Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Yang Tidak Boleh Di Langgar
Siswi tomboy itu—yang kemudian akan diketahui bernama Raya—mencoba sekali lagi dengan suara yang mulai gemetar menahan emosi.
"Aku sudah minta maaf berkali-kali, Kak. Aku akan cuci seragam Kakak kalau memang kotor," ujarnya, berusaha tetap tenang meski jelas terlihat bahwa kesabarannya mulai menipis.
"Cuci?" Bima tertawa—tawa yang dibuat-buat, keras, penuh penghinaan. "Kamu pikir seragamku harganya cuma sebanding sabun cuci?! Kamu tahu nggak ini merek apa? Kamu tahu nggak berapa harganya?!"
Ia melangkah lebih dekat—gerakan intimidasi yang jelas. "Anak baru sok jago. Kayak gini nih, kalau orang nggak ngerti aturan!"
Bima mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara—gerakan yang sangat jelas: ia siap melayangkan tamparan keras ke wajah siswi itu di hadapan semua orang yang menonton.
Kerumunan makin membesar. Ada yang merekam dengan ponsel. Ada yang berbisik-bisik. Tidak ada yang berani menghentikan—karena Bima adalah "jagoan" sekolah yang dikenal brutal.
Tapi ada satu orang yang tidak akan membiarkan itu terjadi.
---
## Intervensi Vino
Melihat tangan Bima yang sudah terangkat, naluri pelindung dalam diri Vino langsung berteriak keras—seperti alarm bahaya yang memekakkan telinga.
Vino dikenal sebagai salah satu petarung utama Wilayah Utara—dan ia tidak akan pernah membiarkan kekerasan terjadi pada siapa pun yang tidak berdaya, apalagi seorang gadis, apalagi di lingkungan sekolah.
"**WOI, JANGAN SENTUH DIA!**" teriak Vino menggelegar—suaranya memecah keheningan koridor seperti petir.
Vino berlari kencang—langkahnya panjang dan cepat—menerobos kerumunan murid yang langsung terburai memberinya jalan. Ia berhasil menyambar pergelangan tangan Bima sesaat sebelum tamparan itu mendarat di wajah Raya.
**GREP!**
Bunyi cengkeraman—keras, final.
Bima terkejut bukan main melihat Vino yang meskipun tidak lebih tinggi darinya, memiliki tatapan mata sekeras baja—tatapan yang pernah melumpuhkan puluhan orang di jalanan.
"Siapa kamu? Berani-beraninya ikut campur urusan Kakak Kelas!" bentak Bima sambil mencoba menarik tangannya dengan paksa—tapi cengkeraman Vino tidak bergeming sedikit pun.
"Aku Vino," jawab Vino tegas, kini berdiri melindungi siswi itu—posisinya seperti tembok yang tidak bisa ditembus. "Dan di sekolah ini, tidak ada satu pun Kakak Kelas yang punya hak untuk main tangan pada siswi, apalagi murid baru yang bahkan belum tahu jalan."
"Vino? Ah, anak dari Wilayah Utara yang sok jagoan itu." Bima menyeringai meremehkan—tapi ada gemetar kecil di suaranya. "Kamu cari masalah sama aku? Kamu pikir karena kamu bagian dari gerombolan Utara itu, kamu bisa seenaknya mengatur aku? Ini sekolah, bukan gang jalananmu!"
Suasana semakin tegang. Murid-murid yang menonton mulai mundur—memberi ruang untuk konfrontasi yang sepertinya akan berubah fisik.
Jeka yang berdiri di belakang sudah siap bergerak kapan saja—tangannya mengepal di sisi tubuh.
Tapi Misca masih diam—hanya mengamati dengan tatapan dingin yang sulit dibaca.
---
## Misca Bergerak
Bima, yang merasa harga dirinya terinjak-injak di depan banyak orang—di depan murid-murid yang selama ini takut padanya—menatap Vino dengan penuh kebencian.
"Kamu mau jadi pahlawan kesiangan? Boleh! Ayo duel sekarang juga—"
Sebelum Bima menyelesaikan kalimatnya, sebelum ia sempat menarik tangannya dari cengkeraman Vino, sebelum ia sempat bergerak—
Misca sudah berada di sampingnya.
