Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Antara ujian dan rindu
Pulang sekolah, Lyla berjalan sendirian menuju halte sambil memikirkan kenapa Noah belum kirim pesan. Di kantin tadi pun… dia lewat begitu saja tanpa melihat ke arahnya. Apa memang nggak lihat aku? pikir Lyla sambil menunduk.
Bus sudah terparkir di halte. Ia naik dengan langkah pelan dan memilih duduk di dekat jendela. Pandangannya kosong, mengikuti hujan tipis di luar kaca.
Tiba-tiba— Bruk!
seseorang duduk di sebelahnya. Lyla refleks menoleh, dan matanya langsung membesar.
“Noah?!”
Noah tersenyum kecil. “Kaget, ya?”
“Ka–kamu… dari mana? Aku kira kamu udah pulang duluan…”
Noah mencondongkan badan sedikit, suaranya lembut. “Emang mau kamu pulang duluan tanpa kamu?”
Wajah Lyla langsung memanas. “Bukan gitu maksudnya…” gumamnya pelan, menunduk cepat-cepat.
Hening beberapa detik. Noah menatapnya, lalu tersenyum kecil. “Tapi kenapa wajahmu murung banget? Kamu marah, ya?”
Lyla gelagapan. “Nggak… cuma, kita kan harusnya jangan ketemu dulu. Kita kan harus fokus ujian…”
Noah langsung cemberut sedikit. “Aku kangen kamu. Sekali aja gini nggak apa-apa, kan?”
Lyla terdiam, jantungnya berdebar cepat. Ia menatap jendela, mencoba menahan senyum yang tiba-tiba muncul di wajahnya. “…Iya, sekali aja,” bisiknya pelan.
Noah tertawa kecil, menatap ke depan.
“Janji ya, abis ini kamu yang kangen aku duluan.”
“Siapa juga yang bakal kangen duluan…” balas Lyla cepat, tapi pipinya sudah merah muda terang.
Bus berhenti di depan jalan pulang Lyla.
Suara pengeras dari sopir membuat Lyla tersentak kecil.
“ Aku boleh antar kamu?” tanya Noah sambil berdiri.
Lyla mengangguk cepat, lalu buru-buru merapikan tasnya. Mereka turun berdua, dan begitu keluar, angin sore menerpa lembut wajah mereka, beberapa langkah pertama hening. Hanya suara daun dan langkah sepatu yang terdengar.
Lyla akhirnya berdehem pelan. “Kamu belajar juga kan, buat ujian?”
Noah mengangguk. “Belajar… tapi kepikiran kamu terus.”
Lyla langsung menunduk, wajahnya memerah. “Ngomong apa sih kamu…”
Noah tertawa pelan. “Aku bicara jujur.”
Mereka berjalan berdampingan sampai persimpangan kecil di mana jalan. Lyla berhenti, menatap jalan rumahnya yang mulai gelap.
“Noah…” panggilnya pelan.
Noah menoleh, menunggu.
“Semangat ya buat ujian besok.”
Noah tersenyum lembut, lalu mengacak pelan rambut Lyla. “Kamu juga. Jangan terlalu banyak mikirin aku.”
“Enggak juga,” gumam Lyla pelan, tapi senyumnya malah muncul tanpa sadar.
Mereka berpisah dengan tatapan singkat dan entah kenapa, meski baru beberapa menit bersama, Lyla merasa hari itu jadi lebih ringan.
**
Malam itu, Lyla duduk di meja belajarnya sambil membuka buku sejarah Deretan tahun dan nama tokoh terasa seperti barisan angka acak yang menatap balik padanya.
“Perang dunia kedua... tahun berapa, sih?” gumamnya pelan, dagunya bertumpu di tangan.
Ia mencoba membaca ulang paragraf yang sama, tapi di kepalanya justru muncul bayangan Noah yang duduk di bus tadi. Cara dia tersenyum, suaranya yang tenang waktu bilang “aku kepikiran kamu terus.”
Lyla menutup buku cepat-cepat, menepuk pipinya. “Lylaaa, tolong... ini bukan waktunya mikirin dia.”
Tapi begitu buka lagi halaman tentang tokoh revolusi, ia malah baca keras-keras,
“Seorang pemimpin muda yang berani...”
...dan langsung mendesah, “ya ampun, kok malah keinget Noah lagi.”
Ia terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil sendiri, akhirnya memutuskan menulis catatan kecil di pinggir buku:
“Fokus belajar dulu, nanti boleh mikirin Noah lagi.”
Lyla menutup buku sambil senyum malu sendiri. Walau ujian sejarah bikin pusing, entah kenapa malam itu hatinya tetap deg-degan.
Ia menghela napas pelan, lalu memaksakan diri membaca catatan terakhir—tapi huruf-hurufnya mulai menari di kepala.
Entah kenapa, justru bayangan wajah Noah yang muncul. saat kencan pertama mereka di taman, seperti baru saja terjadi kemarin, tapi sekarang terasa jauh karena fokus ujian.
Lyla menatap foto di ponselnya — selfie mereka berdua di taman waktu itu.
Senyumnya pelan muncul tanpa sadar.
“Bodoh banget sih aku…” gumamnya kecil, menutup wajah dengan buku catatan.
“Udah ujian segini stresnya, masih aja mikirin dia…”
Ia akhirnya menutup semua bukunya, melangkah ke atas ranjang lalu menarik selimut dalam hati, ia berbisik pelan, seolah Noah bisa dengar dari jauh.
“Kayaknya sekarang aku yang kangen duluan …”
Sementara itu di kamar Noah hanya diterangi sinar dari layar laptopnya Ia bersandar di kursi, menatap notifikasi email baru yang baru saja masuk nama pengirimnya membuat jantungnya berdebar pelan.
“Starline Entertainment.”
Perlahan, Noah menggerakkan kursor dan membuka pesan itu beberapa detik kemudian, matanya melebar sedikit—bukan karena senang, tapi karena terkejut membaca isinya.
Ia menatap layar tanpa berkedip tangannya terhenti di mouse, sementara pikirannya berputar cepat, mencoba mencerna kata-kata di dalam surat itu.
“…Apa secepat ini?” gumamnya pelan
Noah menghela napas pelan, tangannya meraih ponsel di sisi meja layar menyala, menampilkan wallpaper—foto mereka berdua, wajah Lyla yang tersenyum malu di sampingnya.
Ia terdiam tatapannya kosong, menatap nama “Lyla” di layar ponselnya seolah berharap sesuatu bisa terucap tanpa perlu mengetik tapi akhirnya, Noah menurunkan ponselnya perlahan ke meja.
Ia bersandar di kursi, memandangi langit malam di luar jendela. “…Besok aja,” bisiknya pelan.