Ketika pertemuan yang menyebalkan harus di bayar dengan sebuah obsesi cinta seorang CEO muda, kaya raya, dan tampan. Namun, semua itu tak mampu menaklukan kerasnya hati Jane, seorang gadis muda yang berusaha menjaga martabat dan harga dirinya saat berhadapan dengan pria sombong, selalu bertingkah mesum, dan juga ceroboh seperti Joe.
Mampukah Joe memperjuangkan cintanya?
Ikuti kisah yang melibatkan intrik bisnis, ketegangan romantis, dan pertarungan hati antara Joe dan Jane.
Cerita ini berlanjut ke season 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marthin Liem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Milikku, Jane!
Jane semakin memburuk moodnya akibat tingkah laku Joe.
Bahkan, dia telah melewatkan makan siang bersama Irsan, saat waktu hampir menunjukkan pukul 4 sore.
Namun, Joe masih mengemudi dengan sangat lambat, karena sengaja memperlambat perjalanan mereka, ia ingin merengkuh lebih banyak waktu bersama Jane.
"Jonathan, bisakah kamu mempercepat sedikit?" Jane mengeluh dengan nada kesal, menginginkan mereka tiba lebih cepat.
Ia melirik jam tangannya, panik karena hampir terlambat pulang kantor.
Joe, dengan nada sombong, menjawab, "Sabarlah, Jane. Kamu ini kan pergi bersamaku, tentu kamu tahu siapa aku, bukan?"
Jane berteriak frustasi. "Ah, sudahlah. Lebih baik aku yang mengemudi!" Ia mencoba merebut kemudi dari tangan Joe, tetapi Joe menolak keras.
Joe melarang, "Eit, Jane, jangan begitu!"
Terjadi rebutan sengit atas kemudi, menciptakan situasi berbahaya di dalam mobil.
"Sini, aku yang mengemudi. Kamu itu benar-benar lelet, bikin aku emosi!" Jane terus berusaha merebut kendali.
Joe berteriak panik, "Jane, hati-hati!" Mobil mereka hampir menabrak pembatas jalan saat keduanya saling rebutan kemudi.
"Awas, Jane!" Joe berteriak untuk yang kedua kalinya, kilat itu menyadarkannya akan peristiwa mengerikan di Ciwidey, di mana mobilnya hancur parah dan tubuhnya cedera.
ia bersikeras untuk mencegah peristiwa yang kemungkinan akan jauh lebih tragis itu terulang kembali.
Dengan cekatan, Joe menekan pedal rem, memaksa mobil berhenti sejenak di bahu jalan.
Jane masih memprotes Joe dengan nada kesal, menyalahkannya yang lelet dalam mengemudi.
"Jane, jika kita menabrak seseorang, itu bisa berakibat fatal!" Joe merungut, wajahnya tegang.
"Sialan, itu semua karena kamu yang terlalu pelan bawa mobilnya!" Jane membalas dengan wajah yang merendahkan, kedua lengannya melipat di atas dada.
Joe menatap Jane dengan emosi. "Kenapa, memangnya? Kamu kangen sama si Irsan? Ingat, mulai saat ini kamu adalah milikku!" Joe mengangkat suaranya, menegaskan klaimnya terhadap Jane, meskipun tidak ada persetujuan dari Jane.
Jane menertawakan Joe dengan sinis. "Haha... aku baru sadar, kamu itu benar-benar mengidap masalah mental yang serius! Dasar, sakit jiwa!" Jane mencibir, membuat Joe murka.
Ia meraih bahu Jane dengan kasar dan menegurnya.
"Berani kamu menyebutku begitu?" Joe menyelipkan matanya dengan tajam.
Jane segera melepaskan diri dari cengkraman Joe. "Jangan main-main, ya!" Jane menunjuk Joe dengan tatapan tajam.
Joe tersenyum licik. "Jane, aku bisa membuatmu tergila-gila padaku!" batinnya penuh dengan nafsu dan ambisi, matanya berkilat dengan ancaman.
Setelah cekcok di dalam mobil, Joe akhirnya melanjutkan perjalanannya. Jane menghela napas frustasi dan merapatkan dirinya di kursi.
"Aku ingin resign!" Jane dengan tulus mengungkapkan perasaannya yang semakin tidak tahan terhadap campur aduk masalah pribadi dan pekerjaan yang diterapkan Joe.
Joe tersenyum sinis, masih fokus mengemudi sambil sesekali menatap wajah Jane. "Resign? Tidak semudah itu, Jane."
Jane tidak mengendur. "Kenapa tidak? Aku benar-benar tidak nyaman bekerja dalam kondisi seperti ini, apalagi dengan seorang bos yang gak waras seperti kamu."
