NovelToon NovelToon
Death Game

Death Game

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Supernatural / Barat / Tamat
Popularitas:83.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Isqa

Berkisah tentang dunia Guide.

Sebuah dunia hitam di mana terdapat para Dewa di kayangannya. Dan tiga belas bangsa, namun tiga di antaranya tenggelam dalam pembantaian. Lima kemampuan, beserta lantunan nyanyian aneh yang mengikat semua makhluk dalam perjanjian berdarah.

Tak disangka, demi mengubah nasib, orang-orang dari dunia manusia pun datang ke sana.

Salah satunya Riz si korban perundungan, bersama Toz dan juga Reve sang pembawa ular, mereka malah bertemu rekan-rekan aneh dan jatuh ke dalam peperangan melawan penyimpang.


IG : miqaela_isqa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isqa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecundang berkemampuan hebat

“Orang ini sangat mencurigakan,” batin Doxia.

“Bahkan jika aku mencurigakan, kalian takkan dirugikan,” lirih Horusca mengedarkan pandangannya ke langit-langit.

Doxia berekspresi geram, “bagaimana bisa kau tahu isi otakku? Karena itulah kau sangat mencurigakan sial*n!” umpat hati Doxia.

“Baiklah, mari lupakan apa yang sudah terjadi. Tidak peduli siapa pun kau, itu tak menolak kenyataan kalau kau sudah menyelamatkan kita semua. Perkenalkan, namaku Rexcel Sirenca, salah satu guider assandia (petarung) level komandan dari bangsa siren.”

Ia mengulurkan tangan ke arah pemuda berambut merah.

“Aku Horusca, guider elftraz (penyembuh), salam kenal,” ia menyambut uluran tangan Rexcel.

“Doxia Mero, “assandia (petarung) level komandan,” seorang manusia yang baik hati dan juga tampan,” sambungnya tiba-tiba. Tiga orang di sekitarnya sama-sama menatap aneh ke arahnya.

“Apa-apaan tatapan jelek itu? Aku memang tampan sial*n! Dan kau, berhenti menatapku begitu!” tunjuknya jengkel pada Riz.

“Orang tampan takkan mengumbar ketampanannya kecuali dia memang jelek,” balas Riz berwajah malas.

“Apa kau bilang?! Ingin kupukul hah?!”

“Lupakan manusia menyedihkan sepertinya. Hei kau! Siapa namamu?” tanya Rexcel pada Riz. Doxia pun menampilkan ekspresi jengkel karena kalimatnya dipotong.

“Ah, aku? Aku Riz Alea, seorang anak manusia. Ah iya, aku baru saja jadi guider tank? Tanzas?” ucapnya bingung sambil memamerkan cincin kuning yang menghiasi jari tengah tangan kanannya.

“Tankzeas (pelindung) bodoh! Bisa-bisanya pecundang sepertimu mendapat kemampuan hebat seperti itu. Tampaknya si pak tua sedang malas-malasan ya.”

“Pak tua?”

“Ya! Bukankah kau bertemu dia di altar patung?” sahut Doxia memainkan kapak di tangan sebelum lenyap sepenuhnya.

“Ah! Pak tua yang itu? Kalian juga bertemu dengannya?” tanya Riz semringah.

“Tentu saja! Kau pikir bagaimana kami bisa dapat cincin kalau tidak melangkahinya terlebih dahulu?”

Riz terdiam mendengar kalimat Doxia. Padahal dirinya sempat terpikir kalau mungkin saja proses calon guider dalam mendapatkan kekuatan itu berbeda-beda.

Tetapi rupanya sama saja, “a-apa itu berarti kalian juga dikejar-kejar patung dan bertemu serigala?”

Ketiganya sama-sama terdiam, tak ada satu pun yang menjawab atau pun menoleh ke arah Riz. “Lupakan saja tentang itu, oh ya Doxia! Kau masih belum lupa dengan perjanjian kita bukan?” tukas Rexcel mengalihkan pembicaraan.

