NovelToon NovelToon
ANAK MAMA

ANAK MAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / One Night Stand / Nikah Kontrak / Cinta Paksa / Kehidupan di Kantor
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Kata Kunci

Malam "panas" antara Danar dan Luna, menjadi awal kisah mereka. Banyak rintangan serta tragedi yang harus mereka lalui. Masa lalu mereka yang kelam akankah menjadi batu sandungan terbesar? atau malah ada hamparan bukit berbatu lainnya yang terbentang sangat panjang hingga membuat mereka harus membuat sebuah keputusan besar dalam hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kata Kunci, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26.

Seorang pria tua dengan wajah penuh kerutan, namun terlihat jika sewaktu muda dia sangat tampan, Krisna namanya, pria yang sekarang menyandang status sebagai tunangan Ibu Jihan Saphira yang tidak lain adalah Ibu kandung Bagas juga Luna. Pria yang selalu tersenyum ramah dan senang mengenakan pakaian sangat pas di tubuhnya hingga lekukkan yang terbentuk dengan sangat baik akibat rajin berolahraga itu masih bisa menggoda wanita manapun yang dia mau terlihat. Namun tatapan ramah Krisna selalu berbeda untuk Luna, perempuan muda itu dapat merasakannya hingga Sang Calon Anak Tirinya itu kini menggenggam tangan Winda Sang Kakak Ipar dengan sangat kuat karena ada perasaan takut yang keluar secara tiba - tiba dari dalam hatinya.

"Sayangku? Siapa yang Om maksud?" tanya Bagas yang langsung merubah posisi tubuhnya dari samping Sang Istri menjadi berada di depan tubuh kedua perempuan kesayangannya itu dengan ekspresi wajah tajam.

Krisna mengeluarkan tawa renyahnya sambil berjalan mendekat kearah Bagas dan langsung memeluk pria tinggi - besar itu dan memijit pelan salah satu lengannya.

"Santai, Gas. Sayangku itu ya, kalian semua. Soalnya kalian terutama Luna benar - benar sudah nggak pernah kesini lagi...." Krisna mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang dengan jawaban cukup cerdasnya itu.

Disaat yang hampir bersamaan, seorang wanita yang agak tua dengan pakaian sangat modis juga tergolong seksi di usia itu terlihat sudah berdiri di teras rumah dengan wajah sumringah, lalu dia menyapa dengan suara dan nada khasnya, Ibu Jihan dia langsung agak berlari terutama kearah Luna. Satu tangannya langsung meraih wajah Sang Anak dan mengelus nya pelan.

"Terimakasih, Na. Ayo, Mama udah masakin masakan kesukaan kamu...," mata berbinar Ibu Jihan terlihat jelas, nampak juga di dalamnya kerinduan yang sangat dalam kepada anak perempuannya itu.

Digiring dengan genggam erat pada tangan Luna dan sepanjang perjalanan masuk ke dalam, wanita yang memiliki tinggi hampir sama dengan Sang Anak itu menceritakan keadaannya setelah Luna pergi dari rumah.

Di meja makan Luna yang berbicara hanya jika ditanya saja tidak luput dalam pengawasan diam - diam Krisna. Bagas yang sudah mengetahui gelagat mencurigakan dari pria hidung - belang itu lalu mencoba mengalihkan perhatiannya.

"Om Krisna sibuk apa saja? Selain jadi pendamping setia Mama..." tanya Bagas.

Mata Bagas sesekali melirik kearah pria tua itu dan juga ke menu - menu yang tersaji diatas meja. Krisna nampak sedikit gelagapan dan langsung mengalihkan pandangannya kearah Bagas, kembali tawa renyah darinya keluar dan jawaban kesana - kemari tidak jelas yang diberikan oleh pria tua - tua keladi itu. Bagas hanya mengangguk dengan pandangan mata yang terus tertuju pada tunangan Ibu nya tersebut, dia tidak memberikan sedikitpun celah bagi Krisna untuk dapat memandang nakal Sang Adik.

xxxxxxxx

Setelah makan malam dan juga potong kue, Ibu Jihan lalu membagikan teh hangat yang dibantu oleh Winda. Luna tidak nampak lagi di ruang keluarga, ternyata perempuan itu naik ke lantai dua rumah Sang Ibu, dia masuk ke dalam kamar yang pernah menjadi kamar pribadinya. Perlahan dipandang suasana kamar serta interior yang sama sekali tidak berubah, dia berjalan perlahan sambil mengelus bagian penyangga ranjangnya menuju kearah meja belajar. Senyum lebarnya terkembang tatkala dilihat sebuah foto yang terpajang disana. Dielus pelan foto seorang pria tampan dan seorang anak perempuan remaja yang tidak lain adalah dirinya.

