NovelToon NovelToon
Cinta Sendirian

Cinta Sendirian

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri / Romansa Fantasi / Kehidupan alternatif / Romansa
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Tara Yulina

Aira Nayara seorang putri tunggal dharma Aryasatya iya ditugaskan oleh ayahnya kembali ke tahun 2011 untuk mencari Siluman Bayangan—tanpa pernah tahu bahwa ibunya mati karena siluman yang sama. OPSIL, organisasi rahasia yang dipimpin ayahnya, punya satu aturan mutlak:

Manusia tidak boleh jatuh cinta pada siluman.

Aira berpikir itu mudah…
sampai ia bertemu Aksa Dirgantara, pria pendiam yang misterius, selalu muncul tepat ketika ia butuh pertolongan.

Aksa baik, tapi dingin.
Dekat, tapi selalu menjaga jarak, hanya hal hal tertentu yang membuat mereka dekat.


Aira jatuh cinta pelan-pelan.
Dan Aksa… merasakan hal yang sama, tapi memilih diam.
Karena ia tahu batasnya. Ia tahu siapa dirinya.

Siluman tidak boleh mencintai manusia.
Dan manusia tidak seharusnya mencintai siluman.

Namun hati tidak pernah tunduk pada aturan.

Ini kisah seseorang yang mencintai… sendirian,
dan seseorang yang mencintai… dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak

Kamu istirahat ya, Ra,” ujar Zeno pelan.

“Kamu tidur di mana?” tanya Aira.

“Aku akan tidur di luar,” jawab Zeno singkat.

“Zen…” Aira ragu sejenak. “Kamu akan pulang ke ayah atau tetap di sini?”

“Aku akan tetap di sini sampai misi selesai. Aku juga akan menemanimu, Aira,” ujarnya mantap.

Aira tersenyum tipis.

“Zen, jangan tidur di luar. Nanti masuk angin,” ucapnya tulus.

“Aira, aku tidak mungkin tidur di dalam kontrakan kamu,” Zeno menggeleng.

“Kamu bisa tidur di ruang tamu. Rebahan pakai karpet saja, aku di kamar,” kata Aira lembut namun tegas.

“Tetap saja bisa jadi fitnah, Ra. Kita bisa diusir,” balas Zeno khawatir.

Aira menatapnya penuh perhatian.

“Tenang, Zen. Aku akan bilang kamu abangku. Jadi aman. Aku nggak mau kamu tidur di luar, anginnya kencang. Jangan sampai kamu sakit.”

Zeno terdiam sesaat, lalu akhirnya mengangguk.

Aira pun mengambilkan karpet, bantal, dan selimut untuknya.

Setelah semuanya siap, Aira melangkah menuju kamar.

Sebelum menutup pintu, Aira menoleh dan berkata pelan,

“Selamat malam, sahabat baikku.”

Lalu Aira masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu perlahan.

“Selamat malam, Aira. Akhirnya kamu menemukan cintamu. Aku akan mengubur perasaanku dalam-dalam,” batin Zeno.

Di sebuah rumah sakit, Aksa belum juga terlelap. Pandangannya kosong, pikirannya dipenuhi satu nama—Aira—dan seorang pria bernama Zeno.

“Aira, kenapa kamu mendekatiku jika kamu sudah punya kekasih?” batin Aksa, dadanya terasa sesak.

Jauh dari pandangan Aksa, di tempat yang berbeda, Aira juga terjaga dengan hati yang sama gelisah.

“Aksa, andai aku tahu sejak awal ada perempuan lain di hatimu, aku tak akan pernah berani mendekatimu,” batin Aira. Meski terpisah jarak, hati mereka terasa begitu dekat.

“Aku ingin selalu berada di dekatmu, Aira. Tapi ternyata aku harus terus menjauh, karena di hatimu ada pria lain,” batin Aksa lirih.