“Hah? Bukankah sudah kubilang aku tak mau? Kalau kau ingin mati, pergi saja sendiri!” sergah Doxia.

Riz menatap bingung pada orang-orang di depannya, karena tak ada satu pun yang mau menjawab pertanyaannya. Sementera Horusca pun membalikkan tubuhnya dan meninggalkan mereka.

“Hei! Mau ke mana kau?” tanya Doxia tiba-tiba.

“Urusanku dengan kalian sudah selesai.”

“Ah! Benar juga.”

“Tunggu! Horusca, kalau tidak keberatan, bolehkah aku tahu ke mana kau akan pergi?”

“Mmm? Aku mau ke Bukit Kristal,” jelasnya.

"Bukit Kristal?!” Rexcel tampak senang mendengarnya. “Benarkah?”

“Ya.”

“Dengar Doxia! Dia mau ke Bukit Kristal, kau juga harus melakukannya! Jangan lupa kalau kau masih punya hutang padaku!”

“Hei kepar*t! Apa kau tuli? Sudah kukatakan aku tidak mau ke sana! Berapa kali harus kubilang?!” jengkel Doxia pada Rexcel yang tampak keras kepala.

“A-anu, maaf jika mengganggu pembicaraan kalian. Tapi Bukit Kristal, tempat apa itu?” tanya Riz tiba-tiba.

Rexcel pun membalas tatapan keingin tahuan Riz. “Benar juga, karena kau orang baru sepertinya tidak tahu apa-apa. Bukit Kristal, itu tempat di mana para guider bisa menaikkan level kemampuan mereka.”

“Menaikkan level kemampuan? Benarkah?”

“Ya.”

“Aku juga ingin ke sana,” Riz tampak bersemangat.

“Jangan bodoh bocah! Apa kau mau mati? Lebih baik kau ikut aku ke tanah biru mencari kristal asosiasi,” timpal Doxia.

“Eh? Apa maksudnya?”

“Jangan dengarkan dia! Dia tak mau ke sana karena punya masalah dengan gurunya! Lebih baik kau ikut saja aku ke sana!” sambung Rexcel. Mereka masih keras kepala dengan pemikiran masing-masing.

“Kalian jadi pergi atau tidak? Aku sudah lapar,” potong Horusca tiba-tiba.

“Diam kau bocah! Makan saja batu kalau kau lap-” Doxia tak melanjutkan ucapannya. Horusca menatap datar ke arahnya, akan tetapi, hawa dingin yang muncul di tubuhnya membungkam mereka.

“Jika kau tidak mau pergi tak masalah. Tapi aku akan membunuhmu karena sudah mengataiku,” ucap Horusca sambil mengarahkan tangan pada Doxia.

“Tu-tunggu! D-dia akan pergi! Tolong maafkan dia, k-karena itu bisakah kau menurunkan tanganmu?” pinta Rexcel tiba-tiba sambil menghalangi arah tangan Horusca.

“Baiklah kalau begitu, sekali ini saja,” Horusca pun tersenyum tipis menatap mereka berdua. Ia lalu membalikkan tubuh dan melangkah mendahului mereka.

“Sial*n kau! Kapan aku setuju akan pergi denganmu?!”

“Diam bodoh! Apa kau ingin mati di tangannya? Aku yakin kau pasti belum lupa apa yang terjadi pada pemegang cambuk itu!”

Doxia dan Riz langsung bergidik ngeri membayangkan pemegang cambuk yang sudah meregang nyawa di pohon ciptaan Horusca sebelumnya.

“Lagi pula mau sampai kapan kau menolak? Apa kau pikir Criber akan mengampunimu jika kau tak menemuinya? Jika kau terus menghindar dia pasti akan membunuhmu!”

“Justru aku akan mati jika menemuinya sekarang bodoh!” gerutu Doxia.

“Itu ... Horusca sudah jauh di depan,” lirih Riz tiba-tiba.

“Aah! Sial*n kau Doxia! Terserah mau ikut atau tidak! Aku tak peduli lagi!” Rexcel pun berjalan meninggalkannya untuk mengejar pemuda berambut merah itu.

