"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuntut Keadilan
Mbah Sastro menghela napas panjang. "Aku tahu," katanya. "Aku merasakan kegelapan yang menyelimuti desa ini. Keluarga Handoko telah lama menjadi sumber kejahatan di tempat ini."
"Lalu, apa yang harus kami lakukan, Mbah?" tanya Rio dengan nada cemas.
Mbah Sastro terdiam sejenak. Ia tampak sedang berpikir keras.
"Ada satu cara untuk mengalahkan keluarga Handoko," kata Mbah Sastro akhirnya. "Kalian harus memasuki dunia gaib dan mencari kekuatan suci yang tersembunyi di sana."
Puri dan Rio terkejut mendengar perkataan Mbah Sastro. "Dunia gaib?" tanya Puri dengan nada tidak percaya. "Apakah itu mungkin?"
Mbah Sastro mengangguk. "Itu mungkin," katanya. "Tapi itu sangat berbahaya. Kalian akan menghadapi banyak rintangan dan godaan di sana. Kalian harus memiliki hati yang bersih dan tekad yang kuat untuk berhasil."
"Kami siap melakukan apa saja, Mbah," kata Rio dengan nada tegas. "Kami akan melakukan segala cara untuk mengalahkan keluarga Handoko dan membalas dendam atas perbuatan mereka."
Mbah Sastro tersenyum tipis. "Baiklah," katanya. "Aku akan membantu kalian memasuki dunia gaib. Tapi ingat, kalian harus berhati-hati. Jangan sampai kalian tersesat di sana."
Mbah Sastro mulai membaca mantra dan melakukan gerakan-gerakan ritual. Tiba-tiba, sebuah cahaya terang muncul di sekitar mereka. Cahaya itu semakin lama semakin kuat hingga membutakan mata mereka.
Saat cahaya itu menghilang, Puri dan Rio menyadari bahwa mereka telah berada di tempat yang berbeda. Mereka tidak lagi berada di hutan, melainkan di sebuah tempat yang gelap dan aneh.
Di sekeliling mereka, mereka melihat berbagai macam makhluk gaib yang menakutkan. Ada hantu, setan, dan berbagai macam makhluk lainnya.
Puri dan Rio merasa takut dan ngeri. Mereka tahu, mereka telah memasuki dunia yang berbahaya. Mereka harus berhati-hati dan waspada agar tidak menjadi korban dari makhluk-makhluk gaib itu.
"Kita harus mencari kekuatan suci," kata Puri dengan nada tegas. "Kita harus menemukan
cara untuk mengalahkan keluarga Handoko."
Rio mengangguk setuju. "Kita harus tetap bersama," katanya. "Jangan sampai kita terpisah."
Puri dan Rio mulai berjalan menyusuri tempat yang gelap dan aneh itu. Mereka berjalan dengan hati-hati dan waspada, menghindari makhluk-makhluk gaib yang berbahaya.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka tiba di sebuah tempat yang terang benderang. Di tempat itu, mereka melihat sebuah air terjun yang mengalirkan air yang berkilauan.
"Ini dia," kata Mbah Sastro dari dalam pikiran Puri. "Ini adalah air terjun kekuatan suci. Kalian harus mandi di air terjun itu untuk mendapatkan kekuatan."
Puri dan Rio saling bertukar pandang. Mereka merasa ragu dan takut. Apakah mereka benar-benar harus mandi di air terjun itu? Apakah itu aman?
Namun, mereka tidak punya pilihan lain. Mereka harus melakukan apa yang diperintahkan Mbah Sastro jika mereka ingin mengalahkan keluarga Handoko.
Puri dan Rio melepaskan pakaian mereka dan berjalan menuju air terjun itu. Mereka merasakan air yang dingin dan menyegarkan menyentuh kulit mereka.
Saat mereka mandi di air terjun itu, mereka merasakan kekuatan yang luar biasa memasuki tubuh mereka. Mereka merasa seolah-olah mereka telah menjadi orang yang baru. Mereka merasa lebih kuat, lebih berani, dan lebih percaya diri.
Setelah selesai mandi, Puri dan Rio kembali mengenakan pakaian mereka. Mereka menatap satu sama lain dengan tatapan yang penuh tekad.
