NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Gasekil (Gadis Seratus Kilo)

Mengejar Cinta Gasekil (Gadis Seratus Kilo)

Status: tamat
Genre:Cinta Karena Taruhan / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:46.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Raska adalah siswa paling tampan sekaligus pangeran sekolah yang disukai banyak gadis. Tapi bagi Elvara, gadis gendut yang cuek dan hanya fokus belajar, Raska bukan siapa-siapa. Justru karena sikap Elvara itu, teman-teman Raska meledek bahwa “gelar pangeran sekolah” miliknya tidak berarti apa-apa jika masih ada satu siswi yang tidak mengaguminya. Raska terjebak taruhan: ia harus membuat Elvara jatuh hati.

Awalnya semua terasa hanya permainan, sampai perhatian Raska pada Elvara berubah menjadi nyata. Saat Elvara diledek sebagai “putri kodok”, Raska berdiri membelanya.

Namun di malam kelulusan, sebuah insiden yang dipicu adik tiri Raska mengubah segalanya. Raska dan Elvara kehilangan kendali, dan hubungan itu meninggalkan luka yang tidak pernah mereka inginkan.

Bagaimana hubungan mereka setelah malam itu?

Yuk, ikuti ceritanya! Happy reading! 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Takut Kehilangan

Raska menutup bukunya. Ia berdiri. Tanpa tergesa, tanpa ragu, ia melangkah beberapa langkah dan duduk di antara Vicky dan Gayus.

Gerakannya tenang. Dingin. Seolah itu keputusan paling logis yang bisa diambil.

Bella membeku sepersekian detik. Senyumnya tertahan. Tangannya menggenggam buku sedikit lebih erat.

Elvara melirik ke arah itu. Hanya sekilas.

Alisnya terangkat tipis, nyaris tak terlihat, lalu kembali menunduk ke soal di depannya. Keripik kembali masuk ke mulutnya dengan ritme santai.

“Jadi ini perubahan setelah kemarin,” batinnya singkat.

Wajahnya tetap datar. Tak ada reaksi berlebihan. Tak ada komentar.

Di antara mereka, suasana tetap tenang, namun bagi yang peka, jelas ada garis baru yang baru saja ditarik.

Dan Bella… kini berdiri di sisi yang salah dari garis itu.

Bella akhirnya duduk di sebelah Elvara. Jarak mereka dekat, tapi atmosfernya dingin.

Elvara tetap seperti biasa, buku terbuka, pulpen bergerak, tangan satunya meraih keripik. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi.

Baru soal pertama, Bella sudah mengernyit. “Nomor satu ini… pakai rumus apa ya?”

“Dilatasi,” jawab Elvara singkat tanpa menoleh.

Bella mengangguk cepat, lalu membuka buku catatan. “Yang… gimana, sih?”

Elvara menarik napas pendek. “SS f(x) jadi—”

“Eits, bentar,” potong Bella. “Jangan cepet-cepet. Gue tulis dulu.”

Elvara berhenti bicara. Ia menunggu.

Setelah rumus ditulis, Bella menatap kertasnya lama. Terlalu lama.

“Ini… f-nya yang mana ya?” tanyanya lagi. “Terus x-nya yang dipakai yang mana?”

Trio komentator saling pandang.

Asep mendecak pelan. Vicky memutar pulpen. Gayus menghela napas nyaris tak terdengar.

Elvara akhirnya menunjuk soal. “Yang diketahui ini. Ini fungsi awalnya. Ini nilai x. Tulis dulu di ‘diketahui’.”

Bella menulis. Berhenti. Menghapus. Menulis lagi.

Beberapa detik berlalu.

“Soal satu gue skip dulu, deh,” katanya akhirnya, nadanya mulai ragu.

Soal dua.

Ia mengerjakan… setengah yakin.

Soal tiga, ia berhasil.

Lalu soal empat.

Bella mengangkat wajah. “Nomor empat ini rumusnya apa ya?”

Raska tetap diam. Tidak menoleh. Tidak membantu. Tatapannya lurus ke buku, seolah Bella tidak ada.

Sebelum Elvara membuka mulut, suara Vicky menyela, tenang, tapi dingin.

“Belajar kelompok itu,” katanya santai, “bukan sesi tanya jawab satu arah.”

Bella menoleh.

Asep langsung menyusul, tanpa niat memperhalus. “Kerjain dulu soalnya. Salah gak apa-apa. Nanya melulu itu namanya numpang nilai.”

Bella tercekat.

Gayus menutup dengan nada datar, hampir akademis. “Secara metodologis, proses itu tidak efektif. Kamu tidak belajar, kamu bergantung.”

Hening.

Bella menunduk menatap bukunya. Tangannya menggenggam pulpen terlalu erat.

Tak ada yang membela. Tak ada yang melunak.