“Tuan Doxia? Kalau begitu aku pergi dulu,” pamit Riz hendak mengejar dua orang di depannya.

“Cih! Sial*n!” umpat Doxia lalu juga mengikuti langkah orang-orang di depannya.

Mereka berempat pun menempuh perjalanan panjang mendaki bukit bunga dan melewati lembah karma selama dua hari untuk sampai di tempat tujuan.

Di tempat lain, hiruk-pikuk menyelimuti pemukiman yang sejuk pemandangannya. Di tengah kerumunan itu, sebuah napas terengah-engah berlari melewati celah keramaian untuk mencapai kediaman yang hanya bisa di datangi orang-orang tertentu.

“Kepala desa!” teriaknya membuka pintu rumah secara kasar.

Beberapa pasang mata menatap lekat dirinya, seperti tak sabar menanti perkataan yang akan keluar dari bibirnya. “Ada apa?” tanya Oa tiba-tiba.

“Tu-tuan Revtel! Dia sudah mengeluarkan perintah untuk mencari pembunuh anggotanya dengan mengirimkan para utusan ke masing-masing bangsa!” teriaknya.

“Apa?! Padahal yang mati hanya seorang guider komandan, bagaimana bisa dia berbuat seperti itu?” tanggap Oa dengan ekspresi masih tak percaya. “Kepala desa!”

Kepala desa Krucoa pun melirik sekilas ke arah Reve yang bersikap tak peduli dengan pembicaraan mereka. Ia lebih fokus mengelus leher ular kesayangannya dengan senyum merekah.

“Jika itu yang diinginkannya maka biarkan saja. Lagi pula wakil pemimpin hydra bukan orang yang asal memberi perintah. Jika utusannya sudah datang maka sambut dan layani dengan benar,” perintah kepala desa lalu pergi meninggalkan mereka.

“Baik!” jawab semuanya.

Sementara, dua anak manusia yang duduk tenang di tempat itu masih terpaku di posisinya. “Ayo, kami akan mengantarkan kalian agar bisa beristirahat,” ajak Oa.

“Mmm,” angguk Toz. “Ayo Reve,” ajaknya.

“Tidak, kalian duluan saja. Aku ada urusan penting dengan kepala desa,” ucapnya.

“T-tapi,” cegat Toz.

“Silakan duluan,” Reve mengangguk sopan pada mereka dan tak lupa menyunggingkan senyum manis di bibirnya.

“Baiklah, aku pergi dulu,” Toz pun perlahan berjalan meninggalkannya.

Oa yang berdiri di samping mereka masih tak melepaskan pandangan dari Reve dan pemuda itu menyadarinya. Ia memiringkan wajah dengan senyum tak kentara di bibirnya.

“Maaf, aku tahu ini sangat tidak sopan. Tapi, aku hanya ingin bicara dengannya,” Reve pun melangkah menuju tempat di mana kepala desa berada. Tak ada keraguan, ia menyusuri tangga dengan ekspresi yang tak seperti biasanya.

Sebuah pintu dengan ukiran pohon beringin menanti di depannya. Begitu pintu dibuka, deriknya memecah suasana kedalaman ruang. Pemandangan tanaman yang saling menyatu membentuk taman indah dalam kamar menyambut langkah Riz begitu memasukinya.

Udara di dalam sana begitu segar, Reve pun menyentuh salah satu bunga dan mengelusnya.

“Lily putih, bermakna kesucian,kehidupan baru dan persahabatan,” lirihnya. “Akan tetapi, saat warna putihnya dinodai, maka artinya akan berganti. Begitu pula dengan kehidupan, saat jalannya sudah salah, maka tujuan yang menanti pun akan berbeda.”

Kepala desa diam tak menjawab, namun tangannya masih fokus menyirami tanaman yang sudah ia rawat bertahun-tahun lamanya.

