Ketika kekayaan harus ditebus dengan tumbal, apakah kau masih ingin menjadi kaya dengan cara instan???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAREWANGAN 31
*Dreet, dreet, drett!!
Belum lama Bu Dhe pergi, langsung berdering. Kulihat Abu menghubungiku.
"Assalamualaikum Fik," ku dengar suara Abu seperti seorang yang sedang panik.
"Waalaikumsalam Abu, ada apa ya?" tanyaku santai
"Sebaiknya kamu cepat pulang Fik, ibumu ..., Ibumu meninggal," ucap Abu Musa membuatku begitu shock hinga langsung tak sadarkan diri.
*Bruughh!!!
Wangi aroma terapi minyak kayu putih seketika membangunkan ku.
Kulihat beberapa karyawan bengkel tampak mengerubungi ku. Begitupun dengan Bu Dhe Suryati yang masih mengolesi minyak kayu putih ke kening ku.
"Kamu sudah sadar Fik?" tanyanya singkat
Aku mengganggu pelan, dan berusaha untuk duduk dibantu oleh dua orang karyawan bengkel.
"Sebaiknya kamu pulang sekarang. Kalau kamu nggak kuat bawa motor sendiri, biar nanti Hasan yang akan nganterin kamu pulang," ucap Bu Dhe seperti tahu apa yang terjadi
Melihat aku sudah siuman, Bu Dhe pun menyuruh semua karyawannya uy kembali bekerja.
"Apa Bu Dhe mau datang melayat ke rumahku?" tanyaku penuh harap
"Entahlah Fikri, untuk berjalan aja sekarang Bu Dhe kesusahan karena orang itu sudah melukai kakiku. Orang itu terlalu Sakti dan Bu Dhe kewalahan menghadapinya," jawab Bu Dhe sambil memegangi kakinya
Karena penasaran aku kemudian mengajak Bu Dhe untuk berbicara empat mata. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Bu Dhe, dan kenapa ia tak mau datang melayat jenazah Ibu.
Apa yang ia takutkan, apa dia takut sama pak Dhe Lingga??
Perlahan Bu Dhe membuka rok yang menutupi kakinya. Ku lihat kaki Bu Dhe berlubang dan dipenuhi dengan belatung.
Bukan hanya itu, bau busuknya sangat menggangu hingga membuat ku hampir mau muntah.
Bu Dhe segera menutupi kembali luka di kakinya. Ia kemudian menceritakan kenapa la sampai mendapatkan luka itu.
Ia mengatakan mendapatkan kiriman sebuah Banas Pati ( bola api) yang menyerangnya pada malam selasa kliwon saat ia mengantar air kembang ke bengkel.
Bu Dhe yang hanya seorang dukun biasa dan tak memiliki pegangan harus kalah melawan seorang dukun ilmu hitam yang memiliki peliharaan jin.
Luka lebam di tangan Bu Dhe adalah bukti bagaimana ia berusaha melawan para lelembut itu.
Begitupun luka di kakinya ia dapatkan saat kalah melawan Banas Pati yang hampir membakar tubuhnya.
"Sebaiknya mulai sekarang kau juga hati-hati Fik, karena bisa jadi kau yang akan menjadi korban selanjutnya setelah ibumu," ucap Bu Dhe
"Meskipun aku tak sempat melayat, insya Allah aku akan selalu mendoakan Ibumu semoga ia tenang di sisiNya dan diampuni dosa-dosanya,"
"Aamiin,"
Akupun segera pamit setelah mendengar cerita Bu Dhe. Sementara itu karena khawatir denganku Bu Dhe meminta Bang Hasan untuk mengantarku pulang.
Meskipun aku berusaha menolaknya tapi Bu Dhe tetap bersikeras menyuruh Bang Hasan menemani aku pulang.
Tak mau mengecewakan Bu Dhe aku pun menurutinya.
Ku berikan kunci motor ku kepada Bang Hasan. Dia adalah keponakan Bu Dhe sekaligus karyawan senior di bengkel.
Sama sepertiku Bang Hasan juga seorang yang pendiam, sehingga kami nyaris saling diam-diaman saat perjalanan pulang.
Sepeda motor melaju dengan cepat hingga tak terasa sudah hampir sampai.
Saat memasuki gerbang desa tiba-tiba motor oleng, hingga kami nyaris terguling di got. Ku lihat Bang Hasan terluka parah karena menahan motor agar tak terguling ke got.
Meskipun aku juga terluka tapi tak separah luka Bang Hasan.
"Dasar Wewe gombel, nyebrang gak lihat-lihat!" gerutu Bang Hasan
"Siapa yang menyebrang?"
