Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Keesokan harinya.
Sultan sedang sarapan bersama orang tua dan adiknya. Mereka makan dengan santai.
Setelah selesai sarapan, Sultan masih ngobrol dengan kedua orang tuanya. Ia berbasa-basi soal pesta semalam.
"Gimana tadi malam, bi?"
"Apanya yang gimana?"
"Acaranya sukses, kan? "
"Iya, alhamdulillah. Abi melihat adanya kemajuan."
"Alhamdulillah."
"Ck, seharusnya kamu bisa hadir juga. Bagaimana soal Lukman?"
"Alhamdulillah, Lukman sudah melamar Liana. Mereka akan menikah penghujung tahun ini."
Ummi melirik abi karena takut abi mengatakan hal yang macam-macam kepada Sultan. Benar saja, abi hampir ingin menyindir Sultan lagi. Namun abi menahannya karena lirikan maut istrinya.
"Hem... jadi siapa nanti yang akan menjadi perwakilan keluarga Lukman?"
"Ya abi sama ummi lah."
"Sudah abi duga. Tapi nggak pa-pa, abi dan ummi siap."
"Terima kasih, abi, ummi."
Sultan pun pamit kembali ke kamarnya. Setelah kepergiannya, ummi dan abi membicarakannya.
"Lihat saja, dia sangat antusias mengatur pernikahan krang lain. Tapi dirinya sendiri belum apa-apa."
"Sabar, abi. Mungkin dia masih cari yang terbaik."
"Kenapa ummi malah membelanya sekarang?"
"Bukan membelanya, tapi ingat kata-katanya abi Tristan."
"Hem.. ya ya."
Sudah jam 9 pagi, saat ibu Sultan sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ia pergi ke kantor menggunakan mobil karena pulang dari kantor ia akan menjemput Endi dan ibunya ke rumah sakit.
Sementara itu, kita beralih ke kost-an
Riri sedang berbaring tak berdaya di atas tempat tidurnya.Badannya demam, batuk pilek dan tubuhnya terasa lemas. Sepertinya, ia sedang tidak enak badan. Kemungkinan ia masuk angin dan kecapean. Beberapa hari ini ia sering tidur malam dan beberapa kali kehujanan. Jadi terpaksa hari ini ia izin tidak masuk kerja.
"Aku sudah mengirim permohonan izin kepada Pak direktur, Fir."
"Ya sudah, kamu istirahat saja. Aku berangkat dulu ya."
"Hem iya, hati-hati."
"Oke, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah kepergian Fira, Riri mengunci pintu kamarnya. Lalu ia kembali naik ke atas tempat tidur. Tadi setelah sarapan ia sudah minum obat masuk angin. Fira sudah mengajaknya ke dokter, namun ia menolak. Riri menarik selimut dan mencoba memejamkan mata.
Sore pun tiba.
Sultan baru saja keluar dari kantor. Hari ini ia memang tidak berniat untuk narik ojek. Pulang dari kantor ia langsung pergi ke rumah sakit. Ibu Endi sudah menelponnya. Sebelum melakukan mobilnya, Sultan sudah berganti baju. Ia memang selalu membawa baju cadangan di dalam mobil.
Sekitar jam 16.30 Sultan sampai di rumah sakit. Ibu Endi sudah membereskan barang-batangnya. Sultan sudah melunasi administrasi rumah sakit.
"Terima kasih, dok."
"Sama-sama, Pak."
"Ayo, bu, Rn, kita pulang. Semoga Endi terus sehat ya."
"Aamiin... "
Endi dan ibunya sangat senang bisa pulang ke rumahnya Karena seenak dan semewah apa pun di rumah sakit, tetap lebih enak di rumah meski rumahnya sederhana.
Mereka masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar. Endi dan ibunya menunggu di depan rumah sakit, sedangkan Sultan mengambil mobilnya ke parkiran.
"Ayo naik. "
Ibu dan Endi pun naik ke dalam mobil. Sultan melaju dengan kecepatan sedang.
Selama dalam perjalanan, Endi dan Ibunya memperhatikan mobil yang mereka tumpangi.
"Ternyata benar ya Om Sultan ini orang kaya. Endi baru kali ini lihat mobil kayak gini" Celetuk Endi.