Reve pun memetik bunga itu dan menatapnya lekat, “begitu pula perjanjian, saat isinya sudah melenceng dari kesepakatan, maka keretakan takkan bisa dihindari lagi.”

“Kau, apa yang kau inginkan?” tanya kepala desa akhirnya.

“Entahlah, aku juga penasaran.”

Kepala desa menatapnya, “tapi kau tak tampak seperti itu.”

Reve menjatuhkan bunga di tangannya, menginjak dan melepaskan Near sang ular yang selalu bersamanya untuk berkeliaran sesuka hati. Ia tersenyum, ekspresinya begitu sinis dan menekan, “Reygan Cottia, aku hanya ingin membebaskannya.”

Tiba-tiba jantung kepala desa berdetak tak karuan, membuatnya mundur beberapa langkah dan menabrak bunga-bunga tak bersalah di belakangnya.

“K-k-kau! Bagaimana bisa kau tahu nama itu?!” pekik kepala desa.

Reve berjalan mendekatinya. Sekarang ia berdiri tepat di hadapan kepala yang masih gemetaran tubuhnya. “Tak peduli dari mana aku mengetahuinya, karena aku akan membebaskannya.”

“Kau tidak boleh melakukan itu! Apa kau pikir seluruh bangsa akan diam saja begitu mengetahuinya?!”

“Tidak, kalian akan memburuku termasuk dirimu.”

Kepala desa kembali terdiam, ia merasa ada yang tidak wajar dengan pemuda di depannya. Sedikit pun ketakutan tak tertoreh di wajah Reve yang tampak polos. “Kenapa kau memberi tahuku?”

“Karena aku butuh sesuatu dari mulutmu.”

“Apa maksud-" mata kepala desa langsung membulat kaget. "Tunggu! Jangan-jangan!”

“Ya! Di mana penjara Reygan Cottia?”

“Apa kau pikir aku akan mengatakannya? Bahkan sampai mati hal itu takkan pernah kau dapatkan dariku!” kilah kepala desa dengan lantang.

Reve mengedarkan pandangannya, menarik napas pelan dan melepaskannya secara kasar. Ia kembali menatap kepala desa dengan ekspresi yang berbeda.

“Cukup merepotkan jika aku harus menghadapimu di kandang kurcaci. Kenapa kita tidak bersenang-senang dulu? Dengan menyambut utusan hydra di sini,” seringai Reve melebar hendak membelah wajah rupawannya.

“Hydra takkan mengampunimu!”

Reve pun mengulurkan tangan lalu memegang bahu kepala desa. “Noa Krucoa, aku tahu kalau kau akan melindungiku,” Reve terkekeh.

“Jangan menguji kesabaranku,” tekan kepala desa. Tubuh pemimpin kurcaci itu mulai mengeluarkan hawa panas ke sekelilingnya, membuat bunga-bunga yang semula segar perlahan layu pesonanya.

“Kau ingin membunuhku?”

“Jika memang diharuskan! Aku tak bisa membiarkan manusia berbahaya sepertimu berkeliaran bebas di dunia Guide!” Lima buah bola api pun muncul di belakang kepala desa membentuk lingkaran.

“Aah, sepertinya kau serius. Kalau begitu, aku juga takkan menahan diri,” seringai Reve langsung lenyap bersamaan dengan munculnya tujuh macam senjata di samping tubuhnya.

“Kau!”

“Blaar!” Ledakan besar pun memecah pemukiman Krucoa. Penghuninya kaget dan terperangah dengan suaranya, membuat mereka menatap tak percaya ke arah sumber suara ledakan.

“Itu kediaman kepala desa!”

“Kediaman kepala desa terbakar!” sahut yang lainnya.

Toz terbelalak dengan pemandangan yang tak begitu jauh di depan. Mulutnya menganga lebar, mengingat kembali tempat yang tak begitu lama ia tinggalkan sekarang dilahap kobaran api raksasa.

“Apa yang terjadi?!” teriak Nesian. Sementara Oa dan kurcaci lainnya, sudah berlari duluan kembali ke tempat di mana kepala desa sering menghabiskan waktunya.

Sementara, di lokasi kejadian, dua sosok bayangan melesat cepat dalam kobaran api yang hendak melahap salah satunya. Satu di antaranya tertawa dengan kaki yang menginjak sebuah tombak.

“Sudah kuduga, aku memang tak bisa membiarkanmu berkeliaran bebas di dunia ini!”

“Kalau begitu bunuh aku, itu pun jika kau bisa pak tua!” teriak Reve.

Ia menendang tombak yang diinjak ke arah kepala desa. Tanpa ragu, pak tua itu melompat tinggi untuk menghindarinya, sementara tiga dari lima bola api di belakang punggungnya sekarang sedang mengejar Reve.

“Kepala desa!” teriak salah satu kurcaci.

“Hexlama (kutukan kegelapan),” gumam Reve tiba-tiba. Mendadak, sebuah bayangan hitam berkobar mengejar salah satu kurcaci yang tak tahu apa-apa.

“Hentikan!” teriak kepala kepala desa.

Darah pun berserakan, dari tubuh kokoh yang menghentikan mantra terlarang, tanpa belas kasihan pada mangsa-mangsanya.

1
PAULUSS
yah
maunya season duanya dong
PAULUSS: yaudah
semangat ya
IM can't wait your story
total 2 replies
arfan
jos bos
miqaela_isqa: makasih sob 👍🏿
total 1 replies
Mafia Girl
😭😭
miqaela_isqa: Emg nyesek 😭
total 1 replies
Mafia Girl
kejam bgt😭
miqaela_isqa: Gitu lah kak 😭😭😭

Omong2 makasih loh udh hadir 😭
total 1 replies
Dodol Garut
lajut up nya thor.
Yissa Erin
loooo
masa udah habis thor
😭😭
aq nungguin lama loooo
kalau dilanjut pasti masih seruu poool
Yissa Erin: siiaaaaap,,pasti ditunggu
semaangaaaaaat💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍🏻👍🏻👍🏻
total 2 replies
『Gres Ier』
Paman, pamer itu tidak baik 😑
miqaela_isqa: 😂 Oalah kok jadi paman.

Tapi makasih byk loh bos udh setia baca karya ini, maaf up nya awut2 an, smog suatu saat bisa bkin karya fantasi yg lebih baik lagi.

Makasih byk untuk smua dukungan ny bos 🙌🏿
total 1 replies
『Gres Ier』
author sakit atau ada keperluan di real life?
miqaela_isqa: Kalau sekarang dua2 nya sih bos 😱
total 1 replies
Machan
jujur, dari awal ampe sekarang baca nama tokohnya blibet bang.

berarti ini beneran dah end apa masih ada boncap bang?

lanjut semangat💪
Machan: kebangun gegara anaknya nangis, trus da notif up dari elu bang

sekalian aja😅
total 2 replies
Machan
othor semedi di gunung ya, makanya lama hiatusnya
miqaela_isqa: Ntar malah nemu jampi santet onlen 😱
total 3 replies
Dodol Garut
lanjut thor.
yyisaerin2
hmmmmm
masih setia menunggu kelanjutan ceritanya
lanjutkan author
semangaaat
Machan
setelah sekian lama purnama merindu, akhirnya up juga.

semangat bang,💪💪
miqaela_isqa: Makasi byk lho kak lien, jadi rindu ane ama kakak 😂
total 1 replies
『Gres Ier』
kupikir gerbang itu menuju dunia manusia Riz, ternyata enggak :v
miqaela_isqa: Hehehe ketipu bos 😂
total 1 replies
『Gres Ier』
wkwkw
Dodol Garut
lanjut up nya thor.
yyisaerin2
jangan lama lama up nya ya author
semangat yaaa
biar bisa tetep lanjut ceritanya
ditunggu up nya
Machan
gua pernah nonton film dewa gitu. keknya horus itu dewa apa ya, gua lupa😂
Machan
klo ra itu dewa matahari bukan sih
『Gres Ier』
sial banget sih Toz nya wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!