Karena pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasihnya, Bumi terlempar ke dunia penyihir, tempat dimana kekuatan sangat di perlukan untuk bertahan hidup.
Bumi diangkat menjadi anak seorang penyihir wanita paling berbakat era itu. Hidupnya mulai mengalami perubahan, berpetualang menantang maut dan berperang.
Meski semuanya tak lagi sama, Bumi masih menyimpan nama kekasihnya dalam hatinya, dia bertekad suatu hari nanti akan kembali dan meminta penjelasan.
Namun, gejolak besar yang terjadi di dunia penyihir membuat semuanya menjadi rumit. Masih banyak rahasia yang di simpan rapat, kabut misteri yang menyelimuti Bumi enggan menghilang. Lantas saat semuanya benar-benar tidak terkendali, masih adakah setitik harapan yang bisa diraih?
*
cerita ini murni ide author, jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu hanyalah fiktif belaka.
ig: @aca_0325
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ternyata tempat rahasia yang dikatakan Raina ada di dekat gedung kelas murid tahun kedua. Sebuah pondopo sederhana yang tersembunyi diantara pohon-pohon besar dan tinggi.
Keenam muda-mudi itu duduk dalam posisi melingkar. Mengabaikan hawa dingin malam itu, mereka akan mulai merencanakan strategi untuk besok.
" Boleh aku menyampaikan pendapatku lebih dulu?" Bumi bertanya setelah keheningan yang cukup lama.
"Kita harus membuat sebuah kesimpulan, untuk apa Donovan menyusup ke akademi, seperti yang kita tahu penjagaan di akademi sangat ketat dan tidak mungkin bisa di tembus begitu mudah." Kata Bumi setelah mendapat anggukan setuju dari teman-temannya.
"Jadi maksudmu ada pengkhianat di sini yang sengaja menyusupkan Donovan?" Ivander dengan otak cerdasnya langsung bisa paham.
"Kenapa?" Tanya Alpha tidak mengerti.
"Ada yang mereka inginkan, singkatnya Donovan dibiarkan membuat keributan di laboratorium sementara si pengkhianat mengambil sesuatu yang mereka butuhkan." Ujar Bumi
"Benar. Kau yang pertama kali menemukan Donovan, bagaimana kau menyadari dia ada disana?" Tanya Zavion.
" Dia membenturkan kepalanya ke lantai, suaranya terdengar hingga ke kamarku. Jika dia hanya sekedar ingin menyusup dan tidak ada maksud lain tidak mungkin dia mau membuat keributan yang memancing semua orang untuk datang kesana."
" Itu terdengar masuk akal. Kita perlu mencaritahu siapa si pengkhianat dan benda yang mereka curi."kata Trixy datar namun penuh tekad.
" Ada yang kalian curigai?" Tanya Raina menatap satu persatu mereka satu persatu.
Tidak ada yang menjawab, semuanya sedang berpikir keras. Gemuruh hujan salju yang kembali turun membuat tempat itu semakin dingin, namun tanpa seorangpun menyadari seseorang sedang menatap dingin dari atas salah satu atap gedung.
"Sebaiknya kita kembali sekarang. Kita tidak membutuhkan strategi apapun." Kata Bumi sengaja menatap ke atap gedung, sudut bibirnya terangkat melihat seseorang yang mengamati dari sana.
Sadar kalau keberadaannya di ketahui, orang itu cepat-cepat turun dan menghilang masuk ke dalam gedung kelas.
...°°°...
Meski dingin masih sangat terasa, hujan yang tak berhenti turun tetapi murid-murid yang sudah mendaftar misi harus segera berangkat.
Di sudut aula selagi Ambaraga dan kepala akademi memberi arahan terlihat sekelompok amatir yang berbicara dalam kode aneh yang hanya mereka yang mengerti.
Trixy melirik ke sekitarnya, lalu menggeleng dua kali. Ivander terlihat menghela nafas, tangannya membentuk tanda segitiga aneh.
