Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Wajah Tenang
Pagi itu, rumah Misca terasa lebih sunyi dari biasanya—sunyi yang berat, seperti ada sesuatu yang tidak diucapkan menggantung di udara. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruang makan yang didominasi kaca besar menghadap taman minimalis tertata rapi. Taman yang bahkan rumputnya dipangkas dengan presisi sempurna, seperti segala sesuatu di rumah ini.
Misca duduk di kursinya, seragam sekolah sudah rapi—dasi terikat sempurna, kemeja disetrika tanpa satu kerut pun. Tapi wajahnya tampak lelah, sangat kontras dengan ketenangan yang ia paksakan di depan orang tuanya. Kantung matanya sedikit menghitam—tanda tidur yang tidak nyenyak.
Danu, ayahnya, sedang sibuk membaca berita bisnis di tablet dengan kacamata bertengger di hidung. Laras, ibunya, duduk di seberangnya, sesekali memandangi Misca dengan tatapan khawatir yang sulit disembunyikan. Ia adalah ibu—naluri itu tidak pernah salah. Ia tahu anaknya sedang menanggung sesuatu yang berat.
"Ayah, Ibu," ujar Misca, memecah keheningan yang kaku. Suaranya sedikit serak—efek kurang tidur setelah pertemuan di gudang semalam. "Aku minta maaf soal sikapku semalam. Tentang penolakan liburan itu."
Danu hanya mengalihkan pandangan dari tabletnya sekilas—sebuah gerakan singkat dan teratur, seperti caranya yang tak mau membuang waktu dalam menjalankan bisnis. "Tidak masalah, Misca. Tapi Ayah dan Ibu khawatir. Kamu pulang larut, dan kamu terlihat sangat tegang. Apa ada masalah di sekolah?"
Misca menyesap kopinya yang pahit—tanpa gula, tanpa susu, seperti cara ia melihat dunia: hitam dan putih, tanpa nuansa abu-abu. Ia mencari kata-kata yang paling aman agar tidak memicu kecurigaan.
"Aku hanya kelelahan, Yah. Urusan belajar sekolah. Ujian semester sudah dekat."
Laras meletakkan garpunya dengan pelan—sangat pelan, seperti takut suara kecil itu akan memecahkan sesuatu yang rapuh. Matanya yang selalu memancarkan kehangatan seorang ibu kini terasa berat, dipenuhi firasat buruk yang tajam.
"Misca," panggilnya lembut, suaranya bergetar sedikit. "Ibu tahu kamu anak yang cerdas. Kamu selalu tahu apa yang kamu lakukan. Tapi sejak kamu masuk SMA, kamu berubah."
Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. "Ketegangan di wajahmu itu... Ibu khawatir kamu memilih jalan yang salah tanpa kami sadari."
Misca merasakan jantungnya sedikit berdenyut tidak teratur—sangat langka baginya. Entah bagaimana, naluri keibuan Laras selalu terasa lebih tajam daripada logika Danu. Seolah-olah ia memiliki radar untuk masa depan Misca yang penuh genangan darah dan bahaya.
"Ibu, jangan berpikir macam-macam," jawab Misca, mencoba tersenyum—senyum yang terasa seperti topeng porselen yang retak di sudutnya. "Aku janji, semua yang aku lakukan ini untuk kebaikan."
Tapi bahkan saat ia mengucapkan kata "janji", ia tahu itu setengah bohong. Kebaikan untuk siapa? Untuk dirinya yang menginginkan ketenangan? Atau untuk Jeka dan Vino yang memintanya menjadi perisai?
"Liburan juga penting, Nak," sela Danu, nadanya kembali ke mode logis-bisnis yang dingin. "Pergi ke Swiss, menikmati salju. Kamu perlu menjauh dari lingkungan sini sebentar. Tinggalkan semua urusan."
Misca menggeleng pelan namun pasti—gerakan yang tidak bisa ditawar. "Aku sangat menghargai tawaran Ayah dan Ibu. Tapi aku benar-benar tidak bisa pergi. Aku punya tanggung jawab di sini."
Kata "tanggung jawab" itu menggantung di udara—berat, tidak bisa diabaikan.
Penolakan Misca kali ini lebih tegas. Laras menatapnya lama—matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam, seolah ia benar-benar bisa melihat bayangan pertarungan yang menanti anaknya. Luka. Darah. Pengorbanan.