"Hai Pa, Luna pulang. Maaf, karena kemarin foto ini nggak sempet terbawa sama aku..." ucapnya dengan binar mata kerinduan akan pria di foto itu.

Lalu perempuan yang menggerai rambut hitam - kecoklatan nya itu berjalan ke pintu lain di dalam kamar dan dibukanya. Tangannya meraba bagian dinding untuk mencari sebuah saklar dan begitu berhasil menyalakan lampu, terlihat sebuah ruangan cukup luas dengan koleksi tas koper yang cukup banyak serta jajaran baju yang digantung dengan jumlah yang tidak sedikit. Dilihat sesaat koper - koper yang terletak diatas rak baju itu, setelah di dapat tas yang cocok, Luna mencoba menurunkannya dengan berjinjit namun hampir lagi - lagi nasibnya naas ketika perempuan muda itu berusaha menggeser koper diatas koper targetnya, kaki perempuan itu tidak begitu kuat menahan beban tubuh serta gerakan memaksa dari Luna agar koper itu segera bergeser hingga membuat tubuhnya limbung, disaat bersamaan koper itu hampir menimpa dirinya, seketika Luna yang sudah menempel pada dinding lemari mencoba melindungi bagian wajah dan kepalanya dengan kedua mata terpejam. Sesaat kemudian otak perempuan muda itu mencerna dengan cepat keadaan yang terjadi, karena dia tidak merasakan sakit sama sekali, lalu dibuka matanya. Pupil nya membesar ketika dilihat seseorang sudah berada tepat diatas tubuhnya.

"Mas Bagas...," suara cukup keras Luna dan langsung dia mencoba bangun dengan agak mendorong tubuh besar Bagas.

Pria itu terlihat memegang bagian kepala belakangnya sesaat dan kemudian memeriksa keadaan Luna yang terlihat nampak khawatir dengan kondisi Sang Kakak setelah tertimpa koper yang cukup besar.

"Kamu nggak pa - pa, dek? Ada yang sakit?" tanya Bagas sambil memeriksa keseluruhan tubuh Sang Adik.

Luna memukul pelan lengan besar Sang Kakak dan membuat pria tinggi berkulit sawo matang itu terkejut.

"Mas, yang harusnya bilang gitu itu aku. Mas, nggak apa - apa? Kepala - kepala gimana..." Sang Adik memegang langsung kepala Bagas yang berambut plontos itu.

Pria itu langsung menggeleng cepat untuk membuat Sang Adik tidak khawatir lagi dan Luna sendiri sudah melakukan pemeriksaan cepat, benar adanya, Sang Kakak baik - baik saja dan yang malah tidak baik - baik saja adalah koper yang terjatuh tadi.

Bagas kemudian membantu Luna mengambil koper yang menjadi target perempuan itu dan mendorongnya ke dekat meja belajar Luna semasa sekolah. Senyum Bagas terkembang tatkala dilihat foto yang sesaat lalu sempat dielus oleh Luna.

"Papa Lim. Papa apa kabar? Maaf ya Pa, aku sama Luna baru bisa pulang dan maaf tahun baru kemarin kita juga nggak sempet ziarah ke makam Papa. Tapi Bagas janji sebelum Winda lahiran, kami akan sempetin buat nengokin Papa..." jelas Bagas yang juga memiliki sorot kerinduan yang sama dengan Sang Adik.

Luna yang terlihat sedang membereskan hampir semua baju serta barang - barangnya yang lain, sesekali melihat kearah Sang Kakak dan senyum lebar terkembang dari wajah manisnya.

Tanpa mereka ketahui, disisi luar kamar, sorot mata tajam nan licik seorang Krisna memperhatikan kegiatan 2 saudara itu sedaritadi, terutama Luna.

"Ma, kami pamit dulu, udah malam. Kasihan Winda sama Luna mereka besok harus kembali ngantor...." Bagas mengatakan itu sembari mencium punggung tangan Sang Ibu dan bersalaman dengan Krisna.

Wajah sedih tergurat dari Ibu Jihan, terutama ketika berhadapan dengan anak perempuannya, Luna. Perempuan manis itu hanya diam, mencium punggung tangan Sang Ibu, melewatkan Krisna dengan wajah angkuhnya dan berjalan sambil menggeret koper. Namun langkahnya terhenti diujung pintu keluar oleh ucapan agak keras dari Sang Ibu,

"Terimakasih Luna dan Mama harap..." namun kalimat wanita agak tua nan seksi itu terpotong oleh ucapan Luna,

"Jangan berharap apa - apa Ma. Fyi, ini pertama dan terakhir kalinya aku kesini. Aku sudah membawa semua barang penting yang sempat aku tinggal dulu termasuk foto Papa..."

