NovelToon NovelToon
Pesona Mama Mertua Muda 2 : Isvara & Javas

Pesona Mama Mertua Muda 2 : Isvara & Javas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Duda / CEO / Cinta setelah menikah / Beda Usia / Romansa
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: Donacute

Sekuel off 'Pesona Mama Mertua Muda'

Wajib baca season satu duluan ya ≧∇

"Duniaku ikut mati tanpamu."

Kehidupan Javas hancur saat wanita yang paling dicintainya meninggal. Ia mencoba melarikan diri, menyingkir dari tempat yang menenggelamkan banyak jejak kenangan tentang wanita itu.

Namun, ia tak bertahan lama, Isvara selalu tinggal di kepalanya, sehingga pria itu memutuskan kembali.

Hanya saja, apa jadinya jika Isvara yang mereka pikir telah meninggal—justru masih hidup? Bisakah Javas menggapai dan melanjutkan hidupnya bersama wanita itu lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donacute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 | Lapar

"Lo itu dari mana aja, Nan? Kita semua cariin kamu loh, untung tadi lo angkat telpon gue. Kalau nggak kita bakal lapor polisi kayaknya," omel Amara ketika melihat Isvara masuk ke dalam rumah.

"Cari angin bentar sama Chilla," jawab santai.

"Harusnya bilang, biar kita nggak nyariin. Apalagi tadi tuh Sheva sampai nangis cariin lo tau, Nan," ujar Friska yang ikut memarahi sahabatnya, walau marahnya beda tidak seperti marahnya Amara.

"Lupa tau, udah ah jangan dibahas," ujar Isvara tampak tidak merasa bersalah sama sekali.

"Iya, toh Kinan udah ada di sini. Mending kita makan aja laper banget soalnya," kata Dion yang sebenarnya sudah sejak tadi lapar, tetapi tidak ada makanan berat hanya ada kue dan buah-buahan saja di rumah Isvara.

"Kan gue tiga hari di rumah sakit, jadi di rumah nggak ada apapun. Bahan masakan juga nggak ada, jadi gue bingung harus kasih makan apa buat kalian."

"Pesen online aja, biar saya yang bayar," ujar Javas menawarkan diri.

"Om, ini itu kita lagi di desa. Nggak ada yang jual makanan online, pesan dari kota sampai desa yang ada dingin nggak enak," balas Isvara santai.

"Biar gue cari aja yang jual makanan di sekitar sini, kita borong makanannya biar kita bisa makan bareng-bareng di sini." Dion tiba-tiba memberikan ide yang bagus, tentu saja semua langsung setuju dengan ide Dion. Karena bukan hanya Dion saja yang lapar, tetapi semua orang.

"Tapi tetap uangnya nanti Om Javas ganti ya, Om, "Jika seperti ini Dion seperti tidak punya uang, padahal uangnya tidak kalah banyak dari Javas.

"Atur aja yon, masalah mah uang gampang." Karena sudah mendapatkan persetujuan dari Javas, Dion langsung mengajak kekasihnya untuk mencari makanan. Sambil menyelam minum air, saat mencari makanan ia juga bisa berpacaran dengan naik motor. Kebetulan motor Isvara sudah pulang dari bengkel, pekerja bengkelnya yang mengantarkannya ke rumah pagi tadi.

Sheva berjalan menghampiri Isvara dengan wajah sedihnya, gadis kecil itu tidak terbiasa tidak mendapati keberadaan sang Bunda. Jadi langsung menangis histeris seakan takut ditinggalkan, semua orang tadi berusaha untuk membuat Sheva berhenti menangis termasuk Javas.

Dengan rayuan Javas-lah, Sheva mau berhenti menangis. Pria itu juga memastikan bahwa Bundanya Sheva tidak akan pergi jauh, hanya pergi sebentar dan pasti akan kembali. Ucapan Javas terbukti benar, Isvara kembali tentu saja Sheva sangat bahagia.