“Aku harus perlahan melupakanmu, Aksa. Kamu terlalu dalam di hatiku. Tapi aku yakin, pelan-pelan aku bisa,” batin Aira, meski air matanya tak mampu ia tahan.

Dua batin yang saling berbicara.

Dua hati yang terjebak dalam salah paham.

Padahal, hati Aksa telah jatuh sepenuhnya pada Aira.

Dan tanpa mereka sadari, hati Aira pun hanya memilih Aksa.

Namun keduanya memilih diam—

dan salah paham itu pun semakin dalam.

Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang.

Di ruang rawat inap rumah sakit, Aksa terbangun dengan napas yang terasa berat. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan yang asing—bau obat, suara langkah perawat, dan rasa kosong yang menekan dadanya.

Ingatan terakhirnya masih kabur. Tapi satu hal begitu jelas di kepalanya.

Aira.

Aksa mencoba bangkit, namun rasa nyeri di kepalanya memaksanya kembali berbaring. Tangannya mengepal pelan. Ada perasaan kehilangan yang tak bisa ia jelaskan—seperti seseorang telah pergi tanpa sempat ia tahan.

“Ra…” lirihnya, hampir tak bersuara.

Di saat yang sama, di tempat yang berbeda, Aira menatap jendela kontrakannya yang masih basah oleh embun pagi. Malam tadi terasa seperti mimpi buruk yang belum selesai. Dadanya masih sesak, pikirannya penuh oleh satu nama yang terus berputar.

Aksa.

Dua hati yang sama-sama terluka memilih diam.

Tak ada yang tahu… siapa yang akan lebih dulu mencari kebenaran.

Aira keluar dari kamarnya. Aroma harum langsung menyambut indera penciumannya. Langkahnya terhenti saat melihat Zeno sedang menata piring di meja makan kecil kontrakan itu.

“Zeno, kamu masak apa?” tanya Aira.

“Aku buat sarapan, nasi goreng,” jawab Zeno sambil tersenyum.

“Wah, pasti enak.”

“Mandi dulu ya, cantik.”

Aira tersenyum. “Oke, Abang,” ujarnya.

Sejak kecil, Aira memang sudah menganggap Zeno seperti abang sendiri.

Aira lalu masuk ke kamar mandi. Setelah selesai dan berpakaian rapi untuk ke kampus, ia kembali ke ruang makan. Sarapan sederhana sudah tersaji di meja kontrakan itu.

“Silakan sarapan, putri kecil,” ujar Zeno bercanda.

“Zeno… emang aku masih kecil, ya?” Aira mendengus pelan.

“Hehe, yaudah. Sana sarapan,” jawab Zeno sambil tertawa.

“Okee.”

Mereka pun sarapan bersama dalam keheningan yang hangat—tenang, meski hati Aira belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, di rumah sakit, Elara sedang membereskan barang-barang untuk pulang. Mosan dan Azura baru saja terbangun.

“Kalian baru bangun? Ayo siap-siap, kalian harus sekolah,” ujar Elara.

“Iya, Bu,” jawab Azura.

“Siap, Ibu calon mertua,” sahut Mosan sambil tertawa, menggoda.

Elara menggeleng pelan. “Kalian temenan aja dulu. Pacaran masih kecil.”

“Enggak kok, Bu. Kita temenan aja,” ujar Azura cepat. “Best friend boy.”

“Bagus. Pulang ganti baju, habis itu langsung sekolah,” kata Elara.

“Okee,” jawab mereka kompak.

Tak lama kemudian, Galih datang menjenguk.

“Aks, lo hari ini kuliah nggak?” tanya Galih.

“Kuliah, kok,” jawab Aksa pelan.

“Syukurlah. Berarti lo udah enakan.” Galih tersenyum. “Oh ya, besok camping mulai. Satu hari lagi. Lo ikut ya—nama lo udah gue daftarin.”

Aksa terdiam sejenak, lalu mengangguk.

“Oke.”

