Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.
Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.
Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.
Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Gu Changfeng tidak langsung pergi dari Qinghe.
Dan itu adalah kesalahan pertamanya.
Awalnya ia hanya berdiri lama di ujung jalan, menatap punggung Yun Ma yang menjauh bersama pria lain pria yang tidak pernah ada dalam rencananya, tidak pernah muncul dalam bayangan masa lalu yang ia simpan dengan rapi.
Xuan.
Nama itu baru ia dengar.
Tapi keberadaannya terasa… mengganggu.
“Tenang saja,” gumam Gu Changfeng pada dirinya sendiri. “Aku hanya ingin tahu.”
Kalimat klasik orang-orang yang akan melakukan hal bodoh.
Qinghe dari Sudut Pandang Orang Asing
Gu Changfeng menyewa kamar kecil di penginapan dekat gerbang kota.
Ia memberi alasan sederhana: pedagang luar yang ingin singgah beberapa hari.
Tidak ada yang curiga.
Qinghe tidak curiga pada orang yang datang tanpa sikap mencurigakan.
Dan Gu Changfeng cukup pintar untuk terlihat… biasa.
Hari pertama, ia hanya mengamati.
Dari kejauhan.
Ia melihat Yun Ma berjalan ke balai obat setiap pagi.
Membantu orang tanpa banyak bicara.
Tertawa kecil sesuatu yang hampir tidak pernah ia lihat dulu.
Ia melihat seekor srigala hitam besar sering duduk di dekatnya.
Dan seekor rubah berekor dua yang terlalu santai untuk dianggap normal.
“Hidup yang aneh,” gumamnya.
Hari kedua, ia melihat Yun Ma di pasar.
Berbicara dengan pedagang sayur, menawar harga seperti warga biasa.
Tidak ada sikap bangsawan.
Tidak ada jarak.
Hari ketiga, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh.
Yun Ma dan Xuan.
Mereka tidak selalu berdampingan.
Tidak selalu berbicara.
Tapi selalu tahu posisi satu sama lain.
Xuan membawa keranjang.
Yun Ma membawa obat.
Mereka berjalan sejajar.
Tenang.
Tanpa drama.
Tanpa pamer.
Gu Changfeng mengepalkan tangan.
“Sejak kapan dia hidup seperti ini…?” bisiknya.
Orang yang Terlalu Banyak Melihat
Masalahnya, Gu Changfeng terlalu lama melihat.
Dan Qinghe… bukan kota bodoh.
Hari keempat.
Xuan menyadari sesuatu.
Awalnya hanya perasaan.
Tatapan yang terasa terlalu sering.
Bayangan yang muncul di sudut penglihatan, lalu menghilang.
Xuan bukan orang yang mudah cemburu.
Ia terbiasa dengan ancaman nyata—politik, pedang, keputusan besar.
Namun ini…
Ini menjengkelkan dengan cara yang sangat pribadi.
“Yun Ma,” katanya sore itu, saat mereka menyusun botol obat.
“Hm?”
“pria itu sering berdiri dekat toko teh sejak tiga hari lalu?”
Yun Ma berhenti sejenak." siapa maksudmu?”
“mantan tunangan mu” jawab xuan
“Oh... Gu Changfeng.”
Xuan mengangguk pelan.
Lalu berhenti lagi.
“Dia… sering melihat ke sini.” ujar xuan
“Dia memang penasaran.” jawab Yun Ma
“Kenapa?” tanya Xuan
Yun Ma menjawab datar, tanpa emosi.“Karena dia tidak suka kenyataan bahwa aku baik-baik saja.”
Kalimat itu membuat Xuan diam.
Tidak marah.
Tidak langsung bereaksi.
Namun ada sesuatu yang mengencang pelan di dadanya.
-------
Malam itu, mereka duduk di halaman rumah.
Hui bergelantungan di balok kayu.
Ye tidur, setengah siaga.
Ayin sedang menyeduh teh.
Dan Xuan… terlihat lebih pendiam dari biasanya.
Hui menyipitkan mata.
“Oh.”
Yun Ma melirik.
“Oh apa?”
“Dia cemburu,” kata Hui santai.
Ayin tersedak teh.
Xuan menoleh cepat.“Aku tidak....”
“Dia cemburu,” ulang Hui lebih keras. “Aku bisa mencium aromanya.”
“Itu tidak bekerja begitu,” bantah Xuan.
“Untuk rubah kontrak tua sepertiku, iya.”
Yun Ma menatap Xuan.
Xuan menghindari tatapan itu.
“Itu… tidak penting,” katanya akhirnya.
