Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal dari Rahasia
CHAPTER 33
"Aku ingin bergabung ke Nightshade!"
Itu yang dikatakan Akari dengan sorot mata yang penuh tekad. Kai belum sepenuhnya menerima Akari, namun ia tetap membawanya ke Kediaman Nightshade.
Keesokan harinya....
Akari melangkah menuju ruangan Kai, ditemani oleh Shun yang bertugas mengantar dan berjaga-jaga. Tak lama kemudian, mereka tiba di ruangan Kai.
Kai terlihat sedang duduk dengan tenang. Ia menyuruh Akari dan Shun untuk duduk di sofa. Kai memanggil Akari ke ruangannya bukan karena akan menerimanya di Nightshade.
Melainkan, Akari akan ditanya alasan mengapa dia ingin bergabung ke Nightshade.
"Kenapa.... Kau ingin bergabung?" ucap Kai dengan tatapan mata yang mengintimidasi.
Akari meneguk liur akibat tatapan Kai yang mengancam. "Aku sudah tahu kebenarannya," ucap Akari sambil mencoba tetap tenang.
"Tentang...." balas Kai dengan singkat.
"E-eksperimen yang ada di Justice," keringat Akari menetes di tangannya. "Dan.... aku ingin menghancurkan Justice," lanjutnya.
Kai terlihat tersenyum tipis. Ia menghentikan pertanyaan dan langsung menerima Akari. Namun, Kai masih belum mempercayainya dan memerintahkan semua anggota Nightshade untuk mengawasi Akari tanpa dia ketahui.
Setelah itu, Shun mengajak Akari berkeliling Kediaman Nightshade dan memberitahu letak kamarnya. Shun membawanya ke berbagai tempat.
Ke Ruang Perawatan, Ruang Penelitian, Dapur, Ruang Hiburan, dan yang terakhir adalah Ruang Pelatihan. Di sana, Riot sudah menunggu karena saatnya Shun melakukan latihan.
Riot mendekat perlahan dan tepat berdiri di depan Shun serta Akari.
Riot menoleh ke arah Akari. "Kau mau ikut latihan?"
"T-tidak," balas Akari dengan cepat.
Setelah itu, Riot kembali menghadap Shun sambil tersenyum lebar. Tiba-tiba, ia mengambil dua sabit sawah dengan kecepatan luar biasa dan langsung menyerang secara horizontal.
Shun sudah mengantisipasinya. Ia menunduk dan secara paksa menundukkan Akari juga—jika tidak, kepala Akari bisa terpotong.
Shun langsung mendorong Akari karena Riot menyerang dengan kedua sabitnya secara vertikal. Ia cepat mengambil dua belatinya dan menangkis serangan Riot.
Kling! Kling!
Percikan api berhamburan saat kedua senjata mereka saling beradu.
Shun mendorong Riot dan melompat mundur untuk mengambil posisi siap. Ia melompat-lompat secara mendatar kemudian menghilang, dan dengan kecepatan luar biasa, muncul tepat di depan Riot.
Sambil menghentakkan kaki kanan ke tanah dan mengayunkan belati di tangan kanan secara horizontal, Shun menyerang dengan cepat. Namun, Riot masih bisa menghindar dengan melompat jauh ke belakang.
Karena ada kesempatan untuk bernapas, keduanya mengaktifkan Tennya masing-masing. Sabit sawah Riot berubah menjadi senjata ninja Kama, sedangkan bilah kedua belati Shun menjadi hitam dengan ujung yang sangat tajam, dan gagangnya berubah warna menjadi merah.
Riot bersiap menyerang. "Shun, walau aku benci mengakuinya, tapi kau sudah berkembang dari sebelumnya."
Shun juga bersiap menyerang. "Begitu ya? Apa sebentar lagi aku bisa mengalahkan master?" Shun tersenyum sombong.
"Hah! Jangan sombong dulu bego!" Riot tiba-tiba melesat ke arah Shun seperti kilat.
Shun sedikit terkejut. Riot langsung menyerangnya dari sisi kanan dan kiri secara terus-menerus. Shun bisa menangkisnya namun masih kesulitan; pakaiannya perlahan-lahan sobek akibat serangan Riot yang semakin cepat dan beringas.
Akari yang melihatnya dengan mulut terbuka kagum karena kecepatan bertarung Riot. Namun, ia segera berhenti dan memutuskan untuk ikut latihan serta membantu Shun.
Akari berlari sambil mengambil pistol yang tergantung di pinggangnya. Ia mengaktifkan Ten, dan pistolnya berubah menjadi lebih futuristik dengan ukiran yang rumit dan memancarkan aura energi ungu. Akari berhenti dan membidik Riot.
Merasa sudah tepat sasaran, ia menarik pelatuknya. Peluru melesat cepat menuju Riot yang masih menyerang Shun. Saat sudah dekat, Riot menyadarinya dan berbelok menghindar.
Dengan kehebatan luar biasa, Riot memotong peluru itu menjadi dua bagian dengan sabitnya. Namun, ia tidak tahu bahwa peluru tersebut bisa meledak.