" Lihat anak-anak nakal itu, mereka tidak sadar diri, seolah bisa menangkap Donovan. Aku yakin jika mereka bertemu Donovan pasti langsung mampus."
" Selamat dari racun Hunter?Hah! Aku tidak percaya, pasti berita itu di manipulasi."
" Kau benar, apalagi Zavion, ayahnya pasti melakukan banyak upaya agar anaknya terlihat baik. Ck!"
"Tak hanya dia, anak haram bibi Analika juga cukup mampu untuk membeli banyak berita receh."
Bisik-bisik kecil terdengar ke telinga mereka. Zavion masih terlihat sangat santai di tuduh seperti itu, Bumi apalagi, dia sangat tenang, bahkan tidak repot-repot untuk melihat siapa yang bergosip.
Lain halnya dengan Trixy, gadis pemarah itu hampir saja melepaskan sihir ke kepala salah satu dari penggosip, Ivander dengan sigap memegang tangannya. Trixy mendengus, lihat saja ia pasti akan memberi orang-orang itu pelajaran.
" Si pengkhianat itu tidak ada disini," bisik Raina,
"Aku juga tau. Kau pikir apa yang aku lakukan jika tidak mencarinya sejak tadi,"balas Trixy sinis.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Zavion.
" Rencana kedua, Alpha memiliki sebuah alat yang bisa meramal kemana iblis itu pergi."kata Ivander,
Kepala akademi menutup pertemuan pagi itu, semua murid yang mendaftar dengan cepat berangkat bersama kelompok yang sudah dibentuk. Hanya dalam waktu singkat, aula kembali kosong.
Alpha, dilihat secara sekilas dia hanya anak biasa yang terlahir dari keluarga biasa, meskipun dia keturunan Ater, tidak ada yang istimewa darinya.
Tapi, dibalik semua itu dia adalah pembaca jejak yang sangat ahli. Dengan Alpha yang memimpin jalan kelompok itu berlari cepat menuju timur, menyongsong matahari terbit, biasanya. Hari ini matahari enggan keluar, dia menyembunyikan diri di dalam awan kelabu yang mencekam.
Menurut perkiraan Alpha, Donovan melarikan diri ke arah timur.
Jalan yang mereka lewati berliku, ranjau-ranjau tajam memenuhi tanah berlumpur sejauh seratus lima puluh hektare.
Wilayah ini dinamakan Harapan terakhir, tidak ada legenda atau cerita yang menceritakan kenapa dinamakan demikian.
Tiba-tiba saja Alpha berhenti, matanya menatap ke depan tanpa berkedip.
" Ada yang menunggu kita," kata Alpha.
" siapa?" Tanya Trixy langsung bersikap waspada.
Bumi sudah menduga akan ada seseorang yang menghalangi jalan mereka, jika perkiraannya benar maka orang itu pasti dari bangsa iblis.
Hap!
Hap!
Hap!
Tiga bayangan melompat keluar, menghalangi jalan. Postur tubuh yang tinggi, mata merah pucat dan bau busuk yang menguar dari tubuh ketiganya.
"Orang-orang lembah mayat!" Seru Raina langsung mengenali, tangannya bersiap untuk mengeluarkan sihir.
Bumi mengernyitkan dahi, perkiraan nya salah, lagipula ia tidak pernah mendengar kelompok yang satu ini.
"Hahaha... Hari ini panen kita cukup bagus." Salah satu diantara ketiga orang itu tertawa keras, dia menjilat bibir nya sensual.
" Menjijikkan! " semprot Trixy sambil mengerahkan sihir tingkat lima, akan dia hantam makhluk menjijikkan itu dengan sihirnya.
Wuuuttttt.
Api sebesar kepalan tangan menuju kepala si pemimpin dengan ganas.
Bumi tidak habis pikir dengan Trixy yang selalu mengedepankan emosi, lihat sekarang dia menyerang tanpa pikir panjang.
Karena Trixy sudah menyerang, yang lain nya tidak punya pilihan. Mereka maju dengan sihir terbaik yang mereka miliki.