Perempuan yang memakai kembali topi dan membiarkan rambut hitam - kecoklatan nya tergerai lalu melanjutkan jalannya dan masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian Bagas dan Winda menyusul Sang Adik. Mobil semi jeep milik Bagas mundur perlahan dari rumah Sang Ibu, terlihat Ibu Jihan mengikuti pergerakan kendaraan itu, melambaikan tangan hingga tidak terlihat diujung jalan dengan wajah sendunya. Berbeda dengan Krisna, pria tua itu memasang wajah licik dengan memutar otaknya untuk bisa bertemu kembali dengan Luna.

xxxxxxxx

Sepeninggal Luna, Danar berniat kembali ke apartemennya namun di tengah perjalanan, sebuah pesan masuk ke gawai pintar lelaki itu dan saat di lampu merah, dia membaca isi pesan tersebut dan dahinya agak berkerut, namun kemudian dengan cepat ekspresinya berubah kembali tenang dan setelah warna lampu berubah hijau dia kembali menjalankan mobilnya, namun bukan kearah apartemennya berada melainkan kearah rumah Keluarga Perkasa.

Gerbang tinggi nan megah terbuka secara otomatis dan beberapa penjaga berjajar, memberikan sikap hormat tatkala dilihat mobil mewah Sang Majikan masuk. Satu diantara penjaga tersebut langsung berlari mengikuti mobil Danar hingga berhenti tepat di depan pintu masuk bangunan mewah tersebut, kemudian dia membantu Sang Majikan membuka pintu dengan pelayan utama rumah itu sudah menunggu dengan wajah ramah nan hangatnya.

"Mbok Jah..." sapa Danar pada seorang wanita pendek dan kurus dengan memakai seragam rapi serta rambut yang dicepol dengan sederhana. Wanita itu membalas dengan suara dan nada lembut serta sopan.

Wanita berambut putih itu mengikuti langkah Danar hingga lelaki itu sampai di ruang tamu dan langkahnya terhenti karena merasa suasana rumah sangat besar juga luas itu berbeda.

"Mama nggak ada di rumah Mbok?" tanya Danar yang memutar sedikit tubuhnya dan memandang kearah Sang Pelayan yang berumur lebih dari 70 tahun itu.

"Betul, Den. Nyonya tadi dijemput oleh Nona Nadia dan kemungkinan baru kembali nanti malam. Silahkan Den..." jawab Mbok Jah yang kemudian kini berada di depan Danar dan memandu lelaki muda itu.

Mbok Jah masuk ke perpustakaan mini dan kemudian mengambil sebuah amplop berukuran agak besar lalu menyerahkannya pada Danar. Kemudian ditinggalkan lelaki muda itu dengan pintu ruangan yang tertutup.

Danar hanya memegang amplop itu tanpa membukanya, pandangan mata lelaki itu lebih terfokus pada beberapa buku yang terpajang disana dan kemudian langkahnya mendekat ke salah satu rak buku, dengan cepat diambil beberapa buku lalu dia segera keluar.

Sang Pelayan dengan agak berlari mendekat dan kembali mengikuti langkah Sang Majikan.

"Terimakasih ya, Mbok. Untuk selanjutnya alamat surat sudah saya pindahkan ke tempat tinggal saya yang sekarang...," ucap Danar sambil memakai kacamata hitamnya dan berjalan cepat hingga sudah sampai kembali di depan pintu mobilnya.

"Den, Danar..." panggil Mbok Jah yang membuat tangan Sang Majikan sudah akan membuka pintu jadi diurungkan dengan kembali berbalik melihat kearahnya.

"Maaf kalau saya lancang, tapi Aden apa benar tidak akan kembali tinggal disini?" ada nada khawatir di dalam pertanyaan Mbok Jah.

Senyum simpul Danar terkembang dengan membuka kembali kacamata hitamnya dia mendekat kearah Mbok Jah dan mengangguk.

"Titip Mama ya, Mbok. Saya pamit..." nada suara lembut Danar keluar dengan mengelus pelan lengan kurus wanita pendek itu.

Senyum simpul juga diguratkan Mbok Jah dengan ragu disertai anggukan pelannya, mengiringi kepergian Danar sore itu.

Mobil mewah Danar keluar pelan dan dari kejauhan sebuah mobil mewah lainnya terhenti dibelakang ketika melihat mobil lelaki berkulit putih pucat itu keluar. Penumpangnya mengepalkan tangan dengan wajah tegang, dipandang mobil Danar yang kemudian menghilang diujung jalan.

"Kamu akan kembali pada Mama, Danar..." ucap dalam hati Si Penumpang yang tidak lain adalah Ibu Rania Aditama Perkasa.

********

1
Mak e Tongblung
beberapa kali "mengangguk" kok "menganggur" , tolong diperhatikan thor
Kata Kunci: 🙇‍♀️🙇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!