NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesembilan

Rina menatap Anya dengan tatapan yang penuh dengan amarah. Ia tidak menyangka bahwa Anya bisa bersikap sekejam itu pada suaminya sendiri.

"Kalau dia istrimu, kenapa kamu meninggalkannya sendirian di sini?" tanya Rina dengan nada yang dingin. "Apa kamu tahu bahwa dia ketakutan dan kebingungan? Apa kamu tidak punya hati?"

"Itu bukan urusanmu!" ucap Anya dengan nada yang marah. "Arga adalah suamiku dan aku berhak melakukan apa saja padanya!"

Rina tertawa sinis mendengar ucapan Anya. "Kamu berhak melakukan apa saja padanya?" tanya Rina. "Apa kamu pikir pernikahan itu adalah sebuah penjara? Apa kamu pikir kamu bisa memperlakukan suamimu seperti seorang budak?"

Rina tertawa sinis, meremehkan. "Kau pikir pernikahan itu kandang? Kau pikir kau berhak memperlakukannya seperti binatang peliharaan?"

"Dan kau tahu betul bahwa Arga tidak seperti kebanyakan orang! Tapi kau, sebagai istrinya, dengan tega meninggalkannya sendirian di tempat asing ini!"

"Kau tidak tahu apa pun tentang hidupku!" bentak Anya histeris. "Dan ini bukan urusanmu! Kau hanya orang asing yang kebetulan bertemu dengannya!" Anya menunjuk Rina dengan jari gemetar, wajahnya memerah karena amarah.

Di tengah pertengkaran sengit itu, Arga semakin menciut, tenggelam dalam lautan kebingungan dan ketakutan. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dan ia hanya ingin semua ini segera berakhir.

Rina dengan kasar menepis tangan Anya, seolah jijik bersentuhan dengannya. "Aku memang orang asing di sini," ucap Rina dengan nada sedingin es, "tapi aku tidak akan tinggal diam melihatmu terus menyakiti Arga. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik daripada ini."

"Apa maksudmu, hah?" tanya Anya dengan nada sarkastik.

"Maksudku adalah, kau tidak pantas menjadi pendampingnya," jawab Rina dengan tegas. "Kau tidak mencintainya, dan kau hanya membuatnya menderita. Lepaskan dia, biarkan dia bebas mencari kebahagiaannya sendiri."

Anya menatap Rina dengan tatapan mencemooh, lalu tertawa sinis mendengar kata-kata Rina yang menurutnya sangat tidak masuk akal. "Apa hakmu mengatakan semua itu? Kau bukan siapa-siapa di sini! Kau tidak punya hak mengatur hidupku, apalagi hidup Arga!"

Di tengah ketegangan itu, Arga memberanikan diri untuk bersuara. "Anya... Arga mau pulang," ucapnya dengan nada lirih, "Arga takut di sini..."

Anya menatap Arga tanpa ekspresi, walau sedikit rasa iba mulai menyusup ke dalam hatinya. Hanya sedikit.

"Sudah dengar sendiri kan? Dia ingin pulang, jadi lepaskan dia!" ucap Anya pada Rina, yang masih enggan melepaskan genggaman tangannya dari Arga.

Anya baru menyadari bahwa genggamannya sendiri membuat Arga merasa tidak nyaman, terlihat dari tangan Arga yang memerah. "Maafkan aku, Arga. Aku tidak tahu kalau kau merasa tidak nyaman sedari tadi," ucapnya dengan nada yang sedikit lebih lembut.

Arga menggelengkan kepala dengan polos. "Rina, lepaskan Arga. Arga ingin pulang bersama Anya," pintanya dengan polos.

Dengan berat hati, Rina melepaskan Arga. "Apa kau yakin ingin pulang bersamanya? Apa kau tidak takut jika dia akan menyakitimu lagi?" tanya Rina memastikan.

Mendengar pertanyaan itu, Anya merasa tersinggung dan marah. "Hei! Jangan coba-coba meracuni pikiran Arga! Dia anak baik dan polos, tidak seperti dirimu yang penuh dengan niat jahat!"

Rina menatap Anya dengan tatapan yang tajam. "Aku tidak mencuci otaknya," ucap Rina dengan nada yang dingin. "Aku hanya ingin memastikan bahwa dia aman dan tidak disakiti olehmu."

"Aku tidak akan menyakitinya!" seru Anya dengan nada yang marah. "Dia adalah suamiku dan aku akan menjaganya dengan baik!"

"Menjaganya dengan baik?" tanya Rina dengan nada yang sinis. "Kalau kamu menjaganya dengan baik, kenapa kamu meninggalkannya sendirian di sini? Apa kamu pikir itu adalah cara yang baik untuk menjaga suamimu?"

"Sudahlah," ucap Anya dengan nada yang lelah. "Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi. Arga, ayo kita pulang."

Anya meraih tangan Arga dan menariknya dengan kasar. Arga tampak ketakutan dan mencoba melepaskan diri dari genggaman Anya.

"Anya, sakit," ucap Arga dengan nada yang pelan.

Anya tersadar dan segera melepaskan genggaman tangannya. Ia menatap Arga dengan tatapan yang penuh dengan penyesalan.

"Maaf," ucap Anya dengan nada yang tulus. "Aku tidak sengaja."

Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap Anya dengan tatapan yang kosong.

