Tragedi menimpa Kenanga, dia yang akan ikut suaminya ke kota setelah menikah, justru mengalami kejadian mengerikan.
Kenanga mengalami pelecehan yang di lakukan tujuh orang di sebuah air terjun kampung yang bernama kampung Dara.
Setelah di lecehkan, dia di buang begitu saja ke dalam air terjun dalam keadaan sekarat bersama suaminya yang juga di tusuk di tempat itu, hingga sosoknya terus muncul untuk menuntut balas kepada para pelaku di kampung itu.
Mampukah sosok Kenanga membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan
"Loh ko banyak bakso di sini?" tanya Sigit yang sore itu pulang bersama Bintang
Dia tidak ikut Bintang ke rumahnya tapi ke bengkel Dimas yang memang akan tutup setelah pukul empat, kadang pukul lima kalau masih ada kendaraan yang harus di perbaiki. Dan saat dia sampai membawa beberapa bungkus bakso, ternyata di sana sudah banyak bakso yang sedang di makan oleh Sahara, Argadana, Anggadana dan Gandra, sedangkan anak Sahara yang bayi masih di gendong Rukmini.
"Ini hadiah dari penggemar Kenanga" jawab Dimas
"Yah, yang Sigit bawa nggak kemakan dong, membuat cemburu saja padahal Sigit mau buat kejutan tarinya, tapi malah terkejut sendiri" keluh Sigit memperlihatkan plastik bakso yang dia bawa.
"Bakso dari mana ini? Ko beda?" tanya Gibran
"Tadi Om Bintang ajak Sigit keliling pasar dan tempat biasa Om Bintang membeli pupuk, tempat biasa menjual hasil sayuran dan juga tempat penggilingan padi, beli ini di dekat pasar, katanya ini enak" jawab Sigit
"Aduh... Perut Sahara kenyang, tapi itu adalah bakso terenak yang pernah Sahara makan, mau dong satu bungkus" celetuk Sahara
"Kamu juga bilang begitu tadi pada tiga mangkuk bakso yang sudah habis itu" cibir Dimas yang sedang menyuapi Kania
"Ini spesial Dimas, spesial di belikan Sigit tampan hihihi...."
"Sayang, kamu jangan begitu kita sudah punya tiga anak" ucap Gandra merengek
Sigit baru pertama kali bertemu Gandra dan dia cukup terkejut karena sosok raja Genderuwo itu bisa bersikap manis di depan istrinya yang genit. Bahkan sama sekali tidak terlihat menakutkan, berbeda dengan Rukmini yang sudah sering Sigit lihat di rumah Bintang.
"Berjanda suamiku, Berjanda" ucap Sahara membuat tawa semua orang meledak. Untungnya di sana sudah sepi jadi mereka bebas menertawakan kerandoman Sahara.
"Kamu juga sudah makan?" tanya Sigit
"Belum, nunggu mas Sigit" jawab Kenanga
"Cieee"
"Jangan malu malu Kenanga, anggap kami ini kakak kamu juga, kamu bisa memperlihatkan sikap manja, sedih, senang kamu juga di sini" ucap Dimas
"Iya kak" jawab Kenanga
"Sini baksonya, kamu bawa dua bungkus saja untuk kamu dan Kenanga, sisanya akan kami makan" ucap Panji
"Ini kak, itu sosok burung gagak yang ada di atap juga kasih ya kak" ucap Sigit
"Ngapain ngasih burung" ucap Restu
"Itu Om Uyung" ucap Dimas dan Restu mengangguk faham.
"Bawa ini juga, ini kue yang tadi baru di buat, ada pesanan tapi tiba tiba di batalkan, daripada di buang, bawa saja untuk kalian dan keluarga Om Bintang" ucap Listiani memberikan satu kotak kue bolu pisang yang tak jadi di ambil pembeli.
"Terima kasih kak" jawab Kenanga
"Mereka mirip manusia biasa ya, kalau orang bisa melihat mereka, mereka tidak akan membuat orang orang takut" ungkap Sigit merangkul Kenanga
"Iya mas, malah sejak tadi Sahara lompat kesana kemari karena menunggu bakso datang, padahal katanya sudah makan batagor" jawab Kenanga
"Kalau kita pindah, mungkin tempat kita akan sepi, tapi aku tetap senang karena ada kamu di sana" ungkap Sigit
"Iya, kalau bisa aku ingin mengajak dua anak Sahara ikut tapi mereka jin pelindung keluarga ini, jadi tidak bisa kita bawa" jawab Kenanga
"Bagaimana perkejaan hari ini, kamu tidak kecapean kan?"
