Cinta terpendam adalah perasaan suka diam-diam. Mencintai sendiri.
Setiap insan pasti pernah merasakan Cinta Terpendam.
Memendam cinta walau hanya sehari, atau bahkan lebih.Terlepas dari cinta itu terbalas atau tidak. Tetap cinta itu itu sempat terpendam.
Beruntung bagi seseorang yang memendam cinta, saat cintanya terbalas. Terlepas berapa lama cinta itu terpendam.
Namun, bagaimana jika cinta terpendam berlabuh pada seorang pembenci?
Khadziya Putri seorang gadis berusia 17 tahun, tiga tahun memendam cinta membuatnya tersiksa akan sakitnya mencintai dalam diam.
Reynan Prayoga laki-laki yang membuatnya berdebar-debar, membuat Ziya salah tingkah, tapi dia juga mematahkan hati Ziya.
Reynan begitu membenci Ziya, setiap berhadapan Reynan akan melontarkan kata kasar dan pedas.
Kenapa Reynan begitu membenci Ziya? Akankah benci berubah jadi cinta?
Mungkinkah cinta terpendam cukup lama akan terbalas?
Ikuti kisahnya di Novel ini. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marta Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan dan Kesedihan
Ziya merasa iba melihat tangisan Sindi, tangis menyedihkan seorang ibu.
"Astaghfirullahaladzim, aku menyakiti hati seorang ibu. Apa yang sudah aku lakukan," bisik hati Ziya
"Tante, Ziya akan temui Redo. Tolong tante jangan menangis lagi," ucap Ziya cepat.
Isak tangis Sindi bisa saja mengundang perhatian pengunjung cafe, Ziya tidak ingin Sindi di permalukan karenanya. Sindi berangsur menghentikan tangisnya saat Ziya mengabulkan permintaannya.
"Kamu benar akan menamui Redo?" tanya Sindi memastikan pendengarannya.
"Iya tante. Ziya juga ingin tahu kabar Redo, sudah lama kami tidak bertemu. Ziya akan berusaha membuat dia kembali seperti dulu. Walau bagaimanapun, Redo seperti ini karena Ziya,"
"Terima kasih, kamu gadis yang berhati baik. Redo tidak salah mencintaimu sebegitunya,"
Ziya termangu, "mencintaiku?" gumam Ziya
"Redo sangat mencintaimu. Dia baru menyadari hal itu saat kamu sudah tidak mau menemuinya lagi. Dia menggila karena memikirkanmu," ujar Sindi.
Di tempat lain
Tampak Redo tengah melamun, memikirkan perkataan mamanya.
"Mama ikut tersakiti di sini, tidakkah kamu memikirkan perasaan mama?" kata-kata mama terngiang-ngiang.
Redo mengusap kasar wajahnya, tiba-tiba dia berdiri kemudian melangkah keluar kamar menuju lantai bawah rumah. Dia berlari ke dapur sembari memanggil nama Asisten rumah tangga.
"Bi Sumi! Bi Sumi..." Redo memanggil pembantu yang sudah 20 tahun ini bekerja di rumah orangtuanya.
Dengan tergopoh-gopoh wanita paruh baya itu menghampiri Redo.
"Maaf Den, bibi lama. Tadi Bibi lagi di belakang," ujar Bibi sungkan.
"Bibi tolong kemas beberapa bajuku dan masukkan ke koper. Cepat ya Bi, 1 jam lagi Redo harus pergi,"
Bi Sumi terperangah. Anak majikannya ini sedang tidak baik-baik saja. Akan pergi kemana Redo dalam keadaan seperti itu.
"Aden akan pergi kemana? nyonya sedang tidak di rumah, Aden harus tunggu nyonya pulang dulu," Bi Sumi mengingatkan.
"Iya Bi, Redo tau. Ini Redo sudah hubungi, tapi enggak di angkat mama,"
"Bibi siapkan saja pakaian Redo sembari menunggu mama," perintah Redo sopan.
"Baik Den," Bibi berlalu meninggalkan Redo.
Redo memesan tiket penerbangan menuju Singapura, dia memilih jam keberangkatan tercepat. Dia sudah memutuskan untuk pergi menjauh, berharap dengan jalan ini dia mampu melupakan kesedihannya.
Redo memutuskan melanjutkan pendidikannya ke Singapura. Sejak awal dia berniat melanjutkan kuliah di Singapura, namun dia urungkan saat dia menjalin hubungan dengan Ziya. Namun kini dia memutuskan tetap pergi setelah Ziya menjauhinya.
Tidak ada jalan untuk melupakan kesakitan, hanya dengan pergi menjauh dia akan mampu menata hati. Redo sibuk menghubungi mama, namun tidak tersambung.
Redo memutuskan pergi ke bandara, karena hanya 1 jam tersisa dari jam keberangkatan. Di perjalanan menuju bandara, Redo terus menghubungi mamanya. Redo duduk di kursi penumpang dengan gelisah, Pak Kusri selaku supir tak lepas memperhatikannya meski fokus menyetir.