"Iya leh, ibu juga."
Hal tersebut membuat Sultan mengulum senyum.
"Ini mobil dapat pinjam kok." Sahutnya.
"Om, kalau bohong dosa lho!"
Sultan tidak menjawabnya lagi.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di depan gang menuju rumah Endi. Mobil Sultan tidak dapat masuk karena gangnya hanya cukup untuk dilewati sepeda motor.
"Bu, Endi, maaf ya saya nggak bisa antar ke sampai rumah ini."
"Nggak pa-pa, kami sudah sangat merepotkan. Terima kasih banyak, pak. Semoga kebaikan bapak dibalas berkali lipat oleh Allah."
"Aamiin... "
Endi mencium punggung tangan Sultan lalu memeluknya.
"Makasih ya, om. Endi nggak tahu kalau tidak ada om mungkin Endi nggak bisa seperti sekarang."
"Sudah, jangan nangis. Anak cowok harus kuat. Sekarang kamu sudah sehat. Tapi tetap harus dijaga ya makan dan tidurnya."
"Iya, om."
Sultan pun kembali masuk ke dalam mobilnya. Hari ini ia tidak mampir ke rumah anak jalanan karena kalau pakai mobil susah untuk memarkirkan. Ia sudah menghubungi Lukman untuk hal tersebut.
Sultan pun kembali melajukan mobilnya menuju jalan pulang. Namun saat di jalan ia menemukan kerumunan orang di pinggir jalan. Sepertinya terjadi kecelakaan. Sultan memutuskan u tuk berhenti. Entah kenapa ia sangat penasaran. Ia khawatir orang yang mengalami kecelakaan adalah orang yang ia kenal.
Sultan turun dari mobil dan menerobos orang-orang yang berkerumun.
"Pak, tolong telpon ambulan! " Ujar driver ojek.
Ternyata yang kecelakaan adalah driver ojek online dan penumpangnya. Driver tersebut tidak mengalami luka meski tubuhnya terpental. Namun penumpangnya sepertinya luka parah.
"Ayo, naik ke mobil saya. Tolong dibawa ke mobil saya!" Sahut Sultan.
Sultan memicingkan matanya saat melihat penumpang yang terluka parah. Ia membuka helm yang dipakai penumpang tersebut.
"Riri...!"
"Mas, kamu kenal dengan mbak ini?"
"I-iya, saya kenal. Ini teman saya."
Tanpa banyak bicara, Sultan langsung mengangkat tubuh Riri dan membawanya ke dalam mobil. Ia juga membawa barang-barang milik Riri. Sultan juga mengajak driver ojek untuk masuk ke dalam mobilnya, namun driver tersebut menolak karena ia harus mengurus orang yang menabrak mereka. Driver tersebut meminta nomer Sultan karena takut terjadi apa-apa dengan Riri. Setelah memberi nomernya, Sultan pun langsung membawa Riri ke rumah sakit terdekat. Riri masih sadar, namun keadaannya sangat lemah.
Sampai di rumah sakit, Riri langsung masuk UGD dan ditangani langsung oleh dokter. Lukanya dibersihkan setelah itu, ia dibawa ke ruang radiologi untuk rontgen. Saat Riri ada do dalam ruangan tersebut, handphone-nya berdering. Sultan pun langsung mengangkatnya. Sultan berharap itu keluarga atau orang yang dekat dengan Riri.
"Hallo... "
"Hallo, ini siapa? Mana Riri?"
"Maaf, saya orang yang membawa Riri ke rumah sakit. Tadi dia kecelakaan."
"Astaghfirullah... yang benar saja, anda tidak sedang menipu saya, kan?"
"Tentu saja tidak, kalau tidak percaya, akan saya kirim fotonya."
"Ya Allah, Riri... malang sekali nasibmu. Sudah sakit, kecelakaan pula. Sekarang di rumah sakit mana?"
"RS AL."
"Baiklah, nanti saya akan menyusul ke sana. Tolong jaga Riri! Anda harus bertanggung jawab!"
Belum juga Sultan menjawab, Fira sudah memutus telponnya.
Fira pasti sudah salah paham. Ia mungkin mengira Sultan adalah orang yang menyebabkan Riri kecelakaan.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar