Rumah boneka yang selalu dimainkan oleh gadis kecil bernama Mariana merupakan malapetaka bagi sang sepupu, Lucas Nova dan sang adik, Keane Nova.
Kejadian itu dimulai saat keduanya diminta oleh paman dan bibi mereka untuk menginap selama liburan sekolah dan menemani sang gadis kecil bermain.
Liburan untuk menemani Mariana berubah menjadi bencana karena teror dari rumah boneka kecil dan makhluk halus yang mencoba membunuh mereka.
Apakah liburan itu akan menjadi hari kematian ketiganya yang harus terjebak dengan teror dan kutukan dari rumah boneka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Pencarian bag. 2
Saat ini, Edwin yang baru saja merasakan sesuatu yang buruk setelah terjatuh dari anak tangga kediaman Keluarga Nova berusaha untuk menghindari aura tidak menyenangkan itu.
“Aku bukan hanya mendengar suara langkah kaki tapi juga merasakan sesuatu mencoba mendekatiku!”
“Aku harus bergegas!”
“Rumah ini tidak terlihat luas untukku namun kenapa sangat berbahaya? Aku harap gadis kecil itu berhasil keluar dari daerah rumahnya untuk mencari bantuan!”
Sebelumnya, seperti ada sesuatu yang menghalanginya, Edwin memilih untuk mencari jalan lain namun lorong rumah itu terasa begitu luas hingga Edwin seakan kembali ke titik yang sama untuk beberapa kali.
“Ini tidak lucu.”
Edwin memutuskan untuk memasukki kamar-kamar dengan pintu terbuka demi mendapatkan sesuatu yang bisa dibawa sebagai senjata pertahanan.
Beberapa kamar masih terlihat aman, tidak ada noda darah, aroma amis dan tulisan-tulisan aneh. Edwin sendiri sempat bingung dengan keganjilan ini.
“Apakah hanya wilayah-wilayah tertentu saja yang mengalami keanehan?”
Memang harus diakui, gangguan dan keganjilan itu sudah mulai berkurang sejak rumah boneka Mariana tidak ada lagi di dalam kediaman tersebut.
Suara-suara aneh tidak lagi terdengar meskipun bau amis dan tulisan aneh di seluruh lorong rumah masih terlihat. Darah segar juga masih keluar namun entah kenapa nyaris tidak ada yang menyerang secara membabi buta seperti sebelumnya.
“Aku harap ini bukan awal dari masalah baru.” pikirnya dalam hati.
Saat ini, Edwin sedang berada di sebuah ruangan yang mirip dengan kamar tidur tamu. Terdapat cermin yang sangat besar seukuran tubuh orang dewasa di sana.
Ketika Edwin melewati cermin tersebut, dia tidak menyadarinya namun terdapat pantulan makhluk lain di belakangnya.
Sosok mengerikan dengan wajah hancur, terlihat seperti laki-laki bertubuh tinggi yang mengeluarkan liur dan darah serta cairan yang terus keluar dari dubur dan tubuh lainnya.
Sampai saat ini, Edwin belum menyadari hal tersebut namun memang harus diakui setelah dia melewati cermin, ada aroma amis dan busuk di dalam ruangan.
“Aroma apa ini?” dia bertanya-tanya sambil mengendus-endus udara di ruangan. Tidak ada keanehan sejauh ini, namun ada sesuatu yang tidak sengaja diinjaknya.
“Basah?”
“Kenapa? Sejak kapan ini–”
Edwin menyadari ada yang tidak benar sehingga secara diam-diam, dia mencari benda berat apa saja. Di dalam kamar tersebut terdapat sebuah kamus dan beberapa benda lain.
Dia juga mengambil selimut untuk mengeringkan lantai yang penuh dengan cairan aneh yang amis dan bau itu.
“Ini bukan darah dan bukan nanah. Sekalipun nanah, ini bukan nanah biasa. Kenapa bisa?”
Saat dia memutuskan untuk keluar dari ruangan dan melewati cermin di kamar itu kembali dengan membawa kamus besar di tangannya, Edwin sempat melirik ke arah cermin dan melihat sebuah penampakan yang mengerikan.
“...!!!”
Matanya terbelalak namun dia tidak memberikan reaksi mendadak. Dengan cepat, dia melemparnya ke arah cermin sampai cermin itu pecah dan…
“Waaaaakh!!!!”
Teriakan besar terdengar di seluruh ruangan. Edwin menyadari bahwa ada sesuatu yang mengikutinya sejak terjungkal di tangga dan seperti ada sosok lain yang mengikutinya namun siapa yang menyangka bahwa hal yang menjadi sumber kengerian itu bisa terpantul di cermin dengan jelas.
Dia bergegas lari dari ruangan itu.
“Aku tidak menyangka akan ada hal seperti ini lagi. Aku harus menemukan Lucas dan Keane sebelum makhluk itu–”
“Graaaaa!!!”
Tiba-tiba dari arah depan, Edwin diserang dan dicekik oleh makhluk yang baru saja dilihatnya pada cermin.
“Kaaagh!!”
Aroma amis dan cairan menjijikan yang keluar dari dubur serta mulut makhluk itu sangat tidak sedap dicium.
Terlebih, dia berada satu jengkal dari wajah Edwin yang membuat Edwin mungkin akan muntah jika tidak sedang diserang seperti itu.
Tubuh Edwin terangkat hingga kakinya tidak lagi berada di lantai setinggi satu senti. Ini memang cukup menakutkan karena Edwin bahkan sulit bernapas sekarang.
Cekikannya makhluk itu sangat kuat hingga darah mulai keluar dari leher Edwin karena kuku-kuku yang tajam itu melukainya.
“Ini…tidak akan mudah…”
“Tubuh…tubuhku tidak bisa…kaaaagh!!!”
Edwin memukul-mukul tangan makhluk itu dan mendorong wajahnya agar menjauh, namun dia tidak berhasil.
Saat Edwin mulai melemah, terdengar teriakan keras dari arah belakang makhluk itu.
“Pak tua!!”
Dari pencarian yang sebelumnya dilakukan oleh Edwin, di saat semua titik terang sedikit terlihat, makhluk itu semakin erat mencekiknya.