DUAARR!
Ledakan keras terjadi tepat di dekat Riot. Memanfaatkan kesempatan untuk bernapas, Shun berlari mendekat ke Akari.
"Oi, Shun.... Dia tidak mati kan?" ucap Akari yang tampak takut.
"Kau pikir? Master bukan manusia biasa... Dia itu monster berwujud manusia," ucap Shun sambil ngos-ngosan.
Ya, dari dalam asap ledakan, Riot berlari cepat menuju Shun dan Akari. Akari terkejut karena ledakan pelurunya jauh lebih kuat dari bom biasa.
Riot langsung menyerang Akari, namun Shun dengan cepat menangkisnya dan menyuruh Akari berpindah posisi. Meskipun tidak suka disuruh, Akari tetap mengikuti arahan Shun.
Shun mendorong Riot dan melompat mundur karena Akari mulai menembak. Kali ini, Riot tidak membelah peluru, melainkan memilih untuk menghindar dengan gerakan akrobatik yang memukau.
Peluru demi peluru, ledakan demi ledakan mengarah ke Riot namun dengan mudah dihindari. Tidak hanya dari Akari, Shun juga menyerang Riot dari balik asap bekas ledakan peluru.
Karena Shun menyerang dari balik asap, Riot kesulitan menghindar dan menyerang. Shun melesat sambil menyerang cepat; Riot masih bisa menangkisnya namun beberapa serangan Shun tetap mengenai tubuhnya.
Tak lama kemudian, Riot memejamkan mata dan membiarkan serangan Shun mengenai dirinya. Ia membuka mata dan melemparkan salah satu Kama ke atas, sementara yang satunya dikibaskan ke kanan dengan cepat. Ajaibnya, Kama yang dikibaskan itu menghentikan pergerakan Shun karena sisi tajamnya menempel di lehernya dan membuat goresan tipis.
Shun terkejut, dia tidak menyangka riot bisa melakukan hal itu.
Kama yang dilemparkan ke atas terlihat berputar cepat dan memancarkan aura merah yang mengerikan. Akari yang melihatnya menembaknya berulang kali—namun itu adalah kesalahan, karena setiap tembakan membuat Kama tersebut semakin mendekat ke arahnya.
Tiba-tiba Akari terduduk, kakinya gemetar dan tidak bisa digerakkan. Kama itu melesat cepat menuju dirinya. Ia memejamkan mata dan berpikir akan mati.
Namun, hal itu tidak terjadi. Saat ia membuka mata, Kama tersebut terhenti oleh rantai berwarna biru tua yang berasal dari Retsu yang baru saja tiba di Ruang Pelatihan.
Retsu menarik rantainya dan mengambil Kama milik Riot. "Ya ampun.... Riot, kau serius ingin membunuh mereka?"
Perlahan asap menghilang, dan terlihat Shun yang terhenti akibat aksi Riot.
"Haaa...." Riot menghela napas dan mendekati Retsu. "Aku hanya ingin sombong saja," ucapnya sambil tersenyum miring.
Retsu mengembalikan Kama-nya, dan Riot menghentikan latihan untuk beristirahat sejenak. Akari yang masih terduduk diam belum percaya dengan kekuatan Riot.
Sampai akhirnya ia dipanggil Shun untuk mendekat. Pertarungan pertamanya menyaksikan Riot membuat Akari berpikir bahwa Riot pasti bisa mengalahkan anggota sepuluh jari Voda yang terkuat, yaitu nomor satu atau lebih tepatnya "One".
Akari duduk di dekat Shun dan berbisik. "Hei, Shun.... Kenapa serangan terakhirnya bisa tepat sekali begitu?"
"Ohh itu, master sudah sering menggunakan teknik itu saat berlatih," ucap Shun. Kemudian ia langsung bertanya ke Riot, "Master, kalau tidak salah teknik yang kau pakai tadi menggunakan semua indera, ya?"
"Iya, memangnya kenapa? Kau mau belajar juga?" ucap Riot.
"Hmmmm... Lain kali aja deh," jawab Shun dengan ragu-ragu.
Karena Shun berpikir bahwa teknik tersebut belum terlalu penting untuk dipelajari saat ini. Tak lama kemudian, pintu Ruang Pelatihan terbuka dan terlihat Kai bersama Suika, Shinji, Frederica, serta Yuzuriha.
Yuzuriha melambaikan tangan ke arah Shun dan langsung mendekat. Semua orang bertanya mengapa Kai dan yang lain datang bersama ke Ruang Pelatihan.
Kai dan mereka lainnya duduk di dekat mereka. Terlihat Suika membawa catatan hasil penelitiannya yang tampaknya sangat penting.
Shun dan Akari tentu saja tidak tahu apa-apa tentang penelitian yang dilakukan Suika.
"E-emangnya kau meneliti apa?" ucap Shun dengan suara gugup.
"Kemampuan Ten Voda," jawab Suika dengan singkat.
Kemampuan Ten Voda yang belum banyak diketahui orang akhirnya akan terungkap.
Seperti apa kemampuan Tennya?