"Bunda hikss jangan tinggalin Sheva," katanya sambil menangis sedikit, Isvara langsung memeluk putrinya. "Bunda nggak akan pernah ninggalin Sheva, tadi Bunda cuma pergi sebentar sama Kak Chilla. Perginya juga nggak jauh, maafin Bunda ya tadi nggak bilang sama Sheva sampai Sheva bingung cariin Bunda ya sayang."

Gadis kecil itu mengangguk, ia merentangkan tangan minta digendong. Tentu saja Isvara langsung menggendongnya, walaupun Sheva sekarang sudah semakin berat. Sheva tidak sakit saja sangat manja, apalagi sekarang sedang sakit. Kan Sheva memang belum seratus persen sembuh.

"Bunda ngantuk," rengeknya manja.

"Iya sayang, nanti Bunda temenin Sheva boboknya. Tapi Sheva makan sama minum obat dulu ya," kata Isvara dengan lembut, tetapi langsung disela oleh Amara. "Sheva udah makan sama minum obat sama gue, Friska dan Yara. Kita bertiga tadi yang masakin bubur instan terus ganti-gantian nyuapin Sheva, terus kita bujuk minum obat juga."

Saat menyadari sang Bunda tidak ada Sheva memang menangis, tetapi anak itu tetap mau makan bubur dan minum obatnya. Walau memang harus ditakut-takuti dulu sama tante-tantenya, dengan mengatakan jika Sheva nggak mau makan dan minum obat. Bundanya nggak akan pulang, dan tidak langsung nurut juga. Tadi Sheva juga menangis sangat keras juga, karena saking takutnya ucapan ketiga tantenya jadi kenyataan.

Untuk hal itu, Amara, Friska dan Yara tidak akan mau menceritakannya pada Isvara. Selain itu, mereka juga meminta Javas dan Dion untuk diam saja, karena takut jika Isvara tahu gadis itu akan marah pada mereka.

"Kenapa nggak nunggu gue aja?"

"Kelamaan nanti, sedangkan kata Om Javas Sheva nggak boleh telat minum obatnya. Jadi kita aja deh yang kasih makan sama obat," jawab Friska. Isvara terdiam, ia dan Chilla tadi berbicara berdua dengan waktu yang cukup lama.

"Lagian kita tuh nggak tau lo pergi ke mana, pulang jam berapa? Takutnya lo perginya lama, eh ternyata emang lama banget," ujar Amara.

"Ya, maaf. Gue tadi terlalu asik ngobrol, sampai lupa segalanya. Lain kali gue pasti bilang kok kalau mau ke mana-mana," ujar Isvara sedikit menyesal.

"Nggak papa kok, Va. Kita bisa ngertiin lo kok yang tiga hari pasti bosen di rumah sakit, jadi nggak ada salahnya lo refreshing sebentar," kata Friska. Javas-lah yang meminta semuanya mengerti Isvara, karena ia tahu jadi Isvara kemarin-kemarin pasti capek sekali walaupun ada dirinya yang membantu.

"Terus kenapa akhirnya lo malah telfon gue, Ra?" tanya Isvara penasaran.

"Udah malam, Va. Kita semua terutama Om Javas khawatir, takutnya terjadi sesuatu sama lo karena lo nggak pulang-pulang," jawab Amara.

Isvara tidak melanjutkan obrolannya dengan sang sahabat, ia yang sudah tahu putrinya sudah makan dan minum obat. Langsung membawa Sheva ke kamar, agar gadis kecil itu bisa segera tidur. Diluar dugaan Amara dan Friska malah ikut masuk kamar, mereka ingin menemani Sheva yang ingin tidur.

Isvara melihat kedatangan kedua sahabatnya hanya diam, ia tentu langsung tahu keinginan mereka.

"Sheva mau Ante Friska bacain dongeng enggak?" tanya Friska pada keponakan kesayangannya.

"Mau, Ante," jawabnya dengan sangat girang. Friska benar-benar membacakan dongeng untuk Sheva, sedangkan Isvara dan Amara malah tidur di ranjang dengan Sheva yang berada ditengah-tengah. Sambil menunggu Dion pulang bawa makanan, mending mereka tiduran dulu'kan.

