NovelToon NovelToon
Unconditional Love (Ben And Jeslin)

Unconditional Love (Ben And Jeslin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh / Playboy
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: Osi Oktariska

Adrian tiba tiba ketahuan menjalin hubungan dengan Astrid, sahabat Jeslin sendiri. Hal ini membuat hubungan ketiganya rusak. Sehingga membuat Jeslin terpaksa pergi dari Ibukota. Namun, sebelum itu terjadi, Jeslin sempat dekat dengan Ben, Sahabat adiknya sendiri. Tapi hubungan mereka masih menggantung.

Jeslin pergi ke Bali, di mana kakek dan neneknya tinggal. Namun dia tidak menyangka kalau di sana dia akan bertemu lagi dengan Ben. Kisah cinta mereka yang dulu belum berlanjut membuat keduanya makin dekat. Sayangnya, Jeslin baru tahu kalau Ben sudah punya tunangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osi Oktariska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 pulang

Jeslin mendapat tempat duduk yang berada di dekat jendela. Dia memang menyukai spot ini untuk melepas bosan di dalam pesawat. Barisan awan putih bagai permadani di sekitarnya. Dari jendela samping, dia tidak merasa kalau pesawat yang sedang ditunggangi, sedang melaju kencang.

Wajah Jeslin yang masih sembab tidak bisa langsung segar walau dia sudah mencuci wajah. Dia menangis semalaman. Yah, semalaman bahkan sampai tiba di Bandara tadi. Terlebih lagi bertemu Ben di Bandara membuat perasaannya menjadi tidak karuan. Dadanya sakit. Hanya saja, sekarang dia sudah tidak menangis lagi. Hanya diam sambil memperhatikan pemandangan di depan. Mungkin hal ini bisa mengobati sedikit saja luka di hatinya.

Jeslin masih ingat jelas bagaimana tatapan Ben beberapa waktu lalu. Dia tidak menyangka akan bertemu Ben di Bandara, walau bukan untuk melepas kepergiannya. Jeslin heran, sekaligus bersyukur karena akhirnya Hadi mengijinkan putranya menjadi anggota militer. Dia tau kalau itu adalah mimpi Ben. Jeslin menghibur diri, dengan beranggapan, kalau kepergiannya menjadi jalan Ben untuk meraih mimpi pemuda itu. Jeslin sedikit lega, walau masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Perjalanan ke Riga tentu tidak sebentar. Butuh beberapa jam untuk bisa sampai ke negara tersebut. Tapi jiwa Jeslin seakan akan masih berada di Indonesia. Tidak ada raut wajah senang seperti sebelumnya. Reymond duduk di kursi depan Jeslin, sedang sibuk dengan beberapa pekerjaannya. Dia menoleh ke belakang, karena teringat sesuatu.

"Jes, nanti setelah sampai Riga, paginya aku terbang lagi, ya."

"Loh, ke mana lagi? Cuma kamu, atau aku juga?"

"Cuma aku. Aku juga harus urus pekerjaan lain di kota lain. Jadi di sana kita nggak berdekatan. Nanti akan ada orang yang kasih tau kamu tentang semua nya. Namanya Tania. Dia orang Indonesia kok."

"Oh oke."

_______

Jeslin menempati sebuah apartemen di salah satu sudut kota Riga. Dia sendiri. Karena ternyata Reymond justru meninggalkannya untuk pergi ke tempat lain, karena tanggung jawab pekerjaan lainnya.

S7 Apartment terletak di distrik Vidzemes priekšpilsēta Rīga, 4,4 km dari Riga Nativity of Christ Cathedral, 5 km dari Mezaparks Recreation Park, dan 5 km dari Vermanes Garden. Akomodasi ini berjarak 4 km dari Arena Riga.

Apartemen ini dilengkapi dengan 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, seprai, handuk, TV layar datar dengan saluran kabel, dapur lengkap, dan teras dengan pemandangan taman.

Museum Motor Riga dan Museum Seni Nasional Latvia berjarak 5 km dari apartemen. Bandara terdekat adalah Bandara Internasional Riga, 15 km dari S7 Apartment, dan akomodasi ini menawarkan layanan antar-jemput bandara berbayar.

Di antara banyaknya apartemen yang ada di Riga, Jeslin lebih menyukai suasana apartemen ini. Dia memang sudah memilih tempat tinggal untuk nya jauh jauh hari. Agar saat dia sampai di Riga, maka tidak perlu lagi repot mencari tempat tinggal. Karena pihak klien di Riga tidak menyediakan fasilitas tempat tinggal.

Hari pertama Jeslin di sana, ia berjalan-jalan di Riga, ibu kota Latvia, yang tidak seperti saat dia jalan-jalan di ibu kota di negara-negara Eropa lainnya. Lebih tenang. Kedatangan Jeslin ke Riga memang bukan pertama kalinya. Tetapi untuk wilayah kawasan Eropa, dia sudah beberapa kali berlibur di Eropa.