Joe menunjukkan gigi dalam senyuman sinisnya. "Hei, kamu tidak bisa mengundurkan diri begitu saja, ingatlah! Kamu telah menandatangani kontrak untuk beberapa tahun ke depan. Dan jika kamu melanggarnya, kamu harus bersiap-siap untuk menghadapi konsekuensi serius, mengerti?"
Jane mendengus dan memutar matanya mendengar ancaman dari Joe. Dalam hatinya, ia semakin yakin bahwa situasinya semakin tak tertahankan dan kacau.
"Jika aku tahu kalau semuanya akan berakhir seperti ini, aku tidak sudi untuk bekerja di perusahaannya!" batin Jane, merenungkan nasibnya yang semakin sulit.
Joe terus mengoceh, tanpa henti, membuat Jane semakin jengkel.
Tanpa kata-kata, Jane memutuskan untuk melepaskan diri dari percakapan ini dengan memasang headset di kedua telinganya dan berpura-pura tidur, larut dalam melodi lagu yang mengalun.
Joe baru menyadari bahwa Jane sudah tertidur, dan dengan cermat, dia melepaskan salah satu headset dari telinganya, penasaran dengan lagu apa yang tengah dinikmati oleh Jane.
Setelah mengetahui lagu favorit Jane, Joe tiba-tiba mencopot kedua headset tersebut dari telinga Jane dan memainkan lagu tersebut melalui sistem audio mobil.
Awalnya, Jane merasa emosi atas tindakan tak sopan yang di lakukan oleh Joe.
Namun, seiring berjalannya waktu, ekspresi wajahnya mulai berubah, dan dia terlihat sangat nyaman ketika lagu favoritnya diputar dengan keras, memenuhi seluruh ruang mobil.
Suasana yang tadinya tegang pun berubah menjadi lebih menyenangkan.
Mereka mendengarkan lagu "Nothing's Gonna Change My Love for You," dan Joe mengejutkan Jane dengan fakta bahwa lagu ini adalah salah satu favoritnya juga.
Ia mulai bernyanyi sepanjang perjalanan, semangat mengikuti melodi yang penuh emosi.
Lalu, Joe mengaktifkan fitur karaoke di mobil dan mengajak Jane untuk berduet menyanyikan lagu tersebut.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan apartemen Jane karena jam kantor sudah selesai.
"Astaga, bahkan aku sampai lupa, padahal aku merahasiakan tempat tinggal ku," batin Jane, sambil menunjukkan apartemennya kepada Joe.
"Joe, aku harus turun sekarang," pamitnya. Joe dengan cepat menggenggam tangan Jane, seolah enggan melepaskannya.
"Tidakkah kamu ingin aku singgah sebentar?" goda Joe dengan senyum genit. Jane menatapnya dengan ekspresi kesal yang dipenuhi dengan sedikit sinisme.
"Gak!" Jane dengan tegas menolak dan, setelah membuka sabuk pengaman, dia segera keluar dari mobil dan menutup pintu dengan keras sebelum melangkah menjauhi Joe.
Joe melihat Jane pergi dengan senyuman lebar. "Jane, kamu tidak akan bisa lari dariku!" batinnya sambil memberikan ancaman samar.
Setelah tiba di unit apartemennya, Jane merambat ke kamarnya dan dengan malas merobohkan dirinya di atas tempat tidur, terus memikirkan tindakan dan perilaku Joe terhadapnya.
"Argh! Merasa seperti terpenjara jika begini terus!" keluh Jane, sementara dia berusaha melepaskan cincin pemberian Joe yang masih tersemat kuat di jari manisnya. "Cincin ini benar-benar sulit dibuka!" Jane terus mencoba, namun cincin berlian berwarna biru itu tetap sulit dilepas.
"Bagaimana jika Mas Irsan curiga?" Jane berpikir dengan gelisah, sambil mondar-mandir di kamar, tak memiliki jawaban pasti.
...
Keesokan harinya, di hari Minggu yang cerah, pukul 10 pagi, Irsan memenuhi janjinya untuk mengajak Jane jalan-jalan.
Jane telah berdandan sangat cantik, mengenakan pakaian elegan dan make-up natural yang menyempurnakan penampilannya.
Irsan datang tepat waktu, menunggu di depan gedung apartemen, ia menelpon singkat untuk memberitahu Jane bahwa ia sudah tiba.
Dari balkon apartemennya, Jane menyambut panggilan dengan antusias, wajahnya bersinar dengan senyum bahagia, sementara wajah Irsan tak bisa menyembunyikan ekspresinya yang takjub.
"Wah, dia sudah siap rupanya," gumam Jane dengan senyum puas, sengaja membuat Irsan menunggu sebentar untuk menguji kesabaran kekasihnya.
Beberapa menit kemudian, Jane turun dengan cepat karena ia tidak tahan melihat Irsan menunggu dengan cemas di bawah apartemennya.
Tanpa kata-kata, dia muncul di belakang Irsan secara diam-diam dan naik ke belakang motor sang kekasih, memeluk erat pinggangnya.
Irsan tersenyum di balik helmnya, dan dengan lembut mengelus tangan yang berani memeluknya.
"Aku sudah siap, ayo kita jalan sekarang!," ajak Jane. Irsan menoleh sejenak, ingin melihat wajah kekasihnya di pagi yang cerah ini.
"Kamu begitu cantik," puji Irsan dengan lembut, membuat kedua pipi Jane memerah.
"Ah, Mas, kamu selalu bisa membuatku tersipu malu," balas Jane dengan senyum malu-malu.
"Mas buka dulu helmnya!" titah Jane dengan rengekan manja.
"Loh, kok di suruh di buka sih? Katanya mau jalan sekarang, kan?" Irsan heran tetapi ia tak ingin menolak permintaan kekasihnya.
"Aku kangen, aku ingin lihat wajah ganteng nya kamu," pinta Jane sambil meletakan dagu di bahu Irsan.
"Iya, aku buka ya." Irsan langsung melepas helmnya dan menoleh.
Tatapan matanya membuat Jane semakin terkesima dan jatuh hati.
"Aw... Pangeranku." Jane dengan gemas menyentuh hidung Irsan yang mancung, dan berusaha mengecup bibirnya.
Namun, ia sadar mereka ada di tempat umum, dan Irsan pun tak mengizinkannya.
Ia ingin berpacaran sehat dengan Jane, tak mau menyentuh secara berlebihan.
Irsan memberikan helm cadangan kepada Jane, setelah siap mereka meluncur ke tempat tujuan.
Kali ini, Irsan memutuskan untuk membawa Jane ke salah satu arena bermain paling terkenal di Jakarta.
Hari Minggu, suasana ramai dengan pengunjung yang datang dari berbagai penjuru.
"Mas, kita coba naik Bianglala, ya!" ajak Jane, dan Irsan dengan senang hati menyetujui.
Mereka berdua menaiki Bianglala raksasa, duduk bersebelahan, dan menikmati pemandangan indah kota Jakarta dari ketinggian.
"Mas, lihat, itu gedung mall dekat apartemenku, bisa terlihat dari sini," kata Jane, menunjuk dengan jari telunjuknya. Irsan mencoba menahan pandangan untuk melihatnya.
"Iya, kamu benar," ucap Irsan, lalu mereka berdua mengambil beberapa foto dengan berbagai pose menarik dan romantis.
Selanjutnya, Irsan membelikan Jane permen kapas dan topi karena melihatnya kepanasan.
Mereka melanjutkan petualangan dengan naik kereta di wahana rumah hantu.
"Mas, aku agak takut!" ujar Jane, yang meraih lengan Irsan dengan erat saat mereka naik ke atas kereta.
"Tidak perlu takut, itu hanya trik untuk menakut-nakuti, sama sekali tidak nyata," kata Irsan dengan senyum yang berusaha menghibur.
Jane yang ketakutan meraih tubuh Irsan dengan erat, berteriak setiap kali hantu-hantu di wahana tersebut mencoba untuk menakut-nakutinya.
"Eh, Buju!" latahnya tiba-tiba, membuat Irsan tertawa keras.
"Mas, aku beneran takut!" rengek Jane, mencoba menutup kedua matanya dan bersembunyi di balik tubuh Irsan ketika hantu-hantu yang lebih menyeramkan muncul.
Irsan malah tertawa geli, menikmati ketakutan lucu yang ditunjukkan Jane.
Setelah menyelesaikan wahana rumah hantu, mereka mencari wahana lain yang lebih menantang.
"Yuk, kita naik Halilintar!" ajak Irsan dengan semangat, mencoba untuk menantang Jane. Namun, Jane menggeleng. "Aku takut ah, Mas, gak berani!"
"Belum mencoba saja sudah bilang takut?" goda Irsan dengan nada rayu.
Jane menatap sekeliling dan melihat seorang anak kecil dengan riang bermain di sekitar wahana tersebut.
"Lihat anak kecil itu!" Irsan menunjuk dengan jarinya. "Tak mungkin kamu kalah nyali sama anak kecil, kan?" Irsan terus mencibir, menantang Jane.
"Baiklah, aku tidak takut!" Jane memutuskan dengan tekad yang baru muncul, merasa tertantang untuk menghadapi ketakutannya.
Tiba-tiba, seorang anak laki-laki berteriak memanggilnya dari kejauhan, "Kakak cantik... "
Jane tidak asing dengan suara itu. Ia segera menoleh dan mencari keberadaannya.
...
Bersambung...