NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni dan Tuan Asing #Flashback3

"Sial... kepala gue rasanya mau pecah."

Every mengerang pelan, kelopak matanya terasa seberat timah.

Aroma yang pertama kali menyapa indranya bukan lagi wangi aromaterapi mawar dari kamarnya di hotel, melainkan campuran aroma maskulin yang tajam—tembakau, whiskey, dan sesuatu yang terasa seperti... kulit laki-laki.

Every tersadar, ia tidak sendirian.

lo... Lo benar-benar melakukannya, Every bodoh?

Every menarik napas tertahan, matanya menelusuri sosok pria yang masih terlelap di sampingnya.

Pria asing dari bar itu.

Dalam cahaya pagi yang jujur, wajahnya terlihat jauh lebih mematikan. Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan bulu mata yang panjang memberikan kontras aneh pada wajahnya yang tampak keras.

Saat Every mencoba berbalik, tangannya mendarat di atas sesuatu yang hangat, padat, dan bertekad. Ia tersentak, matanya membelalak menatap apa yang disentuhnya. Itu adalah dada bidang seorang pria.

Wajahnya sangat tampan namun berbahaya; rahangnya begitu tegas seolah dipahat dari batu, dan sepasang lengannya menampilkan urat-urat halus yang menonjol—tanda kekuatan yang nyata.

Di lengan kiri pria itu, tato hitam yang rumit Menjalar hingga ke dada kirinya, terlihat sangat kontras di atas kulitnya yang kecokelatan.

Dia terlihat seperti malaikat maut yang sedang beristirahat, batin Every.

Ia mencoba meraih ponselnya di atas nakas yang berdebu. Mati. Ponsel itu benar-benar mati, mungkin karena puluhan panggilan dari Emily atau pengawalnya yang ia abaikan semalam.

"Gila... apa yang sudah gue lakuin?"

Suara Every nyaris tidak keluar, tertelan oleh sunyi yang mencekam di dalam kamar apartemen yang asing itu.

Every membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Gue... gue beneran tidur sama orang asing?

Every mencoba memutar otak, mencari detail kejadian semalam, tapi semuanya buram.

Ia ingat rasa muak pada Axel, ia ingat ingin menjadi "wanita tangguh", tapi setelah gelas kedua di bar itu... semuanya menjadi potongan-potongan sensorik yang membingungkan.

Ia merasa mual. Bukan hanya karena pengaruh alkohol yang tersisa, tapi karena kenyataan bahwa ia telah menyerahkan mahkota yang selama ini dijaga ketat oleh keluarga Riana kepada pria yang bahkan namanya tidak ia ketahui.

Emily bakal bunuh gue kalau dia tahu. Papa bakal malu besar.

Monolog di kepalanya berisik sekali, beradu dengan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya yang menjadi bukti fisik bahwa semalam bukan sekadar mimpi buruk.

Every menatap pria itu sekali lagi—sosok yang terlihat begitu tenang namun memancarkan aura predator bahkan saat tidur.

Dengan gerakan sepelan mungkin, Every menyingkirkan selimut, memunguti gaun satin peraknya yang tergeletak di lantai, dan memakainya dengan tangan yang terus gemetar.

Ia tidak berani menoleh lagi. Baginya, pria itu adalah kesalahan paling indah sekaligus paling mengerikan yang pernah ia buat.

Every keluar dari kamar itu tanpa suara, meninggalkan pria bertato itu dengan sejuta tanda tanya yang bahkan Every sendiri tidak tahu jawabannya.

Terima kasih, Tuan Asing. Terima kasih sudah melenyapkan Every si anak manis. Tapi cukup sampai di sini.

Tanpa meninggalkan jejak, Every melangkah keluar dari apartemen itu, membiarkan rasa nyeri di tubuhnya menjadi satu-satunya kenang-kenangan yang tersisa dari malam paling berani dalam hidupnya.

---Enam bulan setelah malam berdarah di Bangkok---

"Nggak mungkin... itu dia?"

Every berdiri mematung di pinggir lapangan basket kampus, map di tangannya nyaris merosot ke lantai. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Di sana, di tengah kerumunan mahasiswa yang berseragam hitam putih, seorang pria baru saja turun dari motor besar hitamnya.

Pria itu melepas helmnya, membiarkan rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin. Meskipun sekarang dia memakai kemeja dan celana jeans—bukan kemeja berantakan seperti di Bangkok—Every tidak mungkin salah mengenalnya.

