Hutang budi karena pernah ditolong, seorang pria kaya berjanji akan menikahkan putrinya kepada pemuda bernama Kosim anak orang miskin yang menolongnya.
Di lain pihak istri seorang kaya itu tak setuju. Dia tak rela bermenantukan anak orang miskin dengan rupa kerap dicemooh orang desa.
Namun sang suami tak mau ingkar janji, ia menyebut tanpa ditolong orang miskin itu entah bagaimana nasibnya mungkin hanya tinggal nama.
Akhirnya sang istri merestui namun dalam hatinya selalu tumbuh rasa antipati kepada sang menantu, tak rela atas kehadiran si menantu orang miskin yang buruk rupa.
Bagaimana jadinya? Ya, "Mertua Kaya Menantu Teraniaya."
Lebih rincinya ikuti saja jalan ceritanya di buku kedua penulis di PF NToon ini.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fendy citrawarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Tiada Maaf Bagimu
Asyik temu kangen antara ibu dan anak, mertua dan menantu, Mak Tiah terpaksa harus mengingatkan semuanya untuk menunaikan salat magrib dulu.
"Oh iya sampai lupa waktu," timpal Mpok Ipah, seraya permisi kepada semuanya untuk menunaikan salat dulu dan berjanji akan kembali.
Mak Tiah pun segera ke air, disusul oleh Kosim, Yani, dan Fitri. Jojo pun ikut bangkit dari tempat duduknya meski harus melawan rasa malas karena masih betah melihat bidadari cantik.
Usai semuanya ibadah, kembali berkumpul di tempat semula. Mpok Ipah pun sesuai janjinya dia kembali lagi.
Akan tetapi Jojo tak kembali. Dia lebih memilih rebahan di kasur sambil menatap langit-langit rumah karena di situ ada gadis bernama Fitri. Melihat dinding pun ada Fitri.
Namun kalau harus menghampiri Fitri yang sejati yang berada di rumah Mak Tiah, Jojo merasa sungkan. Bukan apa-apa, karena sudah tidak kuat lagi menahan rasa.
Betapa tidak, sejak pertama kali melihat, entah sudah berapa ratus kali dia mencuri pandang terhadap wajah nan cantik sang bidadari. Namun sang bidadari, belum sekali pun mencuri pandang ke arahnya.
"Sakiiiiit, Mak!" gumam Jojo, lalu memukul kasur yang tengah ditidurinya beberapa kali.
"Ke sana jangan ke sana jangan, ke sana jangan," Jojo tengah mempertimbangkan untuk kembali ke rumah Mak Tiah, tetapi ragu-ragu dan sedikit malu.
Maksud hati curi pandang dan berharap dicuri lagi, tetapi kenyataannya dia bukan tipe bidadari yang suka mencuri pandang pria sembarangan.
"Malu, gueeeee...." bisik hati Jojo lagi.
Sedangkan yang tengah diumpatnya kembali ikut gabung di ruang tengah melanjutkan obrolan yang sempat tertunda karena menunaikan ibadah dahulu.
Sedikit pun tak ingat terhadap pemuda yang kini tengah dihinggapi apa yang disebut orang-orang sebagai 'bucin'.
Meski demikian, Fitri sempat mengingat tadi ketika awal datang ke rumah Mak Tiah dan melihat Jojo begitu bersemangat ingin menyalaminya.
Itu bukan hal baru bagi Fitri. Pria lain pun sama saja begitu, saling berebut ingin bersalaman dengannya jika kebetulan ada kesempatan. Jadi trik 'buaya darat' sudah benar-benar diketahui Fitri.
Makanya, ketika tadi dia melihat betapa semangatnya Jojo ingin menyalaminya, Fitri segera saja mengangkat kedua telapak tangannya ke dagu biar tak dikenai tangan Jojo.
Fitri tahu betul jika tangan pria dibiarkan menyentuh kulit wanita, pasti bakal minta selebihnya. Fitri tak perlu menjabarkan apa itu selebihnya. Yang pasti, kata Bah Omod, itu berbahaya.
"Jadi, mohon maaf saja ya Kak," gumam Fitri dalam hatinya mengingat kelakuannya tadi menolak bersentuhan tangan dengan pria yang baru dikenalnya.
"Tiada maaf bagimu!"
Dalam waktu bersamaan Jojo berteriak sambil memukul pipinya sendiri.
Ya Jojo menyatakan tiada maaf bagi nyamuk yang malam itu menyergap piipi Jojo. Mungkin si nyamuk sebal, jam baru magrib Jojo sudah main rebahan di atas kasur.
"Waktu itu Jeng, Sim. Amih Iah atau Bu Haji bukan hanya mendatangi rumah Mak Tiah, tetapi ke rumah Mpok juga," kata Mpok Ipah melanjutkan obrolan.
"O ya?" Kosim menyimak dengan serius omongan Mpok Ipah.
"Kenapa sampai ke rumah Mpok segala?" tanya Kosim lagi.
"Ya kan Emakmu bilang, bahwa kamu dan Jeng Yani tidak ada di sini. Kalau tak percaya tuh tanya tetangga, ya Mpok. Gitu Sim."
"Mpok juga sempat bersitegang dengan Bu Haji. Maaf-maaf saja Jeng ya bukan menjelek-jelekkan Bu Haji d depan putrinya, melainkan kenyataannya memang begitu," kata Mpok Ipah lagi.
