Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.
Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Huda bungkam selama beberapa saat usai mendengar nama Novi disebut oleh Arin. Pria itu bertatapan dengan sang istri dengan lekat.
Manik mata Arin sudah menggenang dengan air mata. Wanita itu berusaha keras untuk menahan tangisnya di depan Huda.
"Tolong pelanin suara kamu," ucap Huda dengan suara lembut. "Ada banyak orang di luar sekarang. Takutnya Umi sama Abi dengar suara kita."
Arin yang tadinya berbicara dengan suara meledak-ledak, kini mulai tenang dan menuruti Huda dengan patuh. Pastinya Huda tak mau keributan antara dirinya dengan sang istri, terdengar hingga ke luar.
"Kita duduk dulu di sini. "Kita bicara yang baik-baik, ya?" ucap Huda.
Setelah kelepasan menyebut nama Novi, Arin tetap diam dan menuruti kemauan suaminya tanpa banyak protes. Huda mulai menceritakan banyak hal mengenai Novi dan awal mula bagaimana keluarganya bisa kenal dekat dengan Novi.
"Riski mulai mengalami trauma saat rezeki masih berusia dua tahun," ungkap Huda mulai bercerita. "Waktu itu, Riski kesulitan bicara. Riski juga nggak mau bersosialisasi. Riski berubah jadi pendiam dan tertutup."
Arin mendengarkan cerita suaminya dengan seksama tanpa memberikan banyak komentar.
"Saat itulah, Riski kenal sama Novi. Novi yang udah bantuin Riski sampai sekarang. Novi bantuin Riski sampai bisa bicara lagi. Novi yang bantuin Riski sampai Riski mau berbaur lagi sama orang-orang. Sejak saat itu, Riski jadi dekat sama Novi sampai sekarang," ujar Huda. "Novi bisa ngurus Riski dengan telaten sampai akhirnya Riski bisa berbicara lancar lagi dan beraktivitas normal tanpa terganggu traumanya."
Huda fokus menceritakan bagaimana dekatnya Riski dengan wanita bernama Novi. Tentu saja cerita dari Huda itu justru membuat kemarahan di diri Arin semakin melonjak. Apalagi Huda bercerita mengenai peran Arin dalam membantu Riski mengurus trauma.
Arin tertawa hambar. Ternyata sudah ada sosok ibu yang lebih cocok bagi Riski selain dirinya.
"Kalau Novi emang sedeket itu sama Riski, Riski pasti seneng banget punya ibu kaya Novi. Mas sendiri juga cukup dekat sama Novi, kan? Kenapa Mas nggak nikah sama Novi aja?" seru Arin kemudian. "Mas bisa dapetin ibu yang cocok dan bisa bantuin Mas ngurus Riski. Aku bisa pulang ke rumah kedua orang tua aku sekarang."
Tentu saja Huda tidak terima mendengar perkataan ngawur dari istrinya itu. Kata-kata Arin terdengar seperti permintaan pisah di telinga Huda. Dengan mudahnya, wanita yang sudah menjadi istrinya itu meminta dirinya untuk menjadikan wanita lain sebagai pendamping, seolah pernikahan mereka tidak ada artinya.
"Arin!" seru Huda dengan suara meninggi.
Huda tak menyangka jika cerita yang ia sampaikan hanya membuat Arin semakin salah paham. Arin dan Huda sama-sama terbakar amarah yang membuatnya keduanya hampir saja saling melontarkan kata-kata menyakitkan.
Suasana kamar Huda dan Arin mendadak menjadi hening. Pasangan suami istri itu sibuk meredam amarah masing-masing. Mereka butuh waktu untuk menetralkan suasana hati yang saat ini masih diliputi emosi.
Tak lama kemudian, Huda mendekat ke arah sang istri dan berlutut di depan Arin. Pria itu menggenggam tangan Arin dan menatap sang istri yang tengah menunduk.
"Arin ...."
"..." Arin diam dan membiarkan Huda berbicara. Wanita itu saat ini masih belum bisa berpikir jernih.
"Mas tahu kamu kesel. Mas nggak nyangka kalau kamu bakal kesel karena kehadiran Novi," ujar Huda. "Tapi tolong jangan berbicara seperti itu lagi, ya? Kamu ini istri Mas. Kita sudah menikah. Kamu nggak nganggep pernikahan kita sebagai permainan, kan?"
Arin masih menutup mulut rapat-rapat. Wanita itu benar-benar sakit hati, hingga Arin tak mau lagi melanjutkan pernikahan dengan Huda.
"Saat seseorang sudah memutuskan untuk menikah dan berkomitmen, bukan hal mudah untuk berpisah, ataupun berpoligami. Mas udah milih kamu, Arin. Cuma karena Novi deket sama Riski, bukan berarti Mas pengen Novi hidup sama Mas dan jadi pendamping Mas," cetus Huda.
"Mas tahu, Mas bukan pria yang sempurna. Tanpa Mas sadari, Mas udah bikin kamu terluka dan salah paham seperti ini," sambungnya.
"Wanita mana pun juga akan merasa tersingkir kalau suami sama anaknya sudah terlanjur dibuat nyaman sama wanita lain," ungkap Arin. "Aku emang nggak bisa bantu banyak. Aku cuma bisa nyusahin Mas dan bikin masalah. Tapi apa salah kalau aku nggak terima lihat suami sama anak aku ngabisin waktu sama perempuan lain?"
Huda paham betul maksud Arin. Huda juga tidak bermaksud membuat Arin cemburu atau sakit hati. Huda hanya ingin menenangkan Riski, dan tepat saat ia membutuhkan bantuan, Novi hadir mengulurkan tangan.
"Maaf, Rin. Novi emang deket sama Riski, tapi kita nggak ada hubungan apa pun. Novi itu pengajar di TK Riski, Rin. Karena itu Riski bisa deket sama Novi," terang Huda. "Kalau memang keberadaan Novi di sini selama beberapa hari ini bikin kamu nggak nyaman, Mas akan minta Novi buat berhenti datang ke sini," seru Huda.
"Mas akan larang Novi ke sini lagi. Mas akan lakukan apa pun asal kamu nggak pulang," imbuh Huda.
Huda menggenggam erat tangan Arin dan memohon dengan sangat. "Tolong jangan pulang ke rumah orang tua kamu, Rin. Tolong jangan tinggalin Mas sama Riski di sini."
***
semangat up nya thor 💪💪💪