Rahang tegas itu. Tatapan mata yang tajam dan dingin itu. Dan yang paling membuat Every lemas adalah saat pria itu menggulung lengan kemejanya,, memperlihatkan urat-urat halus yang menonjol dan tato hitam yang mengintip di pangkal lengan kirinya.

Tuan Asing.

"Eve! Lo kenapa bengong?" suara salah satu teman organisasinya membuyarkan lamunan Every. "Oh, lo lagi liatin River Armani ya? Dia emang legenda di sini. Kakak tingkat kita yang paling 'berbahaya' tapi juga paling dipuja. Katanya sih dia calon pewaris tunggal Armani Group, tapi lebih milih nongkrong di bengkel kampus."

River Armani.

Nama itu berdentum di kepala Every. Jadi, pria yang menghabiskan satu malam di Bangkok, pria yang dia tangisi semalaman karena rasa sakit yang luar biasa, adalah orang yang sama dengan sosok yang paling ditakuti di kampusnya sendiri?

Every segera bersembunyi di balik pilar besar, napasnya memburu. Pikirannya kacau.

Gila. Dari ribuan pria di Bangkok, kenapa harus dia? Kenapa harus kakak tingkat gue sendiri? batin Every panik. Gimana kalau dia ingat gue? Gimana kalau dia tahu kalau cewek yang nangis di bawah dia semalaman itu Every Riana.

Every melirik lagi dari balik pilar.

River sedang berjalan menuju gedung fakultas, langkahnya stabil dan penuh dominasi.

Dia tampak sangat tenang, sangat berbeda dengan Every yang sekarang merasa dunianya runtuh. River terlihat seperti tidak memiliki beban, seolah malam di Bangkok itu hanya angin lalu baginya.

Dia pasti nggak ingat. Gue cuma salah satu cewek yang dia 'pakai' malam itu, Every mencoba menenangkan dirinya sendiri, meski ada rasa perih yang aneh saat memikirkan itu. Bagus. Biar dia nggak tahu. Gue bakal pura-pura kita nggak pernah ketemu.

Namun, River Armani tidak pernah melupakan detail, apalagi detail tentang satu-satunya wanita yang meninggalkan noda merah di ranjangnya.

......................

Every masih sering terbangun di tengah malam dengan rasa nyeri imajiner yang sama.

Kini dia berdiri di tengah lapangan kampus, dengan cemas akan masa lalu dan mengenakan kemeja putih dan rok hitam—seragam khas mahasiswa baru yang sedang menjalani masa orientasi.

"Semuanya perhatikan! Kakak tingkat kalian yang satu ini jarang muncul, tapi dialah yang memegang kendali di bengkel pusat fakultas teknik. River Armani."

Jantung Every seolah berhenti berdetak saat mendengar nama itu. Armani?

"Gue River," ucap pria itu singkat. Suaranya rendah, serak, dan memiliki resonansi yang membuat bulu kuduk Every berdiri. "Gue nggak suka basa-basi. Gue di sini cuma diminta bantu panitia orientasi buat disiplin kalian. Jangan berharap gue bakal ramah."

Every terpaku.

Teman barunya yang sejak tadi bersamanya, kembali berbisik, "katanya, River Armani itu berprestasi dengan IPK hampir sempurna dan tangan dingin dalam urusan mesin, namun dikenal sangat anti-organisasi. Dia menolak semua jabatan BEM yang ditawarkan padanya, dengan alasan kaku lalu lebih memilih menghabiskan waktu di bengkel atau balapan."

Enggak, nggak mungkin. Itu cuma kebetulan. Banyak orang punya tato kayak gitu, Every mencoba menenangkan dirinya sendiri. Monolog di kepalanya mendadak bising. Tapi suaranya... dan tatapan tajam yang seolah bisa menelanjangi itu...

River berjalan melewati barisan mahasiswa baru. Langkahnya mantap, mengintimidasi. Saat ia tepat berada di depan Every, ia berhenti sejenak. River tidak menunduk, tapi Every bisa merasakan aura pria itu menyelimutinya—aroma maskulin yang sama, bau tembakau tipis yang membuatnya mual sekaligus rindu.

"Lo," suara River terdengar tepat di atas kepala Every. "Kenapa gemeteran? Takut sama gue, atau kepanasan?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!