NovelToon NovelToon
Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.

Claire mendapatkan sebuah notifikasi..

[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]

Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.

Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rayden

Berseberangan dengan atmosfer di dalam kamar yang terasa begitu panas dan seolah menghimpit napas, taman di samping mansion megah itu justru menjelma menjadi panggung keriuhan yang didominasi oleh celotehan riang Michel. Gadis kecil dengan energi yang tak habis-habis itu dengan nada memerintah yang menggemaskan, memaksa Rayden untuk memanjat dan menguras habis seluruh buah mangga yang bergelantungan di dahan pohon.

Rayden sendiri masih merasa heran bagaimana dirinya bisa sampai terjebak bersama sepasang anak kembar, Michel dan Mikael--- meskipun sedari tadi Mikael hanya berdiri bergeming dalam diam, mengamati perdebatan sengit namun jenaka antara Rayden dan saudari kembarnya dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Namun, bagi Rayden yang pada dasarnya memiliki titik lemah terhadap anak-anak, rasa kesal sama sekali tidak menemukan celah untuk tumbuh di hatinya.

Malam itu menandai momen bersejarah baginya, karena untuk pertama kalinya Rayden membuang rasa malas yang biasanya mendarah daging dan memutuskan untuk menghadiri jamuan makan malam di kediaman keluarga ibunya—sebuah keputusan yang akhirnya mempertemukannya secara perdana dengan sosok Michel dan Mikael yang berhasil meruntuhkan pertahanannya.

" Heh, bocil! Ini mangga udah satu keranjang penuh. Capek tau nggak nangkring dimari, berasa jadi kalong saku!" keluh Rayden sambil mengelap keringat di dahi, kakinya masih bertengger di dahan pohon mangga yang cukup tinggi.

Michel berkacak pinggang, dagunya terangkat menantang. "Apalah Angkel ini, lemah! Ndak lihat itu mangga na macih banak nyangkut di atas? Tadi Micel dengel jelas banget, mangga na teliak-teliak manggil Micel. Katanya, 'Tolong makan aku, heal me!'... begitu!"

Rayden mendengus remeh, hampir saja ia terpeleset dahan. "Dasar bocah ngadi-ngadi! Sejak kapan mangga ikut kursus bahasa Inggris? Mana ada mangga bisa ngomong, apalagi minta di-healing!"

"Belalti telinga Angkel ndak cakti! Kebanyakan di pake buat dengel janji manis godain cewek cantik, maka na cuala mangga yang tulus ndak dengel!" balas Michel tak mau kalah.

Rayden melotot dari atas pohon, nyaris melempar mangga di tangannya. "Heh, sembarangan! Mulutnya ya, minta dikasih cabai? Uncle ini masih perjaka ting-ting, tahu! Nggak pernah pacaran. Apa itu pacaran? Di kamus Uncle cuma ada kata kerja bakti, nggak ada pacaran. Uncle mah prinsipnya langsung nikah!"

Michel menutup mulutnya, pura-pura kaget dengan ekspresi yang dibuat-buat. "Ih, itu bukan pelincip, Angkel. Itu namanya ndak laku, makanya macih jomblo nanas!"

Rayden terdiam sejenak, keningnya berkerut dalam. "Jomblo nanas? Bahasa planet mana lagi itu?"

"Apalah Angkel ini, bahaca gaul ndak tau! Itu loh, olang yang cudah acem, belduli, telus ndak laku-laku, namanya jomblo nanas!" sahut Michel dengan tingkat kepercayaan diri maksimal.

" HEH BOCAH! Nggak ada sejarahnya bahasa gaul kayak gitu!" teriak Rayden gemas, ia segera turun dari pohon dengan gerakan lincah. "Yang ada itu jomblo ngenes! Kamu baru saja ngatain Uncle jomblo ngenes, hah?!"

Michel langsung bersembunyi di balik punggung Mikael yang sejak tadi hanya diam menyimak seperti patung bernyawa. "Bukan Micel loh yang bilang balucan, Angkel cendili yang cadal!"

Rayden mengelus dadanya berkali-kali, berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi bocah empat tahun itu. "Sabar... sabar... Rayden ganteng harus sabar."

Mikael akhirnya membuka suara, suaranya kecil namun telak. " Uncle, kalau sudah turun, tolong kupaskan mangganya. Michel sudah lapar, nanti dia makin cerewet."

Rayden melongo menatap Mikael. "Lah, kamu juga sama saja? Bukannya belain Uncle yang habis manjat, malah minta jatah kupas?"

Mikael hanya mengerjapkan mata dengan polos, sementara Michel menjulurkan lidah di balik punggung kembarannya. Malam itu, Rayden sadar, menghadapi dua bocah ini jauh lebih melelahkan dari pada belajar bisnis.

Namun, tepat ketika jemarinya mengambil satu buah mangga, sebuah dentuman keras dan lengkingan suara yang amat ia kenali pecah dari balik dinding megah hunian itu—suara ibunya. Bukannya tersentak panik, Rayden justru terpaku diam, mengecilkan pupil matanya yang sejenak mengerjap sebelum akhirnya memasang ekspresi tenang yang nyaris dingin.

Ia justru mengabaikan rengekan Michel untuk cepat mengupas mangga nya dan mulai memasang telinga lebar-lebar, membiarkan setiap kepingan kata dari keributan di dalam sana merayap masuk ke dalam indra pendengarannya dengan penuh ketelitian.

PRANG! Suara vas pecah menyusul kemudian. Rayden mematung, telinganya tegak seperti radar.

Michel mengerjap bingung. "Cuala apa itu, Angkel? Belicik na... kayak kaleng klupuk jatoh."

Mikael tetap datar tanpa ekspresi. "Itu suara orang bertengkar, Michel.. otak mu itu cuma penuh sama makanan saja."

Michel mendengus.

Mata Rayden berbinar, senyum miring muncul. "Asyik! Asyik! Ada drama seri live nih! Rugi kalau nggak nonton di barisan depan!"

Tanpa aba-aba, Rayden langsung berlari sekencang - kencang nya seolah dia tidak boleh melewatkan pertunjukan live itu.

Michel melongo. "Loh? Angkel Ayden jadi kelinci ya? Cepet banget lali na..."

Suasana sangat mencekam. Glenna bersimpuh di lantai, jemarinya mencengkeram celana kain Maxime dengan kuat. Wajahnya sembap oleh air mata yang tampak dipaksakan.

"Dengarkan aku, Mas... tolong! Aku dijebak! Mana mungkin aku selingkuh sama pelayan rendahan itu? Ini pasti jebakan seseorang.. ini pasti perbuatan, Claire.. dia yang menjebak kami."

Maxime menepis kaki Glenna dengan kasar, suaranya menggelegar. "CUKUP GLENNA! Mataku tidak buta! Aku melihatmu bergerak di atas pria itu dengan sadar! Dan yang lebih menjijikkan, bukan hanya kau, tapi kedua keponakanmu juga ada di sana! Keluarga ini benar-benar memiliki darah murahan yang mengalir di nadinya!"

Rayden muncul dari balik pilar, berjalan santai seolah baru saja pulang dari taman bermain. "Ada apa sih, Pah? Kok rame banget, sampai kedengaran ke pohon mangga?

Maxime menoleh dengan napas memburu, menatap putranya. "Mama kamu, Rayden... dia mengkhianati Papa. Dia selingkuh tepat di bawah atap rumah ini!"

Glenna yang melihat Rayden, seolah menemukan pelampung di tengah badai. Ia merangkak mendekati putranya. "Sayang! Rayden, anakku... tolong Mama! Jelaskan sama Papa kamu kalau ini cuma salah paham. Mama dijebak, Nak! Kamu tahu Mama sayang Papa, kan?"

Rayden terdiam sejenak. Ia menatap ibunya yang memelas, lalu menatap ayahnya yang murka. Suasana hening seketika, semua menunggu ledakan amarah atau tangisan dari Rayden. Namun yang terjadi justru di luar nalar.

Rayden melompat kecil sambil mengepalkan tangan ke udara. "YEAYY! Cerai! Cerai! Akhirnya cerai juga! Gila, kenapa nggak dari dulu aja sih kejadiannya?!"

Maxime terpaku. Glenna membatu dengan mulut menganga. Bahkan Michel dan Mikael yang baru sampai di ambang pintu ikut mematung. Meski begitu mereka mendengar semuanya.

Michel mengusap matanya, bingung. " Kael... Emang Angkel Ayden ini lada-lada kok ya? Olang tua na mau picah kok malah ceneng kayak dapet lotle?"

Mikael hanya menghela napas panjang. "Itu namanya anomali psikologis, Michel. Tapi sepertinya, Uncle Rayden memang sudah menunggu momen ini sejak lama."

"Kenapa begitu?!" suara Glenna melengking, bergetar antara amarah dan rasa tidak percaya melihat anak kandungnya sendiri justru bersorak di atas kehancuran rumah tangganya.

Rayden menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang seolah membawa beban berat keluar dari dadanya. Ia menatap ibunya dengan tatapan datar, hampir terlihat kasihan.

"Ma, jujur ya... sorry to morry, nih. Rayden memang anak Mama, darah daging Mama, tapi kalau boleh jujur, Rayden justru orang pertama yang bakal sujud syukur kalau Mama pisah dari Papa hari ini juga," ucap Rayden santai, membuat Maxime dan kedua bocil di belakangnya makin melongo.

"KAMU! MAU JADI ANAK DURHAKA KAMU! KENAPA KAMU TIDAK BELA, MAMA?!"

"Kenapa? Mama tanya kenapa?" Rayden terkekeh hambar. "Ya karena kalau nggak ada Mama, nggak akan ada lagi yang setiap pagi mencekoki aku dengan ambisi busuk. Nggak ada lagi yang maksa aku buat cari cara licik mencuri status pewaris tahta keluarga Winston. Capek tahu, Ma! Capek ngikuti semua keinginan Mama demi memuaskan gengsi Mama yang setinggi langit itu... berkali-kali aku menolak, tapi Mama sama sekali nggak peduli. Yang Mama pikirkan hanyalah ambisi Mama untuk menjadi yang teratas."

Rayden melangkah mendekat, mengabaikan Glenna yang masih bersimpuh di lantai yang dingin.

"Setiap hari Mama cuma peduli gimana caranya aku bisa nyingkirin orang lain, gimana caranya aku bisa dapet harta Papa. Mama nggak pernah tanya apa aku bahagia atau nggak. Jadi, kalau sekarang Papa mau cerai karena Mama ketahuan selingkuh, entah itu dijebak atau memang Mama lagi 'khilaf' sama orang rendahan, buat aku itu adalah tiket kebebasan. Akhirnya, aku nggak perlu jadi boneka pemuas ambisi Mama lagi. Selamat ya, Pa... keputusan Papa hari ini adalah hadiah ulang tahun terbaik buat aku, meski ultahku masih dua bulan lagi!" Semua yang mendengar terpaku.

Maxime terdiam, selama ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya sampai dia tidak memperhatikan bagaimana cara Glenna mendidik putranya. Hampir setiap pagi sampai malam, Maxime selalu berkencan dengan tumpukan berkas. Ares? Jangan tanya tentang anak itu, semenjak sang Ayah mengkhianati ibunya, Ares tidak pernah peduli pada sang Ayah ataupun perusahaan Winston. Meski berkali-kali Maxime meminta Ares untuk menggantikan nya. Jawaban Ares tetap sama-- dia tidak sudi mengabdi pada perusahaan yang berdiri di atas air mata ibunya.

Bahkan jika Maxime tidak datang menemui putra pertamanya. Ares tidak akan menemuinya, malam ini saja dia cukup terkejut dengan kedatangan Ares yang tiba-tiba.

Ares yang masih ada disana dan mendengar itu semua mengepalkan tangan nya. Selama ini dia berpikir jika Rayden sama seperti ibunya yang rela melakukan apapun demi kekuasaan. Namun sekarang untuk pertama kalinya-- dia sadar akan satu hal. Rayden hanyalah seorang remaja yang di paksa untuk menjadi dewasa karena keegoisan ibunya.

BERSAMBUNG

1
Murni Dewita
double up lah thor
Sulati Cus
knp g cb tes DNA dg si twins🤔
Murni Dewita
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Murni Dewita
👣
Siti Sa'diah
wah jangan2 clair iniii
Musdalifa Ifa
WOW
Musdalifa Ifa
seru banget, selalu suka sama peran wanita yg kuat, tegas dan punya banyak kelebihan begini👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!