Matahari bersinar terang ketika Jeslin berjalan ke arah taman Kronvalda, dan saat itu tampaknya satu-satunya sumber suara adalah mobil-mobil yang lewat dan suara obrolan para turis.

Ketika dia melihat beberapa orang Latvia berjalan-jalan bersama, mereka acapkali terlihat membisu dan ada jarak fisik di antara orang-orang itu. Jeslin merasa mereka tidak terlalu suka bergaul, karena sebenarnya dia pun demikian. Kota Riga memiliki julukan kota introvert, yang sangat cocok bagi Jeslin yang memiliki pribadi introvert juga. Dia tidak perlu berbasa basi pada tetangga apartemen, atau teman di kantor barunya nanti. Biasanya hanya ada obrolan penting membahas masalah pekerjaan, bukan perbincangan mengenai kehidupan pribadi atau hanya sekedar berbasa basi seperti, sudah makan atau belum.

Perasaan itu terkonfirmasi saat Jeslin melakukan perjalanan kereta api sekitar satu jam dari Riga ke Sigulda.

Ketika meluncur ke arah timur laut melalui hutan pinus yang tebal, Jeslin mengagumi panorama di luar kereta dan memainkan permainan game online Trivia.

Jeslin semakin bersemangat, saat beberapa turis dari Indonesia melontarkan jawaban sambil setengah berteriak, dan akhirnya dia menyadari bahwa mereka adalah satu-satunya penumpang di gerbong itu yang mengeluarkan kata-kata alias berbicara.

Tetapi kenapa orang-orang Latvia tampak begitu tertutup, setidaknya pada saat pertama kali bertemu?

Tidak ada jawaban yang singkat dan jelas, tetapi beberapa penelitian telah menyimpulkan adanya keterkaitan antara kreativitas dan pilihan untuk menyendiri.

Anete Konste, seorang penulis terkenal yang menulis buku tentang kehidupan orang orang di Riga, melihat karya pertama dalam rangkaian pekerjaannya; bahkan dia percaya bahwa sifat introvert utamanya sangat tinggi di antara mereka yang bekerja di wilayah kreatif, seperti penulis, seniman dan arsitek.

Sementara para psikolog Latvia mengatakan bahwa kreativitas sangat penting bagi identitas diri orang-orang Latvia, yang begitu pentingnya sehingga kreativitas merupakan prioritas dalam rencana pembangunan pendidikan dan ekonomi pemerintah Latvia.

Orang-orang Latvia sering merendahkan diri sendiri tentang kecenderungan budaya introvert mereka, sejenis tipe individu yang mudah merasa terganggu dan lebih menyukai kesendirian, ketenangan dan refleksi diri.

Contohnya sangat banyak, dari lingkungan sekitar Riga yang disebut Zolitūde (Solitude) sampai kepada melimpah ruahnya kebiasaan yang mendarah daging, seperti tidak tersenyum pada orang asing.

Jeslin merasa terkejut melihat bahwa beberapa orang Latvia dapat menyeberang jalan untuk menghindar dari keharusan melewati orang lain.

Bahkan Festival lagu dan tari Latvia - suatu perayaan besar yang mengumpulkan lebih dari 10.000 penyanyi dari seluruh negeri - memperlihatkan tanda-tanda perilaku introvert, pada acara yang berlangsung setiap lima tahun sekali itu.

Beberapa orang menganggap keramaian seperti itu dapat melahirkan ketegangan dan bukan sebaliknya. Sangat berbanding terbalik dengan budaya di Indonesia.

Juga dalam gedung-gedung apartemen, sangat tipikal orang Latvia, yaitu mereka rela menunggu sebentar hingga tetangganya lebih dulu meninggalkan lobi apartemen, demi menghindari kesempatan saling menyapa yang canggung.

Walaupun demikian, meremehkan basa-basi tidak berarti bahwa orang-orang Latvia bersikap dingin.

Bagaimana pun juga, beberapa penumpang kereta yang pendiam akan dengan mudah menawarkan bantuan ketika Jeslin merasa kebingungan membaca peta, atau bantuan lainnya.

Di Latvia, tidak terlibat percakapan sepanjang waktu bukanlah hal yang kasar atau aneh. Sebaliknya terlalu banyak omong justru dianggap sombong ketimbang membisu.

Sementara kebiasaan orang-orang Latvia ini barangkali sulit diabaikan oleh para pendatang baru, tetapi banyak orang Latvia mengatakan bahwa kebiasaan atau budaya mereka tak semata soal watak introvert.

