kisah nyata seorang anak baik hati yang dipaksa menjalani hidup diluar keinginannya, hingga merubah nya menjadi anak yang introvert dengan beribu luka hati bahkan dendam yang hanya bisa dia simpan dan rasakan sendirian...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widhi Labonee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Ibu Ya Nak
Tiwi duduk termenung di teras depan rumah sang kakak sulung. Kenyataan yang baru saja dia ketahui cukup membuat hatinya merasa sedikit kecewa. Betapa kehadirannya di dunia ini sejak awal memang tidak pernah diinginkan oleh orang tuanya. Dimana dia dianggap sebagai pembawa sial karena kelahirannya bersamaan dengan kebangkrutan ekonomi keluarganya. Pantas saja jika sang Bapak selalu memperlakukan dirinya begitu keras. Apakah alasan itu masih berlaku di hidup sang Bapak? Setetes air mata meluncur di pipinya, Tiwi menunduk.
“Kita tidak bisa memilih untuk lahir dari siapa, tapi kita tetap harus menghormati mereka sebagai orang tua kita. Meskipun seperti apa perlakuan yang kita terima, tetaplah luaskan hatimu untuk memaafkan mereka Wi. Aku sangat yakin jika kamu adalah anak yang kuat. Tetap lah menjadi dirimu sendiri Wi, apapun yang telah terjadi, jadikan itu sebagai penguat hatimu,” nasehat dari mas Agus sang kakak ipar yang dihormatinya yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
“Terkadang hidup itu sebercanda itu Wi. Ini semua bisa kamu jadikan sebagai pelajaran saat kamu kelak berumahtangga dan memiliki anak. Apakah kamu akan mewarisi sifat kasar dan mendidik anak-anakmu dengan cara seperti mereka ataukah kamu akan memilih untuk menggunakan caramu sendiri..” imbuh Agus sembari menghisap rokok krètèk nya dengan santai.
“Iya Mas ..” ucap Tiwi pelan.
“Kamu dibesarkan dengan pola asuh yang sangat jauh berbeda dari saudaramu yang lain. Bersyukurlah, karena tidak semua saudaramu memiliki kesempatan banyak dekat dengan Bapak. Jadi, mulai sekarang hapus dendam dalam hatimu ya Wi.. meskipun kamu sudah mengetahui cerita aslinya seperti apa, namun bersikaplah seperti biasanya saja. Agar mereka tidak curiga, kasian Mbak dan Mas mu nanti jika Bapak sampai tau dan marah,” pesan kakak iparnya itu.
Dan Tiwi akhirnya hanya bisa mengangguk lemah.
—--------
Tiwi memandangi ibu kandungnya yang sedang asyik memasak di dapur itu. Memang tidak bisa dibantah lagi jika wajahnya sama persis dengan sang ibu. Dia jadi berpikir, jangan-jangan Bapaknya itu, diam-diam menyimpan dendam karena sudah ditinggalkan oleh ibunya dulu tanpa pamit. Dan karena wajahnya sangat mirip dengan sang ibu maka dialah yang jadi pelampiasan oleh Bapaknya.
Hem, teori konspirasi dari mana coba? Tapi bisa jadi kan dan sangat masuk akal.
“Ini, cobalah, ibu memasakkan mu Tinutuan atau disebut juga bubur Manado. Salah satu makanan khas dari daerah kita. Dan ini dabu-dabu Roa. Cobalah,” titah sang ibu yang dituruti oleh Tiwi.
Gadis muda itu mencicipi masakan itu, awalnya dia merasa aneh karena baru kali ini memakan makanan ini, tetapi kemudian dia mencoba menghabiskan dan memang terasa enak, apalagi jika dicampur dengan sambal rasa ikan itu.
Perlahan tapi pasti kecanggungan diantara ibu dan anak itu terkikis. Perempuan usia matang itu banyak bercerita tentang keadaan di kampung halamannya sana. Yang bisa dibayangkan oleh Tiwi sebagai tempat yang masih jauh tertinggal oleh kemajuan jaman seperti di Jawa ini.
Ternyata sang ibu juga telah menikah dengan seorang kepala desa yang merupakan hasil perjodohan setelah berpisah sekian tahun dari Ismawan. Meskipun tidak ada kata talak, tapi karena sesuai yang tercantum dalam buku nikah, jika selama enam bulan berturut-turut tidak ada kabar bahkan nafkah lahir batin, maka istri berhak mengajukan permohonan talak Dengan biaya 1rp. Dan otomatis jatuhlah Talak Satu.
Eh, benar nggak sih? Maaf ya kalau salah …
Jaya menemani Tiwi hingga keesokan harinya mereka harus kembali.
“Maafkan Ibu ya Nak, karena harus meninggalkanmu ikut dengan orang lain. Tetapi ibu bersyukur karena mereka sangat menyayangi kamu dan membesarkan dirimu dengan baik. Sekali lagi, maafkan Ibu…” Rosalina memeluk anak bungsunya itu dengan erat.
