada perbedaan." Dia melipat tangan di atas meja. "Selama ini, kekuasaan dan keuntungan klan hanya berputar pada tiga orang: Patriark Dharma, Tetua Satriya, dan Wibawa. Kami—Tetua lain—hanya mendapat remah-remah."

Tetua Wira dan Zaki saling pandang—lalu mengangguk pelan.

"Aku tidak senang mengatakannya," tambah Tetua Wira, "tapi Tetua Ibad benar. Jika Baskara bisa membawa keuntungan lebih... atau setidaknya membagi kekuasaan dengan lebih adil di antara semua Tetua... mungkin itu lebih baik untuk masa depan keluarga."

Patriark menatap ketiga Tetua itu dengan ekspresi yang tidak percaya.

‘Mereka... mereka berpikir untuk berpihak pada Baskara?! Brengsek! Selama ini mereka diam ketakutan, saat ada kesempatan mereka langsung berbalik arah! Sialan!’

Tetua Satriya menggertakkan gigi—mata menyala dengan kemarahan.

"Kalian pengkhianat," desisnya. "Kalian berpikir untuk mengkhianati Patriark? Mengkhianati keluarga?"

"Kami tidak mengkhianati keluarga," jawab Tetua Ibad dengan nada dingin. "Kami hanya berpikir realistis. Wibawa sudah cacat. Tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi. Patriark semakin tua. Tetua Satriya juga. Keluarga butuh kekuatan baru. Dan Baskara..." dia menatap Patriark langsung, "adalah kekuatan itu."

Hening.

Ketegangan di ruangan ini bisa dipotong dengan pisau.

Patriark Dharma menatap ketiga Tetua itu—lalu ke Tetua lain yang masih diam—menilai kesetiaan mereka.

Dan dia menyadari sesuatu yang mengerikan.

‘Keluarga sudah mulai terpecah.’

Tetua Ento—yang masih setia—berbicara dengan nada yang sedikit putus asa.

"Tapi... ada yang tidak kalian pertimbangkan." Dia menatap Tetua Wira, Zaki, dan Ibad. "Baskara bukan orang yang bisa dikendalikan. Jika kalian pikir kalian bisa mendekatinya dan membuat dia berbagi kekuasaan... kalian salah." Jeda. "Mendekati Baskara sama saja dengan mendekati singa. Dia akan memakan kalian."

Tetua Wira diam—tidak membantah—karena dia tahu itu benar.

Patriark menggunakan kesempatan ini.

"Tetua Ento benar," ucapnya dengan nada yang lebih tenang sekarang. "Baskara tidak bisa dikendalikan. Tapi..." dia menatap Tetua Satriya, "dia bisa disingkirkan. Tanpa kita harus mengotori tangan kita sendiri."

Semua Tetua menatapnya dengan alis berkerut.

"Maksudmu?" tanya Tetua Zaki.

Tetua Satriya yang menjawab—dengan senyum dingin.

"Aliansi Pemburu Naga."

Hening mutlak.

Lalu Tetua Wira berbicara dengan nada yang hati-hati.

"Kau... kau ingin melaporkan Baskara ke Aliansi Pemburu Naga? Menuduhnya sebagai Pewaris Naga?"

"Bukan menuduh," koreksi Satriya. "Tapi menyebarkan rumor. Rumor yang cukup kuat untuk menarik perhatian mereka. Dan percayalah..." senyumnya melebar, "setelah pertunjukan Baskara di turnamen—dengan kekuatan yang tidak wajar, dengan aura yang gelap—tidak sulit untuk membuat rumor itu terdengar meyakinkan."

Patriark mengangguk.

"Dan yang paling penting," tambahnya, "bukan kita yang menyingkirkan Baskara. Tapi Aliansi Pemburu Naga. Jadi Sekte Langit Biru tidak punya alasan untuk menyerang kita."

Tetua Ibad menggeleng—ekspresinya skeptis.

"Tapi kita tidak punya bukti bahwa Baskara adalah Pewaris Naga. Jika Aliansi datang dan menemukan dia bukan—"

"BUKTI BISA DIREKAYASA!" potong Patriark dengan nada yang tiba-tiba keras. "Yang penting dia menyingkir dari sini! Bukti kita atur belakangan—cukup untuk mengecoh Aliansi!"

Dia mengambil napas—menenangkan diri—lalu melanjutkan dengan nada yang lebih terkontrol.

"Dengar. Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal bertahan hidup. Jika Baskara tetap di sini, dia akan menghancurkan kita semua—entah dengan sengaja atau tidak. Tapi jika Aliansi Pemburu Naga datang dan membunuhnya..." dia tersenyum tipis, "masalah kita selesai. Dan kita aman."

Tetua-tetua saling pandang—berpikir—menimbang.

Akhirnya Tetua Ento mengangguk pelan.

"Aku... setuju. Untuk keselamatan keluarga."

Tetua Wira, Zaki, dan Ibad masih ragu—tapi akhirnya mengangguk juga.