Penting juga untuk diingat bahwa orang-orang Latvia tidak homogen. Ada orang-orang Rusia yang jumlahnya banyak dan kelompok minoritas lain di Latvia, dengan berbagai tingkat integrasi bahasa dan budaya.

Juga ada perbedaan antar generasi antara mereka yang tumbuh selama masa pengawasan dan gaya hidup komunal yang dipaksakan sebagai bagian dari Uni Soviet, dan generasi lebih muda yang dibesarkan dalam masa kapitalisme dan kosmopolitan yang lebih dominan.

Oleh karena itu, tidak mungkin berbicara tentang satu ciri budaya yang mencakup semua aspek budaya - meskipun nilai yang ditempatkan pada ruang pribadi adalah salah satu yang memisahkan generasi.

Salah satu petunjuk lainnya adalah terkait jumlah penduduknya yang sedikit dan hutan yang lebat. Orang-orang Latvia tidak terbiasa melihat banyak orang di sekitar mereka. Karenanya tidak biasa menunggu meja kosong di restoran, atau duduk terlalu dekat seraya bersantap dengan suasana pesta di restoran tersebut. Ada cukup tempat di negara ini supaya orang-orang tidak berdesak-desakan adalah hal yang biasa, bahkan bagi penduduk urban di negara ini, untuk memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap alam, sekaligus menjadi tempat hiburan yang lazim di negara itu.

Rumah keluarga orang-orang Latvia dimasukkan dalam Latvian Cultural Canon, sebuah daftar dari 99 jenis barang dan orang-orang yang dianggap paling berpengaruh. Juga ada daftar tersebut; perawatan kuburan, dan roti gandum Latvia yang sangat terkenal.

Keberadaan rumah keluarga sempat menghilang pada abad ke 20 karena dorongan rezim Soviet yang menekankan nilai-nilai kolektif, keterikatan budaya dengan gambaran rumah keluarga tetap ada.

Jadi untuk pendatang tidak perlu takut untuk menjadi pendiam jika berada di Riga. Tapi begitu pendatang mengenal orang Latvia dan menghabiskan beberapa waktu bersama, mereka akan benar-benar menjadi teman yang baik. Orang Latvia bukan bangsa yang teatrikal, jadi mereka benar-benar jujur pada beberapa hal.

Sudah berbulan bulan Jeslin tinggal di Riga. Dia mulai terbiasa dengan semua budaya setempat. Bahkan dia sudah seperti warga lokal yang hafal seluk beluk kota Riga. Pekerjaannya sudah sedikit demi sedikit selesai. Jeslin tidak punya teman, bahkan dia cenderung menarik diri dari lingkungan. Padahal tidak semua teman teman di kantornya adalah orang Riga. Mereka cenderung lebih suka menghabiskan waktu setelah jam kerja untuk makan bersama. Tetapi Jeslin tidak pernah terlibat dalam kebersamaan itu. Jeslin lebih suka pulang ke apartemennya, untuk memasak, menulis novel, atau bahkan membaca novel novel yang telah ia beli. Jeslin lebih suka menghabiskan waktu di toko buku selepas pulang kerja.

Bahkan jika dia ingin bepergian, dia lebih memilih pergi seorang diri. Menghabiskan membaca novel di taman, atau menonton bioskop. Itu semua ia lakukan sendirian. Jeslin sedang menghukum dirinya sendiri tentang apa yang sudah ia perbuat pada Ben.

Sudah delapan tahun lamanya Jeslin  berada di Riga. Kini dia sedang mengemasi barang barangnya dan akan pulang ke tanah air. Dua tahun dua berada di Seoul, dan kembali lagi ke Riga untuk dua tahun terakhir. Kontraknya sudah habis, pekerjaannya juga sudah selesai.

_______

Tiga buah koper menumpuk di sebuah troli. Seorang gadis berjalan dengan suara sepatu bot berwarna cokelat yang dia beli di Riga beberapa waktu lalu. Ia memakai mantel cokelat yang tampak senada dengan sepatu bot nya. Dia menutupi kepalanya dengan Hoodie yang terpasang di mantel tersebut. Rambut Jeslin kini dipotong pendek, dengan ikal di ujung yang membuatnya tampak lebih cantik.

Selama di Riga Jeslin lebih banyak memiliki waktu sendiri dan melakukan banyak kegiatan positif yang jarang ia lakukan selama ini. Seperti belajar berdandan secara otodidak dari channel YouTube para konten kreator. Jeslin berubah dalam segi penampilan. Kulit wajahnya yang sejak dulu sudah putih segar, kini semakin glowing karena perawatan yang telah dilakukannya selama ini.

Di ujung ruang tunggu, ada empat orang yang sedang menunggunya. Jeslin dapat langsung melihat mereka, dari papan yang bertuliskan namanya.

" Jeslin dari Riga."