Orang-orang lembah mayat terkenal akan kemampuan mereka dalam mengendalikan mayat hidup.
Sang pemimpin dengan di ikuti kedua pengikutnya mengeluarkan mayat hitam legam yang sangat busuk.
Hanya dalam satu kedipan mata tempat itu dipenuhi mayat hidup.
Bumi berkali-kali mengeluarkan sihir tingkat enam untuk memukul mundur mayat hidup yang mengelilinginya.
"Zizizzi..." Salah satu mayat hidup di belakang bumi mengeluarkan suara keras, mulut nya terbuka dan taring hitam tajamnya hampir mengenai betis belakang Bumi.
Buru-buru pemuda itu bergerak ke samping kemudian memukul mayat itu menggunakan kepalan tangan yang di lapisi es.
Mayat tersebut terbang menjauh, tetapi masih ada begitu banyak mayat yang berjalan menuju dirinya dalam gerakan lamban.
Disisi lain kelima temannya juga berjuang sekuat tenaga, Raina dengan mudah mengusir mayat yang mendekatinya dengan bantuan selendang ungu.
Alpha terluka di beberapa bagian, dia belum banyak menguasai sihir klan ater yang membuat situasinya kurang menguntungkan.
Trixy dan Ivander berkerja sama, mereka hanya mendapatkan luka ringan. Zavion adalah yang paling baik diantara kelompok itu.
" jika ini terus berlanjut kami akan kehabisan tenaga, harus secepatnya mencari solusi." Gumam Bumi sambil terus mengusir mayat hidup yang mendatangi nya.
Bumi menyerang sambil mecari kelemahan mayat hidup, dari tadi dia memang bisa memukul mundur tetapi tidak bisa melenyapkan sepenuhnya.
Pada dasarnya yang dinamakan mayat hanyalah raga kosong yang tidak bisa berbuat apa-apa. Mayat-mayat ini memiliki kekuatan dan ganas, apa penyebab nya? Apakah ada yang mengisi raganya?
Saat itu sudut mata Bumi melihat ketiga orang yang mengeluarkan mayat-mayat ini hanya berdiri diam di tempat mereka dengan mulut komat-kamit merapalkan sesuatu.
Bumi tersenyum, ia tahu kenapa mayat-mayat ini terus berdatangan, pasti ketiga orang itu yang menjadi kuncinya. Untuk memusnahkan mayat-mayat ini tentu harus memusnahkan pengendali nya.
Memikirkan ini Bumi terus maju sambil memukul, menuju dan melemparkan sihir. Dia terus membelah kerumunan mayat hidup menuju ketiga pengendali nya.
" Cepat serang mereka!" Zavion yang melihat itu langsung menangkap maksud tersembunyi Bumi yang sedari tadi memberi tanda dengan terus menerus melemparkan sihir ke arah orang-orang lembah mayat.
Semuanya mengangguk samar sambil terus membuat celah mereka terus bergerak mendekat.
Lima langkah,
Empat langkah,
Tiga langkah,
Dua langkah,
Satu langkah.
Jarak Bumi dengan orang-orang itu sudah dalam jarak serang yang bagus. Tangannya bergerak cepat mengeluarkan sihir biru semi abadi.
Teman-temannya yang juga berhasil menembus kurungan mayat hidup melakukan hal yang sama, mereka mengeluarkan sihir terbaik yang mereka kuasai.
Pemimpin kelompok lembah mayat merasa ada yang aneh membuka matanya.
"Awasss!" dia berteriak lalu melompat ke atas. Karena kakinya meninggalkan tanah mantra untuk mengendalikan mayat hidup terputus.
BOMM.... DUAR!
Sementara dia berhasil selamat, kedua anak buahnya tidak punya waktu untuk menghindar, sihir yang dikeluarkan penyihir muda menghantam keduanya.
BRAKK!
BRAK!!
Keduanya terbang sejauh sepuluh langkah, mengahantam batang pohon raksasa. Kondisi nya tidak diketahui karena tertimbun lumpur.