Setelah berulang kali menghubungi, akhirnya panggilan terhubung.
"Hallo Ma, mama dimana?" sapa Redo cepat.
"Iya sayang, mama di jalan. Ini mau pulang, kenapa Nak menelepon?"
"Redo sudah putuskan, Redo jadi kuliah di Singapura. Ini Redo sedang menuju bandara, keberangkatan Redo 55 menit lagi Ma,"
Mama terkejut, kabar ini terlalu mendadak baginya. Dia tidak rela putranya pergi jauh. Terlebih kondisi psikis Redo yang tidak baik.
"Kenapa mendadak sekali Nak, mama tidak bisa melepasmu begitu saja. Keadaanmu sedang tidak stabil, batalkan keberangkatanmu. Mama ada kejutan untukmu,"
"Redo sudah mengambil keputusan. Bukankah mama menginginkan Redo untuk melanjutkan hidup, melangkah untuk masa depan yang panjang. Tolong izinkan Redo, Redo sudah baik-baik saja. Mama jangan khawatir,"
"Nanti kita bicarakan lagi, mama akan menyusulmu ke bandara. Jangan pergi kalau kamu belum ketemu mama." Pinta mama.
Panggilan terputus, setelahnya Sindi meminta supir untuk menuju bandara Soekarno Hatta. Sindi mulai berkaca-kaca membuat Ziya bertanya-tanya.
"Redo pergi kemana? apa mungkin Redo akan pergi jauh?" bisik hati Ziya
"Redo akan pergi," lirih Sindi dengan lelehan airmata.
"Tolong cegah dia Nak, hanya kamu yang bisa mengubah keputusannya. Keadaannya belum stabil. Dia sedang rapuh, tante takut dia akan melukai dirinya nanti di sana. Tidak ada yang tau, ketika dia berbuat nekat,"
"Ziya akan bujuk Redo, tante tenang ya," Ziya menangkan Sindi yang tengah terisak.
Redo sedang duduk di ruang tunggu, 15 menit yang lalu dia sudah menunggu di bandara. Redo tampak gelisah. Waktu hanya tinggal 30 menit, mamanya tak kunjung datang. Sesekali dia menengok pintu masuk, namun yang di tunggu tak terlihat.
Dia berniat untuk menghubungi mamanya, namun terhenti saat mata coklat itu menangkap sosok wanita yang selalu membayanginya.
Mama melangkah cepat dengan perasaan tak menentu. Ziya jalan beriringan dengan Sindi, tidak lama Sindi menemukan putranya yang kini menatap tak berkedip ke arahnya. Rupanya putranya itu sudah lebih dulu menemukan kehadirannya.
Wajah suram itu kini sedikit bersinar, rambut yang memanjang tertata rapi, pakaiannya pun tampak cocok menambah ketampanan Redo. Mama tersenyum senang melihat Redo sedikit mengalami perubahan.
Putranya itu terlihat gagah, walau sedikit menyimpan kesedihan di matanya. Wajah suram itu belum seutuhnya hilang. Namun, mama bersyukur. Setidaknya Redo sudah sedikit membaik.
Ziya gugup, Redo menatapnya tak berkedip. Seakan menelanjanginya, Ziya di rundung kecanggungan. Namun tidak mengurungkan niatnya. Ziya melangkah mendekat, sementara Sindi menghentikan langkahnya.
Sindi memberikan ruang untuk Ziya membujuk Redo. Kini Ziya hanya diam mematung tepat di hadapan Redo. Mereka terdiam dengan saling menatap. Tampak jelas kilatan di mata Redo. Ziya bisa melihat itu.
Redo seperti mimpi bisa melihat wajah gadis lugu itu. Ingin dia memeluk, merengkuh tubuh itu. Gadis yang dia rindukan di sini, berdiri di hadapannya.
Ziya melihat mata cekung Redo, tampak lingkaran hitam di bawahnya. Wajahnya tampak suram meski tak menutupi ketampanannya. Tubuhnya sedikit mengurus. Ziya meringis, dia tidak mampu menahan airmata yang sudah menggenang.
"Maafkan aku," lirih Redo.
Ziya menggeleng. Redo tidak terkejut, dia sudah menduganya. Redo tidak berani berharap lebih, Ziya hadir di sini sudah cukup membuat dia senang.
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku membuatmu seperti ini, aku tidak menyangka sikapku membawa pengaruh besar untukmu," Ziya menitikkan airmata penyesalan.
"Jangan menangis," ujar Redo sembari mengusap air mata yang jatuh di pipi Ziya.
"Maafkan aku, tolong jangan pergi," pinta Ziya.
Redo tak kuasa melihat Ziya menitikkan airmata, dia menarik Ziya ke dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu" Redo mengeluarkan isi hatinya.
"Aku benar-benar menyesal, tolong maafkan aku," sambungnya.
Ziya mengangguk membuat Redo tersenyum senang. Betu besar yang menghimpit pundaknya terasa mengguling, beban besar yang selama ini menghantui seketika sirna.
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