"Ayo, kita pulang," ucap Anya lagi dengan nada yang lebih lembut.

Arga mengangguk lemah dan berjalan mengikuti Anya. Mereka berdua berjalan meninggalkan Rina dan menuju ke hotel tempat mereka menginap.

Sesampainya di kamar hotel, Anya masih dikuasai oleh kekesalan dan amarah yang membara dalam hatinya.

Anya menatap Arga dengan tajam, sementara Arga yang baru saja mendudukkan diri di sofa membalas tatapannya dengan polos.

"Anya kenapa? Anya masih marah?" tanya Arga dengan suara lembut, membuat hati Anya sedikit mencair.

"Jangan pernah lagi ikut dengan orang asing tanpa sepengetahuanku! Kau tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka, Arga!" ucap Anya dengan nada kesal namun juga khawatir.

"Tapi Rina tadi sangat baik pada Arga," jawab Arga polos, tanpa menyadari bahwa perkataannya justru membuat Anya semakin tegang.

"Kenapa tadi tidak ikut Rina saja sekalian? Kan dia baik!" ucap Anya dengan nada sinis, menyembunyikan amarahnya.

Arga menggelengkan kepala. "Kata Ayah, Arga harus patuh pada Anya. Arga tidak boleh nakal, nanti Anya marah dan meninggalkan Arga seperti ibu," ucapnya dengan nada polos, namun menusuk jantung Anya dengan kenyataan pahit.

Anya hampir lupa tentang latar belakang keluarga Arga. Sejak awal, hanya Ayah Arga yang selalu ada di sampingnya. Ia bahkan tidak tahu di mana ibu Arga berada.

"Tunggu, kenapa kau jadi membandingkanku dengan ibumu? Aku juga hampir lupa kalau selama ini hanya Ayahmu yang selalu ada di sisimu," tanya Anya, merasa heran dan sedikit terusik.

Arga menggelengkan kepala. "Arga tidak tahu. Arga tidak kenal ibu."

"Menurut Anya, ibu itu seperti apa?" tanya Arga, menatap Anya dengan penuh harap.

Tiba-tiba, hati Anya terasa terenyuh. Ia merasa sangat kasihan pada Arga yang ternyata tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.

Entah seperti apa masa lalu Arga dan bagaimana ia dibesarkan, Anya tidak tahu apa-apa. Ia merasa bersalah karena selama ini hanya memandang Arga sebelah mata dan tidak pernah berusaha memahaminya.

"Ibu... Ibu itu adalah seorang wanita yang telah melahirkan kita ke dunia ini. Ibu itu adalah wanita tercantik, terhebat, terkuat, dan yang paling penting, Ibu adalah pelindung bagi anak-anaknya," ucap Anya dengan nada lirih, mengingat ibunya yang selalu menyayanginya tanpa syarat.

"Ibu juga merupakan sosok wanita yang paling pemaaf di dunia ini. Sebesar apapun kesalahan yang kita perbuat, Ibu akan selalu memaafkan dan memberikan kesempatan kedua. Ibu juga rela berkorban demi kebahagiaan anaknya dan akan selalu menjadi orang pertama yang membela anaknya ketika ia dalam kesulitan," ucap Anya dengan mata berkaca-kaca.

Ia teringat pada ibunya yang sejak awal menentang keras pernikahannya dengan Arga. Ibunya bahkan melakukan berbagai cara di belakangnya untuk membatalkan pernikahan ini, namun sayang, Ayahnya memiliki kekuasaan yang lebih besar dan ibunya harus mengalah serta merelakan kebahagiaan putrinya direnggut paksa.

"Anya, apa ibu Anya baik?" tanya Arga dengan rasa ingin tahu.

Anya mengangguk. "Ibuku lebih dari sekadar baik. Ibuku sangat baik," jawab Anya dengan senyum yang dipaksakan.

Arga terus menatap Anya dengan tatapan penuh harap. "Apa boleh ibu Anya jadi ibu buat Arga?"

Anya langsung menatap Arga dengan Tajam, amarahnya kembali membara. "Tidak! Ibuku ya ibuku! Sana cari ibumu sendiri!"

Arga memanyunkan bibirnya, air matanya mulai menggenang. "Anya jahat! Arga cuma ingin tahu rasanya punya ibu! Anya jahat!" seru Arga sambil memukul lengan Anya dengan keras, lalu menangis.

Anya merasakan sakit akibat pukulan Arga. Ia semakin marah dan dengan cepat mencengkeram lengan Arga. "Diam! Jangan berisik! Ini sudah malam, Arga!"

"Anya jahat! Kenapa Arga tidak boleh punya ibu! Arga ingin punya ibu!" teriak Arga dengan histeris.

"Tanya saja pada Ayahmu, ke mana ibumu selama ini! Jangan-jangan ibumu meninggalkanmu karena kau idiot!" ucap Anya dengan senyum sinis, sengaja memprovokasi Arga.

"Huaaaa! Arga tidak idiot! Arga anak tampan! Mana mungkin ibu tidak suka Arga!" tangis Arga semakin kencang, membuat Anya tertawa puas melihat ekspresi Arga yang terluka.

Entah mengapa, kini hobinya adalah mengganggu Arga. Menurut Anya, Arga memang seperti bocah bodoh yang pantas untuk di-bully.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!