"Baiklah," ucap Tetua Wira dengan nada berat. "Tapi jika ini gagal—jika Sekte Langit Biru mengetahui keterlibatan kita—kita semua akan mati."

"Tidak akan gagal," jawab Tetua Satriya dengan percaya diri yang dingin. "Aku akan mengatur semuanya. Rumor akan menyebar perlahan. Dari pedagang, dari warga, dari kultivator yang lewat. Tidak ada yang akan tahu sumbernya. Dan saat Aliansi datang..." dia tersenyum, "kita hanya perlu duduk dan menonton."

[KAMAR BASKARA - MALAM HARI]

Ruangan sederhana dengan ranjang, meja, kursi, dan jendela yang menghadap ke taman.

Cahaya bulan masuk melalui jendela—menerangi dua sosok di dalam.

Baskara duduk bersila di tengah ruangan—mata tertutup—napas teratur dan dalam.

Di tangannya, Pil Inti Emas bersinar dengan cahaya emas lembut yang menerangi wajahnya.

Dan di belakangnya, Larasati duduk dengan kaki ditekuk—tubuhnya menempel lembut pada punggung Baskara—tangan melingkari pinggangnya dari belakang—kepala bersandar di bahu Baskara.

Tidak bicara.

Hanya... ada di sana.

Menemani.

Baskara membuka mata perlahan—menatap pil di tangannya—lalu tersenyum tipis.

"Kau tidak perlu di sini," bisiknya lembut. "Proses penyerapan bisa memakan waktu berjam-jam."

Larasati menggeleng—wajahnya masih terkubur di punggung Baskara.

"Aku ingin di sini," bisiknya dengan suara yang lembut. "Bersamamu."

Baskara merasakan kehangatan menyebar di dadanya—bukan dari pil, tapi dari kehadiran Larasati.

"Larasati," ucapnya setelah hening panjang, "mereka tidak akan membiarkan kita tenang. Patriark, Tetua Satriya, bahkan keluarga lain. Mereka akan mencoba menyingkirkan kita."

"Aku tahu," jawab Larasati pelan. "Tapi sekarang kau punya kekuatan. Mereka yang harus takut pada kita."

"Tapi kekuatan saja tidak cukup." Baskara menatap ke jendela—ke bulan yang bersinar di langit. "Kita harus pergi dari sini. Mencari tempat yang lebih aman."

Larasati mengangkat kepala—menatap profil wajah Baskara.

"Kapan?"

"Belum waktunya," jawab Baskara dengan nada yang serius. "Masih ada yang harus kuselesaikan. Jika kita kabur sekarang, bukan hanya Patriark yang memburu kita. Adipati Lesmana juga akan ikut. Dan dengan kekuatannya..." dia menggeleng, "kita belum siap."

Larasati diam—lalu mengeratkan pelukannya.

"Kalau begitu aku akan tetap bersamamu. Apapun yang terjadi."

Baskara tersenyum—lalu menutup mata lagi.

"Terima kasih."

Dia mengangkat Pil Inti Emas ke mulutnya—menelannya—dan segera energi MELEDAK di dalam tubuhnya.

Panas.

Seperti matahari kecil di perutnya—energi emas murni menyebar ke seluruh tubuh—mengalir melalui meridian—masuk ke Sukma—

Dan Baskara merasakan batasan Ranah Inti Emas Bintang 2 mulai RETAK.

[Penyerapan Pil Inti Emas dimulai,] ucap Sistem. [Estimasi waktu: 6 jam. Kemungkinan breakthrough: 87%.]

Baskara tidak menjawab—hanya fokus pada proses kultivasi—sementara Larasati terus memeluknya dari belakang, memberikan kehangatan dan dukungan dalam keheningan.

[GERBANG RESIDENCE - 3 JAM KEMUDIAN]

Tengah malam.

Penjaga di gerbang—dua kultivator Ranah Pengumpulan Prana—sedang berdiri dengan waspada.

Lalu mereka mendengar suara.

Derap kuda.

Dari kegelapan jalan, muncul kereta besar yang ditarik oleh empat kuda hitam—kereta mewah dengan lambang matahari terbit di sampingnya.

Lambang Kota Waja Kencana.

Kereta berhenti di depan gerbang.

Seorang pria turun—mengenakan jubah biru gelap dengan armor ringan—wajah keras dengan bekas luka di pipi kiri.

Utusan Adipati Lesmana.

"Aku membawa surat untuk Patriark Dharma Cakrawala," ucapnya dengan suara yang keras dan tegas. "Dari Yang Mulia Adipati Lesmana."

Penjaga saling pandang—lalu salah satu berlari masuk untuk memberitahu.

Lima belas menit kemudian, Patriark Dharma keluar—wajahnya lelah—mata merah karena kurang tidur.

Utusan membungkuk—lalu menyerahkan gulungan surat dengan segel emas.

Patriark membukanya—membaca—

Dan wajahnya PUCAT.

Tangannya gemetar memegang surat.

Utusan berbicara dengan nada yang formal tapi mengancam.

