NovelToon NovelToon
Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Pernikahan Kedua Di Negeri Ginseng

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Magisna

Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhirnya Bertemu Secara Langsung

Kelakuan Ryu Jeong yang mesum hampir meledakkan jantung Anjani. Terlebih saat matanya memberi tatapan seperti itu, benar-benar mengacau hormon.

Anjani melarikan diri ke dalam kamar, lalu berseru dari dalamnya, “Kau saja yang tidur di situ! Aku di kamarku!”

Menghindar, sesuatu itu masih salah jika diteruskan, jangan terbawa, begitu Anjani menyadarkan diri setelah terpisah jarak dari lelaki itu sambil mengusap dada karena jantung yang kacau degup.

Jeong sempat terkejut dengan responnya, namun terkekeh kecil dan geleng-geleng, entah kenapa jadi merasa lucu.

“Kau naif sekali, ya. Benar-benar seperti kelinci.”

Terlalu banyak yang dia suka dari Anjani, hingga hal kecil seperti menyeka keringat pun masuk dalam list-nya.

"Tidak apa-apa kau tidak luluh padaku, biar aku saja yang luluh padamu."

Itu cukup!

Memiliki tak harus dengan hatinyaーsementara ini.

Saat ini, meski keinginan dalam dada menuntut lebih, gejolak testosteron mendorong untuk mengejar, tapi egois bukan penyelesaian. Anjani dia dapatkan dengan cara alot dan tarik ulur, jadi harus pelan-pelan dan sangat tenang.

"Sudah sejauh ini, aku tidak boleh melakukan kesalahan ... walau setipis grafena."

Cara menggenggamnya hanya dengan ikatan yang jelas, Anjani adalah orang yang seperti itu. Karakternya tak suka bermain-main, namun halus. Menyukai hal-hal logis dan tidak banyak membuang waktu. Meskipun cintanya pada Ahn Woojun termasuk yang tidak logis dan sangat membuang waktuーmenurut Ryu Jeong.

“Yeah, seperti ini dulu sudah bagus," katanya, ajian menahan diri. Setelahnya memutuskan merebah di kasur yang sudah digelar Anjani, melipat lengan untuk jadi sanggaan kepala. Tersenyum-senyum menatap ke langit-langit sambil membayangkan wajah Anjani yang lucu tadi, sampai kemudian terlelap juga.

Pagi harinya ....

Saat Jeong membuka mata, Anjani sudah 'tak ada.

Padahal ini masih pagi sekali.

Secarik kertas ditemukannya di atas meja lipat bersama menu sarapan sederhana yang disiapkan wanita itu di pojok kasur yang direbahi.

'Aku pergi bekerja. Maaf tidak membangunkanmu. Menu sarapan ini mungkin tidak begitu enak, tapi cobalah, setidaknya untuk mengganjal perutmu sebelum pulang.'

"Apa ini yang dinamakan usiran secara halus?" Sesaat memikirkan kata terakhir Anjani dalam tulisan, sebelum kemudian abai dan beralih pada hal lain. "Ini akhir pekan, kenapa dia masih harus bekerja juga?"

Tak habis pikir karena bagi Jeong itu sangat konyol dan berlebihan. Orang harus punya kesempatan untuk menyenangkan diri di hari libur, hanya merebah malas pun tak apa-apa.

 "Kalau sudah menikah denganku, 'tak akan kubiarkan kau seperti ini lagi. Kau harus jadi nyonya yang paling bahagia, cukup sambut dan layani aku dengan senyuman manis dan gaun tipis. Semuanya ... akan aku berikan, kau hanya perlu menerimanya.”

Memikirannya saja sudah membuat Jeong hampir gagal bersabar.

Sekarang harus mengalah dulu pada batas, tidak bisa melarang apa yang masih ingin dilakukan Anjani. Dia tahu, bukan sekedar kebutuhan, pekerjaan-pekerjaan itu adalah kebahagiaan bagi seorang wanita dari negeri yang jauh.

Meski agak kesal karena tidak sempat bertemu dulu, itu teralihkan saat membuka tutup mangkuk dari makanan yang dihidangkan Anjani bersama secarik kata yang mengecilkan perasaannya karena merasa diusir.

“Wah, dia perhatian sekali."

Nasi telur dengan bubuk wijen. Di piring lain, rebus sayuran dan irisan tomat jadi pelengkap sebagai tambahan serat.

Tanpa berlagak lagi, Jeong langsung melahap semua makanan itu. "Wah! Enaknya ...." Hingga tandas.

Selepas membereskan bekasnya, dia memutuskan mandi. Sempat bergidik saat tiba-tiba mengingat kenangan konyol tentang tikus kecil di kamar mandi yang dijejaki itu. Dari jijik karena tikus, kemudian lari pada sosok Anjani yang saat itu ketakutan hingga tak sadar dengan kondisi tubuhnya yang telanjang bulat.

"Aku tidak mengira akan menerima berkah sebesar itu," kicaunya dengan kekehan seorang penjahat mesum.

Habis ritual dan keluar dalam keadaan wangi sabun dan shampo milik Anjani, bunyi nyaring terdengar dari ponselnya di atas meja. Sekilas saja melihat nama, langsung diangkat.

"Ya, Raon."

Sesuatu dijelaskan Raon dengan satu kalimat panjang tanpa disela Ryu Jeong di balik telepon.

"Baiklah. Biarkan dia sampai kemari. Aku akan mengejutkannya." Seulas senyuman jahat tercetak di wajah pengacara itu.

Panggilan ditutup bersama tatapan keji.

Berpikir sebentar sambil menatap satu titik di sebuah sisi, memejamkan mata, lalu menjentik jari. "Oke."