Misca bergerak dengan sangat tenang—hampir tanpa suara, seperti bayangan yang tiba-tiba muncul. Tidak ada keterburuan, tidak ada emosi yang meluap, seolah ia hanya sedang berjalan santai di taman.
Tapi matanya—matanya berubah.
Bukan lagi tatapan bosan siswa yang ingin pulang. Ini tatapan **predator** yang melihat mangsa menginjak wilayahnya.
Saat Bima bersiap menerjang ke arah Vino—mengabaikan cengkeraman di tangannya—ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya membeku.
Sebuah cengkeraman sekeras baja melingkari titik tekan di lehernya dari arah samping.
Itu adalah tangan Misca.
Dengan gerakan yang sangat cepat—terlalu cepat untuk mata kebanyakan orang—Misca sudah berdiri tepat di samping Bima. Tangan kanannya tidak sekadar mencekik, tetapi memegang titik tekan saraf yang krusial di leher Bima—titik yang jika ditekan dengan benar bisa melumpuhkan sistem saraf motorik seseorang dalam hitungan detik.
Tatapan Misca menembus langsung ke dalam mata Bima—sebuah tatapan yang begitu tajam, begitu dingin, hingga membuat bulu kuduk berdiri dan napas tercekat.
Bima terkejut dan seketika dilanda panik luar biasa. Ia tidak merasakan sakit yang menusuk—tapi ia merasakan **ketidakberdayaan total** yang mengerikan.
Tubuhnya tiba-tiba membeku—seolah seluruh sistem sarafnya kini berada di bawah kendali penuh Misca. Bima mencoba melawan, otot-ototnya menegang mencoba bergerak—namun cengkeraman Misca begitu kuat dan akurat hingga membuatnya sulit bernapas dan sama sekali tidak bisa bergerak.
"Jangan bawa urusan jalanan yang kotor ke dalam sekolah ini, Kakak Kelas," ucap Misca dengan suara yang sangat rendah—hampir berbisik, tapi setiap katanya terasa seperti belati yang menusuk pendengaran.
Kerumunan yang tadinya bising kini sunyi total—seperti film yang tiba-tiba di-pause.
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara. Semua mata tertuju pada pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan: Bima, si jagoan sekolah yang arogan, kini seperti boneka di tangan seorang junior.
---
## Demonstrasi Kekuatan
Bima mendengus kesal—masih mencoba mempertahankan harga dirinya meski tubuhnya tidak bisa bergerak. "Lepas! Sialan kamu! Berani-beraninya kamu menyentuhku..."
Misca tidak memberikan kesempatan bagi Bima untuk menyelesaikan kalimatnya.
Tanpa mengubah sedikit pun ekspresi wajahnya yang datar—tanpa amarah, tanpa emosi—tangan Misca bergeser dengan kecepatan kilat.
Ia menyambar pergelangan tangan kanan Bima yang tadi sempat terangkat untuk menampar.
**KREKK!**
Bunyi sendi yang dipaksa ke sudut yang tidak natural—bunyi yang membuat beberapa murid yang menonton menutup mata atau berpaling.
Dengan sebuah gerakan memelintir yang sangat cepat dan sangat teknis—gerakan yang jelas hasil latihan bertahun-tahun, bukan kebetulan—Misca memelintir pergelangan tangan Bima ke sudut yang mustahil secara anatomis.
Sudut yang seharusnya tidak bisa dicapai tanpa patah tulang.
Bima menjerit—jerit kesakitan yang sangat dalam, nyata, tidak dibuat-buat. Lututnya langsung tertekuk lemas ke lantai dengan bunyi **DUK** yang keras, dan wajahnya berubah pucat pasi seketika—seperti semua darah tiba-tiba mengalir keluar dari wajahnya.
Murid-murid yang menonton spontan mundur beberapa langkah—ada yang menutup mulut dengan tangan, ada yang berbisik panik, ada yang langsung kabur karena takut terlibat.