“Kalau tidak penting,” kata Yun Ma tenang, “kenapa kau terlihat seperti ingin menyapu seluruh Qinghe sendirian?”
Ayin menahan senyum.
Hui terkekeh.
“Dia ingin menandai wilayah.”
“AKU TIDAK.....”
“Tenang,” potong Yun Ma. “Aku tidak keberatan kau jujur.”
Xuan terdiam.
Lalu menghela napas panjang.
“Aku tidak suka caranya melihatmu,” katanya akhirnya. “Seperti… dia berhak tahu segalanya.”
Yun Ma tersenyum kecil.
“Itu masalahnya.”
-----
Keesokan harinya, Gu Changfeng melakukan kesalahan kedua.
Ia mendekati Ayin.
Dengan sopan.
Dengan senyum ramah.
Dengan pertanyaan yang terlalu halus untuk tidak mencurigakan.
“Nona,” katanya, “bolehkah aku bertanya tentang Yun Ma?”
Ayin menatapnya datar.
“Tidak.”
Gu Changfeng tersenyum kaku.
“Aku hanya—”
“Aku tahu siapa kau dan aku melupakan aku diapa,” potong Ayin. “Tapi aku tidak tertarik membantumu memahami hidup seseorang yang kau tinggalkan.”
Gu Changfeng terdiam.“Aku hanya ingin tahu apakah dia bahagia,” katanya lebih pelan.
Ayin menatapnya lama.“Kalau kau benar-benar peduli,” katanya dingin, “kau tidak akan berdiri di kejauhan seperti pencuri.”
Gu Changfeng mundur satu langkah.
Dan tanpa ia sadari Xuan berdiri tidak jauh dari sana, mendengar semuanya.
------
Sore itu, Xuan datang ke balai obat lebih awal.
Terlalu awal.
Yun Ma mengangkat alis.
“Jembatan selesai?”
“Sudah.”
“Kau biasanya pulang setelah matahari turun.”
Xuan tidak menjawab langsung.
Ia membantu menyusun botol.
Lalu berkata pelan,
“Aku tidak suka dia ada di sini.”
Itu kalimat paling jujur yang pernah ia ucapkan tentang hal pribadi.
Yun Ma berhenti.
Menatapnya.
“Karena cemburu?”
Xuan mengangguk kecil.
“Iya.”
Tanpa malu.
Tanpa pembelaan.
Yun Ma tersenyum.
Bukan mengejek.
Bukan menggoda.
Lebih ke… hangat.
“Terima kasih,” kata Yun Ma
“Untuk apa?” tanya Xuan
“Untuk peduli.” jawab Yun Ma
Xuan menatapnya lama.“Aku tidak akan membiarkannya mengganggumu.”
“Aku tahu.” jawab Yun Ma
“Aku serius.” ujar xuan
Yun Ma melangkah lebih dekat lalu memeluk xuan.“Aku juga serius,” katanya pelan. “Aku memilih di sini. Denganmu. Sisanya… tidak relevan.”
Wajah Xuan memanas.
Hui muncul entah dari mana.“Wah. Ini lebih manis dari teh Ayin.”
Ayin dari dalam berteriak,“JANGAN BIKIN BALAI OBAT JADI TEMPAT PACARAN.”
Xuan tertawa kecil.
Yun Ma ikut tertawa dan Gu Changfeng yang melihat mereka dari kejauhan
akhirnya mengerti sesuatu yang paling menyakitkan.
Ia bukan kalah oleh pria lain.
Ia kalah oleh ketenangan yang tidak bisa ia berikan.
Penutup Sementara
Malam itu, Qinghe tetap tenang.
Gu Changfeng masih ada.
Masih mengamati.
Namun posisinya sudah jelas
di luar.
Sementara Xuan duduk di samping Yun Ma, meminum teh yang terlalu pahit.
“Tehnya tidak enak,” gumamnya.
“Biasakan,” jawab Yun Ma. “Hidup di sini tidak selalu manis.”
Xuan tersenyum.
“Selama kau ada, aku tidak keberatan.”
Hui pura-pura muntah.
Ye mengibaskan ekor.
Dan untuk pertama kalinya, kecemburuan itu tidak menjadi racun—
melainkan pengakuan.
Bersambung.
tapi happy sesuai pribadi masing-masing🥰🥰🥰
makasih banyak, Thor 🥰
udah nyuguhin cerita yang seunik ini 🥰
lanjut ke cerita selanjutnya, semoga lebih menarik lagi 💪🏻💪🏻💪🏻
sehat selalu 💜💜💜
tapi menikmati 🥰🥰🥰