Elvara kembali menulis. Raska tak bergeser sedikit pun. Trio komentator kembali ke soal masing-masing. Seolah Bella sudah tak termasuk di sana.

Beberapa detik kemudian, Bella berdiri. “Yaudah,” katanya singkat, nadanya kaku.

Ia menutup bukunya dan pergi.

Tak ada yang menahan. Tak ada yang menoleh.

Elvara tetap menatap buku matematikanya.

Langkah itu menjauh, suaranya menghilang di balik lorong.

Sunyi kembali turun di bawah pohon itu.

Tangan Elvara berhenti menulis sepersekian detik. Bukan karena terkejut. Bukan juga karena merasa bersalah.

Hanya… mencatat.

"Jadi begini caranya mereka menjaga ruang belajar."

Ia mengunyah keripik pelan, tatapannya tetap pada angka-angka di kertas, tapi pikirannya bergerak cepat.

Bella tidak diusir dengan teriakan. Tidak dipermalukan dengan kasar. Ia dibiarkan sadar sendiri bahwa ia tidak berada di tempat yang tepat.

Belajar kelompok versi mereka bukan soal siapa paling cantik, paling disukai, atau paling banyak tanya, tapi siapa yang mau berusaha.

Elvara melirik sekilas ke arah Raska.

Pemuda itu masih menunduk, fokus, seolah kepergian Bella tak pernah terjadi. Sikapnya lebih dingin dari kemarin. Lebih tertutup. Tapi jelas, bukan dingin yang kejam.

"Dia beneran berubah," pikir Elvara singkat.

Bukan menjauh… tapi menjaga jarak. Dan entah kenapa, itu membuatnya tidak nyaman.

Trio komentator masih tenggelam dalam soal-soal mereka, seolah barusan tidak terjadi apa-apa.

Tapi Elvara tahu, mereka barusan membuat batas. Untuk belajar. Untuk Raska. Untuk semua yang ada di lingkaran itu.

Ia menunduk lagi ke bukunya, menulis dengan tenang.

"Kalau dia memang berubah setelah kemarin, setidaknya dia tidak berubah jadi orang lain."

Mulutnya kembali mengunyah keripik. Ekspresinya tetap datar. Tapi untuk pertama kalinya sejak pertemuan di taman, Elvara merasa, tanpa diminta…ia sedang dilindungi.

Dan itu membuat dadanya terasa hangat dengan cara yang tidak ia kenal sebelumnya.

 

Roy dan Bian berdiri agak jauh, berlindung di balik bayangan gedung lama. Dari sana, pemandangan di bawah pohon terlihat jelas. Terlalu jelas.

Bian menyipitkan mata.

“Hari ini beda,” katanya pelan. “Ada yang ganjil.”

Roy menyandarkan bahu ke dinding, senyum tipis menggantung di sudut bibirnya. “Beda gimana?”

“Raska masih deket,” lanjut Bian, matanya tak lepas dari arah Elvara, “tapi kayak ngerem. Biasanya nempel, sekarang… jaga jarak.”

Roy terkekeh kecil. “Jangan-jangan dia udah nembak si karung beras, tapi kena tolak.”

Bian mengernyit. “Yakin? Kalau ditolak, harusnya dingin total. Ini enggak. Mereka masih satu frekuensi.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih pelan, lebih tajam.

“Dan gue perhatiin… Gasekil sering melirik Raska. Sekilas doang, tapi berulang.”

Roy tak langsung menjawab.

Bian menoleh. “Kalau cewek gak peduli, gak akan begitu. Wajahnya datar, iya. Tapi tubuhnya, reaksinya, beda.”

Beberapa detik hening.

Roy tersenyum miring, senyum yang tampak santai tapi matanya mengeras. “Atau ini trik tarik-ulur Raska.”

Bian menatapnya ragu. “Trik buat apa?”

Roy mengangkat bahu, seolah meremehkan. “Biar dia penasaran. Biar gak menjauh.”

Namun di balik nada yakin itu, ada sesuatu yang berdenyut tak nyaman di dadanya.

Karena untuk pertama kalinya… Roy tidak sepenuhnya yakin pada kata-katanya sendiri.

***

Di kamar yang sunyi, Raska menatap langit-langit terlalu lama.

Lampu sudah mati sejak tadi, tapi matanya tetap terbuka. Napasnya teratur, namun pikirannya berlarian ke mana-mana.

Ujian sebentar lagi. Itu berarti… waktu kebersamaan mereka juga tinggal hitungan hari.

Jika kelulusan tiba, hidup akan bergerak ke arah masing-masing. Kampus. Kota lain. Dunia yang berbeda.

Bagaimana kalau setelah itu… mereka tak lagi duduk di bawah pohon yang sama?

Bagaimana kalau Elvara pergi, dan ia tak pernah punya kesempatan lagi?