Mungkin dengan camping gue bisa sejenak melupakan Aira, batin Aksa lirih.

Galih lalu membantu ibu Aksa membawa barang-barang untuk persiapan pulang.

Di kontrakan Aira.

“Mm, Zen… lo kan sekarang di sini,” ucap Aira sambil melipat tasnya. “Berarti lo juga kuliah bareng gue dong?”

“Iya. Lo bener, Ra,” jawab Zeno.

“Besok gue ada camping,” lanjut Aira. “Gimana kalau lo ikut? Mumpung hari ini terakhir pendaftaran.”

Zeno tersenyum kecil. “Boleh juga.”

Aira menghela napas pelan, menatap jendela.

Tuhan… semoga camping besok bisa bikin aku pelan-pelan melupakan Aksa, batinnya.

Tanpa mereka sadari, langkah yang sama tengah membawa dua hati yang terluka…

ke tempat yang sama.

Suasana kampus mulai ramai saat pagi beranjak siang.

Aksa baru saja tiba di area parkiran ketika langkahnya mendadak terhenti. Di hadapannya, sebuah sepeda onthel melintas pelan.

Aira duduk di boncengan belakang.

Dan yang mengayuh sepeda itu—Zeno.

Untuk sesaat, dunia Aksa seakan berhenti. Dadanya kembali terasa sesak, bukan karena lukanya, melainkan karena pemandangan di depannya.

Aksa menunduk. Ia menahan perih yang menjalar, lalu tanpa ragu membelokkan langkah, memilih jalan lain.

Bagi Aksa, itu cara paling aman untuk bertahan.

Namun dari balik punggung Zeno, mata Aira menangkap gerak Aksa yang menjauh. Senyum di wajahnya memudar perlahan.

Jadi benar… batin Aira perih.

Aksa menghindar karena hatinya sudah ada yang lain.

Sepeda onthel itu terus melaju, meninggalkan jarak yang semakin lebar—

bukan hanya di antara langkah mereka,

tapi juga di antara dua hati yang sama-sama salah mengerti.

Saat sepeda berhenti, Zeno menoleh dan akhirnya bertanya, memastikan apa yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

“Ra… itu cowok yang lo ceritain semalam, kan? Aksa,” ujar Zeno hati-hati.

Aira terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.

“Udah, nggak usah dibahas ya. Ayo, kita daftar nama lo,” ujarnya singkat sambil menarik tangan Zeno pergi.

Zeno mengangguk, meski ada sesuatu di dada yang terasa mengganjal.

Dan tanpa mereka sadari, satu kesalahpahaman baru saja semakin menguat.

Setelah pendaftaran selesai, Aira dan Zeno masuk ke kelas. Kehadiran mereka langsung menarik perhatian.

Gina dan Rosa saling berpandangan saat melihat Aira datang bersama seorang pria asing. Rosa teringat, ia pernah melihat pria itu semalam—namun ia tak tahu siapa sebenarnya sosok itu bagi Aira.

“Wah… pacar baru nih,” celetuk Gina tanpa basa-basi. “Bukannya lo pacaran sama Aksa, ya?”

“Gue sama Aksa nggak pernah pacaran,” jawab Aira jujur.

“Terus cowok ini siapa? Pacar baru lo, ya?” Gina makin penasaran.

“Bukan urusan lo,” ujar Aira tegas.

Zeno memilih diam. Ia belum tahu apa-apa tentang dinamika di antara mereka, jadi ia tak ingin ikut campur. Ia lalu duduk di kursi di samping Aira.

Tak lama kemudian, Galih masuk bersama mahasiswa lain.

Ini cowok yang semalam, batin Galih sambil melirik Zeno. Kok bisa sedekat itu sama Aira? Apa mereka punya hubungan?

Gina justru tersenyum tipis.

Bagus kalau memang begitu, batinnya percaya diri. Berarti kesempatan gue buat deket sama Aksa masih ada.

“Pagi, beb,” sapa Galih pada Rosa.