"Biasa emak-emak," jawab Bang Hasan kemudian mengangkat motor dari bahu jalan.
Aku seketika menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat siapa yang menyebrang. Tapi tak ada seorangpun di sana. Jalanan tampak lengang karena memang jam segini biasanya para warga sibuk di sawah.
Ku tepis semua pikiran negatif yang mulai memenuhi kepalaku. Melihat luka serius yang dialami Bang Hasan, aku berinisiatif untuk gantian membawa motor.
"Biar Fikri aja yang bawa Bang,"
Bang Fikri menjawab dengan anggukan kepala. Ia segera duduk di belakangku.
"Bismilah," Ku tarik gas motor dan melesat meninggalkan gerbang desa.
Ku lihat rumahku dipenuhi dengan para pelayat yang berdatangan untuk bertakziah ataupun sekedar membantu proses pemakaman Ibu.
Abu Musa segera keluar dan menyambut kedatangan ku dengan pelukan.
"Yang sabar ya, ikhlaskan ibumu, semoga ini akan menjadi jalan terbaik bagi ibumu,"
"Aamiin,"
Ku langkahkan kakiku masuk ke dalam rumah. Ku lihat beberapa orang tampak membacakan yasin di depan jenazah Ibu.
Abu mendampingi ku saat aku hendak melihat wajah ibuku yang ditutup kain putih.
Aku benar-benar terkejut saat melihat wajah ibu hangus terbakar.
Rasanya aku seperti tercekik saat melihat kondisi Ibu yang meninggal dengan kondisi yang mengenaskan.
Selain wajahnya yang gosong seperti terbakar kulihat mata ibu masih terlihat membelalak dengan lidah yang sedikit keluar dari mulutnya.
Sengaja Abu melarang orang lain melihat kondisi Ibu kecuali keluarga dekat saja.
Ia benar-benar menjaga nama baik ibu, meskipun semua orang sekarang sudah tahu kalau ia adalah seorang pengabdi setan yang menggunakan Parewangan untuk mendapatkan pesugihan.
Saat pemandian jenazah pun dilakukan tertutup. Hanya aku yang memandikannya dibantu oleh seorang pemandi jenazah.
Aku menangis saat membasuh tangan lembut ibu yang selalu menyuapiku. Bahkan sampai aku dewasa ibu selalu menyuapiku karena aku memang susah makan kalau tidak di suapi olehnya.
"Ya Allah ampunilah ibuku, meskipun dosa-dosanya yang telah menyekutukan mu tak terampuni tapi ia adalah seorang ibu yang baik, Ibu yang merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Bahkan tangan ini yang selalu memberiku makan, tangan ini pula yang sudah mengajariku baca dan tulis. Tangan ini pula yang membawaku sampai ke pintu rumahMu ya Rob,"
Ku usap air mataku dan berusaha tabah. Aku tak mau larut dalam kesedihan karena itu akan memberatkan Ibu.
Selesai Memandikan jenazah Ibu aku pun ikut mendampingi saat para perias jenazah mendandani ibuku.
"Masnya mau kasih salam perpisahan terakhir gak sebelum kami kafani jenazahnya?" tanya seorang perias jenazah
Aku mengangguk pelan dan kemudian menggeser posisi dudukku mendekati Ibu. Ku cium keningnya untuk terkahir kalinya sebagai salam perpisahan dariku.
Ku bisikan doa untuk ibuku, semoga ia dilapangkan kuburnya dan diampuni dosanya.
Semua orang tampak berkumpul di ruang tamu bersiap untuk menyolatkan jenazah. Aku segera bergegas keluar untuk mengambil air wudhu. Karena kamar mandi sedang di pakai, aku memutuskan untuk berwudhu di sumur belakang.
Tepatnya di tempat Lesung ibu di letakan.
Setibanya di sana aku mencium aroma dupa yang sangat tajam. Ku lihat asap mengepul di depan pintu gudang.
Aku terkejut saat melihat sesaji yang diletakkan di sana lengkap dengan dupa yang masih menyapa.
Jika dupa saja masih menyala, artinya sesaji ini baru di buat. Toh aku lihat semua bunganya masih segar.
"Siapa yang meletakkan sesaji di sini??"
kok berubah jadi anak pakde lingga
bahasa ceritanya terlalu easy going, agak serampangan menjurus kasar untuk in-out nya.
alangkah baiknya jika bahasanya dibuat sedikit baku, kalau pun pakai tradisi / adat / mitologi / bahasa ke jawen, dibuat ke Jawa sekalian, jangan terlalu pake bahasa anak gaul sekarang, jadi ilfeel
cekap semanten
menawi lepat, nyuwun pangapunten