Bukan soal nilai. Bukan soal taruhan. Yang menyesakkan justru satu hal sederhana: takut kehilangan.

Tangannya mengepal di atas dada.

"Gimana caranya… supaya dia tetap di sisiku?

***

Keesokan harinya, angin siang berembus pelan di belakang sekolah.

Di bawah pohon yang sama, trio komentator sudah lebih dulu membuka buku. Asep masih ribut dengan pulpen yang hilang, Vicky mengeluh soal panas, Gayus menata buku dengan rapi seperti ritual.

Elvara datang terakhir.

Seperti biasa, ia duduk di sebelah Raska tanpa banyak kata. Tangannya sudah refleks meraih bungkus keripik dari tas.

Baru saja bungkus itu terbuka, Raska menahan lengannya. Gerakannya spontan.

“Jangan makan keripik terus.” Kalimatnya pelan, tapi tegas.

Elvara menoleh. Matanya turun ke tangan Raska yang masih mencengkeram pergelangan lengannya.

Raska tersadar. Ia langsung melepaskan, seolah tersengat.

Kata "Maaf" hampir saja terucap, tapi tertelan.

Trio komentator mendadak sunyi. Untuk pertama kalinya, mereka memilih jadi penonton total.

Raska merogoh paper bag di sampingnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak bening.

“Ini,” katanya sambil menyodorkannya. “Lebih sehat.”

Elvara membuka tutupnya. Potongan buah segar tersusun rapi. Ia menoleh pada Raska.

“Thanks.”

Senyumnya muncul. Sangat tipis, nyaris tak terlihat. Tapi Raska melihatnya.

Dan itu cukup.

Ia mengangguk kecil, refleks tersenyum balik.

Trio komentator pura-pura tenggelam dalam buku, meski sudut mata mereka sibuk mengamati.

Elvara memperhatikan Raska lebih lama dari biasanya. Lalu--

“Ras.”

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Kyky ANi
ngak sabar baca kisah selanjutnya,, pasti makin seru,,,
Kyky ANi
kasian Elvara,, dia pasti sakit banget dengar ini semua,,
Kyky ANi
mungkin,orang2, akan aneh, melihat Raska yang tampan berjalan bersama Elvara yang size jombo,, tapi Raska tidak peduli,,karna dia bahagia,, bersama Elvara,,
Kyky ANi
bagus deh, kalau Elvara mau nikah siri sama Raska,, dan semoga tidak ada tahu,, sampai saatnya tiba,,
naifa Al Adlin
top bgt buat kak nana
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Kyky ANi
benar yang dikatakan Raska, Elvara ,,, kalian nikah siri dulu,, supaya lebih aman kedepannya,,
Ass Yfa
lanjut part 2. yg dewasa...mereka ketemu setelah dewasakah
Kyky ANi
Raska dan Elvara,, terpengaruh obat, yang diberikan pelayan itu,, gimana ya,, kalau mereka sadar nanti,,,
Ass Yfa
duh..Vara kecewa berat...apa Raska bisa yakinin si Vara
Kyky ANi
siapa ya, kira2 yang akan meminum gelas itu,,
Ass Yfa
oh ternyata saksinya dari ustad...mereka 17thn tapi harus dewasa dini...huh kalo itu ankku kok nggk rela😄😄😄aku juga pubya bujang...bikin dar der dor...
Ass Yfa
menikah siri harusnya juga ada saksi kan....kalo ndak salah...2 orang...tadi ada saksi ndak thor
Ass Yfa
insting Asep nggk pernah salah....itu di Raska tidure nyenyak lo berkat Vara...trs mukanya bercahaya kata si Asep yaiyalah..dpt asupan vitamin😁😁
Kyky ANi
semoga Raska,Elvara, dan teman2nya lulus ya,,
Ass Yfa
wah...kejadian juga..Vara ama Raska...tapi siapa cowok yg ama Bella...bukan Roy lo...Bella aja nggk kenal
sunshine wings
I really enjoy this novel.. From the beginning till the end of season 1.. Banyak suka dukanya melibatkan emosi sesaat.. I really loved it.. 👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: 🫶🏻🫶🏻🫶🏻🫶🏻🫶🏻
total 2 replies
sunshine wings
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
Trima kasih author kerana banyak memberi wejangan kehidupan di dunia nyata.. I really appreciate it and loved the novel very much..❤️❤️❤️❤️❤️
Kyky ANi
Good,, trio komentator,, kalian adalah sahabat terbaik Raska,,
Siti Jumiati
udah tamat aja, nyesek deh bacanya, kasihan elvara dan rasa...
makasih kan nana atas karya-karya lanjut ke sesok 2...💪💪💪
🌠Naπa Kiarra🍁: Sama-sama, Kak🤗🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!