Misca sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya. Ia mempertahankan tekanan di pergelangan tangan Bima yang sudah tidak berdaya—seperti mekanik yang sedang memeriksa alat yang rusak, bukan seperti orang yang sedang menyiksa manusia lain.
Bima, yang tadinya begitu arogan dan sombong, kini hanya bisa merintih ketakutan—tidak hanya takut pada rasa sakit fisiknya, tetapi ia benar-benar takut pada **tatapan mata Misca yang kosong**—seolah Misca sedang memegang benda mati, bukan manusia berjiwa.
---
## Reaksi Jeka
Jeka yang baru saja berhasil menyusul ke tengah kerumunan—nafasnya tersengal karena berlari—benar-benar terkejut melihat adegan itu.
Mulutnya sedikit terbuka, kacamatanya hampir melorot jatuh dari hidungnya.
"Misca!" desis Jeka pelan—hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.
Jeka, meskipun tahu Misca jenius dalam strategi dan analisis, tidak pernah membayangkan bahwa sahabatnya memiliki keterampilan bertarung yang begitu mematikan dan terukur—seperti tentara yang dilatih untuk melumpuhkan target dengan cepat dan tepat, bukan remaja SMA biasa.
Misca melepaskan pelintirannya dengan sekali sentakan—gerakan cepat tapi terkontrol—membuat Bima jatuh merosot ke lantai dengan keras, memegangi pergelangan tangannya yang terasa seperti akan patah—meskipun tidak benar-benar patah, hanya dipelintir sampai batas maksimal sebelum patah.
Misca menatap Bima sejenak—tatapan yang tidak mengandung simpati atau penyesalan—memberikan satu peringatan terakhir yang mutlak dengan suara yang sangat rendah tapi terdengar jelas di koridor yang sunyi:
"Jangan pernah kamu main tangan pada siapa pun di sini lagi."
Lalu Misca berbalik dengan tenang—seolah tidak terjadi hal besar apa pun—mengabaikan Bima yang masih merintih di lantai dan kerumunan yang kini membisu seribu bahasa.
Ia berjalan santai kembali ke sisi Jeka dan Vino seolah ia baru saja membantu seseorang mengangkat buku yang jatuh, bukan melumpuhkan orang dengan teknik yang bisa mematahkan tulang.
---
## Dhea dan Raya
Sementara keributan itu mulai mereda karena kedatangan guru di kejauhan—guru yang baru menyadari ada sesuatu terjadi dari suara gaduh—Dhea, pacar Vino, segera menghampiri siswi tomboy tersebut.
"Kamu nggak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Dhea lembut sambil menyentuh bahu siswi itu untuk menenangkannya—suaranya seperti kakak yang melindungi adik.
Siswi tomboy itu—**Raya**—masih tampak sangat terguncang dan terkejut. Pandangannya terus tertuju ke arah punggung Misca yang kini berdiri tenang di samping Jeka, berbicara sesuatu dengan nada rendah.
Di mata Raya, terpancar ketidakpercayaan yang sangat mendalam—campuran antara takut, kagum, dan bingung.
"Aku... aku nggak apa-apa," jawab Raya dengan suara yang masih pelan dan bergetar—seperti orang yang baru saja selamat dari kecelakaan. "Tapi... siswa itu. Dia... dia siapa sebenarnya? Kenapa dia bisa melakukan hal semengerikan itu dengan... tenang?"
Tidak ada amarah di wajah siswa itu saat melumpuhkan Bima. Tidak ada kepuasan sadis. Hanya ketenangan yang membeku—seperti robot yang menjalankan program.
Dan itu yang paling menakutkan.
Vino mendekat, meletakkan tangannya di bahu Dhea sebagai tanda perlindungan—gerakan posesif tapi lembut. "Namanya Misca. Dia adalah ketua kami di Wilayah Utara."
"Dia... dia sangat menakutkan," bisik Raya, matanya belum bisa lepas dari sosok Misca yang kini berjalan menuju kelasnya dengan langkah santai. "Dia melumpuhkan Kakak Kelas itu dengan sangat cepat dan tanpa celah. Itu sama sekali bukan gaya pertarungan jalanan biasa. Itu... itu seperti..."