"Yang Mulia Adipati Lesmana telah selesai dari meditasi tertutupnya. Beliau telah mencapai Ranah Inti Emas Bintang 7." Ia berhenti sejenakmenikmati ekspresi Patriark Dharma yang masih terkejut. "Dia mendengar tentang... insiden dengan seseorang bernama Baskara. Dan dia sangat... tertarik."

Patriark menelan ludah.

"Dalam sepuluh hari," lanjut utusan, "Yang Mulia akan datang sendiri ke Kota Batu Karang. Untuk menjemput Nona Larasati. Dan jika... Baskara tidak dibereskan oleh Keluarga Cakrawala sebelum Yang Mulia Adipati datang..."

Dia tersenyum—senyum yang tidak ramah.

"Kami akan mengapus keberadan Keluarga Cakrawala dari peta Banua Niskala."

Lalu dia berbalik. Namun, sebelum ia menaiki keretanya ia berkata tanpa menoleh.

“Segera bereskan cecunguk itu Patriark, atau seluruh klan-mu—dari pelayan, tetua hingga dirimu sendiri, akan hilang dari benua ini.”

Dia menaiki ke kereta—dan pergi dengan cepat.

Meninggalkan Patriark berdiri sendirian di gerbang—menatap surat di tangannya dengan wajah yang semakin pucat.

Bertambah gemetar tubuhnya, karena di surat itu, ada kalimat terakhir yang ditulis dengan tinta merah:

"Tidak hanya merebut wanitaku, tapi aku yakin dialah yang mencuri Pil Inti Emas yang dihadiahkan Patriark Dharma padaku. Karena kecerobohan kalian, kultivasiku berjalan lebih lambat. Jika, pencuri itu masih ada saat aku menginjak tanah kalian, siapkan peti mati untuk seluruh anggota Klan Cakrawala.."

Sementara itu, di waktu yang sama.

Di ruang bawah tanah residence, Tetua Satriya berdiri sendirian di hadapan cermin komunikasi—permukaan cermin bersinar dengan cahaya biru—dan di sana muncul wajah seseorang. Pria paruh baya dengan bekas luka berbentuk X di dahi—mata tajam seperti elang—mengenakan jubah hitam dengan lambang naga yang dicoret. "Pemburu Karn dari Aliansi Pemburu Naga," ucap pria itu dengan suara dingin. "Apa yang bisa kubantu, Tetua Satriya?" Satriya tersenyum—senyum yang penuh dengan kebencian. "Aku punya informasi tentang Pewaris Naga. Lokasi: Kota Batu Karang, Benua Niskala. Kekuatan: Ranah Inti Emas Bintang 2, tapi bisa melawan kultivator tingkat lebih tinggi. Status: Sangat berbahaya." Pemburu Karn tersenyum lebar—senyum predator yang menemukan mangsa. "Menarik. Sangat menarik. Kami akan mengirim tim dalam waktu dekat. Terima kasih atas informasinya." Cermin meredup—dan Tetua Satriya tertawa pelan di kegelapan. "Nikmati hari-harimu yang tersisa, Baskara. Mereka datang untukmu."

[BERSAMBUNG KE BAB 31]

1
Abil Amar
agak soplak ceritany wkkwkwkw mungkin otakny miring alur ceritany g msuk akal
Zen Feng: Ya gitu lah bang, ni novel intinya senggol bacok dibumbui romansa 😅
konsep memang unik absurd tapi geludnya mayan 🔥
total 1 replies
Santos
Anjirr makina seru thor 🔥
Aisyah Suyuti
good
Zen Feng
Silahkan tinggalkan komentar kritik dan saran untuk novel ini agar saya semakin semangat menulis, wahai para pembaca 😁
Luthfi Afifzaidan
baskara atau wibawa thor?
Zen Feng: Ah iya iya sorry typo
Harusnya wibawa.
Makasi makasi sudah saya edit 🫡
total 1 replies
Heavenly Demon
Anjani berhasil buat larasati cemburu 😅
Zen Feng: Konflik cinta tipis-tipis😅
total 1 replies
Heavenly Demon
Siasat apa lagi yang kalian buat 😌
Luthfi Afifzaidan
bukany tangan kanannya tdk bs dgunakan thor?
Zen Feng: Terimakasih sudah koreksi 🫡
Sudah saya edit dan perbaiki, saya lupa tangan kanannya dislokasi hehe
total 1 replies
Valentino
Ngeri cik😭
Valentino
Ey eyy 🥵
Meliana Azalia
Njirr badik arema 😭
Meliana Azalia
Naikin terus ranahnya thorr manteb
Subasa
Nyambung ke mimpi do prolog ya
Subasa
Teagis anjirr
Santos
Lu yg bodoh mbrong
Santos
Satu persatu yang dulu menyiksa Baskara mati mengenaskan 🔥
Ren
Bau bau saingan niih
Ren
Wwooohhh🫡
Dina Li
Uluu uluu wkwkwk
Valentino
Ntabs kiingg, balas dendam yang satisfying 👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!