Florentina Queensha (16 tahun) seorang gadis yang di tinggal di panti asuhan sejak kecil,tanpa dirinya tau jika dia satu satunya keturunan perempuan di keluarga Pratama dan memiliki 5 kakak cowok yang sangat possesive ,baik kakak kandung maupun kakak sepupunya.
(minim konflik) karena saya tidak menyukai konflik apalagi di dunia nyata penuh dengan konflik jadi cerita di buat seringan mungkin.
(Disclaimer ini hanya sebuah cerita novel penuh halu jangan terlalu di bawa ke real ya. Karena cerita ini hanya bersifat menghibur🙏🙏)
selamat membaca!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ottechan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Queen pun memasuki mobil Marvin dengan wajah cemberut di mana dirinya akan semobil dengan Kania dan Al kembarannya.
Sedangkan Ken dan si kembar mengendarai motor sport mereka masing-masing.
Tadinya Queen merengek ingin mengendarai motor sport juga saat melihat ketiga abangnya pergi ke sekolah dengan menggunakan motor sport.
Hal tersebut tentu saja dilarang oleh seluruh keluarga Pratama bahkan jika Queen bersikeras merengek untuk mengendarai motor sport maka izin sekolah hari itu otomatis dicabut oleh Papa Hendra.
"Udah Cha tidak usah cemberut begitu, besok kamu aku boncengin pakai motor sport punyaku tenang aja. Kan aku sudah pernah janji sama kamu mau ngajakin keliling kota pakai motorku"Kania menghibur Queen dengan mengiming-imingi akan diajak keliling kota menggunakan motor esok hari.
Namun langsung ditentang keras oleh Marvin dan Al saat itu juga.
"Heh nggak ada ya bé. Nggak ada yang namanya naik motor besok. Bukannya motormu dijual ya bé sama bang Marvin?"
"Loh kenapa?? Kan aku juga pengen naik motor lagi bé. Iya sih memang dijual sama bang Marvin tapi kan aku sudah minta yang baru ke Daddy." ujar Kania menyengir.
Marvin menghela nafas "Daddy tuh selalu gitu kalau kamu yang minta pasti langsung diturutin sama Daddy. Udah susah payah abang ngejual itu motor kamu dek, sekarang malah dibeliin motor lagi sama Daddy."
Kania terkekeh pelan "ya habis bagaimana dong bang, abang sendiri tahu kalau Nia suka naik motor sport. Malah dari kecil Nia suka dengan motor yang gede gitu. Itu juga gara-gara Daddy sendiri kan sering ngajakin Nia ke arena balap dulu waktu Nia masih kecil. Abang ingat kan yang waktu Daddy masih sering balapan di arena itu."
"Iya tapi kan juga tidak harus keterusan sampai sekarang dek. motor sport itu berat dan lebih besar dari badan kamu. abang melarang itu karena abang khawatir kamu kenapa-napa kalau Kamu naik motor sport dek."Marvin cukup frustasi dengan kekerasan kepalaan adik kesayangannya itu.
Kania menundukkan kepala. Al dan Queen hanya diam mendengarkan kedua kakak beradik itu berdebat.
Al menepuk nepuk kepala Kania "kami semua itu sayang sama kamu bé."
"Tapi béééé..."Kania masih ingin membantah.
"Sssttt... Kamu dengerin dulu aku ngomong, oke dan jangan dipotong waktu aku ngomong bisa bé."ujar lembut Al memotong perkataan Kania.
Kania mengangguk.
"Kenapa sih kamu keras kepala untuk masalah motor ini? Coba kamu kasih alasan ke aku yang bisa membuat aku merubah keputusan tentang larangan itu."
"AL tidak bisa begitu juga.
"Bentar ya bang. Al sendiri cukup penasaran dengan alasan Nia tetap kekeh ingin mengendarai motor sport itu kenapa. Aku cuma ingin Kania berani mengeluarkan pendapatnya sendiri .aku cuma tidak mau Kania merasa tertekan bang. Ya kita semua tahu bagaimana Nia suka sekali dengan motor sport dan kita tidak bisa memutuskan kesukaan seseorang secara sepihak bang. Kita juga harus tahu bang siapa yang mengajari nia naik motor sport."
Kania mengangkat kepalanya dan menatap tunangannya tersebut.