Rosa tersenyum manis. “Pagi juga, beb.”

Sapaan itu terdengar jelas oleh Aira dan beberapa mahasiswa lain.

Ternyata Galih pacaran sama Rosa, batin Aira. Padahal Galih pasti tahu, Rosa nggak jauh beda sama Gina…

Aira menghela napas pelan.

Tapi ya sudahlah. Itu urusan hati mereka, pikirnya, memilih tak ambil pusing.

Rayhan masuk ke kelas dan langsung menghampiri Aira.

“Ra, lo beneran baik-baik aja, kan?” tanyanya khawatir. “Lo udah pulih?”

“Gue aman. Makasih udah khawatir,” jawab Aira singkat.

Gina memperhatikan dari kejauhan.

Aneh… kenapa Rayhan nggak kelihatan risih ya ada cowok baru sedeket itu sama Aira? batinnya heran.

Tak lama kemudian, dosen masuk ke kelas.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi semuanya,” sapa Bu Faizah. “Hari ini kita lanjut presentasi. Kelompok berapa yang siap?”

“Bu, ada mahasiswa baru,” sela Gina cepat. “Suruh perkenalan dulu, Bu. Kita belum kenal.”

Bu Faizah menoleh ke arah pria yang duduk di samping Aira.

“Silakan berdiri dan perkenalkan diri,” ujarnya.

Zeno pun berdiri.

“Nama saya Zeno Atmaja,” ucapnya tenang. “Saya bukan mahasiswa pindahan, tapi mahasiswa lama di sini yang sempat tertinggal semester. Terima kasih.”

Zeno kembali duduk.

Jadi namanya Zeno, batin Gina.

Cocok juga sama Aira. Biar Aksa cuma buat gue.

“Oke, sekarang silakan kelompok yang presentasi hari ini maju,” ujar Bu Faizah.

Jam demi jam berlalu hingga akhirnya waktu istirahat tiba.

Rayhan kembali mendekati Aira.

“Ra, ayo ke kantin.”

“Gue bareng Zeno aja,” jawab Aira.

Rayhan mengangguk kecil. “Hmm… oke.”

Aira dan Zeno berjalan berdampingan keluar kelas.

Saat melewati depan kelas Aksa, mata Aira sempat menoleh.

Tatapan mereka bertemu sesaat—lalu Aira cepat mengalihkan pandangan.

Aksa melihat semuanya tanpa sengaja.

Dadanya sesak.

Rasa cemburu itu kembali hadir… dan harus ia telan sendiri.

Apakah jarak antara Aira dan Aksa akan semakin jauh, atau justru membaik—dan kapan?

1
Tara Yulina
Karya ini menurutku sangat menarik dan menyenangkan untuk dibaca. Alurnya mengalir, konflik dan emosi tokohnya terasa nyata, membuat aku mudah ikut merasakan apa yang dialami Aira. Karakter-karakternya kuat dan relatable, masing-masing punya keunikan dan perkembangan yang jelas. Cerita ini juga berhasil membuat pembaca penasaran ingin tahu kelanjutan tiap bab.
Aku merekomendasikan karya ini bagi siapa saja yang suka cerita percintaan yang emosional, penuh konflik hati, dan karakter yang realistis. Bagi aku, Cinta Sendirian adalah karya yang layak dibaca dan bisa mendapatkan bintang 5.
Kama
Penuh emosi deh!
Tara Yulina: haloo terimakasih sudah berikan pendapat mu, jangan lupa untuk lanjut baca mungkin kamu akan menemukan ketenangan 💪
total 1 replies
Elyn Bvz
Bener-bener bikin ketagihan.
Tara Yulina: terimakasih jangan lupa lanjut ya 🫶🏻
total 1 replies
Phone Oppo
Mantap!
Tara Yulina: haloo terimakasih sudah berpendapat, jangan berhenti disini masih panjang kisah antara Aira dan aksa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!