Ia ingin memeluk Misca, memohon agar ia berhenti dari apapun yang ia jalani di luar sana. Tapi ia tahu—anaknya memiliki pendirian yang keras seperti baja.
"Baiklah, Nak," ujar Laras akhirnya, menyerah dengan helaan napas berat yang terdengar seperti doa. "Jaga dirimu baik-baik. Jangan pernah lupa—kalau ada masalah besar, ceritakan ke Ayah atau Ibu. Kami akan selalu ada."
Misca mengangguk, merasa sedikit lega namun juga dibayangi rasa bersalah yang menusuk. Ia menyelesaikan sarapannya dengan cepat—gerakan mekanis, efisien—mengambil tasnya, dan mencium pipi Laras sebelum bergegas pergi.
Meninggalkan kedamaian palsu di rumah itu.
---
## Gerbang Perumahan
Di luar gerbang perumahan mewah yang dikelilingi pagar hitam tinggi, Vino dan Jeka sudah menunggu dengan motor mereka. Motor yang tidak semahal motor sport Misca, tapi terawat dengan sangat baik—cerminan dari keluarga mereka yang juga berkecukupan di Wilayah Utara.
"Tumben telat, Boss," sapa Vino dengan seringai, membenarkan letak jaket denimnya yang sedikit miring.
"Orang tuaku tadi mengajak bicara lama," jawab Misca singkat sambil memakai helmnya dengan gerakan cepat dan presisi.
Mereka bertiga kemudian memacu motor menuju sekolah—formasi segitiga yang sudah mereka gunakan sejak SMP. Misca di depan, Vino kiri belakang, Jeka kanan belakang. Formasi proteksi maksimal.
---
## Gerbang Sekolah
Sesampainya di gerbang sekolah, seperti biasa, Misca langsung menjadi pusat perhatian—seperti magnet yang tidak bisa diabaikan.
Dengan auranya yang dingin, wajahnya yang tampan dengan cara yang tidak mencolok, dan seragam yang selalu tampak sempurna—Misca menarik perhatian hampir semua siswi yang lalu-lalang.
Bisikan-bisikan tertahan dan tatapan penuh kekaguman—bahkan sedikit takut—mengiringi setiap langkahnya.
*"Itu Misca..."*
*"Ganteng tapi ngeri banget..."*
*"Dengar-dengar dia yang ngatur Wilayah Utara sekarang..."*
Jeka, yang berjalan di sisi Misca sambil merapikan kacamatanya yang sedikit melorot, menyenggol Misca dengan sikunya.
"Gila, Mis. Kamu itu kayak magnet," bisik Jeka pelan, nada geli di suaranya. "Lihat, mereka semua matanya nempel ke kamu. Mulai dari adik kelas sampai kakak kelas."
Vino, yang berjalan di sisi lain dengan langkah santai yang lebar, menambahkan dengan nada menggoda, "Kamu ini kayak pangeran es yang punya masalah serius. Mereka penasaran setengah mati. Kamu nggak tertarik sama salah satu dari mereka, Mis? Padahal banyak yang antre."
Misca melihat sekeliling dengan pandangan datar—menatap wajah-wajah yang sibuk dengan urusan cinta monyet, gosip, dan pelajaran sekolah. Dunia yang sangat jauh dari dunia gudang berkarat dan duel berdarah yang menunggunya.
Misca hanya tersenyum tipis—jenis senyum yang tidak pernah benar-benar mencapai matanya, senyum yang lebih mirip refleks sosial daripada emosi. "Mereka terlalu berharga untuk ditarik ke dalam kekacauan yang sedang aku jalani, Vin."
Jeka menghela napas panjang—napas yang mengandung pengertian dan sedikit kesedihan. Mereka berdua tahu benar bahwa Misca memiliki batas yang sangat tegas dan tebal antara kehidupan sekolah yang normal dan kehidupan gelap di jalanan yang penuh kekerasan.
"Ya, tapi senyummu itu, Bro," kata Vino terkekeh—mencoba mencairkan suasana. "Kalau kamu senyum kayak gitu, mereka justru makin penasaran dan mengejarmu."
"Sudah, ayo masuk. Nanti kita telat," potong Misca, mengakhiri candaan itu dengan dingin—seperti pintu yang ditutup dan dikunci.
---
## Koridor Sekolah - Insiden
Mereka mulai berjalan menuju koridor utama yang sudah mulai ramai. Di kejauhan, Dhea—pacar Vino—sudah menunggui dengan setia di dekat loker. Dhea adalah siswi yang tenang dan ceria, yang selalu menjadi penyeimbang bagi sifat Vino yang kadang meledak-ledak.