"Karena aku tidak mau ditinggal sendirian lagi di mansion oleh kalian semua. Kalian semua sering sekali ninggalin Nia sendirian sampai malam walaupun di mansion ada pelayan dan bodyguard. Tapi Nia tetap merasa kesepian. Kalau Nia bisa naik motor sport , kan Nia bisa ikut kalian ke arena balapan juga. Jadi Nia tidak merasa kesepian lagi di Mansion."
"Terus akhirnya Nia berpikir bagaimana caranya biar Nia tidak merasa kesepian lagi di Mansion ,jadi Nia minta Daddy untuk mengajari Nia naik motor sport sewaktu Nia ikut Daddy perjalanan bisnis beberapa tahun yang lalu sebelum Chacha ditemukan. Kamu masih ingat kan bé Yang aku cuti sekolah selama hampir tiga bulan. Jadi itu alasan nya."
Marvin terhenyak saat mendengar alasan sang adik. Marvin merasa bersalah karena dulu dirinya sering meninggalkan sang adik sendirian di Mansion yang dimana ternyata sang adik merasa kesepian.
"Kenapa kamu tidak pernah kasih tahu abang sih dek kalau kamu merasa kesepian di Mansion? abang kira kamu baik-baik aja selama ini apalagi abang Liat kamu selalu tertawa bahagia."ucap lirih Marvin dari balik kemudi.
Kania tersenyum"abang kan tahu aku bagaimana? Aku bukan tipe perempuan yang suka mengeluhkan sesuatu hal yang kecil. Daddy mendidik kita dari kecil dengan tegas. Agar kita Mandiri sejak kecil ya jadinya Nia sudah membiasakan diri bang. Lagi pula kemarin itu kan abang dan Al juga lagi sibuk-sibuknya persiapan beberapa kejuaraan kan. Nia sangat memahami hal itu bang."
Perjalanan menuju sekolah diisi curahan hati oleh Marvin, Kania ,dan Al sedangkan Queen menyimak saja.
Al menggenggam kedua tangan Nia "lain kali jangan kamu pendam sendiri ya bé. Kamu bisa mencurahkan apa yang sedang kamu rasakan ke aku atau ke keluarga aku oke."
"Iya bé tenang aja aku kan bukan cewek yang menye-menye gitu. Lagi pula sekarang kan sudah ada Chacha jadi aku tidak akan merasa kesepian lagi. Bolehlah kasih izin kami berdua buat mengendarai motor sport."
"Kalau kamu sama bang Marvin lagi sibuk kan aku bisa ajak Chacha quality time keliling kota naik motor."
"Boleh ya bé, bang Marvin?"mohon Kania.
"Kenapa tidak naik mobil aja sih dek keliling-keliling kotanya??"Marvin masih bersikeras melarang Kania untuk mengendarai motor sport.
"Haissshh males macetnya bang. Kalau naik motor kan bisa nyalip-nyalip gitu di sela-sela mobil."
"Kan bisa pakai sopir dek."
"Kan aku pengennya girls time bang berdua saja dengan Chacha. Lagian kalau aku keluar pasti juga bodyguard yang diutus Daddy ngikutin aku dari jauh."
"Boleh ya bang aku naik motor lagi please please?" mohon Kania kepada Marvin dengan tatapan memelasnya.
"Iya iya Abang bolehin lagi tapi kamu hati-hati bawa motornya."
"YES!!!! Akhirnya ijin keluar juga.Cha nanti kita gantian ya bawa motornya. Terus nanti kita jalan keliling kota habis itu kita nyobain street food yang dijual di taman kota Cha"seru bahagia Kania.
Namun berbeda dengan Marvin dan Al. Mereka berdua masih mencerna perkataan Kania yang mengatakan akan bergantian mengendarai motor dengan Queen.
Sedangkan Queen yang berada di samping Marvin mengumpat dalam hati karena Kania membocorkan rahasia jika dirinya bisa mengendarai motor sport.
"Sebentar sebentar maksudnya apa nih dek kamu gantian naik motor dengan Queen?"tanya Marvin bingung.
"Lho emang abang tidak tahu kalau Chacha itu juga bisa mengendarai motor sport loh. Bahkan ya bang Chacha itu ternyata juga sering ikut balapan di arena gitu."
"Hah, kamu bisa naik motor sport sayang??"
"Cha serius kamu bisa mengendarai motor sport yang gede itu. Padahal ukuran motor nya kebanting abis sama badan kamu Cha."
Queen menatap sengit kembarannya "Memang kenapa kalau badan Queen kecil tidak boleh begitu Queen bisa mengendarai motor sport."
"Ya nggak gitu juga Chacha..."