Tiwi membalas pelukannya dengan sepenuh hati. Ada rasa nyaman yang tidak pernah dia rasakan selama ini. Meskipun itu pelukan dari sang Nenek sekalipun.
“Iya Bu, maafkan juga aku yang belum bisa menjadi anak yang baik bagi Ibu…” ujar Tiwi pelan.
“Kamu tetaplah anak ibu yang paling bungsu yang ibu sayangi dan doakan setiap waktu. Jaga dirimu baik-baik disana ya Nak. Apapun yang terjadi, tetaplah tegar berdiri. Karena kamu anak yang kuat! Ibu bangga padamu…” Rosalina mencium kedua pipi anak bungsunya ini. Lalu memeluknya sekali lagi.
“Ini, ada sedikit uang untuk kamu beli jajan ya, terimalah. Mungkin Minggu depan Ibu sudah kembali ke kampung. Nanti jika ada rezeki lebih lagi, Ibu akan datang kemari ulang,” ujar sang Ibu sembari menyelipkan beberapa lembar rupiah di saku baju Tiwi.
Anak itu sudah berusaha menolaknya, tapi sang ibu malah memaksanya menerima.
“Terimakasih banyak Bu. Dan hati-hati dalam perjalanan pulang nanti. Semoga Ibu tiba dengan selamat di rumah lagi. Jaga kesehatan ya Bu, Tiwi sayang ibu..” ucap Tiwi pelan.
Rosalina menghapus air mata yang meluncur di pipinya dengan cepat. Dia tidak pernah menyangka jika bayi merah yang dia tinggalkan dulu sekarang sudah tumbuh sebesar itu.
“Hati-hati dijalan. Sekolah yang pintar ya Nak. Doa ibu selalu menyertai setiap langkahmu…”
Dan kedua ibu anak itu pun berpisah lagi, entah kapan akan berjumpa kembali. Masing-masing membawa luka, cerita, dan kerinduan yang tersemat di dalam hati.
—----------
Bayu tertegun mendengar semua kisah hidup dari gadis yang dicintainya ini. Tadi sepulang sekolah dia mampir ke asrama dan ternyata Tiwi sudah datang. Lantas mereka berdua pun bercerita di teras depan ruang belajar di asrama itu. Dia yang memiliki dua belas saudara dan ditinggalkan oleh ibunya ketika melahirkan adik bungsunya itu sudah seperti paling nelangsa sendiri. Tapi mendengar kenyataan pahit yang telah dilalui oleh Tiwi, membuat Bayu sadar jika dirinya masih beruntung karena dibesarkan oleh bapak kandungnya bersama adik dan kakak nya meski dalam keterbatasan ekonomi.
“Yang sabar ya Wi, kamu harusnya bersyukur masih punya ibu. Dua lagi. Cobalah kamu lihat diriku yang harus hidup tanpa ibu. Nggak enak Wi…” ujar Bayu kemudian.
Tiwi hanya diam menanggapi omongan lelaki yang perlahan mulai menguasai hatinya ini.
‘Seharusnya aku mengucap syukur karena ku masih memiliki ibu, dua lagi…bagaimana jika aku diposisi Bayu? Pasti aku tak akan sanggup…’ batin Tiwi kemudian.
“Iya Bay ..” jawab Tiwi perlahan.
“Menurut ku apa yang dibilang kakak ipar kamu itu benar. Bersikaplah biasa saja dirumah nanti. Agar mereka tidak curiga. Sekali-sekali kita bohong demi kebaikan nggak apa-apa Wi,” Bayu berkata dengan nada sedikit serius.
Tiwi tersenyum kecil, dia pun berniat seperti itu.
“Aku pinjam catatan pelajaran selama tiga hari aku tidak masuk ya?”punya Tiwi pada Cowok yang sedang membuka tas sekolahnya itu.
“Nih… buat kamu,” ucapnya serasa menyerahkan beberapa lembar fotokopi catatan pelajaran.
“Hah? Niat banget sampai di kopi kan…mana tulisannya bagus lagi. Eh, ini kan tulisan milik Farida ya?”
Bayu mengangguk sambil ketawa.
“Kamu tuh hafal banget sih. Emang aku nggak ada kamu males ngapa-ngapain Wi, jadi aku pinjam aja punya Farida trus aku kopi dua kali, beres dah.”
“Dasar males…”komentar Tiwi.
Dan mereka pun menghabiskan sore itu dengan bercengkrama di teras itu sampai menjelang senja. Bayu pun pamit pulang.
Ada sedikit beban rasa yang berkurang banyak di hati dan pikiran Tiwi. Dia pun hanya bisa mendoakan sang ibu semoga sehat selalu disana.
***********