Raya tidak bisa menyelesaikan kalimatnya—karena ia tidak punya kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang baru saja ia lihat.
Jeka, yang mulai bisa mengendalikan kekagetannya setelah napasnya kembali normal, mencoba menyimpulkan situasi untuk Raya dengan nada yang lebih tenang.
"Misca memang seperti itu. Dia paling tidak suka melihat kekacauan yang tidak perlu—apalagi kekerasan yang tidak sebanding terhadap orang yang tidak berdaya. Jika dia sudah bertindak, itu artinya dia akan mengakhiri semuanya secepat mungkin tanpa basa-basi. Singkat. Tepat sasaran. Tanpa drama."
Dhea kemudian mengajak Raya menjauh dari kerumunan murid yang mulai membubarkan diri—sebagian masih berbisik-bisik dengan wajah pucat, membawa gadis itu ke sudut koridor yang lebih sepi dan tenang.
Vino dan Jeka ikut menyusul dari belakang, sementara Misca mengikuti mereka dengan langkah santai—tetap mempertahankan jarak aman, seperti biasa.
"Kenalkan, ini Raya," ujar Dhea memperkenalkan kepada Vino dan Jeka dengan senyum yang mencoba mencairkan suasana yang masih kaku akibat aksi Misca tadi. "Dia siswi pindahan baru. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah ini."
"Halo, Raya," sapa Jeka ramah—sangat kontras dengan situasi brutal yang baru saja terjadi—mencoba membuat gadis ini merasa aman. "Selamat datang di sekolah ini. Maaf ya, hari pertamamu... agak dramatis."
"Kamu pindahan dari mana, Ray?" tanya Vino dengan nada yang lebih santai, mencoba mengalihkan pikiran Raya dari kejadian tadi.
"Dari kota sebelah," jawab Raya—suaranya masih sedikit gemetar tapi mulai stabil. "Aku terpaksa pindah karena orang tuaku pindah kerja ke sini. Tadi aku benar-benar buru-buru karena harus mencari ruang guru untuk melapor dan mengambil jadwal kelas pertamaku. Aku nggak sengaja nabrak dia..."
Dhea mengangguk mengerti—matanya penuh empati. "Nanti akan aku temani ke sana. Oh iya, apa kamu sudah tahu akan masuk kelas mana?"
Raya mengeluarkan secarik kertas jadwal dari sakunya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Iya, ini tulisannya... Kelas XI-A. Itu kelas yang seperti apa ya?"
Vino dan Jeka seketika saling pandang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—campuran antara terkejut, geli, dan kasihan.
Mereka berdua tahu persis siapa saja penghuni kelas tersebut—dan yang paling penting, siapa yang duduk di bangku paling belakang.
"Selamat datang di sekolah ini, Raya," ujar Vino sambil menyeringai tipis—seringai yang mengandung makna tersembunyi. "Kamu baru saja diselamatkan oleh salah satu orang paling berpengaruh di tempat ini, dan sekarang takdir menentukan bahwa kamu akan menghabiskan sisa tahun ajaranmu di kelas yang sama dengannya."
Ia berhenti sejenak untuk efek dramatis. "Misca juga berada di kelas XI-A."
Misca, yang mendengar percakapan itu dari jarak beberapa langkah—pendengarannya tajam meskipun ia berpura-pura tidak memperhatikan—hanya mengangkat sebelah alisnya sedikit.
Itu adalah indikasi rasa terkejut yang sangat minim bagi seorang Misca—seperti kalkulator yang mendapat input data baru yang tidak terduga.
Raya menatap Misca kembali dengan pandangan yang semakin rumit—campuran antara takut, penasaran, dan sesuatu yang lain yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.
Seorang siswa yang begitu tenang, memiliki aura seperti pangeran yang tidak bisa disentuh, namun menyimpan kemampuan bertarung yang mematikan di balik seragamnya yang rapi.
Dan sekarang, orang itu akan menjadi teman sekelasnya.
Mungkin bahkan teman sebangkunya.
Takdir memang punya cara yang aneh untuk mempertemukan orang-orang.
---