Mereka semua memang menginap di rumah Isvara, sudah malam juga tidak mungkin mereka akan pulang malam-malam. Apalagi memang jaraknya ke Jakarta lumayan jauh, untung kamarnya ada dua jadi bisa digunakan oleh sahabat-sahabat Isvara. Sedangkan Dion nanti akan tidur di sofa, tidak mungkin Isvara membiarkan Dion tidur dengan Yara karena mereka belum menikah.

***

Yara dan Dion sedang asyik muter-muter di jalan dengan mengendarai motor, sungguh ini pengalaman pertama mereka berdua jalan-jalan naik motor di malam hari dengan suasana pedesaan. Namun, keduanya belum juga menemukan makanan yang bisa mereka beli untuk makan untuk semua orang.

"Yang, ini gimana kalau sampai kita nggak dapat makanan apa-apa?" tanya Yara pada sang kekasih.

"Gimana lagi, yang. Mau nggak mau kita pulang dengan tangan kosong," jawab santai, biar bagaimana pun desa dengan kota sangat berbeda. Jika di kota pada jam segini masih rame banget, beda sama desa yang sangat sepi.

"Tapi kasihan yang lain kelaparan, yang."

"Aku juga lapar kali, yang," balas Dion tidak mau kalah. Dion terus mengemudikan motornya, sampai ia melihat ada seorang penjual sate yang sangat sepi.

"Yang itu yang jual sate orang beneran 'kan? Bukan setan yang lagi nyamar?" tanya Dion pada sang kekasih, Yara yang ditanya malah semakin bergidik ngeri takut tukang sate itu memang bukan manusia.

"Kamu tanya sama aku, mana aku tau sih," jawabnya sedikit kesal, ketakutannya pun sangat tidak bisa disembunyikan.

"Kita samperin nggak yang? Kalau misalnya itu orang, dan kita malah nggak beli satenya. Sedangkan belum tentu kita bakal ketemu orang jualan yang lain."

"Yaudah, kita ke sana aja pastiin dulu. Kalau bukan orang ya kita kabur."

"Yakin, yang?" Baik Dion maupun Yara, keduanya ternyata sangat penakut. Sampai akhirnya ada orang lewat yang bisa mereka tanyai tentang tukang sate itu, setelah mendapatkan informasi bahwa tukang sate itu adalah manusia bukan setan.

Mereka berdua langsung pergi ke tempat penjual sate itu, setelah dilihat-lihat kaki penjual satenya juga nampak jadi jelas penjualnya adalah manusia.

1
anikbunda lala
syukurin sakit
anikbunda lala
dengerin tuh ....buka telinga ...sombong banget jadi orang
anikbunda lala
wadhuh thor ...javas gimana dong
Donacute: Javas baik kok paling cemburu buta
total 1 replies
anikbunda lala
jangan ada pecabinor ya thor
Donacute: ada ada aja pecabinor dong
total 1 replies
anikbunda lala
sombong banget ...gak beda sama inesha kalo seperti ini kamu va
Donacute: wkwkwk emberan
total 1 replies
tina
lanjut
tina
lanjut kak
tina
next
tina
lanjut
tina
lanjut kak
tina
lanjut
tina
lanjut kak
Ƙҽƚυα♥︎᥊іᥱ﷽𝐀⃝🥀🍒⃞⃟🦅
lupa rating ⭐⭐⭐⭐⭐
tina
lanjut
bundha novita
mungkinkah om javas dan Kalila dulunya MBA mkanya javas benci banget sama kalila
Donacute: hehehe bisa jadi
total 1 replies
tina
lanjut
tina
lanjut kak
instagram @ynov.u
jangan lupa mampir dan vote balik ke novelku yaa. semangat kak /Angry/
tina
lanjut kak
tina
lanjut
Donacute: ditunggu ya kak nanti double update kok
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!