"Iya Mpok. Aku tidak apa-apa karena memang kelakukan Ibuku seperti itu. Aku sendiri sangat menanggung malu. Diperingati sudah beberapa kali, tetapi bersikeras bagaimana maunya dia, tak mau mendengar nasihat orang, termasuk dari anaknya, bahkan nasihat dari Bapak pun enggak digubris," tutur Yani tak ragu-ragu menerangkan kelakuan buruk ibunya.
"Yah, mudah-mudahan saja suatu saat Bu Haji kembali kepada kepribadiannya. Seingat Emak dulu, Bu Haji enggak begitu, normal-normal
saja. Namun entah mengapa seiring dengan kemajuan usaha Pak Haji bertambahnya harta kekayaan, punya rumah gedung, punya mobil, punya penggilingan padi, punya anak maju jadi berubah sikap," kata Mak Tiah.
"Aamiiin," kata Kosim diikuti yang lainnya.
"Tapi kalau kita punya keberanian menghadapinya sebenarnya Bu Haji juga tidak terlalu memaksakan diri tetapi lebih memilih mengalah. Itu artinya dalam hati beliau maih ada cahaya kebenaran," tutur Mpok Ipah.
"Nah waktu itu Mpok sempat bersitegang dan sedikit menyudutkan dengan membalikkan omongan beliau bahwa bukan hanya orang kaya yang bisa berlagak, orang misikin pun bisa, kata Mpok. Amih Iah memilih pergi, meski ada ancaman juga!" imbuh Mpok Ipah.
"Beliau langsung ke rumah ibuku Mpok. Di sana dilanjutkan memarahi aku dan Ibu. Semua kamar diperiksa juga, sudah jelas tidak ada masih juga mencari-cari ke kamar mandi, ke dapur bahkan mau ke langit-langit rumah segala," kini Fitri ikut bicara.
"O ya? Tampaknya dari sini langsung ke sana ya? Begitu bersemangat mencari Den Kosim dan Jeng Yani," tutur Mpok Ipah.
"Kalau di sini sampai naik para, Emak yang bawakan tangganya juga," ujar Mak iah. Semuanya tesenyum.
"Ya begitulah ibuku, jangankan kepada orang lain kepada anaknya sendiri sudah keterlaluan. Aku hanya berdoa semoga segera ada perubahan. Tak enak saja aku jadi perbincangan orang-orang, harus kabur dari rumah orangtua gegara kelakuan Ibu," lirih Yani yang tampaknya sudah tak tahan akhirnya dia menangis lagi.
"Sudahlah Jeng jangan jadi pikiran. Kita serahkan saja kepada Yang di Atas. Kalian berdua fokus bangun rumah tangga yang dapat dijadikan kebanggaan orangtua. Insyaallah jika kalian hidup rukun, kapan-kapan Bu Haji bakal ada perubahan, semoga!" imbuh Mak Tiah, tak henti-hentinya mendoakan anak dan menantunya juga perubahan sikap besannya.
"Sudahlah sekarang ayo kita makan, Mpok ayo sama-sama makan di sini. Mana si Jojo? Ajak ke sini biar makan bersama!" kata Mak Tiah lalu bangkit menuju dapur mau membawa makanan yang telah disiapkan walaupun tak banyak.
"Wah jangan ngerepotin Mak. Biar Kosim dan Jeng Yani Neg Fitri aja yang makan, Mpok engak usah!" ucap Mpok Ipah.
"Ayo mending sama-sama makan. Nasinya banyak, lauk-pauknya juga ada. Panggil dulu si Jojo sana Mpok!"
"Jailah dipaksa. Ya kalau gitu mah boleh. Ntar panggilin dulu si Jojo," tukas Mpok Ipah lalu keluar rumah mau memanggil anaknya.
Ternyata si Jojo lagi duduk termenung di balai-balai rumahnya entah sedang apa.
"Lagi ngapain kau di situ Jo? Itu kata Mak Tiah makan bersama, ayo temani Kosim!" ajak Mpok Ipah.
Ditawari makan yang berarati akan melihat lagi bidadari cantik, Jojo sangat senang.
Sedari tadi dia duduk di balai-balai rumahnya sendiri ditemani nyamuk dan hati galau antara mau masuk lagi ke rumah Mak Tiah ikut gabung ngobrol tapi juga ragu-ragu.
Kini ada seruan masuk untuk makan bersama, hati Jojo berbunga-bunga ada alasan masuk rumah tanpa rasa canggung.
"Ini namanya rezeki nomplok," bisik Jojo sembari turun dari balai-balai rumahnya lalu mengkuti langkah ibunya memasuki rumah Mak Tiah.
Maka, malam itu mereka makan bersama.
Mak Tiah sangat bahagia bisa makan bersama dengan anak menantu, tetangga, dan seorang gadis.
Semuanya khusuk makan hidangan yang dimasak Mak Tiah. Kosim begitu bersemangat karena dibuatkan pepes ikan kesukaannya yang sudah lama tak merasakan sejak pindah ke rumah Pak Haji Soleh.
Hanya Jojo yang makannya tak keruan karena matanya lebih sering menatap wajah bidadari daripada menatap piring nasi.
"Jo, yang bener makannya!" semprot Mpok Ipah melihat sang anak matanya jelalatan kepada perawan yang baru dikenalnya.
(Bersambung)