NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma yang Melekat

Jeep itu melaju membelah tirai hujan yang semakin lebat, menciptakan isolasi sempurna di dalam kabin yang kini hanya berbau sisa kaporit dan aroma maskulin dari kemeja River yang membungkus tubuh Every.

Setiap kali ban besar itu menghantam genangan air, Every bisa merasakan guncangan yang membuatnya semakin sadar betapa kecilnya dia di dalam kendaraan—dan di bawah kendali—pria ini.

Hening merayap, namun bukan hening yang menenangkan. Ini adalah keheningan yang penuh dengan muatan listrik, seperti udara tepat sebelum petir menyambar.

"Kenapa diam?" suara River memecah keheningan, matanya tetap lurus menatap jalanan yang buram. "biasanya mulut lo tajam banget. Sekarang, pakai kemeja gue aja lo langsung bisu?"

Every tidak menoleh. Ia merapatkan kemeja itu ke tubuhnya, merasakan kain yang kasar namun hangat. "Gue cuma lagi mikir cara paling efektif buat bikin lo hilang dari ingatan gue, River. Lo itu parasit."

River tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar berbahaya namun memikat. "Parasit? Sayangnya, gue adalah jenis parasit yang udah masuk ke aliran darah lo. Lo bisa sangkal Bangkok seribu kali, tapi tiap kali lo pakai baju gue, tiap kali lo denger suara mesin ini, sel-sel di otak lo bakal mutar ulang kejadian di hotel itu. Secara otomatis."

River memutar kemudi dengan satu tangan, membelokkan Jeep masuk ke area parkir apartemen mewah tempat Every tinggal. Ia menghentikan mobil tepat di depan lobi, namun ia tidak segera membuka kunci pintu otomatisnya.

"Gue nggak pernah minta lo bawa gue balik ke sini," bisik Every, tangannya sudah memegang tuas pintu yang masih terkunci.

River memutar tubuhnya, menatap Every yang tampak tenggelam di kursi penumpang.

Cahaya lampu lobi yang kuning temaram menerangi separuh wajah Every, memperlihatkan binar kemarahan sekaligus kerapuhan yang berusaha ia tutupi.

"Gue nggak butuh izin lo buat mastiin 'milik' gue pulang dengan selamat," sahut River. Ia mencondongkan tubuhnya, tangannya bergerak mendekati leher Every. Every tersentak, mencoba mundur, namun River hanya meraih sabuk pengaman dan membukanya dengan bunyi klik yang tajam.

Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. Every bisa mencium aroma musk dan tembakau dari napas River—aroma yang sama yang menguasai indranya tahun lalu.

"Lo tahu apa yang paling gue suka dari lo, Every?" River berbisik tepat di depan bibir Every. "Bukan kecerdasan lo. Bukan nama Riana lo. Tapi cara lo gemetar tiap kali gue ada di jarak sedekat ini. Itu bukti kalau otak lo boleh menang, tapi tubuh lo... tubuh lo selalu kalah sama gue."

"lo mau gue bilang se-brengsek apa lagi, River?" Every mengepalkan tangannya di atas paha. "imajinasi lo semakin jauh, River. Gue rasa lo butuh ke psikiater."

"Gue emang brengsek," River menyeringai, matanya menggelap. "Dan brengsek ini yang bakal jadi mimpi buruk sekaligus satu-satunya pelindung lo di kampus. Ingat ini, Every...Axel mungkin punya janji masa depan sama keluarga lo, tapi gue punya masa lalu yang udah terukir di kulit lo. Dan di antara kami berdua, lo tahu siapa yang lebih menang."

River menekan tombol buka kunci. Cklek.

"Masuk," perintah River, suaranya kembali datar dan dingin. "Mandi air hangat. Kalau besok gue dapet laporan Ketua BEM absen karena demam, gue bakal jemput lo ke kamar ini dan gantiin baju lo sendiri."

Every segera membuka pintu dan keluar dari Jeep tanpa menoleh lagi.

Ia berjalan dengan langkah cepat menuju lift, membiarkan kemeja putih River melambai tertiup angin dingin.

Di dalam lift, ia menatap pantulan dirinya di cermin—sosok mahasiswi Hukum yang arogan, namun mengenakan identitas pria yang paling ia benci.

Di bawah sana, River masih menunggu sampai lampu di salah satu unit lantai atas menyala. Setelah melihat tanda itu, ia menginjak gas dalam-dalam, meninggalkan area apartemen dengan raungan mesin yang memekakkan telinga, membawa satu fakta bersamanya:

Perang ini baru saja dimulai, dan ia sudah memenangkan ronde pertama.

---

Pagi ruang rapat BEM sudah terasa begitu menyesakkan bagi Every.

Sebagai Ketua BEM, ia duduk di kursi utama, berusaha menampilkan wajah setegar batu karang di hadapan dua puluh anggota inti lainnya.

Namun, ada satu masalah besar yang tidak bisa ia kendalikan: aroma tubuhnya sendiri.

"Eh, kalian ngerasa nggak sih?" bisik Dimas, bendahara BEM, kepada teman di sebelahnya. "Bau ruangan ini tiba-tiba beda. Kayak... parfum cowok yang berat banget."

Tania, salah satu staf divisi humas, mengendus udara dengan terang-terangan. "Iya, baunya maskulin banget. Bukan kayak yang manis floral gitu. Ini lebih ke arah... musk sama tembakau?"

Recha, yang duduk paling dekat dengan Every mulai berbisik. "Ev, serius deh, ini bau parfum siapa? Kok bisa nempel banget di baju lo?"

Meskipun ia sudah mandi berkali-kali dan memakai parfum mawar mahalnya, Every merasa seolah molekul aroma musk dan tembakau dari kemeja River semalam telah meresap ke dalam pori-porinya. Sialnya, indra penciuman anak-anak BEM yang sensitif mulai menangkap sesuatu yang tidak biasa.

Beberapa anggota BEM lain mulai saling lirik. Suasana rapat evaluasi semester yang harusnya formal mendadak berubah menjadi panggung kecurigaan.

"Kayak bau River nggak sih?" celetuk Bimo anggota BEM yang juga teman nongkrong River di kampus.

Ruangan seketika hening. Nama itu adalah tabu bagi anak-anak BEM mengingat keduanya adalah Tom and Jerry paling berisik di kampus.

"Nggak mungkinlah Every sama River," bantah Tania meski ragu. "Every kan benci banget sama dia. Tiap ketemu aja kayak mau perang dunia ketiga."

Axel akhirnya bersuara, nadanya rendah namun penuh selidik. "Every, bisa dilanjutkan rapat ini?"

Every merasakan tenggorokannya kering. Pertanyaan Axel dan bisikan anak-anak BEM seolah menghakiminya.

"Gue bilang fokus ke evaluasi!" Every memotong semua bisikan itu dengan suara yang agak melengking karena panik.

"Fiks, itu bau River. baunya persis kayak gini!" gumam Bimo ke teman sebelahnya.

"Gue... gue cuma lagi nyoba sampel parfum baru. Fokus ke laporan evaluasi, Recha," jawab Every dingin, meski tangannya di bawah meja meremas roknya hingga kusut.

Every mencoba membacakan poin-poin kesuksesan program kerja mereka, tapi fokusnya buyar.

Bayangan River yang menatapnya lewat spion tengah semalam terus berputar.

Ia merasa seolah River sedang menertawakannya dari jauh, tahu bahwa Every sedang 'ditandai' oleh aromanya di depan seluruh anggotanya.

Axel Ammerson, yang duduk di ujung meja sebagai perwakilan donatur dan pengurus, terus menatap Every dengan dahi berkerut. Tatapannya penuh selidik, seolah ia mengenali aroma yang sangat ia benci—aroma yang sering tercium dari bengkel fakultas teknik.

Gugup dan merasa terpojok oleh suasana yang semakin aneh, Every tidak sanggup melanjutkan pidatonya. Ia menutup map laporan dengan suara keras, membuat semua orang terlonjak.

"Evaluasi selesai. Kita sukses semester ini," Every bicara cepat, napasnya memburu. "Dan untuk agenda penutup sebelum libur semester..."

Ia melirik lembar pengumuman di tangannya. Leadership Study Tour: 3 Hari 2 Malam di Bandung. Memikirkan perjalanan itu membuat Every merasa tercekik, karena ia tahu River pasti akan ada di sana sebagai penasihat keamanan transportasi.

"Recha, lo yang bacain detailnya. Gue harus ke ruang Dekan sekarang," Every melempar kertas pengumuman itu ke arah Recha dengan gerakan yang hampir kasar.

"Loh, Ev? Tapi lo kan yang harus jelasin soal—"

"Gue bilang lo yang bacain!" Every memotong kalimat Recha, lalu berdiri dan berjalan cepat keluar ruangan tanpa menoleh lagi.

Di koridor, Every bersandar pada dinding, mencoba menghirup udara segar.

sialnya, tepat di ujung koridor, sosok tinggi berkaos hitam sedang bersandar pada motor besar dengan tangan bersedekap. River Armani ada di sana, menatapnya dengan senyum miring yang mematikan.

"Gimana rapatnya, Madam President?" suara berat River menggema di koridor yang sepi.

Every memejamkan mata, menyadari bahwa pelariannya dari rapat tadi justru membawanya tepat ke depan predator yang sejak tadi menghantuinya.

1
den
double up thor🤭
Muse_Cha: jangan lupa vote dan komen ya kak🙏❤️😍
total 1 replies
den
up lagi thorr
Muse_Cha: ditunggu ya kak. aku up sore²😍 jangan lupa like bab dan vote ya. terimakasih supportnya ❤️
total 1 replies
den
ceritanya menarik dan realistis ngk membosankan
den
kak plis up ceritanya realistis bangett😍
Muse_Cha: makasih ya kak😍 semoga suka terus🙏
total 1 replies
awesome moment
perempuan sering lbh maju perasaannya dan...tu yg bikin...terjun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!