Dhea tersenyum manis ke arah Vino saat melihatnya mendekat, namun pandangannya langsung beralih ke arah keributan kecil di belakang posisi mereka.
Tiba-tiba, kekacauan kecil terjadi di antara kerumunan murid yang berdesakan masuk ke koridor.
Seorang siswi berlari kencang dari arah belakang—tampak sangat terburu-buru seolah dikejar waktu yang sangat mepet. Tampilannya jauh dari kesan siswi feminin pada umumnya.
Ia memiliki potongan rambut pendek sebahu yang sedikit berantakan—dipotong praktis, bukan untuk gaya. Seragamnya tampak sedikit kebesaran—seperti dibeli dengan ukuran yang salah atau memang sengaja dipilih yang longgar untuk kenyamanan bergerak.
Seorang gadis dengan gaya tomboy yang sangat kental.
Gadis itu berlari tanpa melihat arah dengan benar—matanya sibuk melihat jam tangan di pergelangan tangannya—menyenggol beberapa murid di sana-sini hingga membuat mereka mengumpat kesal.
"Awas! Maaf!" teriak siswi itu dengan napas tersengal, tapi semuanya sudah terlambat.
**BRUKK!**
Suara benturan keras—buku-buku berserakan—terdengar di tengah koridor.
Siswi itu menabrak keras seorang siswa yang sedang berjalan santai tepat di depan barisan Misca. Siswa itu adalah kakak kelas mereka—kelas dua belas—yang memiliki postur tubuh cukup besar dan wajah yang tampak sangat arogan.
**Bima**.
Nama yang cukup dikenal di sekolah—bukan karena prestasi akademik, tapi karena reputasinya sebagai "jagoan" yang suka cari masalah.
Bima, yang seragamnya menjadi sedikit kusut dan buku-bukunya jatuh berserakan di lantai koridor yang dingin, langsung meledak amarahnya seperti bom waktu yang akhirnya menemukan pemicu.
"Woi! Mata kamu ditaruh di mana, hah?!" bentak Bima dengan wajah merah padam—campuran malu karena jatuh di depan umum dan marah karena ego yang terluka.
Siswi tomboy itu segera berdiri dengan canggung—gerakannya panik tapi mencoba tetap terkontrol—mencoba memunguti buku-buku Bima dengan gerakan cepat yang justru terlihat semakin gugup.
"Maaf, Kak! Aku benar-benar buru-buru. Aku tadi nggak lihat jalan," ucapnya dengan napas yang masih sedikit ngos-ngosan, suaranya bergetar—antara kelelahan dan ketakutan.
"Buru-buru? Kamu pikir sekolah ini lintasan lari?!" bentak Bima lagi, suaranya semakin keras—menarik perhatian lebih banyak murid. "Kamu sudah nabrak aku! Lihat seragamku jadi kusut begini!"
Ia menunjuk seragamnya yang bahkan tidak terlalu kusut—lebih seperti mencari alasan untuk marah.
Lalu dengan gerakan kasar yang disengaja, ia menendang salah satu buku yang baru saja akan dipungut oleh siswi itu hingga terpental jauh—bunyi buku jatuh bergema di koridor.
Perdebatan panas pun terjadi di tengah koridor—volume suara meningkat, murid-murid mulai berhenti dan menonton. Siswi itu mencoba menjelaskan bahwa dia adalah murid baru yang sedang kebingungan mencari ruang guru untuk melapor, tapi Bima yang keras kepala tidak mau mendengar penjelasan apapun.
"Siswi baru, ya?" ejek Bima dengan nada merendahkan yang sangat jelas—nada yang ia gunakan untuk mempermalukan orang di depan umum. "Makanya, kalau jalan itu pakai mata! Kamu pikir dengan tampang tomboy kayak gitu kamu bisa berbuat seenaknya di sini? Kamu berurusan dengan orang yang salah,!"
Beberapa murid mulai berkumpul membentuk lingkaran—seperti penonton gladiator yang menunggu darah. Jeka dan Vino langsung memperhatikan dengan seksama, tubuh mereka menegang—siap bertindak kapan saja.
Sementara Misca yang berdiri di belakang mereka tetap tenang—tapi matanya tidak tenang. Matanya mengamati dengan tajam, menghitung, menganalisis situasi.
---