"Sekarang kita siap untuk menghadapi keluarga Handoko," kata Puri dengan nada tegas.
"Ya," jawab Rio dengan nada penuh semangat. "Kita akan membuat mereka membayar atas semua perbuatan mereka."
Puri dan Rio kembali ke dunia nyata dan segera pergi ke rumah keluarga Handoko. Mereka berniat untuk menghadapi mereka dan menuntut keadilan atas kematian Srikanti dan atas serangan terhadap teman-teman mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa keluarga Handoko telah menyiapkan jebakan untuk mereka. Mereka telah menyewa sekelompok preman untuk menunggu kedatangan Puri dan Rio.
Saat Puri dan Rio tiba di rumah keluarga Handoko, mereka langsung disergap oleh para preman itu. Terjadilah perkelahian sengit antara Puri dan Rio melawan para preman.
Meskipun para preman itu lebih banyak dan lebih kuat, Puri dan Rio tidak menyerah. Mereka menggunakan semua kekuatan yang telah mereka dapatkan dari air terjun kekuatan suci untuk melawan para preman itu.
Setelah berjuang dengan sekuat tenaga, Puri dan Rio berhasil mengalahkan para preman itu. Para preman itu terkapar di tanah, tidak berdaya.
Puri dan Rio kemudian masuk ke dalam rumah keluarga Handoko dan mencari pemimpin mereka. Mereka menemukan pemimpin keluarga Handoko, seorang pria tua yang berwajah bengis, sedang duduk di ruang kerjanya.
"Kalian!" kata pria tua itu dengan nada marah. "Beraninya kalian datang ke rumahku dan menyerang orang-orangku!"
"Kami datang untuk menuntut keadilan atas kematian Srikanti dan atas serangan terhadap teman-teman kami," jawab Puri dengan nada tegas. "Kalian telah melakukan kejahatan yang tidak bisa dimaafkan."
"Kalian tidak punya bukti apa pun!" kata pria tua itu dengan nada membela diri. "Kalian tidak bisa membuktikan bahwa kami bersalah."
"Kami punya bukti," jawab Rio. "Kami tahu tentang semua kejahatan yang telah kalian lakukan. Kami tahu tentang pembunuhan Srikanti dan tentang praktik-praktik ilmu hitam yang kalian lakukan."
Pria tua itu terkejut mendengar perkataan Rio. Ia tidak menyangka bahwa Puri dan Rio mengetahui semua rahasia mereka.
"Siapa yang memberitahu kalian semua ini?" tanya pria tua itu dengan nada curiga.
"Itu tidak penting," jawab Puri. "Yang penting adalah kami tahu kebenaran dan kami akan mengungkapnya kepada semua orang."
Pria tua itu menjadi marah. Ia mengeluarkan sebuah pistol dari laci mejanya dan mengarahkannya ke Puri dan Rio.
"Kalian tidak akan pernah mengungkap kebenaran itu," kata pria tua itu dengan nada mengancam. "Aku akan membunuh kalian berdua sekarang juga."
Puri dan Rio tidak takut. Mereka tahu bahwa mereka memiliki kekuatan yang lebih besar dari pria tua itu.
Puri dan Rio menyerang pria tua itu dengan kekuatan penuh. Mereka melumpuhkannya dan merebut pistolnya.
Setelah itu, mereka menyerahkan pria tua itu kepada polisi. Pria tua itu dan semua anggota keluarga Handoko yang terlibat dalam kejahatan ditangkap dan dipenjara.
Keadilan akhirnya ditegakkan. Srikanti mendapatkan kedamaian abadi. Dan Puri dan Rio berhasil mengungkap kebenaran dan membalas dendam atas perbuatan jahat keluarga Handoko.
Namun, cerita ini belum berakhir. Masih ada satu misteri yang belum terpecahkan: ke mana Rendra pergi? Apakah ia masih hidup? Dan apakah ia benar-benar ditakdirkan untuk membawa malapetaka?
Puri dan Rio berjanji untuk tidak menyerah sampai mereka menemukan Rendra dan mengungkap semua kebenaran yang tersembunyi.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*