Hangga menatap gadis kecil di hadapannya,
" bunda sedang tidak ada dirumah om.. ada pesan? nanti Tiara sampaikan.." ujar gadis kecil itu polos,
Hangga menatapnya tidak seperti biasanya, perasaan sedih dan bersalah menyeruak begitu saja, mendesak desak di dalam dadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
subuh
Tangan Hangga masih gemetar, entah karena menahan hasratnya yang besar, atau menahan dinginnya udara subuh.
Laki laki itu menyandarkan kepalanya di kursi rotan yang terletak di terasnya,
menghisap sedikit demi sedikit rokoknya sembari sesekali memejamkan mata.
Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas perasaannya kacau.
" Sialan.." gumamnya pelan, ia menyesali pengendalian dirinya yang lemah.
Biasanya tidak begitu, Hangga adalah orang yang sangat mampu mengendalikan diri.
Tapi setiap berdekatan dengan Rani, semua pengendalian diri dan kesabarannya runtuh, hanyut terbawa perasaannya yang menggunung.
Kabut tipis turun menyelimuti villa dan perkebunan, membawa hawa dingin yang menusuk.
Lagi lagi laki laki itu mengeluh kesal, hasratnya belum juga reda, Rani benar benar memikatnya, padahal ia sudah tidak lagi muda, dan Rani juga bukan gadis yang masih remaja, tapi kenapa setiap Rani menyentuhnya jantungnya berdetak tak seperti biasanya, ada desiran yang sulit ia tampik.
" Sudah bangun mas? Atau tidak tidur?" Suara Sunar berjalan mendekat ke teras.
Sunar membawa tali rafia.
" Lho? Sedang apa kau Nar, masih pagi buta?" tanya Hangga heran, ini baru menjelang subuh, dan kabut pun masih menghalangi pandangan mata.
" Saya ndak bisa tidur e mas, mangkannya saya ngecek pohon, kalau ada buah yang perlu saya ikat ya saya ikat.." jelas Sunar.
" Ojo ngawur Nar, bahaya naik pohon dalam kondisi gelap dan kabut begini, wes masuk sana! coba tidur sejam atau dua jam!" tegas Hangga khawatir.
" ndak bisa e mas.. Sudah di paksa merem.."
" owalah..!" keluh hangga saat mendengar jawaban sunar.
" Mas sendiri? Apa ndak tidur?" sunar duduk di bawah,
" hei, dingin! sini duduk di atas!" perintah hangga,
sunar yang mendengar perintah itu patuh dan duduk di kursi rotan, tak jauh dari hangga.
" Sampean mboten tilem ( tidak tidur )tho mas?" tanya Sunar lagi,
Hangga menggeleng, lalu menghembuskan asap rokoknya.
" Lha ada sayangnya kok malah ndak bisa tidur.." goda Sunar,
" opo ae.." Hangga mengabaikan ucapan Sunar.
" Apa saking senengnya sampai ndak bisa tidur?" tanya Sunar lagi.
" kau membicarakan siapa Nar?"
" nggih sampean, nggih saya.." Sunar tertawa kecil, pemuda itu memang sedang kesemsem dengan gadis yang tinggal di atas bukit, disana kebetulan ada beberapa dusun, rata rata penghasil penduduk di dusun itu adalah jagung dan kopi,
biasanya penduduk dusun itu turun seminggu sekali atau bahkan dua minggu sekali.
" Kalau suka kenapa tidak di lamar Nar?" tanya Hangga yang sudah tau kalau anak buahnya itu sedang jatuh cinta, hanya baru kali ini saja keduanya ada waktu untuk bicara.
" Lha sampean? kenapa tidak segera menikah lagi saja?" bukan menjawab, Sunar malah balik bertanya, membuat Hangga langsung melotot.
" Kau ini di tanya malah bertanya!" hangga terlihat sedikit kesal dengan pemuda di hadapannya itu.
" Kalau saya yo jelas.. Belum ada dana untuk melamar.. uangnya masih di tabung, belum punya rumah sendiri..
kalau sampean kan jelas tho mas.."
" jelas opo?"
" jelas sudah punya semuanya.."
" ah, ngomongmu enak sekali.."
" nggih penak tho.. wong tinggal ngomong.." Sunar lagi lagi cekikikan seperti sengaja membuat Hangga kesal.
" Buru buru mas, awas diambil anak pak carik dan pak guru.." lanjut Sunar.
Mendengar itu Hangga mengambil bungkus rokoknya dan melemparnya dengan keras ke arah Sunar,
" Sudah malas kerja disini nar?" bungkus rokok itu mengenai dada Sunar, cukup keras sehingga membuat Sunar meringis.
" Ampun mas, masih mau kerja.." ucap Sunar sembari menggosok dadanya.
Sekitar dua jam kemudian, Hangga yang tidak sadar tertidur di kursi teras itu terbangun mendengar suara Gerbang yang terbuka.
Mata Hangga sayup sayup menangkap sosok Pak Woyo membuka pagar, sementara Rani sudah bersiap menaiki motornya.
Hangga bangun dengan terburu buru dan berjalan dengan cepat ke arah Rani.
" Mau kemana?" Hangga menarik motor Rani agar tidak turun dan keluar dari gerbang.
" Mau pulang, ini sudah jam lima pagi." jawab Rani tanpa memandang Hangga.
Ekspresi wajahnya sudah berbeda dari yang kemarin kemarin, keketusan dan kesinisan nya sudah hilang entah kemana,
yang tersirat di wajahnya hanya rasa malu, malu atas kepasrahannya pada Hangga tadi malam.
" Perlu ku antar?" tanya Hangga masih belum rela membiarkan Rani pergi, bayangan kemesraan semalam masih belum hilang dari benaknya.
" Tidak, setidaknya pikirkanlah nama baikku,"
mendengar itu Hangga tersadar, ia mengangguk.
" Lalu tiara? Tidak sekolah? biar kuambil bajunya ya sebentar lagi, lalu biar ku antar sekolah?"
" Tidak usah, biarkan hari ini dia ijin saja, pulang dari sekolah akan kuambil,"
" apa tidak apa apa bolos?"
" aku yang mengajar murid kelas satu, jadi akulah gurunya,"
mendengar itu Hangga tersenyum, ia senang, tentu saja, rani akan kembali kesini untuk mengambil Tiara.
" Ya sudah.." ucap Hangga, lalu mendekatkan wajahnya ke kepala Rani dan,
" cup.." satu kecupan di kening,
" cup.." satu lagi kecupan di bibir.
Rani sontak menatap Hangga, setengah membeku, ingin marah tapi ia tidak punya tenaga untuk melakukan itu, ada pak Woyo yang memandangi mereka di depan gerbang.
Rani mengigit bibir bawahnya, menahan malu, bisa bisanya Hangga melakukan hal itu di depan orang lain, sungguh terang terangan.
" Hati hati.." suara lembut Hangga membuyarkan pikiran Rani, tapi tidak rasa malu Rani.
.....