"Tidak mas, aku nyaman, hanya banyak lelaki saja yang menanyakan namaku dan nomor teleponku, mas gimana?" jawab Kenanga
"Alhamdulillah, hampir sama dengan kegiatan aku di kampung Dara, baru hari pertama kamu kerja sudah banyak orang yang membuatku cemburu, aku tadinya tidak mau memberikan kamu handphone, tapi kan kita kerja terpisah, jadi aku harus tahu kabar kamu kalau sedang di ladang"
"Memangnya mas beli handphone baru? Kan handphone mas Sigit sudah terbakar"
"Iya, aku beli menggunakan uang milikku yang sebulan ini aku tarik secara bertahap, entah aku punya firasat dari mana, tapi aku saat itu ingin mengambil semua tabunganku, dan ternyata itu karena kamu Kenanga, karena aku akan pergi dengan kamu" jawab Sigit
"Tapi uang mas Sigit jadi berkurang banyak"
"Tidak sama sekali, aku sudah membuat buku tabungan baru, nanti kamu juga buat ya untuk mengumpulkan gaji kamu, kalau untuk sehari hari biar aku yang tanggung" jawab Sigit
"Tapi Kenanga juga mau bantu" jawab Kenanga
"Kalau begitu kamu bayar listrik saja bagaimana?" tanya Sigit yang tahu kalau Kenanga akan bahagia jika dia bisa ikut membantu meski hanya sedikit.
"Iya, Kenanga mau" jawab Kenanga terlihat senang
~~
"Aku yakin wajahnya itu mirip Wisnu" ucap Endang
"Tapi kan anak mas Wisnu katanya sudah meninggal beberapa hari yang lalu mas, aku dengar dari kak Yeyen waktu aku telpon mereka dua hari lalu" jawab istri dari Endang yang bernama Murni
"Nanti aku foto den Sigit, namanya saja sama dengan anaknya Wisnu, pasti Dasih akan terkejut kalau tahu anaknya masih hidup" ucap Endang
"Jangan terburu buru mas, bisa saja kita salah, kan banyak orang yang mirip di dunia ini, mungkin hanya kebetulan saja den Sigit mirip dan punya nama yang sama dengan anaknya Dasih"
"Tidak Murni, aku yakin itu dia dan aku akan ke kampung Dara untuk memastikannya, sudah bertahun tahun kita tidak ke sana, dan terakhir aku lihat Sigit itu adalah saat dia SMP, wajahnya masih bisa aku kenali meski dia tidak tau siapa aku" jawab Endang
"Terserah mas saja, tapi alasan apa yang akan mas berikan pada den Bintang untuk bolos kerja, ingat loh mas, kita hanya bertelepon saja selama bertahun-tahun dengan keluarga kita di sana itu karena sebuah alasan, aku tidak mau kalau sampai kita kena masalah" ucap Murni
"Aku tahu, lagipula uangku sudah cukup, akan aku bayar hutang kita pada ayah kamu dan membuat mereka malu karena sudah merendahkan aku" jawab Endang
Mereka memang bukan berasal dari kampung Dara, tapi kakak dari Murni menikah dengan warga kampung Dara dan menetap di sana, Endang bisa mengenal Wisnu karena Wisnu juga bukan berasal dari kampung Dara dulunya, mereka berasal dari kampung Kaliki yang jaraknya tidak jauh dari kampung Dara, Wisnu menikah dengan Dasih yang merupakan putri dari juragan tanah di kampung Dara. Bahkan semua yang Wisnu miliki sekarang merupakan harta warisan dari mendiang orang tua Dasih yang meninggal setahun setelah pernikahan Wisnu dan Dasih.
"Aku sudah nyaman di sini mas, kamu punya pekerjaan, padahal banyak juragan di sini yang enggan mempekerjakan pekerja yang berusia di atas lima puluh tahun, tapi den Bintang bersedia menerima kamu" ungkap Murni
"Aku juga betah di sini, di sini orangnya baik baik, tapi aku juga penasaran dengan Wisnu katanya dia gila setelah kehilangan anaknya" jawab Endang
"Kata kak Yeyen, mas Wisnu kemana mana selalu membawa tongkat yang dia sebut siapa ya, aku lupa namanya, dan kalung yang dia pakai dia panggil Sigit"
"Aku jadi semakin penasaran, apalagi kata den Bintang, Sigit sudah menikah dan baru pindah ke sini ini, kebetulan anak Wisnu juga meninggal belum lama kan"
Tp keren loh nangis aja Sahara tetep bs fokus dengan makan mangga🤣