Gadis itu melambaikan tangan ke arah orang orang tersebut. Mereka bersorak saat melihat Jeslin yang muncul di antara kerumunan orang orang yang baru saja turun dari pesawat. Astrid berlari menghampiri sahabatnya itu. Mereka berpelukan untuk melepas rindu. Tak hanya Astrid, Daniel pun ikut menyambut kedatangan kakak satu satunya itu. Panji dan Putri yang sudah menikah pun turut hadir, dengan kondisi Putri yang sedang berbadan dua.

"Ya ampun, Put? Berapa bulan?" tanya Jeslin lalu mengelus perut wanita itu.

"Jalan 7 bulan, Jes."

"Wah, selamat, ya!" seru Jeslin lalu memeluk ibu hamil yang sudah menunggu momongan hampir tiga tahun lamanya. Beberapa kali, Putri mengalami keguguran karena kandungannya lemah. Sampai akhirnya untuk kehamilan yang sekarang dia berhasil melewati masa masa sulit itu.

Mereka pun akhirnya pulang. Di apartemen Jeslin, Astrid sudah memasak aneka makanan kesukaan Jeslin. Mereka berdua yang paling sering berbincang lewat udara, dan tentu saling mengerti satu sama lain.

"Aku udah masakin makanan yang kamu suka. Tuh lihat, kamu lama, kan, nggak makan makanan Indonesia?" Astrid membuka tudung saji yang sudah berisi banyak makanan. Ada rendang, sayur asem, sambal, ikan asin, ikan bakar, dan cumi saus padang.

"Wah, asyik. Aku lapar. Sengaja nggak makan dulu pas di sana, cuma makan makanan pesawat aja. Makasih, Astrid!" seru Jeslin lalu memeluk sahabatnya itu.

"Lo bangun jam berapa, Trid. Gila masak sebanyak ini, apa nggak capek?" tanya Panji penasaran.

"Gue cuma masak sayur asem, sambal, sama ikan asin."

"Loh, sisanya?"

"Beli."

"Astaga!"

Astrid tertawa ringan karena berhasil mengerjai Panji. Astrid memang pintar memasak, bahkan memasak adalah hobinya, tapi jika sedang malas, jangankan memasak satu hidangan menu makanan, memasak air saja dia tidak akan pernah mau.

"Nggak apa apa. Yang penting sayur asem nya buatan kamu, Trid. Aku suka sayur asem buatan kamu!"

"Ya udah, makan, Lin. Sini aku ambilin nasi."

Mereka lantas menyantap hidangan siang itu dengan lahap, diiringi obrolan ringan tentang pengalaman Jeslin selama di Riga. Juga ada pembagian oleh oleh yang khusus dibeli Jeslin untuk mereka semua.

Sampai akhirnya ada sebuah kalimat yang keluar dari mulut Panji, dan membuat ekspresi Jeslin berubah seketika.

"Ben sekarang di perbatasan."

"Oh ya? Lo masih sering komunikasi sama dia, Nji?"

"Masih. Walau nggak sering. Yah, cuma beberapa kali, dan gue denger gitu. Dia sekarang lagi jaga perbatasan. Belum bisa balik."

"Terus perusahaan gimana? Papa nya yang urus?" tanya Astrid.

"Iya. Dibantu sepupunya Ben juga katanya sih. Dia emang nggak suka jadi pengusaha. Walau dia bisa, tapi ... Dia nggak cocok kerja di kantoran."

"Iya, dia itu berjiwa petualang sih. Nggak sangka gue, kalau dia bener bener berhasil jadi anggota militer," cetus Daniel, sambil menarik nafas dalam.

Jeslin hanya diam saja menyimak obrolan mereka. Dia lega, kalau ternyata Ben sudah berhasil mencapai cita citanya. Jeslin berharap kalau Ben bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik lagi.

1
kalea rizuky
lanjut donk
kalea rizuky
Astrid bner bner jalang pcr sahabat di embat
kalea rizuky
Astrid bner bner jalang
Asmaiyyah AjjhLah
semangat kak
Asmaiyyah AjjhLah
ceritanya lompat ini gimana kak, kadi gak nyambung🥲
SnowySecret
lanjut Thor seru dan bagus ceritanya SEMANGAT AUTHOR
ruby sunn
akhirnya up juga sekian lama perjuangan ku menunggu .hehehe lanjut ! cemangat
estycatwoman
good job jes 👍
Wajah Boneka
Malesnya aku jadi senyum-senyum sendiri baca ceritanya thor.. daku tunggu nextnya
SoftMambo
Yo ayo thor! aku selalu mendukungmu dalam doa hehehe
skyeandstaghorn
jangan gantung Thorr Cepetan Up ya Thorr Semangat
Prasetya Wibowo
Next thor💕
estycatwoman
ditggu updteya ka makasih 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!