Sekarang tatapannya menghentak ke pintu kamar. "Di sana!"

Tanpa berpikir lagi, ruangan itu dia masuki.

"Semalam Anjani menawariku tidur di sini, jadi tidak masalah 'kan jika sekarang aku sedikit memanfaatkannya?"

Lemari single di pojok kanan, lalu Jeong melangkah ke sana. Membukanya dan melihat-melihat, kemudian tersenyum setelah menemukan sesuatu yang sepertinya akan sangat berguna dengan apa yang akan dia lakukan.

"Ahn Woojun ... akhirnya kita akan bertemu secara langsung,” katanya dengan seringai sama. “Baiklah, semoga kau menyukai kejutan yang akan aku berikan."

Beberapa saat kemudian, ketukan dari luar rumah terdengar, menyusul suara panggilan setengah nyaring, “Anjani!"

Suara Ahn Woojun.

"Anjani!"

Ini masih cukup pagi, Woojun berpikir Anjani masih ada di rumahーbelum pergi bekerja.

"Anjani aku akan masuk!"

Saat gagang pintu dipegang, Woojun sedikit heran. "Tidak dikunci," gumamnya. Itu bukan kebiasaan Anjani. "Apa dia sedang keluar membuang sampah?" Terdorong asumsi itu, matanya kemudian melirik ke samping kanan di mana Anjani biasa meletakkan kantung sampahnya sebelum dibuang. "Masih ada."

Dua kantong kecil sampah masih tergolek.

"Jika di dalam, kenapa dia tidak keluar?"

Anjani pasti akan gegas membuka pintu jika ada yang datang, sekalipun itu dirinya yang sudah sangat dibenci.

"Apa dia sakit?!"

Singkat pertanyaan itu akhirnya mendorong Ahn Woojun membuka pintu, masuk ke dalam rumah.

"Anjani!" panggilnya lagi. "Anjani apa kau sakit?!"

Namun saat akan melepas sepatunya, pasang sepatu lainーyang bukan milik Anjani atau miliknya saat masih tinggal di sana, melebarkan bola mata lelaki itu. "Sepatu ... siapa itu?"

PATS!

Matanya melotot ke depanーke pintu kamar. Isian di dalam dada sudah merusuh.

Lebar langkah kakinya terayun ke arah kamar tanpa memindai ruang.

"Anjani!"

BRAK!

Demi seisi bumi, mata Ahn Woojun mungkin hampir meloncat. Pemandangan yang dilihatnya bagai sengatan listrik yang melumpuhkan seluruh indra.

Seorang pria bertelanjang dada, tidur di kasur, miring memeluk guling, membelakanginya.

Menambah kekacauan isi kepala Ahn Woojun, sehelai celanadalam yang mungkin milik Anjani, dan sesuatu lainーsobekan kemasan kondom yang sudah kosong, tercecer berbeda tempat di dekat lelaki di atas kasur.

Sekarang, pria yang tentu saja adalah Jeong itu, berbalik badan, rautnya akting khas bangun tidur, matanya menatap kecil ke wajah Woojun. "Kau siapa?" tanyanya sambil menguap, lalu bangkit terduduk.

"Seharusnya aku yang bertanya ... siapa kau ... Bajingan?!" Ahn Woojun bertanya geram, gigi beradu gesek menghasilkan nada menekan dan sangat berat.

"Aku ...?" Jeong menunjuk diri sendiri. “Akuー”

"Di mana Anjani?!" sambar Woojun, memungkas tak sabar. Telapak tangan di kedua sisi tubuhnya sudah mengepal.

"Anjani?" Jeong malah tersenyum sinting, mendongak ke wajah Woojun, lalu menjelaskan dengan nada yang santai, "Tadi pagi kami mandi bersama, dia pergi bekerja setelah menyuruhku tidur lagi saja."

"KEPARAAAT!"

1
Batsa Pamungkas Surya
woojoon.. kau yg buat luka seolah olah kau yg jadi korban... hadeeech😄
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hadeuh banget emang, Kak
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
👍 mantap
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan⏩ laah🙏
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap, Kak.
makasih masi membaca. Up-nya agak slow. aku sedang menggarap satu buku pria--action--lagi. do'akan lancar ya.
total 1 replies
Machan
kesian amat ya. padahal banyak yg nganggur di pasar
Machan
aku lebih romantis dari mereka lho, nyonya ju. klo mo tau, sini mampir😜
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
sebut saja, Malaikat tanpa saraf 😝
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Sepertinya kenalan lama 🤔
Batsa Pamungkas Surya
jangan tunggu lama lama
Batsa Pamungkas Surya
semngat up nya💪
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Hehe, insyaAllah, Kak.
total 1 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Hmmh... blekok 😌
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Iklannya sekarang makin meresahkan, asal scroll bab berikutnya, pasti disambut dua iklan yang syulit diskip 🥴
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Babu!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Bajjjjjiiiingaaaaaan....!!!
DZIIIING... 🤜🥴💨
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Idungnya pesek gak, Pak? 😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Hahaha 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐
Tipsnya buat Tuan Berkaki Panjang!
Selamat jingkat buat Author!
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Jingke... jingke...
total 2 replies
Drezzlle
nah gitu pintar dikit 😒
Drezzlle
udah beban masih juga bisa ngasih janji palsu ke wanita lain😒
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Ketidakbergunaan rata2 jarang disadari sama pelakunya🤣
total 1 replies
Drezzlle
dan kau masih percaya mereka akan bercerai. bulol/Curse/
Batsa Pamungkas Surya
lanjutkan lah
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: Siap.
Btw, terima kasih selalu hadir, Kakak😍
total 1 replies
Drezzlle
trik apa ini? apakah menyembunyikan bangkai lagi/Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!